
POV
Aku kehilangan banyak waktuku hanya untuk mengurusi ibu yang sakit-sakitan dan Delita yang mulai menunjukkan tingkah posesif nya. Banyak yang menasehati ku agar bersabar, karena bisa jadi tingkahnya itu dikarenakan hormonal. Aku kadang tak mengerti. Dia begitu mudah menguasai ku. Dia meminta ponsel ku tanpa password, setelah ku turuti, banyak hal yang terjadi. Beberapa klien lawan jenis bahkan melayangkan protes karena di teror oleh Delita. Bahkan, Delita sering mengikutimu kemanapun aku pergi, termasuk ke kantor. Memang dulu Delita adalah asisten ku di kantor cabang, tapi entah kenapa, kepribadiannya dulu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Ia sangat suka mengatur dan membebani pekerjaanku.
Aku mulai tak sabar dengannya. Pertengkaran-pertengkaran mewarnai keseharian kami. Aku telah mencoba untuk meredam, karena Ibu ku sedang sakit, tak baik jika kami sering bertengkar dan di dengarkan oleh ibu. Tensi ibu sering naik mendadak.
Aku pun tak lagi punya waktu bersama dengan anak-anak, Azka dan Zidan. Jangankan untuk bertemu dan bermain, seperti yang telah ku janjikan. Menghubungi mereka saja sudah tidak bisa. Nomer Rania dihapus, dan ketika aku akan menjenguk anak-anak, maka akan ada banyak alasan Delita untuk menghalangi kepergian ku.
Kali ini, aku banyak berontak. Aku merasa, akulah kepala keluarga disini. Mengapa aku yang diatur oleh istri?!. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab pada Azka dan Zidan.
Maka aku putuskan untuk menemui anak-anak petang ini. Seperti biasa, Delita mengikuti ku ke kantor. Aku menyuruh Delita untuk pulang dengan supir jika ia tak ingin ikut bersamaku menjenguk anak-anak. Namun Delita bersikukuh ingin pulang bersamaku.
"Pokoknya harus kamu yang mengantarku pulang!"
Ucap Delita memaksa Dani.
"Kalau begitu, ikut aku menemui anak-anak. Nanti kita bisa pulang bersama!"
Bujuk ku yang ingin tetap sabar menghadapi istri ku yang terpaut tiga belas tahun ini.
"Hah....ikut kamu ketemu dengan perempuan miskin itu?!"
Sindir Delita. Ia sangat membenci Rania, yang dianggapnya jelek, bodoh karena pekerjaannya hanya sebagai seorang baker, miskin karena tak memiliki tempat tinggal.
"Delita, jangan bicara begitu!"
"Lalu, aku harus memuji perempuan itu?"
Cecar Delita. Ia seperti sebuah kaset yang selalu mengulang-ulang perkataan ku soal Rania yang dianggapnya istri yang malang, buruk rupa, gendut, tak bisa dandan, bodoh, dan miskin, karena rumahnya sangat sederhana setelah diterjang tsunami. Tapi, aku mengatakan itu karena saat itu ingin membenarkan perbuatan ku soal perselingkuhan. agh... kenapa perempuan ini merekam memori nya soal itu!
"Delita, sudahlah. Aku tak ingin mengulang-ulang pertengkaran yang sama. Sekarang, ikut aku atau kamu pulang dengan supirku?!"
__ADS_1
Tapi Delita diam saja. Aku yang tak sabar , akhirnya meninggalkan perempuan itu begitu saja di kantor. Delita meradang. Ia mengejar ku hingga ke parkiran, kami menjadi tontonan warga kantor yang notabene semua adalah karyawan ku. Aku sangat malu. Seperti tak punya harga diri. Jas ku ditarik dan Delita menangis histeris seolah telah terjadi kekerasan terhadapnya. Tapi, kali ini aku benar-benar telah habis kesabaran. Aku tinggalkan dia di parkiran kantor, dan berpesan pada supirku untuk mengantarnya pulang.
Aku menghentikan kendaraan ku disebuah masjid yang cukup sepi. Lama aku tak mengunjungi masjid selain hari Jum'at. Itupun hanya sebentar. Kali ini, entah mengapa aku ingin menenangkan diri disini. Ku ambil air wudhu dan sholat sunah disana. Ada seorang pemuda yang tengah melantunkan ayat suci Alquran disana. Ternyata, lama telinga ini tak mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an. Tiba-tiba ada perasaan yang aneh merasuk di dada. Bergetar tak karuan. Tiba-tiba aku merindu suasana saat harus mengantarkan Azka sekolah dan mengaji. Di sana selalu ku dengar lantunan ayat suci Alquran. Azka pun tak pernah absen menghafal ayat suci Al-Qur'an. Rania sangat ketat dalam mengajarkan agama pada anak-anaknya. Hingga usia Azka yang baru empat tahun saja, sudah mampu menghafal beberapa surah pendek dalam Al-Qur'an, dan mampu menghapal bacaan dalam sholat fardhu. Mengingat itu, aku menangis. Sebagai ayah, ternyata aku hanya pasrah pada istri. Tak pernah mau tau tentang bagaimana merawat dan mendidik anak-anak. Tak pernah mendampingi. mereka sholat dan mengaji. Hatiku kering. Raga dikuasai napsu dunia. Kini, harta dan wanita yang ku kejar telah menguasai ku. Bahkan aku tak mampu melawannya.
