
Matahari masih sangat terik. Ketika aku harus menyusuri jalanan kota Jakarta. Sambil sibuk menghubungi partner-partner ku yang sekiranya bisa membantu. Rapat segera ku akhiri ketika Ibu mengabari bahwa Azka dan juga Zidan tak ada di rumah. Sungguh sial, mengapa tak ada yang mengawasi pagar rumah yang tidak dikunci!
Aku suruh dua puluh anak buah ku untuk menyebar ke penjuru kota. Tak butuh waktu lama, Zidan ditemukan seorang polisi lalu lintas yang tengah berpatroli, tengah menangis di sebuah halte. Zidan sendirian, menangis mencari kakaknya. lalu kemana Azka?!
Aku belum sempat memikirkan dimana Azka, yang terpenting adalah menyelamatkan Zidan. Ia mengalami dehidrasi. Aku membawanya segera pulang dan memanggil dokter keluarga. Di rumah sedang ada Pina. Ku harap dia bisa membantuku untuk merawat Zidan, sementara aku akan segera mencari keberadaan Azka. Rekan-rekan yang tadi membantu dalam pencarian, masih tetap berjuang mencari keberadaan Azka. Hingga pukul 22.30 Malam, mereka mendapat informasi dari Polsek Alun-alun Kota bahwa Azka berada di sebuah rumah di dekat Pasar Jakarta Timur. Setelah memastikan posisi, aku memutuskan untuk menjemputnya keesokan harinya.
Sayang keputusan menjemput Azka pagi hari adalah keputusan yang sangat bodoh!. Karena Azka berhasil kabur dari rumah itu. Tapi dia tak sendiri, dia dibantu pemilik rumah bernama Subur. Berani sekali dia, bukankah dia berjanji untuk menjaga Azka sampai aku menjemputnya.
Aku memberi pelajaran berharga untuk orang-orang yang ingkar janji padaku. Aku segera menghubungi pengacaraku untuk melaporkan kasus penculikan anak. Barang bukti telah ada. Pakaian Azka yang tertinggal dirumah itu. Aku tak menemui Pak Subur. Hanya ada istrinya dan ternyata mereka bersekongkol untuk melarikan Azka.
Pengacaraku telah mengurus semua. Penjara sunyi telah menggiring Rukmini dan memisahkannya dari Suami tercinta. Begitulah nasibnya jika berani melawanku. Tak ada yang bisa menghalangiku.
Sebenarnya menguasai anak-anak bukan tujuan utamaku. Aku ingin memberi pelajaran pada Rania. Perempuan yang berani menentang ku, berani menentang ibuku. Sudah untung dia tidak ku siksa lebih jauh. Aku tak mau mengotori tanganku. Entah mengapa aku sangat membencinya sejak dia berani dekat dengan laki-laki lain. Alibinya saja bekerja, padahal dia ingin dekat dengan laki-laki lain. Meskipun aku akui, aku dekat dengan banyak perempuan, tapi aku tidak mau Rania dekat dengan laki-laki lain. itu sebab aku mengusirnya dari gudang, dan menjauhkannya dari anak-anak. Sok cantik!
***
Zidan telah berada di tanganku. Pina, masih mau membantuku merawat Zidan. Meskipun Zidan dengan terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka pada Pina.
Aku tak sepenuhnya pada Pina. Karena masih ada Renata dan Delita. Aku masih belum ingin terikat secara emosional dengan mereka. Sebenarnya bisa saja aku miliki mereka sekaligus. Mereka telah memberikan seluruh tubuhnya untuk ku nikmati. Ya...semua masih berstatus perawan saat ku nikmati. Mereka memberikannya dengan tulus. Meskipun satu sama lain tak mengetahui bahwa awalnya aku bukanlah perjaka. Tapi, mungkin karena sudah terlanjur gak perawan lagi, pada akhirnya mereka tak ada yang lepas dari dekapanku.
Dari ketiga perempuan ku, hanya Pina yang sangat kritis dengan keseharian ku. Sejak aku bercerai, Pina rela pindah ke Jakarta agar lebih dekat denganku. Ah...mungkin aku hanya butuh sedikit waktu untuk memutuskan hubungan ku dengan Delita dan Renata.
***
"Pin..."
"iya, mas"
"Besok mas ke Semarang ya..."
"Ke Semarang lagi...?!"
"Ya...kan mas sudah dua bulan tidak mengontrol pekerjaan di Semarang. Karyawan banyak yang protes progres pembangunan nih!"
Aku membujuk agar Pina mau menginginkanku ke Semarang. Oh ya...Pina hanya mengetahui mengenai Renata di Surabaya, tapi belum mengetahui tentang Delita. Jadi, perjalanan ku ke Semarang masih aman dari kecurigaannya.
"kapan mas berangkat?"
Tanyanya sambil cemberut.
"Lusa"
" Aku boleh ikut?"
"enggak donk sayang, kan kamu mas minta tolong untuk bantu ibu jagain Zidan. Kalau Zidan kabur lagi bagaimana?"
Hening sesaat. Pina telah tinggal bersamaku. Ibu menyuruhnya untuk tidur di kamar tamu yang terpisah dengan area rumah ini. Tapi, ibuku bukanlah satpam yang mampu mengontrol 24 jam. Pina sering bermalam di kamarku atau sebaliknya. Seperti malam ini.
"mas.... kenapa aku disini hanya disuruh untuk menemani Zidan, ngurusin Zidan!, aku jenuh mas!"
__ADS_1
"Sabar sayang, kita akan segera menikah"
Rayuku.
