100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 70 Menyembuhkan Trauma Seorang anak/Trauma akibat perceraian


__ADS_3

Hakim mempersilahkan Dani untuk meminta ijin kepada Dani untuk terlebih dahulu meminta izin kepada Wali yang mendampingi Azka.


Rania bisu seribu bahasa. iya hanya mampu berurai air mata tanpa bisa berkata apa-apa ketika dari mendekat dan meminta izin kepadanya untuk bisa berbicara langsung dengan Azka.


Tak disangka Jean yang tengah mendekap Azka membujuk anak itu untuk mendekat pada ayahnya. Namun tak disangka, Azka terlihat ketakutan..Wajahnya tiba-tiba pucat pasi dengan keringat dingin yang bercucuran. Tangannya begitu kuat mendekap Jean, hingga Jean kesulitan untuk melepaskan dekapan Azka.


"Dani dan Bapak hakim yang terhormat. Maafkan saya sebagai ayah sambung untuk ananda Azka, saya telah berusaha untuk membujuk putra dari bapak Dani ini agar mau mendekat dan berbincang langsung dengan ayah kandungnya. Namun apa daya, ini murni terjadi. Ananda Azka, putra sambung saya masih dalam keadaan trauma psikologis akibat dari kejadian kemarin".


Azka terus meronta meminta pulang. Jean masih tetap berusaha tenang dan melanjutkan pembicaraannya.


"Bapak hakim dan Bapak Dani, tanpa mengurangi rasa hormat. Saya memohon ijin, berikan saya waktu untuk membujuk dan meredam trauma yang dirasakan Azka. Jika saya melihat kesiapan Azka untuk bertemu ayah kandungnya. Mak saya akan segera mempertemukan keduanya. Itu janji saya".


Ucap Jean dengan penuh ketegaran. Terlihat laki-laki yang telah dianggap ayah oleh kedua anak Rania mengucapkan janji dengan mantap. Tangis Rania kini bukan karena rasa sakitnya, melainkan rasa harunya mendengar perkataan Jean. Terlihat nyata bahwa laki-laki ini sangatlah gentle dan bertanggungjawab.


***


Dani harus belajar legowo untuk melihat Jean yang bisa lebih dekat dengan anak-anak dibandingkan dirinya. Dani menatap punggung Jean yang berlalu sambil menggendong Azka dan menggandeng lengan Rania. Perlahan menghilang melewati koridor persidangan, sedangkan Dani, digiring kali ke jeruji besi.


***


"Rania...Ran...!!"


Rania menoleh ke sumber yang memanggilnya. Dialah Bimo, adik Dani.


Rania berhenti dan memutuskan untuk bertemu Bimo.


"Rania, aku ingin bicara denganmu"


Ucap Bimo sambil melirik kearah Jean. Jean memahami bahasa tubuh Bimo. Kemudian ia menyingkir dari Rania.


"Rania, aku ingin meminta maaf padamu atas kesalahan abang ku".


"Bimo, semua terjadi atas kehendak Allah. Aku telah mengikhlaskan semua yang terjadi"


Jawab Rania dengan ekspresi dingin.


"Aku sebenarnya ingin kamu berusaha untuk menjalin lagi silaturahmi anak-anak dengan Abang, karena demi kesembuhan jiwanya. Bagaimanapun dia adalah ayah kandung dari Azka dan Zidan".


"Bim, tolong jangan menuntut saya. Sama halnya ketika aku tidak pernah menuntut kalian untuk mempertemukan ku dengan anak-anak saat kalian menyembunyikannya!'


Seberapa sembuh memori itu, namun tetap tak bisa hilang begitu saja.


Bimo terdiam


"Aku akan tetap berusaha untuk menyembuhkan trauma psikis Azka. Namun tak jamin berapa lama aku membutuhkan waktu. Tenang, aku tak akan membalaskan dendam. Suamiku mengajarkan aku untuk tidak mendendam. Kau dengar apa yang dikatakan suamiku, dia telah berjanji pada Dani dan dihadapan hakim, bahwa dia akan membawa Azka menemui ayahnya. Aku kira itu sudah cukup membuktikan bahwa, aku akan menyambungkan silaturahmi antara ayah dan anak!"


Bimo masih diam. Ia lupa bahwa mereka sekeluarga pernah menghukum Rania dengan memisahkannya dengan anak-anak.

__ADS_1


"Bimo, aku permisi pulang dulu. Oh ya sampaikan salam ku untuk ibu. Semoga beliau sehat selalu!"


Ucap Rania sambil berlalu dari hadapan Bimo.


***


Hari berganti...


Rania fokus merawat kehamilannya. Jean dengan sabar membagi perhatian antara bisnis, anak-anak dan juga Rania.


Sesuai janji Jean pada Dani, Jean berusaha untuk menyembuhkan Luka batin Azka. Sepekan dalam sekap papa Dani, membuat cara pandang Azka terhadap sosok Papanya berubah. Setiap mendengar kata papa, tubuh Azka gemetar dan ketakutan.


Rania membawa Azka pada seorang psikolog yang ada di Lumajang, Bu Ainun, S.Psi.Psi. Bu Ainun praktek tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Pada pertemuan pertama, Bu Ainun melakukan wawancara dengan Rania dan Jean mengenai kronologi trauma yang dialami Azka.