Tanpa sadar, aku tertunduk dan menangis tersedu-sedu. Entah berapa lama aku menangis di dalam masjid itu. Hingga suara adzan ashar berkumandang. Seorang pria paruh baya menghampiriku. Mengelus punggung dan duduk di sebelahku.
"Tak ada manusia yang tak luput dari ujian-Nya anak muda".
Laki-laki itu tiba-tiba menyapa ku, seolah ingin meredakan tangis ku. Aku tetap tak menghiraukannya. Belum habis rasa penyesalan di dada, aku ingin meratapi kebodohan ku ini.
"Jika kau sedang diuji. Maka ini kesempatanmu untuk memohon pertolongan Allah. Menangis lah dalam do'a"
Ucap pria itu kembali.
Tangis ku mulai mereda. Kulihat laki-laku ber janggut putih itu. Matanya menyiratkan keteduhan. Sekilas laki-laki itu mirip dengan ayah Malik, mantan mertuaku. Ah...mengapa aku jadi semakin merasa bersalah.
"Aku menyesal telah menyia-nyiakan keluargaku, anak-anak ku"
"Bersyukurlah anak muda, masih diberi kesempatan untuk menyesali semua perbuatan dosa itu di dunia. Coba jika penyesalan itu di akhirat. Tentu sudah sangat terlambat".
Ucap pria itu dengan tenang. Dia mengelus wajahnya. Kemudian melanjutkan perkataannya.
"Jika kau telah menyiapkan keluargamu, dan kamu kehilangannya. Maka, carilah mereka selagi kau masih tau tempatnya. Kejarlah, mintalah maaf padanya, sekalipun itu tak mengembalikan keadaan seperti semula".
Ucap pria itu. Kemudian hening sesaat saat iqomah berlangsung.
"Ayo kita sholat. Kembalikan semua masalah mu pada sang Maha Kuasa. mintalah pertolongan dan ampunan!"
Ucap pria itu seraya berdiri dan mengambil shaft depan. Seketika Shaft pun telah penuh dengan deretan manusia.
"Allahuakbar...". Ku pasrahkan semua hidupmu, bahagiaku, masalahku, dan mati ku pada-Mu Rabb ku.
__ADS_1
Selepas sholat ashar
Aku melanjutkan perjalananku menuju paviliun Rania. Niat awal telah tepat seperti nasehat pria di masjid tadi. Aku harus datang pada Rania, dan meminta maaf atas segala salahku selama ini.
Mobil yang ku kendarai memasuki area Latifaa Group. Baru beberapa pekan aku tak melewati daerah ini. Namun sepertinya banyak sekali perubahan. Bahkan beberapa paviliun elit berubah menjadi kompleks ruko. Aku terus melaju kendaraan kebelakang. Kompleks paviliun Rania berada di belakang Paviliun elit ini. Namun, suasana sepi yang ku dapat. Lampu Paviliun gelap, dan lantainya berdebu.
"Rania...Rania...!"
Aku mencoba memanggil-manggil nama Rania berkali-kali, namun tak ada sahutan dari dalam. Seorang tetangga Rania keluar dari Paviliun nya ketika mendengar suara ku memanggil Rania beberapa kali.
"Bapak cari Rania ...?"
Sapa seorang perempuan yang merupakan tetangga Rania.
"Iya Bu. Saya mencari Rania. Dimana ya dia?"
"Oh mba Rania sudah pindah pak beberapa Minggu yang lalu".
Sontak aku lunglai mendengarnya. Bagaimana bisa ia tak mengabari ku. Aku pun bergegas mengambil ponsel dan menghubungi Rania.
***
Usai menelpon, aku mendengar bahwa ia berada di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Ia telah pindah, membawa serta anak-anak.
Rania, kemanapun aku, aku akan mencari mu...
Bersambung ....
Wah...mendekati part-part akhir😍 terimakasih untuk para readers setia. part-part berikutnya adalah pembalasan-pembalasan & Karma.
Dukung author agar terus semangat up nya ya dengan klik like dan comment ya😍😍🤗 see you at the next part ❤️❤️
__ADS_1