100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagin 88: Dinda, Sebuah Janji


__ADS_3

Tak diduga, Pras bangkit dari tempat duduknya dan beranjak mengikuti ibunya. Dinda berlari mengejar Pras. Ingin ia mengatakan ucapan maaf.


"Pras aku mohon maaf atas kekacauan ini. Semua diluar kendaliku!"


Dinda mengiba maaf pad Pras. Berat baginya menghadapi ini. Rasa malu dan kecewa yang bercampur menjadi satu.


Dinda meraih tangan Pras. Namun, seketika tangan itu ditepis oleh Bu Dewi.


"Dinda. Mulai detik ini, tolong jauhi anakku. Pras adalah harapan kami, tolong hargai jerih payah kami sebagai orang tua. Saya do'akan agar kamu mendapatkan jodoh yang terbaik dan sesuai denganmu. Maafkan kami!"


Tangan Pras ditarik oleh Bu Dewi. Pintu mobil ditutup, perlahan mobil melaju meninggalkan Dinda dan segala luka.


***


Sejak hari itu, Dinda tak pernah lagi melihat Pras dimana pun. Ia telah memutuskan kerjasama dengan Niken wedding organizer. Pernah Dinda melihat Pras di kampus saat sidang skripsi, namun lagi, seperti mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya.


Ingin rasanya Dinda menemui Pras hanya untuk mengembalikan cincin yang pernah ia sematkan di jari manisnya dan mengucapkan salam perpisahan. Namun sayang kesempatan itu seperti tertutup rapat bagi Dinda. Seburuk itu kah masa lalu Dinda bagi keluarga Pras?


Luka...


Luka itu menganga lagi. Apakah pernah menikah secara sah adalah dosa?!


Butuh waktu lama bagi Dinda menyembuhkan luka kali ini.


***


Untuk menyembuhkan lukanya, Dinda melakukan healing dengan mencari kesibukan. Ia belajar sosial media dan periklanan. Sesuatu yang juga ia pelajari di kampus tempat ia kuliah.


Dinda menerapkan ilmunya, sehingga orderan makeup yang masuk tidak hanya untuk acara pernikahan saja. Melainkan juga untuk acara ulang tahun dan wisuda. Bahkan Dinda telah memiliki asisten yang membantunya untuk merias orang dalam jumlah banyak, seperti di acara wisuda.


Dinda cukup berbakat dalam dunia bisnis dan relasi. Tidak jarang ia mendapat orderan makeup diluar kota Bandung, bahkan Jakarta. Dinda juga memupuk kemampuannya dalam bidan bisnis kosmetik.


Awalnya ia bergabung menjadi reseller untuk sebuah brand ternama. Penjualan ia lakukan baik secara online maupun offline. Karena peminat akan produknya sangat pesat, maka Dinda merambah menjadi agen, dan dalam waktu dua bulan menjadi distributor. Pundi-pundi uang yang ia kumpulkan membuatnya semakin kaya di usia muda. Ia bisa membiayai orang tuanya umroh dan sekolah untuk adik-adiknya.


Wajah Dinda pun semakin glowing yang membuatnya semakin percaya diri.


***


Empat bulan berlalu. Dinda perlahan terbiasa menikmati lukanya. Luka yang bersemayam dari pengalaman pahit berumah tangga. Ia menikmatinya, sudah biasa.


Dinda masih dengan aktivitas yang sama. Menjadi MUA dan juga mejalani kuliahnya. Kesibukan menyita hati dan pikirannya. Hingga perasaan yang membelenggu lewat begitu saja.


"Assalamualaikum kak, mau tanya apakah bisa merias pengantin untuk tanggal 23 November nanti?"


Sebuah pesan masuk. Sebuah penawaran untuk merias pengantin. Tanggal 23 merupakan hari Minggu. Tentu orderan itu diambil.


H-7 Dinda dan Niken telah mensurvei lokasi. Persiapan telah mantap. Niken meminta Anita, staf barunya untuk mengantar pakaian yang akan dikenakan ketika akad dan resepsi. fitting pakaian dilakukan di rumah calon pengantin dikarenakan Ibu sang calon pengantin dalam keadaan sakit, namun ingin membantu putrinya untuk memilih pakaian.


