
Hampir sepekan semenjak kejadian bersama Dani. Rania memutuskan untuk mengambil cuti dan terbang ke Aceh menemui keluarganya. Telah lama semenjak perpisahan ia tak mengunjungi kota kelahirannya. Banda Aceh.
Menuju Banda Aceh membutuhkan waktu hampir dua jam perjalanan dari Jakarta. Kedua anaknya ia bawa serta.
Azka dan Zidan sangat antusias menikmati perjalanan ke tempat yang baru dipijak. Ya... Azka dan Zidan untuk pertama kalinya bertandang ke Banda Aceh.
Keluarga Rania menyambut dengan suka cita. Ayah Malik menjemput mereka di bandara dengan menggunakan becak motor. Sebuah motor Honda GL Pro yang dimodifikasi dengan becak yang menjadi ciri khas dari bumi serambi Mekah ini.
Azka dan Zidan terlihat sangat menikmati perjalanan menuju rumah dengan menggunakan becak motor.
Beberapa hari di Banda Aceh, Ayah Malik mengajak Rania dan keluarganya untuk mengunjungi kampung halaman ayahnya di sebuah kecamatan kecil di Lhokseumawe Kabupaten Aceh Utara. Perjalanan kesana memakan waktu lima jam perjalan.
Kampung halaman ayahnya terletak disebuah desa di Kecamatan Seunudon. Tempat yang dekat dengan pantai. Hanya berjarak kurang dari 200 meter dari bibir Pantai Lhok Puuk.
Pantai Lhok Puuk terkenal dengan keindahannya sebagai pantai ungu. Ya airnya berwarna ungu akibat ganggang alga yang terpantul kan oleh sinar matahari.
Berada di desa itu, Rania seperti mengenang kembali masa kecilnya dulu. Saat ia sering diajak ayahnya ke Pantai ini. Ayah Malik mengajarkan Rania mengenai sebuah filosofi tentang laut.
Rania Anakku,
Jadikanlah hatimu seluas samudera tak terbatas
Yang membatasi mu hanya iman dan takwa, bukan manusia.
Jadikan jiwamu layaknya ombak yang tak menyisakan buih jika telah berlalu.
Jangan jadikan dendam sebagai buih yang tersimpan.
Ini dunia, Rania
Semakin kau tinggi, semakin banyak angin kau hadapi
Maka, jangan pernah merasa tak mampu.
Jadilah samudera yang luas tanpa batas
Maka yang membatasi adalah dirimu sendiri
Keimanan dan ketakwaan
Langkah kan kakimu ke samudera itu.
Jangan menghindari ombak, karena kau tak akan mampu
__ADS_1
Hadapi, pelajari dan berusahalah kuat
Dan, keluarlah dari ombak itu dengan mencapai tujuan, bukan pulang karena tak kuat tantangan.
Ah...Ayah Malik seperti tau apa yang akan dihadapi putrinya di perantauan. Dibawa orang, namun dipinang dibuang.
***
Memandang Lepas ke arah samudera. Pikiran Rania terasa teralihkan dari kenyataan pahit tentang rumah tangganya.
Anak-anak Rania asyik membuat layangan dari kerangka bambu. Kerangkanya membentuk sebuah naga. Ayah Malik membuat layangan simbol naga merah yang pemberani dan pantang menyerah. Baginya, kedua cucu laki-lakinya ini adalah pelindung bagi mamanya. Mereka yang akan menjadi pondasi kekuatan Rania untum mampu melewati masa-masa kritis sebagai seorang singgle mom. Ayah Malik menyadari bahwa Rania sedang dalam fase peralihan, fase yang menentukan apakah ia akan menjadi tegar atau terbuang sia-sia. Maka dari itu, support sistem keluarga tak boleh dianggap sepele, dan satu-satunya keluarga Rania di Jakarta adalah Azka dan Zidan, laki-laki yang usianya kurang dari tujuh tahun.
Sebuah layangan naga telah siap diterbangkan. Siang ini cuaca cerah, dan angin bertiup cukup kencang. Layangan naga berukuran empat meter dengan lebar dua meter telah siap diterbangkan. Azka dan Zidan menyambut dengan antusias. Ah.... senyum dan tawa mereka adalah semangat bagi Rania.
Azka bertugas memegang kepala naga, Zidan memegangi ekor naga agar beratnya seimbang. Ayah Malik menarik tali pada jarak lima meter, bersiap memberi aba-aba kapan waktu yang tepat untuk melepaskan layangan naga.
"Ayo Azka, siap.....!"
"Siap kek!"
Seru Azka
"Oke...1.....2.....3.....lepaskan!!!"
