
Azka melewati setiap lorong Rumah Sakit dengan gejolak emosi yang tidak menentu. Rania seperti melihat dirinya sendiri dalam diri Azka. Ia tak bisa mencegah anak laki-lakinya itu pergi. Bahkan untuk mengejar langkahnya saja tidak mampu. Ia tau, betapa sakitnya menerima kenyataan.
Hari ini seharusnya menjadi momen bahagia untuknya. Namun, hari ini justru menjadi momen dibalik layar hilangnya seorang ayah. Momen terbongkarnya sandiwara dengan skenario sempurna, karangan orang yang hadir di masa lalu.
flashback Pina.
Saat itu Pina merasa kalah dari perempuan-perempuan lain yang ada di pelukan Dani. Ia merasa tersingkir dan dicampakkan begitu saja oleh Dani. Padahal, Pina merasa telah banyak mengorbankan waktu dan perasaannya untuk Dani.
Kepulangannya ke Madiun adalah momen kekalahan untuknya saat itu. Sebulan berlalu setelah ia mencoba menata diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik di kampung halamannya di Madiun, ia malah harus menerima kenyataan pahit. Bahwa ia dalam keadaan hamil 3 bulan!
Pina mencoba menyangkal bahwa dirinya hamil anak dari Dani. satu-satunya laki-laki yang menyentuhnya, meskipun tanpa sebuah pernikahan. Berbagai cara telah ia coba agar janin yang dikandungnya itu gugur. Tapi, Tuhan berkata lain. Pina tetap ditakdirkan untuk melahirkan anak itu. Seorang bayi cantik. Warna kulit putih kemerahan dan lesung Pipit disebelah kanan. Bayi mungil itu diberi nama Fika.
Berbagai cacian dilewatinya. Hingga dipecat dari perusahaan tempat ia dan sang putri menopang hidup. Hingga terseok-seok untuk bisa membesarkan Fika sendirian.
Hingga kesempatan itu muncul. Ketika sang anak ingin bertemu ayahnya. Kesempatan yang Pina buat sendiri. Tak ada pesaing saat itu, sebab Dani telah sendiri!
###
Waktu terus berlalu. Telah sepekan dari kejadian itu. Selama itu pula Fika tak lagi bertemu dengan Azka. Sejujurnya, Fika ingin mencoba menghubungi laki-laki yang hampir menjadi suaminya itu. Tapi, bagaimana mungkin dia harus menerima, bahwa Azka adalah mahram-nya.
Fika mencoba mencocokkan nama ayahnya yang tertera di Kartu Keluarga, dengan kartu keluarga milik Azka, yang ia dapat karena akan mengurus pernikahan. Ia sangat ingin meyakinkan bahwa mereka adalah sedarah, Sarah karena ayah biologis mereka sama.
Nyatanya benar adanya. Dani Mahendra adalah orang yang sama. Andaikan Dani tidak mengalami stroke yang membuat hampir seluruh inderanya lumpuh, tentu ia akan berusaha menjadi penengah untuk anaknya. Tapi, Dani tinggal seperti sosok mayat hidup yang bertengger diatas kursi roda.
###
"Yah, aku sangat ingin ayah bisa membantuku. Aku ingin bertemu Azka. Setidaknya, jika memang dia adalah kakak kandungku, maka aku ingin kita menjadi keluarga utuh". Ucap Fika lirih didepan kursi roda milik ayahnya.
__ADS_1
Dani tentu mendengarnya. Hanya isyarat air mata yang menggambarkan betapa Dani ingin membantu menengahi apa yang sedang terjadi.
"Kamu harus bisa menjauhi Azka, tidak sebagai calon suami, dan tidak juga sebagai Kakak. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah mengakui kamu sebagai adik kandungnya!"
Pekik Pina pada Fika.
"Mengapa ibu bicara begitu. Bukankah kita ada pada posisi yang salah Bu. Ibu yang merebut ayah dari mereka!"
Sahut Fika yang mampu menyimpulkan siapa yang bersalah dalam kasus ini. Pina, ibunya, adalah perempuan simpanan ayahnya. Pina yang merebut Dani, bukan Rania.