***


Hari H pun tiba. Acara akad nikah akan dilangsungkan pukul 09.00 Pagi. Dinda dan tim telah sampai di lokasi pernikahan sejak pukul 03.00 pagi. Terlihat beberapa orang tengah memasang dekorasi pernikahan yang baru setengah jadi.


Mempelai pria belum tiba di lokasi. Dinda fokus merias pengantin wanita terlebih dahulu.


Beberapa kali Dinda harus menghentikan proses makeup, karena sang pengantin wanita sibuk menghubungi calon suaminya yang terlambat karena banjir menuju akses lokasi.


Pukul 05.00, pengantin wanita telah siap di makeup.

__ADS_1


"Mba Dinda, pengantin prianya datang".


Ucap Sari salah satu staf. Suaranya agak terbata-bata.


"Kamu sakit, Sar?"


Tanya Dinda.


Namun dengan sekejap, ekspresi Dinda pun berubah. Melihat sosok calon mempelai pria yang ada dihadapannya. Pria yang telah siap untuk dirias itu bernama Pras. Ya, Prasetya, laki-laki yang pernah berniat meminangnya, kini tengah menanti waktu akad bersama wanita lain.


Cincin itu masih melekat manis dijemari manisnya. Dinda tak melepasnya, agar ketika Pras ada dihadapannya, ia berniat untuk mengembalikannya. Namun, saat Pras benar-benar ada dihadapannya, seperti waktu yang tidak tepat untuk menyelesaikannya. Bibir Dinda kelu. Air mata ingin ia tumpahkan agar dada tak lagi sesak. Namun, ia juga tengah berusaha untuk menjadi MUA profesional. Ia harus menjaga profesionalitasnya dalam situasi apapun.


"Mba, ini mas Pras, calon pengantin pria. Minta tolong dirias minimalis ya mba".


Ucap Riya, calon istri Pras. Dinda mulai menyematkan pakaian yang Pras kenakan. Ia gantikan dengan pakaian yang akan ia kenakan saat akad. Tak ada satupun percakapan yang keluar dari keduanya, meskipun mereka hanya berdua di ruang rias . Dua mata bertemu, saat Dinda mengaitkan sarung yang dikenakan setelah celana panjang. Pras melepas kemeja yang sebelumnya ia kenakan. Dinda memasangkan kemeja lainnya. Mengancingkan kemeja itu, berusaha menghindari dua bola mata yang mengintai.


Tangan Dinda ditarik maju. Dua bola mata kini beradu.


"Jangan hindari aku, Dinda!"


Deru nafas Pras memacu. Dinda menatap benci pada Pras. Luka yang bertubi-tubi. Sama rasanya seperti melihat tenda pernikahan mantan suami berdiri. Kini luka itu terulang lagi. Bahkan lebih menyayat hati.


"kamu yang menghindar dari ku. Bahkan dari takdirku!"


Dinda menjauhkan tubuhnya dari Pras. Namun Pras tak diam begitu saja. Ia kembali menarik tubuh Dinda dan mengecup bibir Dinda dengan penuh emosi dan gairah. Benci bercampur rindu, meluap menjadi satu. Dinda hilang arah. Lupa siapa dirinya saat itu. Ingin rasanya Dinda menampar pria yang saat ini menjadi kliennya. Namun sayang gagal, ia justru menikmatinya. Menikmati malam pertama yang hanya tinggal angan.


Pras membaringkan tubuh Dinda pada sebuah sofa. Mereka tak memperdulikan hiruk pikuk diluar sana. Tubuh mereka menyatu, seraya cumbuan membabi buta.


"Aku mencintaimu, Dinda!"


Ucap Pras yang melepaskan bibirnya dari bibir Dinda.


Sanggah Dinda. Pras kembali menghentakkan bibirnya pada bibir Dinda. Gayung bersambut, Dinda menarik bibir Pras dengan paksa. Menikmati keduanya .


"Aku akan membuktikannya!"


Ucap Pras sambil terus memburu tubuh Dinda.


"Sudah terlambat. Kau tak akan lagi bisa!"


Waktu seakan berhenti sementara. Seolah tempat itu hanya milik mereka berdua. Dinda dan Pras saling menikmati cumbuan masing-masing. Luka yang dipoles dengan cinta. Apa bisa menjadi bahagia?


