
Tiga tahun berlalu begitu cepat. Rania telah melahirkan sosok bayi mungil berjenis kelamin perempuan. Ketika USG terlihat laki-laki, namun surprise ketika lahir justru perempuan. Jean memberi nama Chantika. Panggilan sayang dari Jean adalah Chan. Chan sangatlah menggemaskan. Ia sangat centil dan lincah. Semua kakaknya menyayangi Chan. Azka adalah sosok kakak yang paling terlihat sayang pada Chan. Setiap Azka makan, Chan selalu ia suapi. Bahkan, jika Rania sedang sibuk melayani pembeli di restoran, atau sedang mengisi konseling, maka Chan akan diasuh oleh kedua kakak laki-lakinya.
Oh ya, sejak tiga tahun terakhir, Rania dipercaya oleh Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang pemberdayaan perempuan untuk melakukan pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga, korban perceraian, dan korban kekerasan lainnya.
Karena sepak terjangnya sangat membantu para perempuan yang ada di wilayahnya, Rania akhirnya menjelma bukan hanya sebagai konselor, tapi juga motivator. Banyak dari para korban KDRT akhirnya bisa bangkit, bahkan bisa memperbaiki kondisi rumah tangganya. Korban perceraian banyak yang bisa survive dan melanjutkan kehidupannya. Saat ini, Rania sedang berusaha agar ia bisa membantu BKKBN setempat untuk menekan angka pernikahan dini di lingkungan tempat tinggalnya.
Jean sangat bangga pada Rania. Ia menjelma dari sosok yang hemat bicara menjadi sosok yang menyenangkan ketika diajak bicara. Rania mampu membagi waktu antara aktivitas dengan urusan rumah tangga. Jean pun masih sama seperti yang dulu, selalu membantu urusan domestik rumah tangga.
***
Jean adalah orang yang pertama kali mengetahui bahwa Dani telah keluar dari penjara. Ia dikabari oleh pak Darmo yang ketika itu diminta Dani untuk menyumbangkan alat pertukangan ke dalam lapas. Ia membantu Dani untuk memberikan pelatihan kepada para Nara pidana.
Pak Darmo bahkan memberikan nomer telpon Jean kepada Dani, sebab Dani ingin bersilaturahmi dengan anak-anaknya.
Sore itu, ketika Jean tengah menikmati secangkir kopi dan pisang molen buatan Rania, tiba -tiba sebuah pesan singkat dari aplikasi berwarna hijau masuk.
"Assalamualaikum mas Jean, saya Dani, Papa Azka dan Zidan, Alhamdulillah saya telah keluar dari penjara. Bolehkah saya bersilaturahmi dengan mereka?"
Jean membaca pesan singkat itu. Kemudian membalas.
"Walaikumsalam mas Dani. Alhamdulillah saya turut bahagia mendengar anda telah keluar dari penjara. Dengan sangat hormat saya dan keluarga menyambut kedatangan mas Dani, datanglah ke rumah kami, karena anak-anak belum libur sekolah".
Tawaran Jean disambut baik oleh Dani. Ia menjadwalkan akhir pekan untuk mengunjungi Lumajang.
Sebenarnya, Rania tidak setuju dengan tawaran Jean. Apalagi Dani akan bermalam dirumahnya. Meskipun rumah yang dibangun Jean telah direnovasi menjadi dua lantai, dan Dani akan tidur dikamar tamu lantai 1, namun tetap saja, baginya Dani bukan tamu biasa, baginya.
"Bukan aku belum move on darinya, yah. Tapi, dia itu bukan mantan pacar, dia mantan suami yang pernah tau luar dalam ku!"
Gerutu Rania yang menganggap Jean abai terhadap hal-hal yang bisa terjadi antara mantan istri dan mantan suami.
"Ma, aku tidak akan meninggalkan mu dirumah barang sedetikpun, aku janji"
Bujuk Jean dengan lembut. Namun tetap tak bisa mengurangi sedikitpun ke khawatiran Rania.
__ADS_1
***
Dani akhirnya tiba di Lumajang bersama Ibunya.
"kangen cucu". Begitu alasan Bu Nani. Namun entah mengapa alasan itu tak bisa begitu saja diterima oleh Rania. Ia hanya berusaha menjalankan tugas yang diamanahkan oleh suaminya, yaitu melayani tamu dengan istimewa.
Keadaan ekonomi Rania dan Jean memang biasa saja. Untuk membangun rumah dua lantai, mereka harus berjuang selama tiga tahun lamanya. Jean masih seperti dulu, menjadi pemerah susu kambing dan mengolahnya menjadi susu bubuk untuk dijual.
