
Hardi melangkah keluar ruangan dengan gontai. Menggendong anaknya yang sedang aktif berbicara. Anak itu terlihat cantik dan sehat. Entah bagaimana seorang laki-laki mampu merawat anak sekaligus bekerja.
Rania mulai membuat program untuk Hardi. Ia akan menurunkan tim untuk investigasi. Kalau Hardi tidak bisa bersikap tegas. Mungkin, tidak dengan tim Rania. Itu sebab diakhir kalimat, Hardi meminta bantuan agar Rania dan tim, bisa menyelesaikan masalah ini. Mungkin sudah saatnya masalah ini terbuka, baik untuk keluarga Maya ataupun untuk istri Aldo.
***
Rania mulai melihat langsung ke lapangan, Aldo merupakan bos bangunan. Ia memiliki banyak pelanggan, terutama kontraktor pengembang perumahan. Ia cukup terkenal sangat baik dimata pelanggannya. Rania mendapat banyak informasi dari para informan, bahwa Aldo pernah memiliki kasus yang sama beberapa tahun yang lalu. Aldo berselingkuh dengan salah satu karyawannya yang bertugas menjaga toko yang telah memiliki suami. Pernah juga Aldo memiliki Masalah dengan karyawan yang masih dibawah umur. Masalah tersebut akhirnya diselesaikan kekeluargaan.
Kini masalah yang sama. Berselingkuh dengan istri orang hingga memiliki anak. Permasalahan utama ada di Maya. Karena rupanya, dia cinta mati pada Aldo. Cinta buta yang membuatnya lupa bahwa Aldo adalah suami majikannya.
***
Rania meminta Aldo mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh Aldo dan Maya. Karena perselingkuhan itu dilakukan di dalam rumah, tentu orang yang memiliki akses kedalam rumah hanyalah orang dalam.
Herdi pun teringat akan CCTV di rumahnya yang di non aktifkan semenjak beberapa tahun lamanya atas perintah majikannya itu. Dengan berbekal pengalaman mamasang jaringan CCTV dahulu, maka, dengan tekadnya, Aldo mengaktifkan kembali CCTV tanpa sepengetahuan Aldo.
CCTV itu terhubung ke handphone Herdi. Semua aktivitas yang ada di rumah mereka terpantau, terutama di area-area yang biasa dijadikan tempat untuk melakukan Having *** bersama.
Hari pertama, kedua, ketiga. Cukup 3 hati saja Herdi mengumpulkan rekaman CCTV itu, sebab sejak hari pertama saja, Hardi cukup bukti untuk membongkar aib Maya dan Aldo.
***
Hardi bersikap seperti biasa. Setiap pagi ia akan mengantarkan Bu Nadin untuk ke kantor. Bima, anak kandung Aldo dan Maya, seperti biasa, dititipkan pada Maya. Tentu dengan leluasa Maya bisa bercengkrama dengan anak itu. Merawat, menyusui dan dibayar!
Tapi, Hardi sudah tidak tahan lagi. Maya sudah sangat keterlaluan. Saatnya ia akan membongkar semua kedok yang digunakan Maya.
Hardi mengikuti arahan Rania, untuk bermain cantik. Rania dalam hal ini memposisikan sebagai pendamping Nadin. Bagaimanapun Nadin adalah korban terlemah yang harus di jaga.
Hardi membawa Rania menuju kantor Nadin. Sebelumnya, Hardi tidak memberi tahukan Nadin posisi Rania sebagai apa. Hingga Rania datang dengan rekaman CCTV.
Setelah berkenalan dengan Bu Nadin. Rania mengutarakan maksud dan tujuannya bertemu dengannya.
"Bu, Nadin. Tanpa bermaksud untuk mengganggu waktu anda. Namun, ijinkan saya untuk mewakili saudara Hardi memberikan sebuah bukti yang mungkin nanti akan membuat anda tidak nyaman. Oleh sebab itu, saya ingin sampaikan bahwa Hardi dan saya ada di posisi ibu. dan ibu tidak sendirian".
Ucap Rania.
"Apa maksudnya ini? langsung saja!"
Ucap Bu Nadin dengan tegas. Ia memang sosok yang tegas. Maklum, ia adalah salah satu pimpinan di kantornya.
"Suami anda telah mengulangi perselingkuhannya!"
__ADS_1
Terlihat bola mata Bu Nadin membelalak. Bibirnya terlihat gemetar.
"Dengan siapa kali ini..."
suara beratnya terdengar dan ia terlihat sesak. Rania memberi segelas air pada Nadin. Namun ia menepisnya.
"Saya tau ini sakit. Namun, lebih baik Anda tau saat ini, daripada terus dibodohi!"
Ucap Rania.
"Minumlah dulu, kita tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada diri anda".
Nadin pun menuruti. Ia minum air dan mengucapkan istighfar beberapa kali.
Rania mulai membuka rekaman vidio CCTV, menunjukkan pada Bu Nadin. Tangisnya pecah. Ia seperti ingin mengejar perempuan itu.
Namun, Rania berusaha untuk menenangkan Bu Nadin. Ia biarkan wanita itu menangis dan meluapkan emosinya. Hingga beberapa jam, barulah ia bisa ditenangkan.
"Kita tidak bisa bertindak gegabah Bu. Jika tidak, anda akan kalah. Begini, apakah anda tau bahwa Pak Aldo tengah mengajukan perceraian atas anda?"