Dinda mendorong tubuh Pras. Ia memaksakan diri untuk sadar diri. Siapa dia dan siapa Pras saat ini. Tepat saat ayu masuk ke ruangan itu, Dinda dan Pras telah menyudahi semua.


"Ku pikir sudah selesai"


Ucap Ayu yang melihat Pras masih berantakan.


"Mas Pras kumisnya tumbuh, akan sulit untuk dirias. Jadi saya memutuskan untuk mencukur sedikit kumisnya".


Ucap Dinda sambil melirik wajah bersih Pras.


"Baiklah..."


Ucap Ayu yang kemudian duduk disamping Pras. Ayu terlihat cantik dan anggun. Ayu adalah seorang pramugari disebuah maskapai milik BUMN. Ayu anak teman Ayah Pras. Mereka menikah karena dijodohkan. Namun, Ayu terlihat sangat menyukai Pras.


"Mas sudah hafal kan ikrar ijab kabulnya?"

__ADS_1


Pras terlihat kaget. Ia melamun, pikirannya hanya bisa terfokus pada apa yang baru saja ia lakukan bersama Dinda. Deru nafas Pras bahkan masih belum selesai.


"Itu semalam Papa loh yang nulis cara baca ijab kabulnya. Papa masih hafal meskipun telah menikah dengan mama dua puluh lima tahun lamanya hahaha..."


"hahaha"


Pras seperti tertawa dipaksakan. Bola matanya masih saja mencuri pandang Dinda. Bahkan ia terus melihat cincin yang pernah ia sematkan dijari manis Dinda.


"Kau masih mengenakannya, Din"


Gumam Pras lirih saat Ayu kembali menemani ibunya di kursi tunggu yang letaknya diruang berbeda dengan ruang rias.


"Aku akan mengembalikannya padamu, Pras". Ucap Dinda seraya melepaskan cincin yang dikenakannya.


"Tidak, harus tetap kamu kenakan!"


Bantah Pras.


"Tidak pantas!"


Ucap Dinda.


"Aku akan menikahi kamu setelah status kita sama!"


Ucap Pras.


"Kamu gila Pras!"


"Karena kamu!"


Dinda tak mengerti jalan pikiran Pras. Jika memang masih ada harapan. Mengapa selama ini ia menjauh darinya. Mengapa Pras tidak berjuang untuk hubungan mereka?


Dinda mengutuk Pras dalam hatinya. Baginya, Pras terlalu egois. Ia memenjarakan Dinda dalam cintanya. Enggan melepaskan, tapi tak mungkin lagi untuk memiliki.


***


Akad diikrarkan dengan sekali helaan nafas. Suasana haru meliputi perasaan setiap yang ada di gedung itu. Kecuali perasaan Dinda yang sakit menyaksikan Pras yang duduk bersanding dengan Ayu.


Bu Dewi menyadari kehadiran Dinda. Ia tidak mengetahui kalau menantunya itu menggunakan jasa Niken Wedding organizer. Bu Dewi menarik kasar lengan Dinda ke bilik rias. Dinda menatap benci mantan calon ibu mertuanya itu.


"Dinda, tolong jauhi anak saya. Pras sudah bahagia bersama Ayu. Tolong jangan buat dia tertarik padamu lagi!".


Ucap Bu Dewi dengan nada kasar.


"Anda tak perlu khawatir, Bu. Saya juga tak kan pernah sudi untuk menikah dengan laki-laki yang telah memiliki istri. Saya hadir untuk merias Ayu. Saya cukup profesional untuk itu".


Ucap Dinda seraya pergi meninggalkan Bu Dewi yang berdiri dengan perasaan kesal.


***


Dinda diselimuti kekalutan. Pikirannya tak bisa lepas dari apa yang terjadi pagi tadi. Namun semua seperti hanya sebuah ilusi. Sebab nyatanya, Pras telah menjadi milik wanita lain.


Hidup harus berlanjut. Tak mungkin ia menanti janji Pras. Ia tentu berharap Pras akan bahagia bersama istrinya. Menanti seseorang yang telah hidup bersama wanita lain layaknya menanti layangan putus dari talinya. Belum tentu ia akan mendapatkannya.


Dinda melangkah kedepan. Mencari masa bahagianya sendiri. Melewati semua kisah yang menguji kekuatan hati.


Semua harus dilewati, sampai nanti ia temukan, bahagia yang menyempurnakan hidupnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2