
Sepekan berlalu semenjak pernikahan. Bu Murti akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan bahagia. Ia tak lagi mengkhawatirkan Rania. Ia tak lagi sakit menahan beban karena tak bisa menjaga sang putri. Ia bisa beristirahat dengan tenang, beristirahat dalam damai. Rania telah menjaganya bersama sang suami. Rania telah memberinya kado terindah, yaitu kemenangannya dalam melewati ujian hidup.
Rania melihat ibunya selalu berdzikir "Alhamdulillah", dalam keadaan setengah sadar. Ayah Malik bercerita bahwa sebelumnya Rania menikah, Bu Murti menghabiskan waktu dengan berdzikir. Ia melewati malam dengan do'a-do'a panjangnya. Ia sangat mengkhawatirkan Rania, anak yang memutuskan untuk merantau ke pulau Jawa demi sebuah cita-cita, dan tengah berjuang melewati badai prahara rumah tangga. Bu Murti sangat yakin, bahwa do'a dan dzikir nya mampu kamu menghapus dosa-dosa yang mungkin pernah diperbuat, dan mampu membantu anaknya melewati masalah.
Kini, do'a seorang ibu telah terkabul. Rania bukan hanya mampu melewati prahara rumah tangganya, namun juga telah mendapatkan pasangan baru yang menerima kondisinya dan sangat perhatian pada anak-anaknya. Bu Murti beristirahat dengan tenang, dengan wajah yang terlihat cerah dan senyum.
Jangan menangis anakku
Bahagia lah melepas ku
Seperti aku yang telah bahagia melepas mu
Bahagia karena akhirnya kau menjadi utuh
Memenangkan ujian hidup
Aku memenangkan do'a-do'a ku.
Aku telah tenang
Aku telah bahagia
Melanjutkan kehidupan
Menghadap Rabb-ku.
***
Suasana pemakaman begitu baru biru. Rania tak henti menangis. Ia tak pernah menyangka akan kehilangan ibunya begitu cepat. Dikala ia tengah berbahagia. Ia juga dihadapkan pada kehilangan yang mendalam.
Ayah Malik juga terlihat sangat bersedih karena kehilangan istri yang amat dicintainya. Ayah Malik ikut menggali tempat peristirahatan terakhir sang istri. Dihadapan anak-anaknya, ia tunjukkan cinta yang begitu dalam kepada istrinya. Jean tak kalah peduli, ia juga turut dalam penggalian makam, dan melakukan adzan. Ayah Malik sangat bangga, karena mendengar Jean yang notabene anak kota, tapi mampu fasih dalam melantunkan adzan. Rupanya, Jean adalah lulusan sebuah pesantren di daerah Jawa Timur.
***
Sepekan berlalu, setalah hari ke tujuh sepeninggalnya Bu Murti. Rania dan Jean harus kembali ke Lumajang. Bulan madu belum dapat terlaksana karena mereka sedang berduka.
"Kita bulan madu di rumah saja ya...rumah kita kan sudah seperti di puncak".
Ucap Jean sambil membantu Rania memasukkan pakaian kedalam koper.
Rania mengangguk. Ia juga tak akan bisa menikmati liburannya ditengah perasaan duka.
"Bagiku, setiap hari adalah bulan madu. Bersamamu yang selalu membuatku bahagia. Itu cukup".
Ucap Rania sambil merebahkan diri di punggung Jean.
Jean membalas dengan dekapan.
***
Rania terbang dari bandara Sultan Iskandar Muda menuju Juanda. Perjalanan pun dilanjutkan dengan travel yang menjemput mereka di bandara.
"Rania, kita langsung menempati rumah kita"
__ADS_1
Ucap Jean sambil memasukkan barang-barang ke bagasi mobil.
"Memangnya rumahnya sudah siap huni?"
Tanya Rania yang ragu karena ketika ditinggal kemarin, rumahnya masih belum terpasang jendela dan pintu.
"Ya. Saya sudah meminta Pak Darmo untuk menyelesaikan pembangunan rumah".
Ucap Jean seraya mengikuti Rania duduk di mobil. Kali ini ia duduk bersebelahan dengan sang istri. Anak-anak menempati jok paling belakang, bersenda gurau dengan mainan yang mereka bawa dari Banda Aceh.
***
Pagi hari, matahari terbit dengan cerahnya. Rania dan Jean tiba di Lumajang. Turun dari mobil disambut oleh mbok Siti yang dengan sumringah menggandeng tangan Rania menuju ke suatu tempat.
"Kemana mbok...?"
"Sini...kesini lihat rumahnya sudah cantik sekali..."
Benar saja. Hamparan sayuran sawi dan kangkung yang siap panen menyambut mata. Buah tomat yang telah menguning memanjakan mata. Aroma daun mint yang baru saja tersiram hujan melegakan, serta suara kambing bersautan seperti menyambut kehadiran tuannya.