"Tapi kapan...sedangkan mas masih saja berkutat pada Rania dan anak-anaknya. Kenapa mas gak berikan saja anak-anak itu ke Rania. Sehingga mas bebas bersamaku?!"
Pina sudah banyak protes dan banyak bicara.
"Pina...aku tidak suka dengan arah pembicaraan mu!, turuti saja apa perintahku!"
Aku jenuh mendengar tuntutannya. Jika sudah begini, aku akan meninggalkannya di kamar sendirian. Sedangkan aku akan kembali ke kamarku atau ke ruang kerjaku. Aku tau ia akan menangis sesenggukan semalaman. Tapi, dia tidak akan pergi dariku. Siapa yang berani pergi dalam keadaan tidak perawan?!
***
Pesawat Garuda yang ku tumpangi menuju Semarang telah landing. Delita menolak supir yang menjemput ku di bandara. Ia sangat bersemangat sehingga ia sendiri yang menyambut ku disana.
Lama tak bertemu, ia sepertinya sangat merindukanku. Ia telah menyiapkan vila dan seorang chef yang ia bawa langsung dari hotel ternama untuk menjamu makanan di vila itu.
"Mas, malam ini kita jangan kemana-mana ya...kita di vila saja. Kita menikmati malam berdua. Aku rindu"
Ucap Delita sambil memelukku.
Aku tersenyum tanda setuju.
Delita memang pandai dalam hal merayu. Dia sangat profesional menjadi kupu-kupu malam ku. Malam itu kami makan malam dengan hidangan ala chef hotel bintang lima. Aku juga mendapatkan pelayanan pijat yang didatangkan dari spa langganan Delita. Sebuah bathub dengan air hangat telah siap untuk meregangkan otot-otot ku. Ah...tak cukup hanya aku yang berendam disana. Delita menemani ku.
Dan malam itu ku tutup dengan tidur lelap setelah bercinta dengan Delita.
***
Aku membuka mataku dan membangunkan Delita. Ia segera bangkit dan mengenakan piyama untuk melihat siapa yang berani mengetuk pintu malam-malam.
pintu dibuka, dan....
"Mas...mas...Daniiii!!!!"
Teriakan yang ku hapal betul suaranya.
Seketika kegaduhan terjadi. Dua Perempuan ku yang ku anggap lugu beradu mulut dan saling tinju layaknya dalam sebuah ring tinju profesional. Aku yang masih tanpa busana kebingungan untuk melerai. Seorang security tak berhasil melerai mereka. Segera ku raih pakaian dan mengenakannya. Berusaha menahan tinju dari dua perempuan ku, justru aku yang menjadi sasaran.
Mungkin lelah...akhirnya tinju berakhir. Tapi adu mulut tidak. Delita tersungkur dengan luka robek di bibir dan mengeluarkan darah. Sehingga untuk berbicara saja tidak mampu. Tapi, Pina masih mampu berkicau.
"Aku sudah curiga dari awal. Kalau kamu selingkuh di Semarang!"
Ucap Pina geram.
"Aku bukan selingkuhan!"
Bantah Delita
__ADS_1
"Diam kau perempuan murahan!, Dia milikku, kami akan menikah segera!"
Ucap Pina hampir saja bangkit lagi untuk menghajar Delita.
"Lalu, siapa yang sebenarnya akan kau nikahi mas?, bukankah kau juga menjanjikan sebuah pernikahan untukku mas?"
Delita merajuk
"Apa kau tau kalau Dani baru saja bercerai dan anak-anaknya aku yang mengasuh?!"
Pina mulai curiga bahwa Delita juga tak mengetahui statusku sebelumnya.
Delita terlihat bingung dan syok. Ia tak membantah apapun lagi. Hanya menangis dan berlari menuju toilet.
Aku membiarkannya.
"Jadi, sekarang siapa yang akan kamu pilih mas, aku atau perempuan itu?!"
Aku diam
Pina mulai merajuk dan menamparku.
"Aku lelah mas...kamu selingkuh dengan banyak perempuan dibelakang ku!"
"Pina... beri aku waktu untuk memilih!"
"Apa....? Lalu kamu pikir aku mudah saja untuk dijadikan pilihan!"
"Cukup mas...aku nyerah"
Pina berlari keluar vila. Aku tak berusaha mengejarnya. Kali ini aku berada pada fase harus memutuskan pilihan.
Delita keluar dari toilet. Rupanya ia mendengar percakapan aku dan Pina.
"Jadi benar kalau kamu sudah pernah berkeluarga mas?"
Aku mengangguk.
Delita menangis
"Antar aku pulang ke rumah malam ini juga!"
Ucap Delita merajuk.
Aku mengantarnya pulang. Delita beralasan keluar kota jika sedang berada bersamaku. Sehingga orang tuanya tak mencurigai saat dia ku antar pulang malam-malam.
Malam itu, ku habiskan waktu dengan alkohol.
Sebuah note dari penulis
__ADS_1
Bagian tiga gadis yang mau dengan laki-laki beristri adalah nyata. Mereka merelakan keperawanan mereka pun nyata. Bahkan ketika mereka mengetahui masih ada istri sah nya, mereka tetap maju. Penulis melihat bahwa perempuan yang tidak menikah diatas 25 tahun rawan didekati laki-laki playing Victim seperti Dani. Maka, segeralah menikah, dan bersiaplah dengan rumah tangga yang dimulai dari nol. karena rumah tangga langsung punya rumah itu biasanya milik pemilik sebelumnya!🤦😊
jangan lupa like dan comment ya🤗