100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 91 : Dinda : Habis


__ADS_3

Dinda memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup menatap Rita yang berharap mendapatkan jawaban dari Dinda.


"Din, kamu kok malah diem aja?!"


Dinda tersenyum kecut.


Ini pasti ada kaitannya dengan keikutsertaannya dalam pemilihan Neng dan Aa, duta kampus yang sedang diselenggarakan. Dinda sempat mencalonkan diri sebagai salah satu peserta. Ada persyaratan singgle disana.


Namun, dalam situasi Psikologis-nya yang seperti sekarang ini, tentu ia akan mundur dari ajang tersebut. Mengingat ia pun telah merubah penampilan menjadi lebih syar'i.


"Rit, kira-kira siapa yang sudah menyebarkan berita itu?"


Rita terdiam. Mencoba mengingat orang yang memberitahunya.


"Seingat ku, Mayang. Anak jurusan management. Kamu kenal kan?"


Ucap Rita. Dinda tentu mengingat siapa Mayang. Namanya tidak asing. Mereka pernah terlibat beberapa kerjasama..Mayang adalah seorang model. Terakhir mereka bertemu ketika acara pemotretan sebuah handphone keluaran terbaru. Dinda yang bertugas menjadi makeup artis. Namun, apa motif Mayang menyebarkan aib Dinda, dan dari mana sumbernya, Dinda masih bertanya-tanya dalam hati.


Selain keluarga, tentu hanya Pras dan Haris yang mengetahui masa lalunya.


"Din...kamu kok bengong?"


"Oke. Aku akan jujur padamu. Sudah terlanjur juga".


Jeda sesaat. Dinda menghela nafas. Mengatur kata-kata.


"Aku memang sudah pernah menikah sebelumnya. Statusku janda tanpa surat. Karena menikah bawah tangan alias siri!".


Rita terlihat melongo mendengar penjelasan Dinda.


"Serius?"


Dinda mengangguk lesu .


"Ada yang salah?"


Tanya Dinda.


Rita menggeleng.


"Kenapa bisa begitu, Din?"


Rita penasaran.


"Itu takdirku. Seperti takdirmu yang juga tak bisa ku tanyakan".


Jawab Dinda.


***


Dinda belum sempat mencari konfirmasi siapa dalang dari terbongkarnya aib dirinya sendiri. Maklum Dinda terkenal sebagai brand ambassador dan owner sebuah bisnis kosmetik. Sehingga, ia cukup di kenal di kampus dan dikagumi, karena ia menjadi salah satu youngpreneur membanggakan di kampus nya, tak heran Dinda menjadi bahan perbincangan yang seru bagi mahasiswa kunang-kunang, alias datang dan melayang, tanpa prestasi.


Dinda mencoba bertanya pada beberapa rekan di kampus yang dekat dengannya. Dari sumber yang disebutkan, muncul nama yang sama dengan yang disebutkan oleh Rita tadi, Mayang si anak Prodi Management itu.


Perasaan kesal dan marah menguasai Dinda. Ia merasa tidak pernah mengganggu orang lain, mengapa sekarang ada yang berani mengusiknya dengan menyebarkan aibnya?!


Dinda mencari tau keberadaan Mayang lewat teman-temannya. Namun, Mayang ternyata sudah tiga hari tidak ke kampus. Dinda yang geram dengan apa yang Mayang lakukan, juga mencari tau nomer ponsel Mayang melalui teman satu program studinya. Dinda akhirnya mendapatkan nomer ponsel Mayang.


Beberapa kali Dinda mencoba menghubungi Mayang, namun tak berhasil. Pesan singkat melalui WhatsApp yang ia kirimkan juga tak kunjung mendapat balasan.


"Ada dendam apa kamu, Mayang?!"


Gumam Dinda bertanya sendiri dalam hatinya.


Dinda sebenarnya tak begitu mengenal Mayang. Hanya sebatas klien yang pernah menggunakan jasa makeup-nya. Namun, sepertinya Mayang telah mengenal Dinda lebih jauh.


Dinda memutuskan untuk berselancar melalui sosial media. Melihat sisi kehidupan Mayang di dunia maya.


Dinda membuka Instagram milik Mayang yang tidak di private. Mereka tidak saling follow sebelumnya.


Dinda men-scroll gambar-gambar yang terpajang di wall nya itu.


Deg ... Haris!


setahun lalu, Mayang ternyata pernah dekat dengan Haris!


