
Rania berjalan melewati Dani, tanpa melihat wajah apalagi menyapanya. Rania bersikap dingin seolah mereka tak lagi perlu untuk dikenali.
Delita jatuh pingsan ketika permintaannya untuk pencabutan dakwaan atas penculikan yang dilakukan oleh Dani tak dikabulkan. Rania telah menempuh jalur hukum, dan itu akan tetap ia lanjutkan. Baginya, terlalu banyak masalah yang ditimbulkan oleh Dani. Bahkan ia nyaris kehilangan kewarasannya.
Berhasil keluar dari 100 hari pertama menjadi janda bukan perkara mudah. Andai orang tua dan Jean tak membantunya sadar akan nikmat kehidupan yang masih bisa diperbaiki, tentu Rania yang akan berada di posisi Delita, depresi!
Rania menatap Azka yang ketakutan saat bertemu Dani dan menjalani rekonstruksi. Tubuhnya gemetar dan keringat dingin mengucur di keningnya. Tangannya menggenggam erat Jean seolah takut akan diambil paksa oleh ayahnya. Rania mendekati Azka. Berjongkok dan mengatakan dengan suara lantang hingga Dani pun bisa mendengarnya.
...Azka anakku sayang...
...Mama Rania dan ayah Jean akan selalu melindungi mu...
...Kamu tak perlu kuatir lagi...
...Orang yang menyakiti kita sudah ditangkap pak polisi...
...Kamu lihat itu, nak! (sambil menunjukk ke arah Seorang polisi)...
...Aku dulu seorang ibu yang baik...
...Mendidik anak-anak ku untuk patuh terhadap kedua orang tuanya,...
...Juga kepada Papa nya...
...Namun, ternyata aku salah!...
...Anakku tak harus mematuhi perintah ayahnya....
...Karena ia lebih patuh pada napsunya!...
Rania menggandeng Jean. Azka digendong oleh Jean, dan mereka berlalu dari meninggalkan tempat gelar perkara.
***
Rania merasa puas dengan apa yang ia lihat. Seorang pelakor telah menerima haknya. Hak untuk mendapatkan balasan dari apa yang pernah ia perbuat.
Kali ini, Rania hanya ingin melewati persidangan dengan matang. Rania tak ingin kalah dipersidangan kali ini, ia tak ingin mengulang kekalahannya pada sidang perceraian.
Dani, akan aku tunjukkan bagaimana cara memenangkan pengadilan dengan bijak. Tanpa harus menggunakan cara-cara kotor. Kau akan menerima banyak fakta. Perselingkuhan mu akan berbuah manis, semanis empedu. Perbuatanmu akan mengikatmu dalam sebuah karma, balasan dari balik jeruji besi.
***
Dani mendekap Delita. Ia mencoba menguatkan Delita. Bagaimana bayinya yang berkali-kali mengalami kontraksi akibat emosi Delita yang tidak stabil selama mengandung.
__ADS_1
"Delita, sadarlah...Del...Del...!!"
Dani terus berusaha menyadarkan Delita. Namun Delita tak kunjung siuman.
"ini salahmu Dani!, kenapa kamu selalu membuat anak saya menderita!"
Pekik Bu Yayu pada Dani.
Dani terdiam, mendekap Delita dengan sekuat tenaga.
"Sekarang lepaskan anak saya!"
Ucap Bu Yayu
"Maafkan saya...!"
Ucap Dani.
"Terlambat!"
Jawab Bu Yayu sambil menghempaskan tangan Dani dari tubuh Delita.
***
***
Ketika dalam masa tahanan. Dani pernah mengelukan sakit yang begitu hebat dibagian kepala.
Dokter di Rumah Tahanan merujuknya untuk berobat ke rumah sakit yang lebih besar. Setelah melakukan pemeriksaan beberapa kali, akhirnya diketahui bahwa Dani didiagnosis mengidap bipolar, sebuah gangguan mental yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, mulai dari posisi terendah atau yang biasa disebut sebagai depresif, hingga tertekan ke posisi tertinggi atau yang biasa disebut mania. Dani masih tahap depresi.
Tidak heran jika ia bisa mudah sekali berubah suasana hatinya ketika dalam kondisi tekanan tertentu. Ia bisa bersikap sangat baik, namun, dalam hitungan detik berubah menjadi seorang yang ambisius dan temperamental, jika ada hal yang menyinggungnya atau hasrat yang tidak tercapai.