***
Petang menjelang. Anak-anak bersiap menunaikan sholat jama'ah. Ayah Malik menjadi imamnya, sedangkan Azka mengumandangkan Adzan. Ada rasa haru dihati Rania. Suasana keluarga yang didambakan. Penuh kehangatan, pendidikan dan keteladanan dari orang tua. Keputusan untuk mengambil cuti dan pulang ke rumah orang tua, merupakan keputusan yang tepat. Rania butuh ayahnya. Ia butuh bantuan untuk menata hatinya, menata pikirannya agar ketika kembali ke Jakarta, ia siap menghadapi kehidupan bersama dua putranya.
Selesai sholat berjamaah, anak-anak belajar mengaji. Ayah Malik menargetkan Azka lulus jilid 6 sebelum kembali ke Jakarta, dan berjanji akan mengadakan upacara sunat untuknya, jika berhasil masuk jilid Al-Qur'an. Azka termotivasi dan sangat bersemangat belajar mengaji.
Rania memandang haru, keluarga hangat menyambutnya. Bu Murti, Ibu Rania mengajak Rania menyiapkan makan malam. Sambal udang dan ikan kuah asam keeung khas Aceh. Rania membantu mengupas bawang.
Bu Murti memandangi wajah Rania dengan seksama. Ada guratan halus di dahi Rania. Ia nampak lebih tua dari usianya. Wajah pilih tanpa skin care serta pakaian yang terlihat lusuh, membuat hati Bu Murti tersentuh.
"Rania, anakku..."
Rania mengangkat wajah, memandangi ibunya. Seperti ketahuan sedang melamun.
"Sungguh aku ingin kamu bahagia, nak"
"Siapa pun makhluk di bumi ini tak ada yang ingin hidupnya menderita Bu"
"Tapi, kamu sendirian menghadapi masalahmu nak, tak ada kami sebagai keluargamu disana"
__ADS_1
Rania menghela nafas. Ia paham dengan arah pembicaraan ibunya. Telah lama ia menawarkan agar Rania kembali tinggal di kampung halamannya ini. Memulai hidup baru dan melupakan Jakarta.
"Bu. Jawaban Rania masih sama"
"Rania ibu mohon jangan keras kepala nak, aku mengkhawatirkan keadaan kamu dan anak-anak"
Bu Murti mulai gak bisa mengendalikan emosinya. Menunjukkan betapa besar rasa khawatirnya.
"ayah bilang, ini adalah bagian dari resiko kehidupan Bu. Pulang berarti pecundang. Bukankah anak-anak masih butuh sosok papanya. Perhatian bisa ia dapatkan dari Kakek Malik, namun mereka harus diajarkan menerima nasib, Bu. Aku tidak mau membohongi anak-anak bahwa semua baik-baik saja, dan hanya diganti peran. Aku ingin anak-anak belajar menerima kondisinya dan membentuk diri menjadi orang yang bisa survive dalam keadaan apapun".
Rania mendekati ibunya, memegang tangan ibunya yang gemetar karena tangis. Rania memeluk Ibunya.
"Bu. Beri aku kepercayaan, bahwa aku mampu melewati masalah ini bersama anak-anak"
"Benar apa yang dikatakan Rania, Bu".
Ayah Malik menghampiri sepasang ibu dan anak yang sedang berpelukan.
"Aku mengajarinya untuk menghadapi masalah, bukan lari dari masalah. Aku ingin dia menghadapi masa-masa ini. Kemudian segera menyudahi tangisnya, bangkit!. Agar besok saat ia kembali lagi ke rumah ini, dia telah menjadi sosok ibu yang sukses. Sukses dalam membangun diri, membangun karir, dan sukses merawat dan mendidik anak-anak. Memberi ruang bagi Rania dirumah ini, hanya akan memenjarakan ia dari masalah. Jangan sampai kita mati membawa lara dan dendam yang tak berkesudahan. Pergi dan hadapi. Kembali dan menangkan hidupmu!".
Ayah Malim kemudian memeluk Rania. Tanpa tangis. Rania pun belajar menahan tangis. Hanya dosa yang pantas untuk ditangisi. Bukan Masalah, bukan takdir. Sebab semua yang terjadi, tak akan pernah terjadi, tanpa ridho ilahi.
Sepekan berada bersama keluarganya, Rania menjadi lebih mantap untuk memulai hidup yang baru. Bekerja dengan semangat yang baru. Hidup untuknya dan untuk anak-anaknya. Bukan untuk dendam, bukan untuk menunjukkan pada siapapun bahwa ia mampu.
Hiduplah untuk dirimu sendiri
Bukan untuk membayar dendam
Sebab, bahagia itu sederhana saja
Melihat apa yang harus diselesaikan
Selesaikanlah, terima takdirmu
Agar esok kau bisa menghadapi takdirmu yang baru.
Bersambung
Dear readers...
trimakasih untuk pembaca setiaku
yang sudah menyempatkan membaca dan memberikan like and comment nya.
__ADS_1
Maaf jika ceritanya masih banyak kekurangan❤️🤗 sampai bertemu di part berikutnya ya😊😍