"Fika!, sungguh berani sekarang kamu membantah ibu. Ingat Fika, aku sudah berusaha hidup tanpa ayahmu. Tapi, karena rengekan kamu yang ingin sosok ayah, maka aku beranikan diri untuk merebut ayahmu dari mereka!"
Lidah Fika kelu untuk menjawab. Tak disangka sang ibu malah menyalahkan dirinya. Ia tertunduk. Perasaan bersalah bercampur aduk. Andai ia tau bahwa ibunya perebut suami orang, tentu ia tak akan meminta seorang ayah hadir di hidupnya.
###
Pagi ini, untuk kali pertama setelah kejadian gagalnya pertunangan, Fika memberanikan diri untuk kembali masuk bekerja di perusahaan New Latifaa Bakery yang dikelola Azka. Ia tak punya pilihan lain untuk mencari pekerjaan.
"Aku akan meminta maaf padamu, ka...bagaimanapun kita adalah adik dan kakak kandung". Gumam Fika dalam hati.
###
Didepan gedung New Latifaa Bakery, langkah Fika tertahan. Betapa perasaannya tidak menentu. Kali ini dia diam untuk waktu beberapa saat. Matanya menerawang ke penjuru gedung. Sama seperti saat pertama kali Rania datang ke Latifaa Bakery. Kini, seolah Dejavu, Fika mengalami hal serupa.
Ia memberanikan diri masuk ke lorong loker karyawan. Beberapa orang dengan ramah menyapanya. Mereka tidak tau bahwa lamaran itu batal. Sehingga beberapa orang menyalaminya. Hati Fika kini sedikit lega. Hampir semua karyawan yang melewati dirinya memberi salam hangat dan semangat. Fika tersenyum kecil. Entah harus menjelaskan atau hanya diam saja?!
Beberapa saat Fika mencoba mencari loker yang bertuliskan namanya. Tapi, ia tidak menemuka nama dirinya tertulis di loker, tempat ia biasa berganti seragam. Ia mencoba mencari lagi, barang kali ada rolling area. Tapi, nihil. Hatinya mulai cemas.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang yang ia kenal sebagai Azka datang menghampiri dirinya. Jantung Fika berdegup kencang. Entah bagaimana ia harus menyapa. Sebagai karyawan, kekasih, atau ...
"Fika. Barang-barang kmu telah dipindahkan. Kamu bisa mengambilnya di security depan!"
Ucap Azka dengan tatapan mata dingin, tanpa seutas senyum dibibirnya. Tangannya menjulurkan secarik kertas yang dibungkus amplop berwarna coklat.
Fika menarik kertas itu dan mulai membacanya. Namun, tangannya bergetar hebat, seiring tubuhnya yang tiba-tiba lunglai.
"mengapa kamu lakukan ini, Ka. apa salahku?!"
Ucap Fika dengan suara gemetar.
"Bukankah, kita sama-sama tidak tau skenario ini. Bukankah aku juga menolak ada di posisi ini!!!"
Fika mulai menyerang Azka. Mencoba membela diri dari keadaan yang menyudutkannya. Sebuah surat pemberhentian kerja secara tidak hormat tertulis dalam kertas yang diberikan Azka.
Azka diam, dingin dan tanpa ekspresi.
"Apakah kamu ingin menghancurkan hidupku juga Ka?!"
"Jawab Ka!!!!!!"
Azka berlalu pergi. Meninggalkan Fika dengan luka batinnya sendiri. Tak peduli seberapa keras tangis Fika, Azka tetap berlalu pergi. Tanpa peduli.
Fika mencoba menopang tubuhnya sendiri. Sakit ini lebih dari kenyataan bahwa dia tak dianggap adik oleh Azka. Lebih dari itu, ia bahkan masih mencintai Azka sebagai kekasihnya. Jika harus berpisah, tidakkah bisa berdamai dengan cara yang baik. Jika tak bisa menghormati, setidaknya Fika ingin dihargai sebagai manusia.
Ambigu. Tak tau, siapa yang benar dan salah dalam kisah ini. Fika berjalan lunglai menuju rumahnya. Ia kehilangan segalanya, kekasih, keluarga dan juga pekerjaan, sekaligus, dalam satu waktu.
__ADS_1
Bersambung....