
Hiruk pikuk kehidupan malam di kota bernama Jakarta, tak kalah dengan kehidupan di siang hari. Ramai dengan lalu lalang kendaraan dan bising oleh suaranya. Manusia siang tergantikan dengan dengan manusia malam. Silih berganti seperti sebuah pabrik dengan pekerja di tiga sift berbeda. Mereka memiliki kepentingan masing-masing, namun sebagian tujuan sama, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup dan kebahagiaan.
Kehidupan Jakarta keras. Bisa jadi kita tak akan mengenal siapa yang ada di sekeliling kita. Persaingan hidup yang begitu ketat, hingga angka kriminalitas yang tinggi mengancam jiwa. Jika saja tak berhati-hati, Jakarta tak ubahnya sebuah hutan belantara dengan hewan-hewan buas bermukim disana. Ketika menemukan orang-orang penolong yang baik hati, maka bersyukurlah, ternyata Jakarta masih layak dihuni para malaikat yang turun dari surga.
Disebuah toko kelontong di bawah kolong jembatan. Beratap seng bekas seadanya. Dinding triplek yang sebagian sudah lapuk ini, masih ada manusia berlebel malaikat itu. Sepasang suami istri yang merasa iba pada seorang anak kecil yang berjalan lunglai di malam hari. Dari pakaian dan penampilannya, ia bukan anak jalanan. Setelah ditanyai, rupanya seorang anak yang mencari keberadaan ibunya, dan terpisah dengan adiknya. Matanya sayu seperti telah berjalan begitu jauh. Kelelahan yang sangat terlihat dari raut wajah polosnya.
Sepasang suami istri itu sepakat untuk menolong anak malang ini. Memberinya makan, pakaian ganti, membantunya mencari ibu dan juga adiknya. Suami istri itu bernama Bu Ratmini dan Pak Subur.
Dua bola mata Azka perlahan terbuka. Hari telah menjelang subuh. Ia bergegas bangun untuk sholat. Sarung yang ia kenakan untuk selimut semalam, ia gunakan untuk sholat. Ditempat ini ia tak mengerti arah kiblat. Ingin membangunkan Bapak atau ibu yang semalam membantunya pun ia segan.
Selesai salam ia berdo'a. Do'a yang Azka panjatkan kali ini lebih banyak dari hari sebelumnya. Ia belum mendapatkan kabar tentang adiknya.
Suami istri bangun nyaris bersamaan. Keduanya tertegun memandang Azka yang khusyuk dengan do'anya. Dari cara ia berdo'a, terlihat bahwa Azka telah dewasa sebelum waktunya. Usia enam tahun, namun cobaan berat menempanya menjadi pribadi yang kehilangan masa kecilnya. Jika anak jalanan mungkin kehilangan masa kecilnya untuk menempa diri mencari sesuap nasi, sedangkan Azka dan Zidan ditempa oleh pencarian sosok ibu yang memberi mereka dekapan kasih sayang, sumber kebahagiaan.
Dua dua pasang mata menyambut Azka iya selesai menutup do'a.
"Nak Aska adikmu telah berada bersama ayah saat ini. Ayah juga akan menjemputmu pagi ini. bersiaplah nak".
Ucap Ibu Ratmini.
"Tapi Bu aku tidak mau bertemu dengan Papa aku tidak mau kembali pada Papa aku ingin mencari mama".
Mendengar jawaban dari Azka, surat Mini dan Pak Subur terkejut apa yang sebenarnya telah terjadi.
__ADS_1
"Sebenarnya aku telah kabur dari rumah Ayahku sama adik untuk mencari mama. Aku tidak mau pulang ke rumah Papa" .
Tangis Azka tak terbendung. Cerita demi cerita tentang kepedihan yang dialami anak usia enam tahun itu mengalir. Membuat Bu Ratmini dan Pak Subur tak tega melihatnya. Setelah berunding, akhirnya mereka sepakat untuk mencari keberadaan Rania.
Waktu baru menunjukkan jam lima pagi. Di kolong jembatan ini telah ramai orang menjajakan sayuran. Jika pagi hari, di lingkungan ini dijadikan semacam pasar dadakan. Mereka menjual sayur, ikan, dan beberapa jajanan pasar. Pak Subur telah siap memanaskan sepeda motor Astrea Grand miliknya. Sepeda motor itu telah cukup dimakan usia, namun sangat membantu untuk aktivitas Pak Subur. Biasanya sepagi ini ia akan mengojek. Mengantarkan para ibu-ibu yang butuh tumpangan setelah berbelanja kebutuhan pokok. Namun, pagi ini ia tak akan mengojek. Ia akan membantu Azka untuk mencari alamat Mama Rania.
