
Pina memutuskan untuk pergi dari vila itu. Perdebatan panjang sepertinya akan percuma. Dipilih atau tidak dipilih seperti merendahkan harga dirinya. Ia baru saja merasakan, rasanya menjadi perempuan yang diduakan, di bohongi, kemudian dicampakkan. Ia baru merasakan sakitnya menanggung rasa dipilih atau tidak dipilih. Kali ini ia merasa dirinya teramat bodoh. Bukankah seharusnya kebohongan Dani mengenai status pernikahannya sudah menjadi bukti bahwa Dani bukanlah laki-laki baik-baik?!, mengapa ia tetap bersikukuh melanjutkan hubungan dan sangat mengharapkan adanya pembuktian tentang sebuah pernikahan setelah perceraian Dani dengan istrinya. Rupanya karma datang begitu cepat.
Malam itu Pina membeli tiket untuk pulang ke Madiun. Enggan rasanya ia kembali ke Jakarta. Kota yang memberinya kenangan indah, sekaligus menyakitkan. Jatuh cinta bukan kali pertama ia rasakan. Namun, kali ini Pina merasa telah sangat serius dan terlalu yakin dengan rayuan Dani. Pina tak sanggup membayangkan dirinya esok. Ia begitu gugup dengan apa yang terjadi secara sadar. Mendapati dirinya sudah tidak perawan. Berharap bahwa pernikahan akan menyelesaikan semuanya. Nyatanya, ia masih harus bersaing dengan perempuan yang bernasib sama.
Sosok Delita ia ketahui dari teman sekrestaris Dani yang tak sengaja menunjukkan profil pembangunan di Instagram perusahaan mereka. Entah mengapa sosok Delita membuat Pina curiga. Sebab dibeberapa foto, terdapat kebersamaannya dengan Dani.
Sepandai-pandainya tupai melompat, ia akan merasakan jatuh juga. Seperti itulah kelihaian Dani yang pada akhirnya terbongkar juga.
Perjalanan Semarang Madiun memakan waktu 3 jam melalui tol. Pina harus menggunakan kendaraan umum. Sebab tak ingin lagi berhubungan dengan Dani dan para rekannya yang membantunya sampai ke Semarang.
***
Disisi lain Delita juga merasakan hal yang sama. Ia merasa sangat kacau. Bagaimana mungkin selama setahun terakhir ia sama sekali tak mengetahui status pernikahan Dani. Mengapa ia begitu mudah menyerahkan semua pada Dani. Bermimpi menjadi nyonya besar setelah dinikahi Dani nanti. Nyatanya, selama setahun hubungan keduanya, Dani tak juga membahas mengenai pernikahan. Ia juga bersikap dingin saat mereka terpisah jarak. Baru Delita sadari, bahwa Dani tak pernah mengumumkan hubungan dengannya pada teman-teman kantor ataupun keluarga. Jadi, apakah perasaannya saja yang cinta?
Delita mulai ketakutan dengan kenyataan bahwa ia telah tidak perawan dan laki-laki yang harus bertanggung jawab padanya adalah seorang laki-laki dengan status memiliki anak. syok...bahwa dirinya akan di cap sebagai perebut laki-laki orang atau pelakor.
***
"Delita, maukah kamu mendengarkan aku?"
sebuah pesan masuk melalui aplikasi WhatsApp.
hening tak ada jawaban.
"Delita, aku tak benar-benar bersama Pina. Ia sendiri yang selalu mengejar ku dan bersedia menjaga anak-anak ku".
Hening tak ada jawaban ...
"Aku tak akan ke Semarang jika tak benar-benar menginginkan kamu. Aku ingin jujur, tapi takut kamu menjauh".
"Apakah aku harus percaya setelah semua dusta terbongkar?!"
__ADS_1
Delita mulai membalas.
"Sudah aku katakan, aku takut kamu menghindar!"
"Bagaimana dengan mantan istrimu dan anak-anak?!"
"Dia Rania. Ibu anak-anak ku. Kalau dia perempuan yang benar, tentulah dia pergi dengan membawa serta anak-anak. Dia kabur bersama pria lain!"
Dani menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dani memutar balikkan fakta. Sejujurnya ia tak ingin sendiri. Ia tak mungkin hidup tanpa perempuan. Sulit baginya mengejar Pina yang terlanjur banyak mengetahui keluarga dan masa lalunya bersama Rania. Ia ingin pergi dari zona masa lalu rumah tangganya. Harapannya hanya Delita, sedangkan Renata tak menjadi prioritas sejak Dani mengetahui bahwa Renata memiliki teman dekat seorang polisi.