Nadin menggeleng. Ia seperti telah menyimpan rasa sakit hati pada Aldo.
"Aku sempat mencurigainya. Mengapa anak itu sangat mirip dengan Aldo, bukan dengan Hardi. Namun Aldo selalu beralibi, mungkin si Maya itu membenci dirinya, sehingga si anak malah mirip dengannya. Entahlah, mengapa aku terlalu percaya pada laki-laki itu. Padahal perselingkuhan ini bukan pertama kali ia lakukan!"
***
Nadin terdiam, bersikap dingin saat mendapati lemari pakaian telah kosong. Semua pakaiannya telah dikemasi secara asal oleh Aldo.
Begitu juga Hardi, juga menerima nasib yang sama dengan Nadin. Pakaiannya telah dikemas kedalam sebuah kardus bekas.
Hardi sudah mengerti bahwa ini akan terjadi. Ia menari koper kemudian keluar dari rumah itu. Namun, ia tidak tau bagaimana nasib Nadin, dan kemana perginya ia.
Hardi memilih untuk pulang kampung, menemui orang tua Maya dan menceritakan semua yang terjadi pada rumah tangga mereka.
Berat ...tentu. Rasa tidak percaya awalnya dirasakan oleh orang tua Maya. Namun, setelah melihat bukti perselingkuhan, merekapun akhirnya menyadari,
Maya, dibutakan oleh harta.
***
Pagi belum menampakkan cahaya mentari. Ketika pintu diketuk dengan keras entah oleh siapa. Hardi dan ibu Hani, ibunya Maya, terjaga dari tidur mereka.
__ADS_1
Tiga orang berpotongan rambut cepat dan berpakaian rapi berdiri di bibir pintu. Mencari keberadaan Hardi.
"Bapak ikut kami segera!"
Ucap salah seorang diantara mereka.
"Loh....loh pak...ada apa ini, mau dibawa kemana anak saya!!!"
Bu Hani berteriak ketika dua diantara mereka menangkap Hardi. Menarik lengannya dan menggiringnya menuju mobil yang mereka bawa.
"Pak Hardi kami curigai terlibat dalam pembunuhan atas nama Aldo, Maya, dan Dio seorang anak kecil!"
Ucap salah seorang diantara mereka.
Hardi meminta ijin untuk mengatakan sesuatu pada ibu angkatnya itu.
"Bu, aku tidak melakukan apapun pada Maya, sekalipun hatiku telah disakiti olehnya. Aku pastikan aku tidak terlibat apapun. Ibu tenangkan hati. Aku baru saja akan memberitahu ibu, bahwa Maya dibunuh oleh seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Namun, polisi-polisi ini lebih dulu datang menangkap ku. Ibu harus percaya Hardi!"
Ucap Hardi sambil terisak. Seorang satpam kompleks baru saja memberi tahu Hardi tentang kejadian yang menimpa Maya, Aldo dan anaknya melalui pesan singkat. Namun, belum sempat ia memberitahu sang ibu, ia telah lebih dulu ditangkap.
Hardi pasrah ia mengikuti polisi.
***
Polisi terus menginterogasi Hardi. Ia masih jadi satu-satunya orang yang paling dicurigai terlibat dalam kasus pembunuhan ini.
Pembunuhan yang terjadi semalam, dan diperkirakan pelakunya lebih dari satu orang. Dugaan mengarah pada Hardi, karena tidak ditemukan bagian rumah yang rusak, dan rumah dalam keadaan rapi. Tidak ada barang berharga yang hilang. Bahkan pelaku sepertinya tau dimana Aldo dan Maya berada, karena bagian rumah yang lain terlihat rapi. Jadi, pelaku masuk rumah dengan mudah dan langsung menuju titik dimana Aldo dan Maya berada.
Bukti lainnya yang mengarah pada Hardi adalah CCTV di rumah yang dalam keadaan mati. Setelah ditelusuri CCTV tersebut sebelumnya di setting terkoneksi langsung ke ponsel milik Hardi.
Hardi bersikeras tidak mengakui perbuatannya membuat ia semakin mendapat tekanan dari pihak kepolisian.
***
Sementara itu, kabut duka menyelimuti pemakaman Aldo dan anaknya, sementara Maya dimakamkan di kampung halamannya.
Pemakaman Aldo dihadiri oleh semua saudara dan kerabatnya. Kidung sendu bercampur tangis mewarnai jalannya pemakaman. Ibunda Aldo menangis meratapi kepergian anaknya secara tidak wajar. Aldo mengalami luka dibagian leher dan pukulan benda tumpul di kepalanya. Perut Aldo juga robek dan mendapat 12 jahitan. Tak berbeda dengan Aldo, putranya juga mendapatkan kekerasan benda tumpul dibagian kepala.
Sedangkan Maya, mengalami penganiayaan dibagian organ intimnya yang robek hingga ke perut bagian bawah.
Istri Aldo, Nadin hadir di pemakaman. Dengan mata yang tertutup oleh kaca mata hitam, seolah menutupi kesedihannya. Ia mengalami sakit berat, kondisinya semakin buruk semenjak menjalani sidang perceraian. Seseorang mendorong kursi roda yang Nadin naiki.
__ADS_1
Nadin menatap dingin pada peti mati Aldo dan Dio. Ia menabur bunga, namun dengan ekspresi yang dingin. Tanpa mengeluarkan air mata sedikitpun. Ekspresi wajahnya, tertutup kaca mata hitam dan masker yang ia kenakan...
Bersambung....