100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 23 Misi 100 Hari Pertama Menjadi Janda


__ADS_3

Rania mulai berselancar di Instagram. Mencari nama hotel milik sahabat Jean. Ia pernah mendengar dari salah satu staf yang kini telah dipecat Mayang, bahwa Jean bekerja pada rekannya, Stefan. Hotel Stefan bernama Savana Hotel and Resort. Sebuah penginapan di Sentosa Island.


Rania memberanikan diri mengirimkan sebuah DM di Instagram mereka. Beruntung Rania mampu berbahasa Inggris.


"Hello, my name is Rania, Jean is friends".


Tak lama sebuah balasan masuk yang ternyata dari rekan sekamar Jean yang bekerja untuk mengelola akun sosial media Savana.


"Hello Rania. What can i do for you?"


"I need phone number of Jean". Balas Rania.


Tak berselang lama, ponsel Rania berdering...


dilayar monitor, Rania membaca sebuah panggilan masuk.


"Jean..." mata Rania membulat bahagia.


***telpon diangkat


"Assalamualaikum, Rania..."


Rania gagap tak percaya bahwa yang menghubunginya adalah Jean.


"Ya Jean...."


Rania seperti kehilangan kata-kata sejenak, ia tertegun mendengar suara sahabatnya.


"Rania, aku minta maaf karena tidak menghubungimu, aku....aku..."


Jean mulai kehilangan kata-kata.


"Sudahlah Jean, aku telah mendengar semua tentangmu dari, Rizal, asisten mu. Aku hanya ingin mendengar kabarmu"


"Terimakasih untuk pengertiannya, Rania"


"Jean...."


"ya, Rania"


"Mungkin aku sanggup kehilanganmu. Hidup mandiri tanpamu. Dan berhasil membersihkan nama baikku. Tapi tidak dengan Latifaa group. Meraka sangat kehilangan mu".


Ucap Rania. Dalam hatinya tertegun. Betapa Jean adalah sosok laki-laki sempurna Dimata Rania.


"Aku tak bisa kembali untuk saat ini, Rania. Aku ingin belajar banyak hal dalam bisnis. menyelesaikan masa 100 hariku tanpa Latifaa group. oh ya...bagaimana dengan misi mu, Rania?"


"Misi...misi apa maksudmu, Jean?"


"Misi Rania. sebuah target yang kita buat ketika kita melangkah menuju ke kehidupan yang baru. Karena, pada 100 hari pertama kita menjalani sebuah kehidupan baru, tentu kita akan mengalami banyak kesulitan, adaptasi hal-hal baru. Hingga menjadi manusia dengan kepribadian yang baru".

__ADS_1


Ah...Jean memang selalu menjadi motivator, setiap pertemuan dengannya seperti bertemu Analisa Widyaningrum atau Merry Riana. Jean selalu berhasil memberi mind set hidup yang maju, tanpa dibayangi masa lalu yang suram.


"Jean, aku telah melaksanakan misi ku hingga hari ke empat puluh enam dan menuju hari ke lima puluh. Pencapaian ku adalah dibidang karir. Aku berhasil mendapatkan hati Bu Latifaa serta membersihkan namaku dari provokasi yang selalu ditudingkan Meta".


"syukurlah Rania, aku bahagia. Aku berharap ketika aku kembali nanti, aku bisa melihat kesuksesan kamu, Rania ".


"tentu Jean. Terimakasih telah mengingatkan aku. Aku akan melanjutkan misi hingga hari ke 100 dan melihat perubahan besar dalam diriku"


"Selalu semangat, Rania"


Ucap Jean mengakhiri pembicaraan mereka. Rania tak berhasil membujuk Jean untuk pulang dalam waktu dekat. Ya, Rania sangat menghargai keputusan Jean. Jean bukan orang yang mudah memutuskan sesuatu. Dia pasti memiliki pertimbangan, mengapa harus tetap berada di Singapura.


Malam itu, Rania menyempatkan diri melakukan apa yang Jean sarankan. Ia membuka diary nya. Membuka jendela kamarnya, dan menatap langit yang diwarnai siluet berwana abu-abu.


Ia sangat menikmati malam. Bintang kecil, mengingatkan Rania pada sebuah lagu yang sering Azka nyanyikan ketika di TK dulu.


"Bintang kecil, di langit yang biru..." Azka yang belum fasih berbicara, mampu menyanyikan lagu itu dengan sempurna.


Rania tersenyum sendiri mengingat anak-anaknya. Ah...bahkan ia tak bisa menangisi kerinduannya, hanya bisa menanggung sakitnya perpisahan.


Dear Diary...


Jean mengingatkan ku untuk melewati waktu 100 hari setelah perceraian. Ya, melewati hari-hari pasca perceraian memang tidak mudah. Aku seperti kehilangan jiwa, hingga tak mengenali siapa aku sebenarnya.


100 hari setelah berstatus menjadi janda, tidaklah mudah. Banyak mata yang iba padaku, tapi tak sedikit pula yang menaruh benci padaku. Mereka seolah berlomba memberi penilaian padaku.


Selama tinggal di paviliun, aku memilih pulang lebih larut dari karyawan lain. Pulang diawal waktu tak mungkin aku lakukan. Akses jalan menuju kamarku ditutup oleh ibu-ibu yang asik bergosip di sepanjang lorong menuju kamar. Entah apa saja yang mereka bincang kan sepanjang waktu. Tapi yang jelas, jika aku melewati mereka, dapat dipastikan bahwa topik mereka akan berganti menjadi, Rania si janda muda yang kesepian. Oh sungguh sulit aku bersikap.