Rania dan Jean memberikan keterangan apa adanya mengenai apa yang dialami oleh Azka. Bu Ainun kemudian mencatat hasil wawancara.


Hari berikutnya observasi dilakukan. Bu Ainun hadir di sekolah dan beberapa kali di rumah Azka. Terlihat bahwa anak itu takut untuk bermain jauh dari area rumah. Ia juga membatasi diri dalam berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenalnya, terutama Bu Ainun. Bahkan, ketika Bu Ainun datang bersama suaminya, Azka terlihat menghindar dari Bu Ainun, seperti waspada pada kehadiran orang-orang baru.


***


Di suatu sore ketika sesi konseling berlangsung. Bu Ainun menyodorkan secarik kertas lembar hasil diagnosis.


Pada kertas itu, Azka didiagnosis mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Bu Ainun menjelaskan isi dari diagnosisnya. Rania berusaha tegar untuk mendengarkan penjelasan dari Bu Ainun.


"Bu Rania, ijinkan saya menjelaskan mengenai Post traumatic Stress Disorder atau PTSD ini pada anda. Anda butuh tau informasi lengkap tentang ini agar nantinya memudahkan anda dalam melakukan bantuan terapi psikologis di rumah. Bagaimanapun hebatnya saya, peran keluargalah yang lebih utama".


" Bu Rania dan Pak Jean. Seperti yang tertera pada kertas hasil diagnosis bahwa ananda Azka mengalami apa yang dinamakan PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma yaitu gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. Sehingga,


membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD antara lain perang, kecelakaan, bencana alam, kekerasan, dan pelecehan seksual. Nah pada kasus ini ananda Azka kemungkinan mengalami kekerasan verbal yang membuat luka pada psikisnya".


Bu Ainun berhenti sejenak ketika melihat Rania mulai terlihat cemas. Jean berusaha menenangkan Rania.


Bu Ainun kemudian melanjutkan penjelasannya.


"Meski demikian, tidak semua orang yang teringat pada kejadian traumatis berarti terserang PTSD. Ada kriteria khusus yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang mengalami PTSD.


Saya akan menjelaskan mengenai gejala-gejala yang merujuk pada diagnosis ini.


Gejala PTSD muncul setelah seseorang mengalami peristiwa yang membuatnya trauma. Waktu kemunculannya bisa beberapa bulan atau beberapa tahun setelah kejadian traumatis tersebut. Tingkat keparahan dan lamanya gejala juga berbeda-beda pada tiap penderita.


Beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami PTSD adalah:



Ingatan pada peristiwa traumatis


__ADS_1


Penderita PTSD sering kali teringat pada peristiwa yang membuatnya trauma. Bahkan, penderita merasa seakan mengulang kembali kejadian tersebut. Ingatan terhadap peristiwa traumatis tersebut juga sering kali hadir dalam mimpi buruk, sehingga penderita tertekan secara emosional.



Kecenderungan untuk mengelak



Penderita PTSD enggan memikirkan atau membicarakan peristiwa yang membuatnya trauma. Hal ini ditunjukkan dengan menghindari tempat, aktivitas, dan seseorang yang terkait dengan kejadian traumatis tersebut.



Pemikiran dan perasaan negatif



Penderita PTSD cenderung menyalahkan dirinya atau orang lain. Selain itu, penderita juga kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukainya dan merasa putus asa. Penderita juga lebih menyendiri dan sulit menjalin hubungan dengan orang lain.



Perubahan perilaku dan emosi



Penderita PTSD sering kali mudah takut atau marah meski tidak dipicu oleh ingatan pada peristiwa traumatis. Perubahan perilaku ini juga sering membahayakan dirinya atau orang lain. Penderita juga sulit tidur dan berkonsentrasi.


Dan saya melihat semua gejala terjadi pada Azka. Terutama gejala mengelak, sulit tidur dan menjauhi hal yang membuatnya trauma".


"Apa yang harus kami lakukan, Bu?"


Tanya Jean. Ia sangat ingin Azka hidup normal kembali.


"Sebenarnya ini telah masuk ranah Psikiater. Namun, saya telah bekerja sama dengan dr. Diana Spesialis Kesehatan Jiwa, saya telah membuat rencana tindakan untuk Azka. Untuk kasus Azka, kita tidak memerlukan obat-obatan. Saya rasa cukup kita melakukan Psikoterapi".


Rania dan Jean masih menyimak penjelasan Bu Ainun.


"Bu Rania dan Pak Jean, saya membuat rencana terapi Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR), yaitu kombinasi terapi eksposur dan teknik gerakan mata untuk mengubah respons pasien saat teringat kejadian traumatis. Saya tentu membutuhkan bantuan Bu Rania dan Pak Jean untuk menerapkan terapi ini di rumah".


Bu Ainun memberikan secarik kertas pada Rania. Disana terdapat rencana tindakan untuk diterapkan pada Azka.


"Bismillah ya Allah, semoga ini menjadi jalan kesembuhan untuk anakku". Gumam Rania.


Bersambung..


Hello readers...yuks follow Ig @bungakering1986 dan sharing pengalaman rumah tangga atau yg mau sekedar curhat dan berbagi cerita disana. Bisa di DM atau kolom cerita ya ..author akan balas langsung atau saat live nanti dibahas...yuk...yuk merapat!


See you at the next part 😍🙏

__ADS_1


jangan lupa like dan fav nya


__ADS_2