Ada foto mereka berdua sedang duduk menikmati sunset di sebuah pantai. Terlihat bahwa lokasi pantai itu ada di Bali. Dinda semakin penasaran, ia pun terus men-scroll bagian bawah koleksi foto Mayang. Ia semakin terkejut, karena ada foto Weli, mantan istri Haris.


Dinda mulai mengait-ngaitkan apa yang sebenarnya terjadi?!


****


"Din, Mayang aku lihat ada cafe Tren, kamu kesana segera!"


sebuah pesan masuk ke handphone-nya. Billi, rekan se-profesi Mayang yang juga partner bisnis Dinda.


Dinda segera meluncur menuju lokasi dengan menggunakan mobil barunya. Ya, setelah mobil pemberian Haris ditarik leasing, Dinda membeli sebuah mobil merk Mazda dengan uang cash!


Setengah jam kemudian, Dinda telah sampai di cafe yang dimaksud. Billi juga masih ada disana.


"Lantai 2 sebelah ujung kanan, Din!"


Ucap Billi memberi kode.


Dinda menaiki tangga menuju lokasi yang dimaksud.


"Haris!". Gumam Dinda.


Tepat didepan matanya, Haris dan Mayang tengah menikmati waktu bersama. Dinda menghampiri keduanya.


"Aku perlu bicara dengan kamu, May!"


Ucap Dinda yang dibalas Mayang dengan memalingkan muka.


"Maaf siapa ya? Gak kenal!"


Dinda semakin geram.


"Kalau kamu gak kenal saya. Jangan buat gosip mengatasnamakan saya!"


Mayang berdiri. Mendekati wajah Dinda.


"Gosip apa kenyataan?!"


ledeknya.


"Bukan urusanmu dengan masa laluku!"

__ADS_1


Ucap Dinda mulai memanas hatinya.


"Oh...tentu ada!"


Haris mencoba melerai keduanya.


"Kamu, Haris, bisa-bisanya membongkar aib orang lain yang jelas tak ada hubungannya denganmu!"


Bentak Dinda.


"Tentu ada. Kamu mempermainkan perasaan ku Dinda. Wajar jika ku beri kamu pelajaran. Perempuan sepertimu hanya ingin menutupi aib ketidak perawan mu kan?!"


Plak!!!


Sebuah tamparan untuk Haris. Tak terima, Haris pun menampar balik Dinda 1x. Disambut gelak tawa Mayang.


Billi segera datang menarik lengan Dinda. Menariknya hingga masuk ke dalam mobilnya.


"Din, kamu harus jaga emosi kamu!"


Dinda diam. Hanya buliran air mata yang membasahi pipi.


***


Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Dinda mendapat kabar dari Sonya rekan model yang bekerja bersama Mayang.


Rupanya, Mayang telah lama menyukai Haris. Bahkan penyebab perceraian Haris dengan istrinya disebabkan oleh Mayang. Saat Mayang mengetahui bahwa Haris bersama dengan Dinda, ia mulai mencari cara untuk menjatuhkan Dinda. Mendekati Haris kembali dan mencari aib Dinda, demi untuk menjatuhkan Dinda.


Tak disangka, Haris pun tengah membenci Dinda. Benci karena harga dirinya merasa diinjak-injak oleh Dinda. Penolakan untuk berhubungan intim!


Haris menggunakan Mayang sebagai penyebar gosip di kampus. Tujuannya tak lain agar reputasi Dinda menjadi buruk dan tak ada yang sudi untuk mendekati Dinda, perawan yang hanya status KTP saja!


***


Letih hati Dinda. Meskipun masih ditanah Jawa, namun nyatanya praktik nikah siri tak umum dilakukan di daerah lain. Ia baru menyadari bahwa praktik nikah siri ini banyak dilakukan di Jawa Timur. Sehingga, ketika cerita itu ia bawa ke daerah lain, maka terdengar sangat janggal. Seolah nikah siri adalah aib. Padahal hal itu sah secara agama.


Dinda tentu tidak bisa memaksakan persepsi orang tentang nikah siri. Karena Jawa Timur dengan Jawa Barat tentu berbeda. Di Jawa Timur nikah siri sudah sangat dimaklumi, sedangkan di Jawa Barat, banyak yang menyalah gunakan pernikahan siri ini untuk menikahi suami orang atau menutupi kasus meried by accident.


Dinda jengah dengan apa yang ia jalani. Ia pun banyak menyendiri, sendiri. Merenungi mau dibawa kemana arah hidup ini.


***


Waktu menyembuhkan luka. Mungkin seperti itulah obat terbaik untuk move on. Dinda fokus pada hijrahnya. Kesederhanaan hidup yang pernah ia tinggalkan dulu.