Menjelang hari ke lima puluh. Aku telah berubah menjadi sosok Rania yang baru. Tak ingin mudah sedih karena rindu, tak ingin mudah sakit karena cacian. Aku mulai menyadari bahwa semua yang aku miliki hanyalah sebuah titipan dari Tuhan. Termasuk raga dan nyawaku ini. Aku hanya berharap Tuhan mau berbaik untuk mengubah nasibku, memberikan kesempatan untuk merawat anak-anak.


****


Hidup Rania terus berlanjut. Latifaa Group semakin terombang - ambing. Bu Latifaa kini turun tangan untuk mengatasi masalah keuangan. Kembalinya Bu Latifaa dalam management sedikit mampu mengontrol cash flow yang sempat dimonopoli oleh Mayang dan Bagas.


Pagi itu, dihari ke empat puluh sembilan


Seperti biasa Rania mengecek jumlah pesanan dari bagian take order. Ia penasaran dengan sebuah lost orderan yang tertulis di buku order.


An. Nani Nurhayati. Perumahan Damai Lestari. Jakarta.


Rania meyakini ini adalah Mantan mertuanya. Memesan banyak kue dan beberapa kue tart.


"Ada acara apa di rumah mereka?" gumam Rania.


Orderan masuk list untuk pengiriman tanggal 26 September. Rasa penasaran Rania tak mampu dibendung. Ia menuju ruang ekspedisi untuk meminta ijin ikut dalam proses pengiriman di alamat tersebut.


****


26 September

__ADS_1


Rania mengambil jatah libur mingguannya. Sesuai rencana, ia akan ikut dalam rombongan ekspedisi. Tujuan awal menuju beberapa hotel untuk mensuplai kebutuhan member.


Mobil melaju menuju kawasan Pinggiran Jakarta. Masuk menuju perumahan Damai Lestari. Tak banyak yang berubah disana. Hanya hati Rania yang berubah. Tak ia rasakan sedih yang mencengkeram setiap melewati perumahan ini. Ia sudah siap dengan hal-hal yang mungkin akan terjadi.


Di depan rumah Bu Nani, Ada sebuah tenda terpasang dengan beberapa deretan kursi berjejer disana. Beberapa buket bunga menghiasi mulai halaman depan hingga bagian dalam rumah yang pintunya dibuka lebar.


Hati Rania berdetak hebat. Ia masih berupaya untuk mengendalikan emosinya. Masih belajar mengatur nafasnya, agar siap untuk turun dan melihat apa yang sedang terjadi.


Rania adalah Rania...seorang ibu yang sangat mencintai anaknya. Emosinya menjadi tidak terkontrol, ketika ia melihat dua anak kecil keluar dari rumah tersebut.


"Azka...Zidan....."


Rania spontan turun dari mobil pengangkut roti, berlari mendekap kedua buah hatinya. Suasana menjadi ricuh.


Satpam berusaha memisahkan Rania dari kedua anaknya. Namun kali ini Rania memiliki kekuatan untuk memberontak. Kepala satpam tersebut bocor dilempar sebuah batu bata oleh Rania. Bahkan kedua rekan ekspedisi yang tak mengerti dengan apa yang terjadi, berusaha melerai Rania yang berusaha mempertahankan anaknya. Bertarung dengan satpam, pengasuh dan seorang kerabat Dani.


Suasana gaduh hingga akhirnya berhasil dilerai setelah Bu Nani menghubungi keamanan komplek. Rania kalah tenaga. Ia dibawa ke ruang keamanan komplek, tangannya diborgol. Pihak keamanan juga telah menghubungi pihak kepolisian.


Rania menangis histeris di ruang keamanan. Emosinya meluap-luap saat berhadapan dengan Bu Nani.


"Kenapa kamu datang lagi, Rania. aku jijik melihatmu!"


"Aku juga tak Sudi melihatmu, wahai ibu yang tak memiliki hati!"


Rania membalas.


"Aku pikir kau sudah mati di jalanan. Aku hanya ingin anakku bahagia bersama perempuan terhormat, bukan hidup dengan perempuan rendahan sepertimu!"


Plak*** Sebuah tamparan mendarat di pipi Rania. Namun baginya lebih sakit kata-kata yang diucapkan.


"Bu, tolong jangan main hakim sendiri. Ibu juga bisa kena pidana!"


Ucap salah seorang satpam yang menjaga Rania.


"Baiklah. Aku ingin menjebloskan mu ke penjara. Kamu rasakan nanti Rania!"


Bu Nani berlalu meninggalkan Rania.


Rania menangisi kekalahannya. Kekalahan mengendalikan diri. Kekalahan melawan emosinya sendiri. Padahal ia telah mempersiapkan diri agar bisa bersikap lebih tenang. Namun, Kekuatan rindu menghilangkan akal sehatnya. Rania, kini duduk di kursi pesakitan. Menanggung kesalahannya.


...Pengendalian emosi merupakan kunci dari penyelesaian masalah. Kebanyakan perempuan mengalami ketidakstabilan emosi pasca perceraian. Bahkan sebagian besar mengalami gangguan emosi. itu sebab banyak dari mereka melakukan hal-hal diluar nalar. Bunuh diri, adalah kasus terbanyak yang dialami perempuan pasca perceraian....


...Tulisan ini menggambarkan betapa beratnya kondisi yang dialami seorang janda yang menjadi korban perceraian....


...Kampanye Stop Bulying bagi para janda korban perceraian dan pendampingan bagi mereka....


...Untuk itu author memohon dukungannya agar bisa menyelesaikan misi penulisan dan menjadikan novel ini sebagai novel yang meng Kampanyekan dukungan bagi para korban perceraian 🙏...


...Bagi para pembaca yang setia. Penulis mengucapkan terimakasih atas dukungan dan like nya. Semoga Allah membalasnya dengan keberkahan❤️🤗...

__ADS_1


__ADS_2