
Pernikahan Dani Mahendra dan Delita Kartika akan digelar beberapa hari lagi. Segala persiapan telah dibuat oleh keluarga Delita di Semarang. Sebuah pesta pernikahan yang hanya digelar di gedung biasa, menimbulkan pro dan kontra. Ini bukan pernikahan Anang Ashanty. Dudanya beda. Bukan duda kaya biasa. Begitulah bisik-bisik tetangga.
Status Dani sebagai duda anak dua pun tak ayal membuat persepsi negatif tentang kepribadian Delita. Stigma pelakor mulai dilantunkan para ibu-ibu yang biasa memiliki job tambahan sebagai wartawan kampung. Mulai dari tukang sembako, Abang keliling penjaja sayur, sampai ibu-ibu PKK desa menjadi sasaran gosip Delita pelakor muda duda Jakarta.
Tak ayal gosip yang menyebar membuat Bu Yayu jatuh sakit. Memikirkan anak perempuan semata wayangnya menjadi bulan-bulanan gosip kampung. Ingin rasanya ia membatalkan pernikahan putrinya. Namun ia menyadari bahwa semua itu tak mungkin dilakukan. Delita tengah hamil. Siapa laki-laki yang mau bertanggung jawab kalau bukan Dani?
Sebuah tenda dengan dekorasi telah terpasang rapi. Delita memilih sebuah gaun berwarna gold sebagai pakaian pengantinnya. Dani datang beserta keluarganya. Ad Bu Nani, Melati, Lisna dan Bimo. Mereka menginap disebuah hotel bintang lima di Semarang, berjarak delapan ratus meter dari lokasi gedung. Akad nikah dan resepsi pernikahan berjalan lancar. Meskipun banyak menimbulkan hujatan dari para undangan yang hadir. Menghujat status Dani. Menghujat karena akta perceraian belum genap 100 hari. Perselingkuhan yang sempurna.
***
Malam pengantin akan dihabiskan di hotel tempat Dani menginap. Delita tak akan menyia-nyiakan malam yang bukan pertamanya ini. Sebuah bathtub dengan air hangat dan minyak esensial aroma terapi lavender telah tersedia. Ruang kamar mandi dipenuhi aroma lavender. Sebuah lingerie dress **** berwarna ungu terong telah ia kenakan. Namun, Dani masih larut dalam pekerjaannya. Ada proyek di Surabaya yang harus segera ia selesaikan.
Beberapa waktu berselang, Dani mulai masuk kamar mandi dan menenggelamkan diri di bathtub. Delita yang bersiap menyusul Dani di kamar mandi, tiba-tiba dikagetkan dengan suara dering ponsel milik Dani. Karena berada di kamar mandi, Dani tidak mendengar dering ponsel itu. Delita yang penasaran segera melihat layar ponsel. Sebuah panggilan masuk dari Renata.
"Halo mas..."
Delita mengangkat telpon tanpa bersuara. Terdengar dari seberang suara perempuan itu berbicara.
"Mas...mas...kamu kok ga bisa dihubungi dari kemarin?. Hari Sabtu jadi kita ketemu di Bali ya?"
Renata seperti menunggu jawaban Delita merasa sakit tepat di hatinya. Ini malam pernikahannya, tapi ada perempuan lain yang mencoba mengganggu ketenangannya.
Tapi Delita diam.
"Mas...mas....halo..."
Delita segera menutup telpon. Napsu bercintanya musnah seketika, yang tersisa hanya perasaan marah berkecamuk dengan dendam yang ingin segera terbalaskan.
Delita memutuskan menunggu di ranjang. Dengan perasaan dingin, Delita melewati malam pernikahan itu.
Ingin rasanya ia menghujamkan pisau tepat di jantung suaminya itu. Berani masih berhubungan dengan perempuan lain ketika Delita dalam keadaan hamil.
***
"Del, aku akan ke Bali Sabtu besok. Kamu nanti akan diantar supir ke Bogor. Kemasi barang-barang mu supaya tidak bolak-balik ke Semarang".
Ucap Dani di sela-sela menikmati hidangan sarapan hotel.
"Aku ikut!"
Ucap Delita ketus.
"Ini urusan bisnis. Kamu jangan ikut. Nanti kita bulan madu ke Singapura saja!"
Delita membanting Sendok makannya di piring.
"Aku ingin di Bali saja!"
Desak Delita.
"Oke. Tapi bukan depan ya!"
__ADS_1
Bujuk Dani.
"Tidak. Aku ikut dengan mu besok!"
Bantah Delita. Sungguh dia tau bahwa Dani telah janjian untuk bertemu dengan Renata.
"Jangan keras kepala, Delita!"
"Jangan hobi berbohong bapak Dani!"
"Apa maksud kamu?!"
Dani mulai tersudut.
"Renata menghubungi mu kemarin!"
Dani diam sesaat, kemudian mengambil sebuah kunci mobil. Sambil berlalu pergi.
"Jangan harap setelah menjadi istriku kamu bisa bebas mengatur kehidupanku, Delita!"
Kemudian pintu ditutup dengan kasar.
Kehamilan membuat perasaan Delita menjadi lebih sensitif. Ia lebih sering curiga terhadap Dani.
***
Sabtu pagi, Dani dan Delita chek out dari hotel tempat mereka menginap selama bulan madu pernikahan. Dani langsung menuju ke Bali. Sedangkan Delita dijemput oleh supir Dani menuju Jakarta. Ia tak bisa memaksakan diri untuk ikut bersama Dani. Bagaimanapun mereka masih pengantin baru, tak mungkin terlalu banyak bertengkar.