Dinda masih bekerja, masih ke kampus, namun aktivitasnya ia tambah dengan mengunjungi majlis ta'lim untuk menimba ilmu agama. Mendekatkan diri pada sang penentu takdir. Ini tentu lebih baik, daripada mengejar dunia yang ternyata hanya fatamorgana.


***


Bulan Desember diwarnai hujan. Saat Dinda baru selesai mengikuti sebuah pengajian. Hujan mengguyur dengan lebatnya. Dinda berteduh di masjid tempat ia menimba ilmu. Sore hampir menjemput petang. Hujan belum juga reda. Seseorang menawarkan payung miliknya.


"Ustad Hanafi..."


Gumamnya. Ustad yang terkenal dengan lantunan suara merdu saat membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Ia penceramah yang sangat dikagumi oleh ibu-ibu karena kesantunannya dalam menyampaikan dakwah. Ia juga terkenal sebagai pengusaha yang gemar bersedekah, bukan di sosial media, melainkan terkenal di sekitar rumah beliau. Kebetulan rumah mereka tak berjauhan. Hanya berjarak 500 meter.


"Pakai saja payung saya mba. Hari sudah mulai petang. Kecuali mau sekalian sholat jama'ah magrib disini".


Ucap Ustad Hanafi pada Dinda.


"Jika saya menggunakan payung ini, bagaimana dengan anda, ustadz?"


Tanya Dinda.


Lukman adalah murid Ustadz Hanafi. Ia selalu berada dimana pun Ustadz Hanafi berada.


Setelah berpamitan, Dinda kemudian pulang dengan payung yang dipinjamkan ustadz Hanafi. Entah mengapa hati Dinda bergetar. Ustadz Hanafi yang tertunduk sepanjang percakapannya, namun Dinda tak bisa melepaskan pandangannya.


"Astaghfirullah... mengapa aku begitu kagum padanya?!"


Gumam Dinda sambil tertawa sendiri.


Dinda tak bisa berhenti memikirkan Ustadz Hanafi. Bahkan menjadi stalker setia untuk media sosial sang ustadz. Perlahan Dinda mulai mencari tau kehidupan pribadi sang ustadz.


"Yes. Duda ditinggal mati!"


Hati Dinda serasa menjadi juara.


Ia mulai mencari-cari momen agar bisa bertemu dengan sang ustadz impian. Tak apalah perempuan yang mengejar, demi seorang suami idaman.


***


Keesokan paginya Dinda berniat mengembalikan payung milik Ustad Hanafi. Sekalian membawakan semangkuk sup jagung buatannya.


Dinda sampai di rumah sang ustadz yang hanya berjarak 500 meter. Sangat beruntung sang ustadz tengah berada di halaman, sedang menanti sang putri yang bersiap ke sekolah. Mengantar jemput anak ke sekolah adalah aktivitas rutin bagi ustadz Hanafi. Bahkan ia pernah mendengar bahwa ustadz Hanafi tak segan turun ke dapur jika anak-anaknya merasa lapar, sedangkan pembantunya sedang ada pekerjaan lainnya.


"Assalamualaikum, ustadz..."


Sapa Dinda. Ustadz Hanafi menatap Dinda..


"Walaikumsalam, neng"


Kemudian kembali menunduk. Menjaga pandangannya.


"Saya mau mengembalikan payung tadz, sekalian ini ada sup jagung yang sempat saya buat, semoga ustadz berkenan".


"Oh ya, neng. Terimakasih".


Dada Dinda berdegup kencang saat ustadz Hanafi menerima payung dan rantang berisi sup jagung.


***


Semenjak pagi itu. Dinda mulai mencari cara agar bisa lebih dekat dengan ustadz Hanafi. Selain rutin mengikuti kajian dakwah sang Ustadz. Dinda juga rutin menyalurkan sodakoh-nya melalui Amil yang dikelola oleh yayasan milik Ustadz Hanafi. Bahkan Dinda sering diminta sang ustadz untuk menjadi Host di acara-acara yang diselenggarakan secara live streaming di akun YouTube yang dikelola yayasan Hanafi, milik Ustadz Hanafi.


Ustadz Hanafi mulai membaca perilaku Dinda. Sesekali Dinda ketahuan tengah mencuri pandang pada dirinya. Sorot mata tak bisa berbohong. Sang ustadz tahu kapan Dinda tengah ingin diperhatikan, atau bahkan saat Dinda merasa cemburu.


Ustadz Hanafi mulai menjaga jarak pada Dinda. Ia tak ingin ada zina pikiran yang dikarenakan kedekatan dua orang yang bukan mahramnya.