Perjalanan ditempuh hampir satu jam. Jalanan macet dan beberapa akses jalan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda empat membuat perjalanan menjadi semakin lama. Mereka tiba di sebuah pertokoan yang luasnya lebih dari satu hektar. Di depan pintu gerbang yang masih tertutup ada sebuah neon box besar bertuliskan kawasan pertokoan Latifaa Group dan sebuah akrilik besar bertuliskan Latifaa Bakery and cafe.
Mereka belum diperbolehkan masuk. Kawasan itu baru dibuka pukul delapan nanti. Azka dengan semangat menanti. Matanya berbinar menanti pertemuannya dengan sang mama. Ia menghabiskan waktu hampir dua jam untuk melihat ke sekeliling tempat, bermain ikan di kolam yang terdapat di luar pagar itu.
"Silahkan masuk pak. Bu Rania sudah ada di kantor".
Ucap seorang security. Sebelumnya mereka melapor ingin bertemu Bu Rania. Security itu tentu mengenalinya karena mereka tinggal di paviliun yang sama.
Degup jantung Azka serasa tak menentu. Ia melangkahkan kaki dengan cepat seolah ingin berlari secepat mungkin. Ditempat lain, Rania menuruni tangga menuju ruang visitor. Sebuah ruang yang diperuntukkan untuk para tamu yang ingin menemui bagian officer Latifaa Group. Hati Rania penasaran ketika seorang security mengabarkan bahwa ada seorang bapak-bapak membawa anak kecil ingin bertemu dengannya. Sepagi ini.
Rania duduk menunggu. Hatinya mulai cemas. Namun mencoba menenangkan diri.
"Mama..........!!!"
Rania nyaris tak sempat melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Ia hanya merasakan seorang anak kecil memanggil mama seraya menghambur ke pelukannya. Ia nyaris tak percaya bahwa anak dalam pelukannya itu adalah Azka. Anak yang sangat ia rindukan, anak yang selama ini ia perjuangkan.
Mereka larut dalam tangis untuk waktu cukup lama.
__ADS_1
"Azka, dimana Zidan, nak...?"
Tiba-tiba Azka melepas pelukan Rania. Tangisnya reda.
"Mama, maafkan Azka. Kemarin saat menuju kesini, aku meninggalkan Zidan di sebuah halte bus untuk mencari makanan. Ketika aku kembali Zidan sudah tidak ada ditempat semula. Aku sudah berusaha mencarinya. Tapi, rupanya ayah telah menemuka dia, ma. Zidan ada bersama ayah sekarang" .
Ucap Azka tertunduk dengan rasa bersalah.
Rania kembali memeluk Azka. Tak terbayang olehnya betapa anak usia enam tahun memiliki pikiran untuk kabur dari rumah dengan membawa serta adiknya. Bagaimana anak kecil seperti Azka berusaha menaklukkan jalanan di kota Jakarta, menempuh jarak yang cukup jauh, hanya untuk bertemu ibunya. Memikul beban untuk membawa serta adik yang usianya jauh lebih kecil darinya. Merasa bertanggung jawab mencari makanan ketika adiknya menangis karena lapar.
"Azka...maafkan mama yang lemah ini, nak....tak seharusnya kamu menanggung beban seberat ini!"
Tangis mereka mengisi ruangan itu. Membuat pilu karyawan lainnya.
Hari itu, Rania memutuskan ijin untuk tidak masuk kerja. Setelah di jamu dengan hidangan spesial Latifaa Cafe, Pak Subur memutuskan untuk kembali ke rumahnya, dan Rania memutuskan untuk membawa Azka ke Paviliunnya. Azka terlihat lusuh dengan pakaiannya. Untungnya, ada tetangga Paviliun yang memiliki anak seusia Azka dan bersedia memberikan beberapa pakaian. Selah memandikan Azka. Kemudian Rania menyuapi nasi goreng Telur mata sapi kesukaan Azka. Ada rasa haru yang menelusup hati Rania. Sejak memiliki adik, jarang sekali ia menyuapi Azka. Kalau tidak sakit, Azka akan dibiasakan makan sendiri. Namun, pengalaman hidup membuat Rania sadar, bahwa memberikan kasih sayang pada si sulung adalah kesempatan yang tidak akan terulang ketika dewasa nanti.
"Mama, kita harus jemput adik Zidan"
Ucapan Azka menyadarkan Rania. Ya...ada yang belum selesai. Ia belum bertemu dengan Zidan, bahkan untuk waktu yang sangat lama.
Bersambung ...
Terimakasih untuk yang selalu setia membaca, Jangan lupa like dan comment ya😍😍
__ADS_1