***
Delita dalam kegamangan. Satu sisi ia mulai ingin menjauh dari Dani. Ia menyadari hidup nya akan sulit menjadi ibu sambung dan stigma pelakor yang akan melekat pada dirinya. Namun satu sisi. Ia tidak lagi perawan, bagaimana mungkin ia berpisah dengan Dani.
***
The power of money
Pernikahan Dani - Delita didepan mata.
***
Pina menghabiskan hari-harinya dengan penyesalan. Ia mencoba mengobati dirinya dengan berobat batin ke sebuah padepokan. Pina mulai sadar ada yang tak beres dengan jiwanya. Teman-teman kantor yang menyadari perubahan Pina sejak awal berhubungan dengan Dani, mulai berani menasehati. Selama ini Pina seperti terhipnotis oleh Dani.
Secara normal, Dani terlihat seperti seorang laki-laki dewasa berusia 36 tahun. Perawakannya bapak-bapak. Namun, penampilan modis sedikit membantunya agar tampil lebih muda. Dengan uang yang berlimpah, ia mampu memberikan syurga dunia untuk perempuan mana saja yang dekat dengannya.
Dalam hitungan hari, tak ada lagi kabar dari Dani. Pina pun tak mencoba untuk menghubunginya. Baginya, jika memang tak ada laki-laki yang mau menikahi perempuan yang tidak perawan lagi sepertinya, biarlah ia sendiri seumur hidup. Mungkin itu lebih baik dari menikahi laki-laki yang selalu menggunakan topeng dalam hidup, hingga ia tak mengenali lagi, mana kejujuran dan mana dusta.
***
Disisi lain. Rania menikmati waktunya bersama Azka. Ia membawa putranya kemanapun ia pergi. Sementara, Azka bersekolah di TK milik kerabat Bu Latifaa. Berkas untuk pindah sekolah belum ia miliki. Rania harus segera membuat surat pindah domisili untuk dirinya dan anak-anaknya. Bagaimanapun harus berjuang lagi menghadapi Dani dan keluarganya. Ia butuh akte kelahiran dan juga beberapa berkas lain untuk kepentingan administrasi. Betapa langkahnya kini seakan disemangati Azka. Keceriaan tampak diwajahnya, meskipun kehidupan tak seindah dulu lagi. Tak bisa terlalu sering jajan dan bermain di time zone seperti ketika bersama papa. Tak bisa terlalu sering jajan di supermarket. Namun Rania berusaha mencukupi gizi anaknya, gizi fisik maupun gizi Psikologis.
__ADS_1
***
Pagi itu Rania berniat akan menemui Dani. Ia akan berusaha mengambil Zidan dan mengambil akte kelahiran anak-anaknya. Ia tau itu bukan langkah yang mudah. Maka, Azka tak diajaknya. Ia menitipkan Azka pada Bu Saripah, guru TPQ tempat Azka menimba ilmu mengaji beberapa hari ini.
Sebelum berangkat, Rania telah menyiapkan mentalnya. Salah sedikit saja, bisa jadi ia yang akan kalah dan bernasib seperti yang lalu.
Sebuah ojek online telah siap menjemputnya. Rania berpesan pada Bu Saripah agar Azka tetap di rumahnya sebelum ia menjemput, dan tidak membiarkan Azka dijemput siapapun selain dirinya. Bu Saripah yang telah mengetahui tentang masalah yang dihadapi Rania. Ia akan amanah untuk menjaga Azka.
***
Rumah Dani kosong. Lampu depan rumah tak dimatikan meskipun hari telah siang. Menandakan bahwa di rumah itu sedang tak berpenghuni.
Salah seorang tetangga yang mengenali Rania menyapa.
"Bu Rania..."
"Bu Dewi..."
"Mau ketemu pak Dani ya Bu?"
"Eh iya Bu...tapi sepertinya tidak ada di rumah ya Bu?"
"Iya. Sepertinya dua hari yang lalu mereka pergi Bu. Tapi barang yang dibawa banyak. Seperti yang pindahan lah..."
Rania terhenyak mendengar penjelasan Bu Dewi. Kemana Dani?, Pada siapa ia akan bertanya?...
Lalu bagaimana dengan Zidan????
Bersambung....
Terus ikuti dan jangan lupa like and comment ya🤗
__ADS_1