100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 19 Godaan


__ADS_3

Rania menuruni anak tangga menuju lokasi parkir. Rania tau Jean telah menunggunya disana. Perhatian dari Jean membuat Rania bersemangat. Tak ayal, perhatian dari Jean selalu Rania nanti.


"Sudah siap, nyonya...?" ledek Jean sambil membukakan pintu mobil.


"Kata bapak makan di warung lesehan seberang, kok pakai mobil?"


"Saya berubah pikiran. Ingin makan di warung lesehan menu seafood di Pantai Indah Kapuk"


"Jauh...pak!" selidik Rania


"Ya. Tapi enak loh. Kamu pasti suka" Ledek Jean sambil mulai menyalakan mobilnya.


Rania menurut saja. Ia pun telah merasa lapar. Tadi siang ia tidak makan siang karena larut dalam kesibukan di dapur produksi. Rania sangat bersemangat. Ia ingat akan tujuannya untuk menjadi nahkoda untuk kapal yang baru. Ia juga akan berusaha untuk mendapatkan anak-anaknya kembali. Apapun caranya!


"Rania, kamu sudah berubah. Aku senang melihat perubahan kamu sekarang".


Ucap Jean sambil mengendarai mobilnya


"Oh ya...apakah sudah terlihat?"


tanya Rania. Perubahan yang dialami Rania memang ia lakukan dengan tekat yang kuat. Semua atas motivasi sang ayah. Sebagai anak sulung, ia harus menjadi contoh pribadi untuk adik-adiknya. Ia juga juga ingin menjadi ibu yang kuat untuk anak-anaknya. Tak mungkin ibu yang lemah bisa membela dan mempertahankan anaknya.


"Ya...tentu sangat terlihat" jawab Jean.


"Alhamdulillah kalau begitu..."


Ucap Rania singkat. Ia tak ingin terlalu banyak menceritakan angan-angan nya pada Jean. Bagaimana pun Jean sudah terlalu banyak membantu Rania. Ia tak ingin meminta lebih.


"Kamu sengaja berubah, Rania?"


Sepertinya Jean tidak ingin menyerah. Ia ingin tau banyak hal tentang Rania".


"Ya. tentu pak. tidak enak menjadi wanita lemah!" ucap Rania.


Sejenak mereka saling terdiam. Rania mulai mengingat kembali banyak peristiwa yang menyakitkan hati, pikiran dan terutama mentalnya. Hampir saja ia gila. Atau mungkin Dani telah berpikir bahwa Rania telah gila. Karena ia mengetahui bahwa Rania dirawat di Rumah Sakit jiwa dari seorang rekannya yang saat itu menangani jaringan di Rumah sakit tersebut. Mungkin Dani saat ini puas telah merasakan kemenangan. Tapi, Rania bertekad untuk kuat, dan membalas apa yang dilakukan Dani.


"Apa rencana saat ini, Rania?"


Pertanyaan Jean mengagetkan Rania dalam lamunannya.


"Saat ini?" Tanya Rania mengulang. Tiba-tiba ia ingat sesuatu.


"Memiliki ponsel!" Ucap Rania yakin.


Ponsel lamanya hancur saat kecelakaan itu. Tapi ia masih memegang SIM card nya.


Jean tertawa lebar.


"Kok targetmu ponsel sih, Rania?"


Jean merasa bingung. Saat sudah berubah mengapa Rania malah hanya ingin sebuah ponsel.

__ADS_1


"Karena aku yakin Azka akan menghubungi saya pak. Azka telah mengingat nomer ponsel saya. Jadi, saya harus memiliki ponsel. Agar jika Azka menghubungi, saya bisa tau". Ucap Rania lirih. Suaranya terbata-bata. Ia mulai terlihat sedih.


Mereka kembali diam ....


Tiba-tiba mobil yang sebelumnya di laju perlahan, mendadak di pacu dengan kecepatan tinggi. Melewati jalanan Jakarta yang cukup padat, mobil Jean berhasil menyalip mobil-mobil didepannya.


Mobil berbelok di sebuah mall. Kemudian terparkir di basement mall tersebut.


"Pak, mengapa kesini?, kan kita katanya mau makan seafood di Pantai Indah Kapuk?"


Rania bingung mengapa Pak Jean merubah rencana untuk kedua kalinya.


"Kita kesini dulu. Ada perlu, ayo turun!"


Ucap Jean sambil membukakan pintu mobil untuk Rania.


Rania mengikuti langkah kaki Jean. Kemudian memasuki sebuah lift. Jean menekan tombol yang ada di lift. Mereka masih sama-sama diam.


