100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
60 Sebuah Kekuatan Do'a Seorang Ibu


__ADS_3

Azka merengek meminta pulang. Sudah lebih dari dua hari ia berada di dalam hotel. Mereka sama sekali tidak keluar kamar. Dani menyadari bahwa dirinya dalam incaran polisi. Ya, Jean telah melaporkan nomor plat mobil yang digunakan Ryo. Jean yakin, bahwa mobil yang sebelumnya ia lihat mengintai, adalah mobil yang digunakan untuk menculik Azka.


Pihak kepolisian Daerah Lumajang telah berkoordinasi dengan kepolisian Daerah Bogor, tempat tinggal Dani. Namun sayangnya Dani masih dalam persembunyiannya di hotel.


Dani seperti kehilangan kewarasannya. Ia sangat ketakutan kehilangan Azka. Selama penyekapan. Dani melarang Azka menangis, meskipun ia tau bahwa kamar hotel yang ia tempati kedap suara, sekalipun Azka menjerit. Dani juga melarang Azka melakukan aktivitas apapun. Tanpa mainan, tanpa makanan yang memadai.


***


Hari keempat penyekapan, Dani menjadi seorang paranoid pada siapapun yang mengetuk pintu. Cleaning service hotel tak ia ijinkan masuk. Persediaan makanan menipis, namun Dani tak juga mau keluar dari hotel. Ia telah meminta pada anak buahnya untuk menyiapkan tempat di sebuah Jawa Tengah untuk dirinya dan Azka.


Kali ini, tak hanya pihak polisi yang mencari keberadaan Dani. Delita pun mencarinya. Telah sepekan sejak kejadian di kantor, Dani tak juga bisa dihubungi. Delita telah mencoba menghubungi rekan kerja Dani, Namun tak satupun mengetahui keberadaan Dani.


***


Malam itu, tepat sepekan Azka dalam penyekapan Dani. Mereka tinggal di hotel, namun terasa bagai di penjara. Azka yang merasa tertekan dan kurang makanan, tiba-tiba terserang demam tinggi. Anak itu bahkan mulai mengigau, tak sadarkan diri. Dani panik bukan main. Ia kemudian menghubungi Riyo, yang masih bersembunyi di sebuah gudang. Kemungkinan untuk menjemput Dani di Hotel dengan menggunakan mobil yang sama adalah nihil. Nomor polisi mobil itu sedang dalam incaran.


Dani memutuskan keluar dari hotel. Ia membayar transaksi secara cash. Ia tau jika ia menggunakan ATM nya, maka jejaknya akan mudah terlacak. Dani menuju sebuah klinik kecil di pinggiran Surabaya. Dani nyaris terlambat. Demam Azka mencapai 40 derajat. Terlambat sedikit saja Azka bisa kejang.


"Anak bapak terserang pneumonia. Sehingga harus mendapatkan perawatan intensif. Saya sarankan bapak untuk membawa ke rumah sakit yang lebih besar".


Ucap dokter jaga di klinik tersebut sesaat setelah mengecek hasil laboratorium.


Dani terduduk lesu. Penampilannya mulai tak karuan. Dani memiliki riwayat gangguan kecemasan. Dimana ia akan merasa sangat cemas jika keinginannya tidak terkabul, over protective, dan terlalu posesif. Dalam keadaan seperti itu, Ia bukannya menyerahkan diri demi kebaikan Azka. Melainkan mencari cara agar ia mendapatkan persembunyian baru.


Riyo datang menjemput Dani di klinik tersebut dengan menggunakan mobil sewaan. Dalam keadaan tangan terinfus, Azka dibawa kabur menuju sebuah rumah sakit di Jawa Tengah. Dani menggunakan identitas Karno untuk registrasi di rumah sakit tersebut. Namun, dua hari dalam perawatan, Azka tak juga menunjukkan tanda-tanda pulih.


"Mengap kamu begitu keras Dani. Kamu seperti orang gila saat ini. Apa kamu tak kasihan melihat kondisi Azka yang terus menuru?. Atau kau memang sedang membunuh Azka dengan perlahan?!"


Sindir Riyo pada Dani yang tengah duduk tertunduk diranjang samping Azka.


Dani tak bergeming.

__ADS_1


Riyo mengetahui riwayat Anxiety yang Dani idap. Ia sebenarnya tak ingin menuruti setiap perintah Dani. Namun, ia juga teringat akan pengorbanan Dani yang menyelamatkan ibunya saat harus operasi tumor. Dani begitu banyak membantu keluarganya. Sehingga Riyo rela membantu Dani, meskipun ia tau resikonya, bahwa ia akan masuk penjara. Riyo adalah sepupu Dani. Orng yang paling dekat dengan Dani, dan menjadi kepercayaan Dani. Padanya, Dani kini bergantung. Karena ia tak bisa berpikir secara normal.


"Ma...ma..., ma...ma.."