"Pak Jean, Alhamdulillah kambing betinanya beranak tiga".
Ucap Pak Darmo sambil membantu Jean mengangkat koper dan bawaan menuju rumahnya.
Sementara Rania takjub melihat sekeliling rumah. Ruang tamu mereka sangat sederhana, hanya ada karpet dan sebuah meja, namun Rania terlihat sangat nyaman karena jendela di rumah itu sangat besar sehingga mampu melihat di bagian luar rumah yang menghijau. Bagian dapur terlihat asri karena terbuat dari batu bata merah yang tidak di plaster. Ada Pawon tungku yang biasa digunakan untuk memasak dengan kayu. Sebuah kamar mandi luar yang luas di desain dengan batu kali asli. Air yang mengalir di kamar mandi luar ini berasal dari sumber air gunung Semeru. Dingin dan alami.
Rania. Merebahkan diri disebuah dipan bambu yang berada di samping rumahnya. Tepat dibawah pohon mangga yang tengah berbuah. Jean menghampirinya
Ledek Rania.
"Aku ngidamnya buah kiwi ah, biar kamu pusing carinya, kan susah di Lumajang hahaha..."
Balas Rania. Semenjak menikah, Rania lebih humoris dari sebelumnya.
***
Malam itu selepas sholat isya berjamaah, Rania terusik oleh suara ponsel yang terus berdering. Ia memutuskan untuk mengecek ponsel yang ia letakkan di sebuah nakas. Monitor ponsel menunjukkan bahwa yang menghubunginya adalah Dani.
"Mau apa lagi dia..." Gumam Rania.
Namun ia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam, Rania kamu dimana, kamu tinggal dimana?"
Tanpa basa basi Dani mencecarnya dengan berbagai pernyataan.
"Aku telah pindah keluar kota"
Jawab Rania dengan nada dingin.
"Mengapa kamu tak memberitahu ku?!"
__ADS_1
"Aku telah berusaha menghubungimu, tapi istrimu yang merespon!"
Terdengar suara kesal dari arah Dani. Rania tak menggubris.
" beritahu aku dimana alamat mu. Aku akan menemui mu sekarang!'
"Oke. Aku dan anak-anak ada di Lumajang!"
Ucap Rania menantang. Ia yakin akan sulit bagi Dani menemuinya.
"Lu.... Lumajang...?!"
Ucap Dani gagap.
"Ya!"
"Mengapa kamu membawa jauh anak-anak, apa kamu mau menjauhkan dari aku, ayahnya?!"
Rania menghela nafas, berusaha menahan emosi yang telah membuncah di hati.
"Ayah...?, selama sebulan lebih kamu tidak pernah menemui anak-anak. Bahkan kami kesulitan untuk menghubungimu. Ponselmu dikuasai istrimu. Apakah Delita bercerita, bahwa ia pernah menjebak kami, berpura pura kamu ingin bertemu, dan pada akhirnya, dia sendiri yang muncul menemui kami. Lalu, mengancam agar tak bertemu atau mengganggu kamu lagi".
Rania menghela nafas. Mengatur detak jantung agar tetap stabil. Berbicara dengan Dani seperti sedang maju ke medan perang.
"Aku dan anak-anak telah ikhlas melepas mu untuk keluarga baru. Aku dan anak-anak telah melewati masa rindu menjadi kecewa. Tolong jangan ganggu kami lagi. Jika kamu ingin bahagia, aku dan anak-anak hanya ingin hidup tenang".
Rania mulai menghempaskan air mata yang tak tertahan. Jean memeluknya dari belakang. Ia tau ini berat. Tapi, Rania harus menghadapi Dani.
"Rania, ini tidak adil!"
Bentak Dani.
"Mengapa kamu menuntut sebuah keadilan, sedangkan dulu kamu telah menelantarkan?!"
Balas Rania. Ia tak lagi bisa diam. Ia ingin membalas orang yang telah membuat dirinya hancur berkali-kali.
Dani diam sesaat. Jean mengusap punggung Rania, berusaha memberikan efek menenangkan padanya.
"Ijinkan aku berbicara dengan anak-anak!"
Ucap Dani berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan anak-anak.
"Maaf, mereka tengah mengaji, dan tolong jangan ganggu konsentrasi mereka!"
Rania tak sanggup lagi berbicara. Ia memutuskan untuk menutup telpon. Ia tak menyangka Dani akan menghubungi nya lagi.
"Rania, aku akan melindungi kamu. Sekarang aku adalah suami mu, ayah bagi anak-anak mu. Tak akan aku biarkan satu orang pun menjatuhkan air matamu!"
Bersambung ....
Terimakasih yang sudah mendukung kisah 100 hari pertama menjadi janda jangan lupa untuk terus like dan comment supaya author jd semangat nulisnya ya...
See you next part🤗😍
__ADS_1