Dinda semakin sulit bertemu dengan sang ustadz. Ia merasa seperti ada signal penolakan dari sang Ustadz.


Sayup-sayup Dinda mendengar bahwa sang Ustadz ingin melamar seseorang untuk dijadikan istri. Berita itu sangat santer terdengar di kantor Yayasan dan juga pondok pesantren yang dibina sang ustadz.


Berita bahwa ustadz Hanafi akan menikah kembali bocor dari salah seorang abdi dalem yang tak sengaja keceplosan ketika menyiapkan menu untuk para tamu yang diundang untuk acara persiapan lamaran.


Dinda yang belakangan telah aktif sebagai pengurus di yayasan ustadz Hanafi kembali harus menelan pil pahit kenyataan. Ia merasa dunia tak pernah memihak kepada dirinya.


...Bukankah ia telah berhijrah?...


...Ia juga telah mengubah standar kriteria calon suami agar bisa membimbing di dunia dan diakhirat?...

__ADS_1


...Tapi mengapa ia harus tetap kecewa?...


...Apakah memang ia ditakdirkan menjadi bidadari surga, tanpa jodoh di dunia?...


Dinda merenung dengan pikiran bimbang. Ia ingin mundur dari kepengurusan majlis ta'lim tersebut.


"niatku kurang lurus. Ke majelis ta'lim ingin cari jodoh bukan cari ilmu".


Gumamnya mengutuk diri sendiri.


***


Siang itu, setelah pulang dari kampus, Dinda bersiap untuk merias untuk acara tunangan di sebuah resort. Hari ini tidak ada jadwal ta'lim. Persiapan sudah 100 persen. Hanya menunggu mobil jemputan datang, kali ini ia akan menumpang kendaraan crew fotografi.


"Assalamualaikum..."


Ucapan salam terdengar beberapakali.


"Walaikumsalam..."


Dinda kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia mengira bahwa yang datang adalah rombongan jemputan. Namun ternyata itu adalah Hana, seorang pengurus Yayasan ustadz Hanafi.


"Teh Dinda ... ini saya mau menyampaikan pesan dari ustadz, kalau besok malam beliau akan bertamu ke rumah. Mohon bersiap ya teh.


Deg ...perasaan Dinda tak menentu. Ada apa gerangan ustadz Hanafi datang ke rumah.


"Ada kepentingan apa ya Ustadz Hanafi ke rumah saya?"


Tanya Dinda mencoba mencari informasi pada Hana. Namun Hana kurang paham. Ia hanya mencoba menebak saja.


"Mungkin membicarakan mengenai rencana pembangunan pesantren Putri, teh .."


Ucap Hana.


Dinda risau dengan pertemuannya dengan ustadz Hanafi. Hampir sepekan ia absen dari Yayasan itu. Semenjak sang ustadz digadang-gadang akan menikah lagi.


Rasanya ia tak ingin bertemu lagi dengan sang ustadz, sejak isu itu merebak. Ia tidak siap kecewa.


***


Sepulang dari merias. Dinda merebahkan diri di sofa depan. Tiba-tiba Niken menghampirinya.


"Din...besok ustadz Hanafi akan bertamu, kamu tau kan?"


Tanya Niken yang mengambil posisi di depan Dinda.


"Iya kak. Tapi mau bicara apa ya?"


Tanya Dinda pada kakak sepupunya itu.


"Kamu kan dah lama gak ke Yayasan. Pasti mau bahas itu!"


Celetuk Niken sekenanya.


Dinda makin gusar. Ia makin tak tenang.


Dinda memutuskan untuk bolos ke kampus keesokan harinya. Ia menyiapkan beberapa menu untuk menyambut Ustadz Hanafi dan asistennya. Sudah menjadi adat orang Jawa Timur menjamu tamu dengan hidangan mulai dari cemilan hingga makanan berat.


Dinda turun sendiri ke dapur, di bantu Niken. Jadwal hari itu sama-sama kosong. Sehingga mereka bisa turun sendiri ke dapur.


***


Tepat pukul 19.00 Ustad Hanafi beserta rombongan datang. Ada 8 orang yang datang saat itu. Dinda semakin kebingungan. Mengapa orang tua ustadz Hanafi ikut hadir. Nyai Ageng dan Abah Pandian. Dinda pun tak siap dengan penampilannya. Ia tampil tanpa make-up dan berpakaian seadanya.


Hati Dinda makin tak karuan. Nyatanya, ustadz Hanafi datang untuk meminta kesediaan Dinda menjadi pendamping hidupnya. Ustadz Hanafi ingin segera melamar Dinda langsung pada orang tuanya.


