100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 33 Fatamorgana


__ADS_3

Perumahan Damai Lestari menyimpan kenangan yang begitu menyakitkan bagi Rania. Ingin rasanya ia tak menginjakkan kaki lagi disini. Ingin membuang remahan ingatan tentang pahitnya hidup berumah tangga bersama Dani. Melupakan kenyataan bahwa ia tak pernah diterima menjadi menantu oleh ibu mertuanya. Ia bahkan kehilangan jati dirinya di rumah ini. Bahkan kehilangan mimpinya menjadi seorang ibu dari dua orang putra yang sangat ia cintai.


Dari luar pagar putih bertulis Blok C No 6. Ia masih bisa merasakan aura yang terpancar dari sisa kenangannya bersama kedua buah hati. Ayunan Tempat Azka kecil sering menghabiskan waktu bersamanya untuk bercerita. Ada pula kolam ikan tempat Azka dan Zidan bermain pancing-pancingan.


Namun sekarang, rumah ini diselimuti debu. Debu yang menutupi kenangannya bersama suami dan anak-anak. Rumah ini ditinggalkan Dani, yang mungkin sengaja menghilangkan jejak agar Rania tak bisa lagi bertemu Zidan. Ah...sungguh tak masuk di logika, Dani tega menuruti ego nya dan tega mengabaikan psikologis Zidan. Meski tak pernah melihat Zidan, Rania mampu merasakan betapa tertekannya hidup Zidan. Betapa Zidan membutuhkan kasih sayangnya.


Rania terdiam sejenak. Memikirkan langkah yang akan ia ambil agar dapat menemukan anaknya. Ia mencoba menghubungi Bimo adiknya, namun hasilnya nihil. Bimo tak menggubris.


Rania kembali memesan ojek online. Ia menuju Rumah Lisna, Adik perempuan Dani. Didepan gerbang itu ada dua anak Lisna, Aila dan Birna yang tengah bermain. Ia sangat berharap bisa menemukan Zidan disana.


"Aila..."


"Tante Rania..."


"Mau apa kamu kesini?!"


Sebuah suara sumbang muncul dari arah belakang. Rania menoleh. Ada Lisna telah berdiri disana.


"Lisna. Aku mencari keberadaan Zidan"


"Kamu baru mencari? dari kemarin-kemarin kemana aja kamu mba?!"


Suara keruh Lisna mengagetkan Rania. Bagaimana mungkin Lisna menganggapnya pergi menelantarkan anak-anak.


"Lisna, aku ingin mengambil anak-anak. Tapi selalu dihalangi Dani dan ibu"


"Mba, kamu tuh jangan menyalahkan ibu terus ya mba. Ibu sudah tua. Jadi punya pikiran soal rumah tangga kalian!"


Jelas ucapan Lisna menganggap bahwa Rania telah keluar dari rumah dan menelantarkan anak-anak. Kenyataan yang diputar balikkan.


Rania gagal menemui harapan. Ucapan Lisna menjadi bukti bahwa orang akan dengan mudah menganggapnya menelantarkan anak, hanya karena anak-anak tidak dalam asuhan Rania. Dan seperti itulah Dani. Pandai memutar balikkan fakta.


Rania pulang menuju paviliun ketika hari mulai petang. Ia berencana akan mencari Zidan melalui rekan kerja Dani.


Azka terlihat kecewa ketika melihat Rania pulang tanpa Zidan. Begitu merasa bersalahnya Azka pada Zidan karena tak bisa membawanya sampai menemui mama. Azka menjadi sangat gelisah. Ia tak tidur meskipun Rania menemaninya.


"mama..."


"Ya sayang..."

__ADS_1


"Mengapa mama pulang tanpa Zidan?"


"Mama sudah berusaha ke rumah papa nak. Tapi tidak ada. Mama juga mencari ke rumah Tante Lisna juga tak ada. Mama janji besok akan mencari ke rumah Om Bimo ya nak..."


Ucap Rania mencoba menenangkan Azka. Ia kecup kening Azka dan memeluk nya. Azka pun terlelap dalam tidur.


Malam itu, Rania berusaha browsing Instagram keluarga Dani. Meskipun Dani telah meng unfollow akun Rania dan akun di privasi, Rania tak kehabisan akal. Jejak digital akan terlacak. Rania mulai melacak Instagram milik Bimo. Namun nihil, Bimo jarang update status, milik Lisna pun sama. Namun, Rania berhasil melihat aku milik perusahaan Dani yang dikelola oleh Bayu, asistennya. Pencarian Rania tertuju pada akun Instagram Bayu, dan...sepekan lalu Bayu memposting sebuah rumah mewah di daerah Bogor dengan caption "serba baru nih bos", yang Rania curigai kata "bos" ditujukan pada Dani.