***
Usia kandungan Delita baru masuk usia bulan ketujuh. Namun dokter sangat mengkhawatirkan kondisi Delita. Ia mulai menunjukan gelaja baby blues. Delita diketahui sudah tidak memeriksakan kandungannya sejak dua bulan yang lalu. Bahkan perkembangan anaknya memiliki berat dibawah normal dari usia pada umumnya. Bu Yayu, Ibu Delita mengetahui hal ini setelah melakukan pemeriksaan sesaat setelah Delita siuman. Bu Yayu baru menyadari bahwa Delita juga tak pernah melakukan USG pada trimester kedua.
Bu Yayu menyalahkan dirinya sendiri, andai ia tidak mengijinkan anaknya untuk menikahi laki-laki beristri, tentunya anaknya tak akan mengalami hal ini. Ia berpikir akan lebih baik melahirkan tanpa seorang ayah, dibandingkan melahirkan dengan ayah namun hanya status saja yang membuat anaknya nyaris depresi. Apalagi ia mengetahui bahwa Dani juga memiliki penyakit bipolar yang berpotensi membuatnya depresi.
"Aku ingin membunuh anak ini, bu!"
Ucap Delita saat baru siuman dari pingsannya. Delita bahkan tak sempat mengucapkan salam perpisahan pada Dani yang mendekam kembali di penjara.
"Jangan mengatakan itu, Del. Ibu tak ingin kehilanganmu!"
__ADS_1
Ucap Bu Yayu sambil memeluk erat anaknya yang terbaring lemah di ranjang sebuah rumah sakit.
"Aku tak sanggup melihat anak ini hidup tidak normal. Aku sudah berusaha membunuhnya sejak awal kehamilan!"
Ucap Delita dengan tatapan kosong. Ia seperti ngelantur saat berbicara.
"Tak apa. Aku yakin ia bisa tumbuh sehat dan normal. Delita lihat ibu. Ibumu ini seorang perawat ahli. Ibu akan sanggup merawat anak dan cucu ibu sekaligus. Kamu bisa meninggalkan Dani dan memulai hidupmu yang baru!"
Ucap Bu Yayu dengan linangan air mata.
"Aku malu, aku lelah dengan semua yang kujalani!"
Ucap Delita sambil memukul-mukul perutnya.
Bu Yayu nyaris kehilangan kata-kata. Ia berusaha memilih kata agar bisa diterima anaknya.
"Dengarkan ibu, Delita. Kita akan pindah ke lingkungan yang baru. Tak akan ada yang mengetahui statusmu. Kau akan menjadi Delita yang dulu. Anakmu, biar ibu yang mengurus. Kamu bisa lanjutkan hidupmu, nak".
Dengan sekuat tenaga Bu Yayu meyakinkan Delita.
***
Semakin hari, kondisi Delita semakin memburuk. Ia mengalami mall nutrisi. Ia beberapa kali kontraksi dan mengalami pendarahan. Dokter akhirnya melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi dan ibunya.
***
...Selamat datang baby A, yang lahir tanpa kehadiran seorang ayah. Kau lahir dengan suci, namun ikut dalam lingkaran dosa dari orang tuamu. ...
Delita bergumam, sambil memekik benci pada anak yang baru dilahirkannya itu. Anak yang didambakan bisa membawa kebahagiaan bagi dirinya dan Dani, nyatanya menjadi hal yang disesalinya saat ini.
Anak Delita lahir dalam kondisi prematur. Ia berjuang hidup dengan kelainan jantung bawaan. Ia berjuang didalam inkubator sendirian. Semenjak melahirkan Delita enggan menemui putra yang baru saja ia lahirkan. Delita mengalami ap yang disebut baby blues.
Bu Yayu tak mampu memotivasinya untuk bangkit. Delita justru berniat meninggalkan anaknya di Rumah Sakit, namun Bu Yayu tak tega dan takut anaknya mendapatkan masalah karena ini.
***
Dani baru diijinkan untuk menjenguk anaknya sehari setelah kelahiran baby Abizar. Ia melihat dari balik inkubator yang membunyikan suara tanda detak jantungnya.
"Maafkan papa, nak..."
Keluh Dani sambil dari balik inkubator yang memisahkan.
Bersambung ....
__ADS_1