Dinda gelisah dengan pikiran yang berkecamuk dalam benaknya. Niken yang melihat kegusaran hati adik sepupunya itu mengambil alih sebagai perwakilan keluarga.


"Ustadz. Silahkan dipertimbangkan, bahwa tanpa berniat membuka aib dan tanpa berniat untuk menjatuhkan harga diri. Ingin saya sampaikan bahwa status adik saya ini pernah menjalani pernikahan siri. Adik saya telah janda".


Niken menjelaskan dengan suara berat. Dinda merasakan sesak di dadanya. Namun sekali lagi, ini adalah proses yang tetap harus dijalani.


Tak disangka. Sebelum keluarga Ustadz Hanafi bertandang, terlebih dahulu para asisten ustadz telah mencari tau latar belakang Dinda. Mulai dari pekerjaan, hingga ke kampusnya. Pernyataan mengenai status Dinda tentu sudah didapatkan oleh mereka dan disampaikan pada ustadz Hanafi.


Jika takdirmu telah datang


Maka kemana akan berlari


Jodoh, rejeki dan mati


Adalah sesuatu yang tak bisa kita pilih sebelumnya.


Ustadz Hanafi tentu memiliki pemikiran sendiri mengapa memilih Dinda sebagai pendamping hidupnya. Pernikahan siri adlah pernikahan sah dari segi agama. Tak ada perzinahan di dalamnya. Sah sebagai suami istri.


***


Acara pernikahan di gelar di dua tempat, baik di Lumajang dan juga Bandung.


Niken sendiri yang mendandani Dinda. Ia cantik dengan balutan brukat yang disulam menjadi gaun pengantin syar'i. Sebuah cincin berlian sebagai mahar pernikahan itu.


***


Dinda seperti Cinderella yang telah bertemu pangerannya. Ia diperlakukan sangat istimewa oleh ustadz Hanafi. Ia juga disambut baik oleh anak-anak ustadz yang masih berusia balita.


Malam pertama pun tiba. Kamar pengantin dihias dengan furnitur berbahan jati. Ranjang tidur berukuran king size dengan dibalut oleh kain berwarna putih tulang. Seprei berbahan satin memperlihatkan kesan mewah.


Setelah melaksanakan ibadah sholat isya. Ustad Hanafi mengambil sesuatu dari lemari. Dinda yang masih terlihat kaku didepan suaminya itu, hanya bisa menunggu dipinggir ranjang.


"Dinda, coba buka ini.."


Ustadz Hanafi memberikan sebuah kotak. Dinda kemudian membukanya. Ia terkejut karena isi kotak tersebut adalah sebuah tasbih yang hilang saat ia sholat di masjid milik pesantren. Tasbih itu sebagai bukti yang menguatkan bahwa Dinda mencintai Ustadz Hanafi. Karena dibalik gantinya tasbih, ada nama ustadz Hanafi tertulis dengan lembut dan indah. Ustadz Hanafi tau betul bahwa tasbih itu milik Dinda. Ia sering membawanya an berdzikir untuk mengisi waktu luang sebelum acara live streaming dimulai.


"Aku berniat mengembalikan ya padamu. Namun aku takut kamu malu, Karen disana terukir namaku dan juga namamu".


Ucap ustadz Hanafi dengan lembut. Dinda tersipu malu. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka bahwa Allah memberikan jalan petunjuk melalui tasbihnya itu.


"Aku sendiri yang mengukir namamu ustadz. Aku sangat tidak tau bagaimana cara untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Aku menuliskan ini saat aku tak bisa khusyuk beribadah karena asyik memikirkan mu. Hingga ku putuskan untuk mengukir namamu sebagai do'a. Dan Allah mengabulkannya".


Dinda menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. Tak disangka bahwa usta6 akan melamarnya sebagai istri.


Kecupan di kening mengawali cerita malam pertama mereka. Dinda merasakan sentuhan seorang suami yang cintanya bukan napsu belaka. Beberapa kali ia mendengar lantunan do'a dari mulut suaminya. Laki-laki yang kini menjadi imamnya. Menjadi pakaian baginya.


Dinda ....Selesai.


Dear all trimakasih telah mengikuti kisah Dinda. Insyaallah besok akan ada cerita lainnya yang tak kalah menarik mengenai perjalanan seorang perempuan dalam berjuang mengarungi biduk rumah tangga . ..jangan sampai ketinggalan ya...


see you at the next part...

__ADS_1


Cerita besok : Pembalasan untuk Pelakor


__ADS_2