
"Aku telah berusaha untuk memaafkan masa laluku, dan menerima takdir yang menjadi bagian dari kisah hidupku. Sekarang aku hadir untuk bersama dengan kamu, menantimu untuk mengarungi badai kehidupan, agar tak terjadi apa yang ibumu alami".
Ucap Rania sambil mendekat ke arah Fika. Mencoba menyentuh tangan Fika . Tangis Fika pecah sejadi-jadinya. Ia menyadari bahwa perjalanan hidup sedang berputar dan apa yang terjadi dahulu, kini terjadi lagi padanya.
"aku akan membantumu mencari informasi tentang Wisnu. Kita akan selesaikan ini, semoga tak ada yang merasa tersakiti karena kita!" Ucap Fika sambil mengusap bahu Fika.
###
Rania kemudian menghubungi para rekan LBH yang ada di Jakarta. mulai mencari informasi mengenai Wisnu, dan latar belakangnya. Jalan kekeluargaan masih akan ditempuh selama Wisnu mau kooperatif dalam menyelesaikan masalah.
Entah kenapa, Rania memilih untuk menghadapi masalah Fika ini sendiri. Rania akan turun tangan untuk membantu Fika. Memastikan bahwa Fika akan menurut padanya dan tidak akan ada Pina berikutnya.
Bagi Rania, tentu bukan hal sulit untuk mencari data pribadi seorang Wisnu. Melalui LBH yang resmi dia dirikan, Rania bisa meminta akses pada perusahaan mengenai status pribadi milik karyawan.
Hanya butuh waktu 2x 24 jam Rania telah mendapatkan alamat tinggal Wisnu .
Sebuah mobil membawa Rania dan Azka menuju alamat tempat tinggal yang diberikan oleh perusahaan tempat Wisnu dan Fika bekerja.
__ADS_1
GPS menuju ke sebuah rumah dipinggiran kota Depok. Rumah sederhana berlantai satu. Pintu pagar bercat hitam. Rumah yang sangat sederhana dengan beberapa bagian rumah yang terlihat kurang terawat. Sore itu seorang anak kecil laki-laki tengah bermain dengan sepeda kecilnya. Tak ada mobil yang terparkir di garasi itu. Hanya seorang anak kecil berusia 3 tahunan, sendirian.
Rania turun dari mobil. Kemudian menuju garasi yang berpagar besok itu.
"Assalamualaikum dek, papa mamanya ada?"
Sapa Rania pada anak kecil itu. Pintu rumah terlihat terbuka, namun, ia tak melihat seorang disana.
Anak kecil itu berlari masuk. Beberapa waktu kemudian, seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan keluar dari rumah itu.
"Permisi Bu, apakah benar ini rumah bapak Wisnu?".
Sapa Rania saat perempuan itu muncul dari balik pintu.
Perempuan berjubah besar dengan perawakan berisi. Wajahnya sendu dan teduh. wajahnya terlihat ayu tanpa polesan makeup diwajahnya.
"Iya, benar Bu. Tapi maaf, pak Wisnu nya tidak dirumah". ucap wanita itu dengan ramah.
__ADS_1
"Boleh kami masuk?". Tanya Rania.
Bergegas perempuan itu membukakan pintu pagar yang tergembok.
Rumah yang sangat sederhana dengan perabotan yang sederhana. Tipe rumah 36 dengan dengan dua kamar dan ruang tamu yang tidak begitu luas. Tak ada kursi tempat Rania dan Azka duduk. Hanya sebuah karpet dan beberapa bantal santai.
Diruang tengah ada sebuah ayunan bayi. Seorang anak tidur disana.
Perempuan itu berlari kecil menuju dapur. Tak ada pembantu dirumah ini. Perempuan itu sepertinya tengah membuatkan minuman untuk Rania dan Azka. Tak berselang lama, Perempuan itu kembali, menyambut Rania dengan senyuman yang mekar.
"Saya, Rahma, istri bapak Wisnu!" Ucap Perempuan itu sambil meletakkan dua cangkir teh dan cemilan pisang goreng.
Hari Rania berdegup tak menentu. Sudah jelas ini, Wisnu sudah berkeluarga. Tentu anak laki-laki tadi, dan yang sedang berada di ayunan ini, adalah anak-anak Wisnu.
Lalu, bagaimana cara menjelaskan kepada Rahma, bahwa Wisnu memiliki wanita idaman lain yang tengah hamil?!!!
Bersambung ...
__ADS_1