Azka mulai siuman. Ia memanggil-manggil nama mama. Dirawat oleh laki-laki membuatnya tak terawat dengan baik. Kondisi Azka sangat lemah.


Dani hanya menatap kosong ketika Azka terus memanggil-manggil nama mama. Sedangkan Riyo mulai panik. Ia takut keponakannya itu kehilangan nyawa.


"Kamu lihat Dani. Bagaimana kondisi Azka saat ini. Hanya ibunya yang menjadi obat, supaya Azka bisa tetap hidup. Kamu sadar...Dani...Sadar...!!!"


Riyo mulai panik.


Ia memanggil dokter untuk menangani Azka. Kini Azka berada di ruang PICU. Sebuah ruangan khusu yang menangani anak dengan kondisi kritis.


"Apa kamu bisa diam Riyo. Kamu tak pernah merasakan kehilangan semua yang kamu harapkan. Kamu tak pernah merasakan rasanya tak punya pilihan!!"


Bentak Dani pada Riyo. Dani mulai melampiaskan amarahnya pada Riyo. Ia berusaha mencekik leher Riyo. Namun, Riyo yang bertubuh lebih kekar, mampu melakukan perlawanan pada Dani. Dengan sekali tangkisan, Dani tersungkur di pojok kamar ruang PICU.


Ucap Riyo sambil menyeka darah disudut bibirnya. Kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Rania. Ia tentu memiliki nomor ponsel Rania. Karena Riyo masih memiliki hubungan keluarga dengan Dani.


"Aku menculik Azka untuk Dani. Kamu berada di Rumah Sakit Belawan, Jawa Tengah".


***


Rania dan Jean masih terus berusaha melakukan pelacakan dan penyelidikan terhadap kasus penculikan Azka. Polisi telah melacak data transaksi perbankan yang dilakukan oleh Dani. Sepekan yang lalu, Dani masih melakukan penarikan uang sejumlah lima puluh juta rupiah di sebuah Bank. Kemudian melakukan transfer ke rekening milik Riyo Handoyo. Riyo adalah sepupu Dani yang tinggal di Surabaya. Pengecekan pun dilakukan pada akun Riyo. Sialnya, Riyo kurang hati-hati. Sehingga polisi mengendus keberadaan mereka yang saat ini berada di Jawa Tengah.


Tak berselang lama, Rania memperoleh pesan singkat dari Riyo. Bahwa mereka berada di Rumah Sakit Belawan, Jawa Tengah.


Jean dan Rania segera berangkat menuju lokasi yang disebutkan Riyo. Mereka dikawal empat orang dari kepolisian. Butuh waktu sembilan jam untuk menuju lokasi yang dimaksud. Sebuah Rumah Sakit yang cukup besar. Sayangnya Rania tak diberi tahu apakah mereka berada disana atas nama Dani atau Azka. Mereka pun kesulitan untuk mendapatkan informasi itu.


Rania tak henti berdo'a untuk keselamatan Azka. Ia sangat ingat pesan almarhumah ibunya. Bahwa kekuatan do'a seorang ibu mampu membantu anaknya untuk keluar dari masalah, sekalipun masalah itu sangat pelik. Do'a mampu menghancurkan tembok pemisah dan jurang waktu yang tak mempertemukan keduanya. Ada batin yang menyatu, yang membuat hati memiliki mata.

__ADS_1


Rania dan Jean yang nyaris putus asa. Kemudian mulai pasrah menunggu invertigasi pihak kepolisian.


Rania mencari sebuah mushola, mengambil wudhu, Sholat Sunnah dan berdzikir disana. Ia memohon petunjuk pada Allah akan keberadaan anaknya.


...Jika memang anaknya berada di rumah sakit ini, tunjukkanlah Ya Allah....


***


Dering ponsel Rania berbunyi. Pak polisi berhasil bernegosiasi dengan pihak rumah sakit untuk mengecek CCTV yang ada di area rumah sakit.


Rania diminta mengamati dengan seksama orang yang hilir mudik di area tersebut tiga hari terakhir, dihitung mundur. Hari pertama tidak, kedua pun tidak, dan....


"Itu...itu Azka...A...a... Azka" .


Rania setengah histeris melihat putranya terkulai lemah dengan tangan diinfus. Ia terlihat dibopong oleh Dani.


Mereka segera menuju ruang PICU.


***


"Polisi ..angkat tangan!!!"


Polisi menyergap Dani yang tengah duduk di sofa. Ia menyerah tanpa perlawanan.


Rania mendekap Azka yang terbaring tak sadarkan diri. Matanya benar-benar terpejam. Detak jantungnya sangat lemah. Bahkan tak merespon ketika Rania memanggil-manggil namanya...


...Bersambung.......


...Tetap setia membaca ya para readers 😘🤗🤗 big love buat kalian yang setia selalu menunggu update dari saya ....


...Jangan lupa like and Favorit untuk terus memotivasi Author supaya lebih semangat ya..😘😘😘🤗...

__ADS_1


...See you at the next part ❤️❤️...


__ADS_2