
Disebuah rumah sakit yang hening dan sunyi. Sesosok bayi tengah berjuang antara hidup dan matinya. Bayi itu lahir dalam keadaan prematur dengan kondisi kelainan jantung. Dialah Riandani Anbizar Mahendra nama yang diberikan oleh neneknya, Bu Yayu.
Bu Yayu menatap pilu kondisi cucu pertamanya itu. Sedangkan Delita yang masih dalam proses penyembuhan tak juga mau melihat kondisi anaknya itu.
Hingga tiba waktu pulang setelah melewati masa perawat pasca melahirkan, Delita tak juga mau melihat anak yang dilahirkan secara normal itu.
"Del, anakmu butuh disusui, ia butuh dekapanmu, percayalah kalian akan hidup bahagia berdua!"
Bujuk Bu Yayu yang tak tega melihat cucunya harus berjuang sendiri di rumah sakit.
"Bu, aku tidak akan pernah menyentuh bayi itu, aku terlalu takut menerima kenyataan menjadi seorang ibu!"
Ucap Delita sambil mengemasi barang-barang minta dari rumah sakit.
"Perawatan bayi telah dibayar oleh pengacara Dani. Bahkan aku juga meminta mereka menyiapkan suster khusus untuk merawat bayi itu. Jadi, kita bisa tinggalkan dia sendiri di rumah sakit!"
Ucap Delita dengan tanpa perasaan.
"Delita, sejak kapan ibu mengajari kamu tidak bertanggungjawab?!"
Ucap Bu Yayu sambil terisak. Ia tidak menyangka anaknya berubah menjadi monster kejam yang rela meninggalkan anaknya.
Delita hanya bungkam. Ia hanya mengemasi pakaian ya dan memesan sebuah Taxi online.
Sejak hari itu. Delita tak diketahui keberadaannya.
Sementara Bu Yayu dengan setia menemani cucu pertamanya berjuang untuk sebuah kehidupan tanpa belaian dari sosok ibu ataupun ayah.
***
Dani masih melakukan rawat jalan untuk penyakit psikologis nya ini. Ingatannya menurun. Ia yang biasa menghendel bisnisnya dari jauh kini mulai kehilangan banyak daya untuk mengontrol. Alhasil beberapa tender diambil oleh rivalnya. Ia juga baru mengetahui dari pengacaranya, bahwa Delita tengah mengajukan gugatan cerai terhadap Dani dan menuntut gono gini atas rumah yang pernah ditempatinya di Bogor. Tak hanya itu, Delita berhasil memindah kurasakan seluruh rekening tabungan atas nama Dani.
Dani tak lagi bisa memikirkan hal lain selain kesehatannya. Perlahan ia seperti lepas dari kesadarannya.
Dokter terus memberinya terapi obat-obatan untuk mengembalikan daya ingat dan kesadarannya.
***
"Rania, jadwal sidang ditunda. Dani masih dirawat di Rumah Sakit".
Jean memberikan sebuah surat yang berisikan penangguhan persidangan.
Rania terdiam beku melihat surat itu.
"Dani baru merasakan rasanya hidup sendiri, jauh dari anak dan istri, jauh dari kekayaan dan tahta, hidup tanpa harga diri. Sedangkan aku telah melewati itu semua. Semua yang ditorehkan Dani. Semoga penjara nanti tempatnya bertaubat".
Ucap Rania yang setiap kali mendengar kata Dani, air matanya selalu berhasil turun di pelupuk mata.
"Jangan terlalu terobsesi akan dendam dan sakit hatimu, Rania. Sampai kapanpun, dendam hanya akan melukai dirimu sendiri . Hiduplah damai bersamamu!"
Ucap Jean sambil mendekat dan mendekap Rania.
Rania merasa bersalah. Suaminya begitu memikirkan Rania, sedangkan Rania hanya memikirkan masa lalu dan sakit hatinya.
***
Waktu berlalu... Rania dan Jean kembali melanjutkan hidup normalnya.
__ADS_1
Setiap pagi Rania akan disibukkan oleh perkebunannya, kemudian anak-anak yang harus disiapkan sekolah, dan kembali ke resto dengan hasil kebun yang siap diolah.
Kehidupan mereka penuh kesederhanaan dan jauh dari kesan mewah. Namun mereka menyadari bahwa kebersamaan seperti ini adalah dambaan banyak orang.
"Rania, pekan depan kita akan ke Semarang ya. Ada yang pesan kambing untuk qurban. Aku akan membawanya sendiri".
Ucap Jean setelah membersihkan sebuah golok yang ia pakai untuk membersikan makanan kambing.
"Semarang...?"
Gumam Rania yang masih bisa didengar oleh Jean .