Rania membuka Google earth dan membandingkan kesamaan foto di Instagram dengan data yang tersimpan di google earth.


"Yes....yakin!" gumam Rania.


Ia pun meminta tolong kepada salah seorang sahabatnya untuk mengantar Rania ke tempat yang di maksud. Sebuah Cluster megah di kawasan Bogor. Tempatnya berada di dalam kota sehingga ia tak begitu kesulitan mencari titik lokasi.


"mba Rania, yakin ini rumahnya...?"


Ucap Yanto, orang yang mengantar Rania mencari alamat Dani.


"Sepertinya iya pak. Tampilan jalannya sama. cluster nya juga sama. Tinggal tanya saja sama orang rumah Dani"


Jawab Rania mantap.


Rania mengangguk mantap. Cluster perumahan ini begitu mewah, sehingga untuk menanyakan nama penghuni di tiap rumah ternyata bukan perkara mudah. Apalagi satu sama lain belum tentu saling mengenal di perumahan ini. Dani juga terbilang penduduk baru.


Rania hampir saja berputus asa. Hampir empat jam ia bertanya pada tiap rumah tentang penduduk baru bernama Dani. Tak satupun mengenalnya. Hingga sebuah mobil Lexus hitam lewat dihadapannya dan berhenti di sebuah rumah dengan cat putih tulang yang sangat cantik. Dan benar saja...


"Mas Dani...."


Hati Rania berdetak dengan cepat. Perasaannya tak menentu.


Rania berlari menghampiri mobil yang dikendarai Dani sebelum pintu gerbang tertutup otomatis.


"Rania mau apa kamu disini?!"


"Aku ingin bertemu Zidan, mas"


"Kamu sudah mendapatkan Azka, sekarang kamu mau ambil Zidan juga, apa kamu mampu menafkahi mereka, Rania?!"


"aku yakin mampu mas. Biarkan aku merawat mereka"

__ADS_1


Rania berusaha berbicara dengan lembut. Berusaha meyakinkan Dani bahwa Rania adalah sosok ibu yang mampu merawat anak-anaknya.


"Rania dengarkan saya. Kamu tidak akan mendapatkan hak terhadap anak-anak. Kamu hidup dari belas kasihan keluarga Latifaa, dan itu bukan jaminan hidup!"


Ucapan Dani seperti pedang yang menghunus jantung.


"Tidak Dani! Aku bekerja secara profesional, bukan meminta-minta seperti yang kamu pikirkan!, aku bisa membuktikannya!"


Nada Rania mulai meninggi. Ia merasa Dani terlalu mencemooh dan tidak menghargainya.


"Rania tolong pergi dan jangan ganggu saya!"


"Tidak mas. Aku akan menjemput anakku. Aku yakin Zidan ada di dalam!"


"Persetan Rania dengan keinginan kamu. Aku tidak akan membiarkanmu masuk kedalam rumahku".


Sebuah keributan pun terjadi. Pintu rumah dibuka. Zidan berlari memeluk Rania. Berusaha melindungi mamanya. Memeluk Rania, berusaha mengikuti ritme tubuh Rania. Berusaha berlari. Tapi tubuh Zidan terlalu kecil sehingga tubuhnya terpelanting. Kepala Zidan membentur pagar besi.


Perkelahian berakhir. Semua terfokus pada Zidan.


****


Rania membawa Zidan menuju rumah sakit bersama Dani. Layaknya seorang ayah dan ibu mereka bersama demi seorang anak.


Di ruang perawatan Rania setia menunggu Zidan. Berharap Zidan bisa ia bawa pulang. Namun luka di kepala Zidan membutuhkan observasi. Sehingga ia harus dirawat inap.


Malam itu, Dani memutuskan menemani Rania. Meski pernah hidup bersama, kekakuan tetap terjadi diantara mereka. Dani hilir mudik di ruangan. Hingga ia keluar untuk beberapa saat.


"Makanlah..."


Rania yang tak sengaja tertidur di samping ranjang Zidan tersadar. Ada bungkusan nasi goreng di atas meja kecil yang telah siap disantap. Dani masih mengingat menu kesukaan Rania, nasi goreng dengan telur dadar. Secangkir kopi susu hangat juga telah tersedia disana.


Rania tertegun. Ia melirik Dani sekilas. Dani tengah memberikan tatapan yang sama.


"makanlah...kamu tidak makan sejak siang"


Kemudian Dani berlalu begitu saja.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2