Pintu lift terbuka. Ada deretan counter handphone berjejer dilantai itu. Rania makin bingung. Tapi ia tak berani bertanya pada Jean.


Rania duduk disebelah bangku yang Jean duduki di sebuah counter yang menjual aneka macam handphone. Ia mulai berpikir ingin membeli sebuah ponsel. Tak perlu bermerk mahal. Cukup yang bisa ia gunakan untuk telpon dan mengunduh aplikasi WhatsApp.


Iya iseng bertanya tentang harga sebuah handphone android yang menurut Rania paling sederhana modelnya. Ia belum memiliki uang untuk membeli sekalipun itu handphone yang termurah. Ini hari pertama ia kerja, belum mendapatkan gaji tentunya.


"Mas, boleh tanya-tanya dulu gak?


Ucap Rania berbisik pada salah seorang penjaga counter.


"ini..yang ini berapa?"


Rania menunjuk salah satu ponsel android.


"Yang itu dua juta tiga ratus ribu mba, cameranya sudah depan belakang. memory nya tiga giga".


Jawaban dari penjaga counter membuat Rania terkejut. Harga itu tentu mahal untuknya. Separuh gaji Rania.


Sungguh tidak mengharapkan memiliki ponsel canggih, memory tinggi apalagi double camera. Ia tak percaya diri untuk sekedar Selfie. Tak bisa ia ingat kapan terakhir ia ber swa foto.


"Kalau yang paling murah mana mas?


Ucap Rania. Mengharap ada ponsel yang bisa terjangkau di sakunya. Karena kebutuhannya banyak. Ia bertekad untuk mandiri. Tidak bergantung pada Jean.


"Oh ini ada...hanya tujuh ratus ribu rupiah mba" Ucap penjaga counter itu menunjuk salah satu handphone keluaran cina.


"oh iya mas... terimakasih atas informasinya ya mas. Insyaallah akan saya beli bulan depan" Ucap Rania tersipu malu, karena ia masih hanya sekedar bertanya saja , tanpa membeli.


Jean telah selesai dengan urusannya dan mengajak Rania kembali ke mobil.


Pintu mobil ditutup. Rania telah siap memasang seat belt. Tiba-tiba Jean menyalakan lampu dalam mobil.


"Rania, ini"

__ADS_1


Ucap Jean sambil menyodorkan sesuatu dalam kotak.


"Apa ini Pak?"


"Bisa gak mulai sekarang kamu panggil aku ms atau Jean saja. Aku belum terlalu tua Rania..." gerutu Jean sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"hahaha". Rania tertawa.


Sebenarnya memang usia Rania dan Jean setara. Hanya sebutan Pak merupakan sebutan yang tepat dari bawahan untuk atasannya.


"Oke. Ini apa Jean?" Tanya Rania.


kali ini disambut senyum sumringah di wajah Jean.


"Ponsel yang kamu butuhkan, Rania"


Ucap Jean sambil mengeringkan mata.


Rania terhenyak. Ia merasa Jean berlebihan.


"Maaf Jean. Aku tidak bisa menerimanya!"


Ucap Rania sambil memalingkan pandangan keluar jendela mobil.


"Kenapa...ke...kenap Rania?!"


Jean terkejut menerima penolakan dari Rania. Diluar ekspektasi, ia ingin memberikan surprise pada Rania. namun disambut penolakan.


"Aku sudah terlalu banyak merepotkan mu, Jean. Bahkan semua fasilitas yang aku nikmati itu atas kebaikan mu. Aku tak enak hati terlalu merepotkan mu". Ucap Rania lirih.


"Tapi aku ikhlas, Rania, bagaimana mungkin kamu menolak pemberian seseorang yang ikhlas menolong mu"


Rania terdiam. Suasana menjadi kaku sesaat.


"Begini saja. Kamu boleh menganggap ini hutang. Kamu bisa bayar dengan cara menyicil dari gaji mu". Tawar Jean.


"Benarkah Jean?" Wajah Rania berbinar. Ia merasa lebih dihargai dengan cara berhutang daripada diberi secara cuma-cuma.


"Ya... nanti aku minta bagian keuangan memotong gaji mu setiap bulannya" Ucap Jean dengan senyum tipis khas pria cool.


"Baiklah. Terimakasih Jean"


"Ambillah, Rania".


Rania mengambil handphone itu dan memasukkannya kedalam tas.


Mobil kembali melaju menuju tujuan utama Seafood Pantai Indah Kapuk ....


...Dear pembaca Tak tersa sudah bagian ke 19...


...Ikuti terus ya dengan cara klik like untuk mendukung author supaya lebih Josssss nulisnya...terimakasih❤️...

__ADS_1


__ADS_2