Bisnis yang dikelola Jean belum menampakkan hasil yang luar biasa, ya secara ekonomi mereka biasa saja, Tuhan melebihkan mereka pada kebahagiaan pada rumah tangga yang selalu harmonis dan jauh dari pertengkaran, apalagi perselingkuhan.
Ketidaknyamanan Rania rasakan sejak pertama kali Bu Nani menuruni kendaraannya. Rania dan Jean tidak mengaspal, mem paving apalagi mengecor jalan menuju rumahnya. Hanya ditutupi rumput dan kerikil untuk menghindari jalanan berlumpur ketika hujan. Kebetulan saat itu memang hujan baru saja reda. Jalanan di sekita becek oleh genangan air di beberapa cekungan.
"Dan...Dani ..tolong Ibu, ini sandal ibu nanti basah!".
Rania sangat mengenali suara itu. Suara yang pernah delapan tahun mengusik telinganya.
Terlihat Dani dengan sigap menyiapkan kursi roda untuk ibunya yang tak lagi bisa berjalan normal. Sudah pasti, kursi roda yang digunakan oleh Bu Nani kotor akibat lumpur yang masih saja ada meskipun sudah ditutupi kerikil jalan.
"Mas Jean, ada baiknya kalau jalanan ini di paving saja, biar rapih dan bersih gitu..."
"Baiklah Bu, nanti akan saya usahakan untuk mem-paving".
Jawab Jean. Namun membuat Rania geram. Ia kemudian ikut menjawab.
"jalanan disini juga untuk area pertanian Bu, jadi kalau di paving, tidak bisa untuk menanam sayuran lagi".
Rania berbicara dengan nada lembut tapi ekspresinya terlihat jutek.
Jean mencubit lembut bahu istrinya. Membuat Rania menjadi jengkel. Rania kemudian meminta Mbok Siti untuk melayani segala keperluan tamunya itu. Sementara Rania menyibukkan diri di restoran.
Rania dan Jean akan tetap beraktivitas seperti biasa, agar Dani dan ibunya bisa dengan leluasa untuk menikmati kebersamaan mereka dengan anak-anak di rumah mereka.
Jika malam menjelang, Rania dan Jean akan pulang bersamaan dan menikmati makan malam bersama.
__ADS_1
Seperti malam ini, Jean yang telah seharian membantu karyawan untuk proses pengiriman susu, menjemput Rania di restoran. Mereka pun pulang bersama.
Dari jauh terdengar suara riuh anak-anak yang terdengar sedang berbahagia. Rania tertegun mendengar anak-anaknya bisa kembali akrab dengan papa kandung mereka, padahal hampir setahun tidak bertemu.
Jean menggendong Chantika yang telah tertidur pulas. Chantika memang selalu ikut kemanapun Rania pergi, karena ia baru saja disapih sehingga selalu rewel jika ditinggal lama.
***
Ketika Rania pulang, rupanya Dani, ibu dan anak-anaknya telah selesai makan.
"Rania maaf kami tidak menunggumu, karena anak-anak tadi lapar, jadi kami berinisiatif makan di luar".
Ucap Ibu Nani dengan ekspresi yang bagi Rania sangat menyebalkan.
"Baiklah Bu..."
Jawab Rania datar. Ia kemudian berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam bagi dirinya dan Jean.
Rupanya, di dapur ada mbok Siti yang tengah merapikan dapur.
"loh ada apa ini mbok, kok alat-alat dapur berantakan begini?"
Rania kaget melihat mbok Siti yang sibuk menata peralatan dapur kembali ke kitchen set nya.
"Ini Bu, tadi Bu Nani mau tau koleksi alat-alat perdapuran ibu. Ia juga penasaran dengan koleksi baju ibu, tapi saya gak mengijinkan dia untuk masuk kamar ibu Jadi hanya dapur saja yang dia obrak-abrik!"
Ucap Mbok Siti dengan nada lesu. Sepertinya selama ia tidak dirumah ada sesuatu yang terjadi padanya.
Rania menjadi gundah. Banyak pertanyaan muncul di kepala. agh...mengganggu saja!
...Bersambung ❤️🤗...
...Dear para readers mohon tidak boomlike dengan jarak waktu per detik ya karna mempengaruhi performance Author karena dianggap kecurangan🙏mohon pengertiannya ya di like pelan-pelan...
__ADS_1
...Hello readers...yuks follow Ig @bungakering1986 dan sharing pengalaman rumah tangga atau yg mau sekedar curhat dan berbagi cerita disana. Bisa di DM atau kolom cerita ya ..author akan balas langsung atau saat live nanti dibahas...yuk...yuk merapat!...
...See you at the next part 😍🙏...