Dani telah lama dekat dengan Renata. Dani memiliki kekaguman tersendiri terhadap Renata. Kecerdasan dan kepiawaian dalam ilmu marketing. Rena juga berparas cantik dan bertubuh jenjang. Teman sekantor menyebutnya mirip Luna Maya. Tak heran Dani berusaha keras untuk mendapatkan hati Renata, entah untuk dijadikan perempuan korban yang kesekian kalinya.
Berbeda dengan Perempuan Delita dan Pina. Renata adalah perempuan berkelas yang sulit ditaklukkan. Bahkan Dani beserta dua rekan bisnisnya bertaruh judi hanya untuk mendapatkan hati Renata. Syukur-syukur bisa menjadi teman ranjang semalam. Tidak main-main, uang yang dipertaruhkan sebesar Seratus Lima Puluh Juta Rupiah.
Kuta-Legian Hotel, merupakan tempat Kegiatan meeting serah terima lelang tender. Dani bertemu dengan Baskoro dan Kevin, geng yang memperebutkan hati Renata. Mereka mempertaruhkan uang seharga biaya sebuah pernikahan. Jadi siapa yang menang taruhan ia bisa menikahi Renata.
***
Meeting baru saja selesai. Dani dan tim telah menentukan waktu untuk proses pengiriman barang dan instalasi jaringan komputer. Nilai tender mencapai 10 M dalam waktu satu tahun, sehingga perlu persiapan matang. Dani membutuhkan dokumen kontrak dari perusahaan Elektronik tempat Renata bekerja. Dani tentu memiliki alasan untuk mengundang perempuan dengan tinggi 175cm itu ke kamar hotelnya yang berkelas presidential suite room dengan fasilitas ruang tamu didalamnya.
Bagai gayung bersambut. Renata menyetujui untuk mengantarkan dokumen perjanjian kerjasama ke ruang kamar Dani. Merasa rencananya akan berjalan mulus, Dani pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya. Meskipun ia baru saja menikah, namun, pendekatan dengan Renata telah ia jalin lama. Sudah terbiasa hatinya terbagi-bagi. Bagi Dani, kemenangan mendapatkan hati Renata merupakan prestise dihadapan rekan bisnisnya.
Dani menyiapkan sebuah kamar bertabur malam dengan warm light berwarna kuning hangat. Ada buket mawar di pojok sofa ruang tamu, sebotol wine dan dua gelas sulang. Sedangkan di kamar mandi, ia telah menyiapkan bathtub dengan air hangat dan aroma rose esensial.
Malam itu Dani mengenakan pakaian terbaiknya, aroma mask yang dia semprotkan dari parfum melekat di tubuhnya. Hingga jarak tiga meter sekalipun bisa mencium aroma segar dari tubuh Dani. Tak lupa ia mencukur kumis dan jambang agar terlihat lebih muda. Maklum, Renata baru berusia Dua Puluh Tita Tahun.
Jam 19.00 pintu kamar hotel diketuk. Dani merasa jantungnya berdebar, ah...berhasilkah ia mencicipi keperawanan gadis lagi?
Tak lupa ia membagikan potret suasana kamarnya pada dua rekan rivalnya itu, dan berbalas bendera kekalahan dari para rivalnya.
***
Dani membuka pintu kamarnya, Ia tertegun dengan penampilan Renata yang sangat anggun malam itu, dengan dress berwarna magenta yang hanya menutupi separuh lengan dan diatas lutut, dengan brukat yang menutupi dada dan warna lipstik tipis dengan riasan wajah sederhana sangat menggoda. Rambut hitam sebahu sengaja digerai, menambah kesan eksotis. Sepertinya Renata telah menyiapkan diri untuk memenuhi napsu Dani.
__ADS_1
"Renata...kamu datang"
Renata membalas dengan senyuman tipis. Di lengannya ada tas berwarna coklat yang terdapat dokumen didalamnya.
"Ayok masuk..."
Renata kemudian masuk. Pintu otomatis ditutup.
"Kamu minum wine?"
Tanya Dani.
"Maaf saya tidak minum wine"
Jawab Renata lembut.
"Oh ya oke"
Kemudian senyap. Dani memandang dalam wajah Renata. Lama. Membuat Renata gelisah dan serba salah.
"Mas...maaf dokumennya bisa segera ditandatangani?"
"oh...iya"
Kemudian Renata menyerahkan dokumen kepada Dani. Setelah ditandatangani, Renata segera memasukkan salinan dokumen kedalam tas nya, dan menyerahkan aslinya pada Dani.
Terdiam sesaat. Renata terlihat gelisah.
"Mari menikmati hidangan sayang"
Beraninya Dani memanggil Renata dengan panggilan sayang. Renata juga terlihat terkejut dan gugup.
"Maaf mas, saya harus segera pergi. Saya sudah ada janji lain".
"emmm janji?"
"iya. Ada yang menunggu diluar"
Dani merasa bingung. Kemudian Renata menjabat tangan Dani dan bangkit dari tempat duduknya. Pintu di buka, ada sosok laki-laki berseragam polisi tengah bersandar di samping pintu, dan berbalik menyambut Renata yang keluar dari pintu.
Dani terhenyak menyaksikan.
"Perkenalkan Mas Dani, ini Ega tunangan saya. Maaf saya tidak bisa lama menemani anda. Karena sudah ada janji akan bertemu keluarga Ega di Bali".
Ucap Renata sumringah. Kemudian berlalu pergi. Menggandeng tangan Ega, tunangannya.
Hati Dani....jangan tanya lagi.
Bersambung,
Dear....Para Readers setiaku. terimakasih untuk terus mengikuti cerita plus like and comment nya ya🤗🤗
__ADS_1
see you at the next part ❤️