Rania mengingat sesuatu. Namun ah....sudahlah.
***
Jantung Rania berdegup kencang saat memasuki kawasan Semarang. Ada perasaan tak enak yang menguasai, Meskipun Jean telah berusaha meyakinkan Rania, bahwa mereka ke Semarang untuk mengantarkan pesanan Pak Sujito, bukan bertemu dengan Dani dan Delita .
"Ini loh ma...pesanan pak Sujiwo untuk hari raya qurban di Panti Asuhan miliknya".
Jean mencoba untuk memecah keheningan diantara mereka .
"Ia aku paham mas...Istrinya kemarin menghubungiku".
Jawab Rania datar.
"Wah ..ap katanya?"
sergah Dani
"Em...minta tambahan pakannya supaya cukup seminggu!"
Jawab Rania datar.
****
Jean memarkir mobilnya disebelah tepat disebelah rumah pak Sujiwo. Terlihat hamparan halaman yang begitu luas. Ada tiga deret rumah yang bergaya kontemporer dengan lampu taman berwarna kuning .
Rania melihat ke sekeliling rumah yang dikelilingi pohon rambutan dan mangga.
"Jean, maukah kau mengambilkan untukku satu buah mangga itu?"
Ucap Rania sambil menunjuk ke arah buah. Jean menatap heran pada tingkah istrinya. Sebab saat itu Rania banyak bersikap aneh. Ia lebih manja dan serba ingin. Namun, Jean tidak melakukan apapun.
Di Semarang, Rania menginap di rumah pak Sujiwo. Dirumah yang dijadikan sebagai panti asuhan ini, Ia bisa melihat langsung bagaimana anak-anak yang kurang beruntung hidup berhimpitan satu sama lainnya.
Rania berjalan melewati koridor di rumah yang luas ya mencapai 700m persegi itu. Ia tertarik untuk melihat seorang bayi yang terbaring di sebuah ranjang kuning.
Ada bayi laki-laki yang usianya baru memasuki usia dua bulan. Tubuhnya sangat kecil dengan lampu pijar diatas kepalanya.
"Mba, saya boleh gendong yang ini?"
Tanya Rania pada salah seorang petugas di panti tersebut.
"Maaf itu masih dalam perawatan Bu. Bayi itu sangat sensitif?"
Jawab pegawai baru itu .
__ADS_1
Rania terdiam bingung. Bayi itu mulai merengek seperti minta untuk diangkat dan dipeluk.
"Bayinya masih baru ya mba?"
Tanya Rania kembali.
"Ya mba. dia lahir prematur. Ditinggalkan begitu saja oleh ayah dan ibu kandungnya di rumah sakit!"
Ucap Petugas panti sambil menghela nafas kecewa.
Rania tertegun melihatnya.
"Siapa nama bayi mungil ini"?
"Riandani Mahendra"
Ucap Petugas panti yang sontak membuat Rania terhenyak.
"Apakah ank ini adalah anak Dani Mahendra?"
Gumam Rania.
"Mba, siapa yang telah memberi nama itu?"
tanya Rania kembali membuat penasaran
"Sepertinya nenek dari anak ini".
Ucap penjaga panti.
" ada dokumennya?"
Tanya Rania yang semakin penasaran dengan identitas anak yang ada dihadapannya itu.
Sebuah dokumen mengenai Riandani telah ditangannya. Terpanggang nama dan dan nama Delita sebagai orang tua biologis anak itu. Namun, keduanya tak pernah menjenguk anak itu. Menurut informasi, Ruan dibawa oleh neneknya, dan neneknya juga yang telah menghubungi panti dan menyerahkan hak asuh kepada panti. Rania terduduk lemah, bagaimana bisa semua terjadi secara kebetulan?
Rania sangat penasaran tentang mengapa anak ini menjadi anak yang tidak diinginkan oleh Delita. Ia memutuskan untuk ikut kembali ke Semarang jika suaminya itu mengantarkan kambing-kambing itu lagi.
***
"Nih ...dicoba!"
Ucap Jean sambil menahan tawa
"Apasih ini?!"
Jawab Rania.
"Test pack, Rania!"
Jean meledek istrinya itu. Rupanya Rania juga baru ingat bahwa ia sudah tidak mengalami haid di bulan ini. Namun Jean bukan mendeteksi dari belum haidnya sang istri, melainkan dari tingkah Rania yang menyukai anak-anak dan sering makan rujak selama di rumah pak Sujiwo.
Rania, menyukai anak-anak?
Lebih karena ia ingin mengetahui informasi tentang Riandani.
Rania kemudian menyimpan testpack itu. Akan dipakai ketika bangun tidur esok hari.
__ADS_1
bersambung