
Melati membasuh tubuhnya dengan air kendi. Airnya sudah dicampur kembang tujuh rupa. Kata Nyai, untuk menghilangkan bau badan, kunyit dan temu giring yang dicampur dalam lulur. ia menurut saja. Apa yang Nyai katakan sudah diyakini benar.
Selendang jarit membalut tubuh mungil melati. Jalannya menjinjit menuju sebuah ruangan tempat pingitan.
"Tujuh hari lagi menjelang pernikahan mu nduk. Kamu jangan banyak keluar kamar. Pamali, itu pesen Nyai".
Seorang abdi dalem memperingatkan Melati. Sudah hari ke tiga puluh tiga Melati dipingit. Sesuatu yang sangat tidak ia sukai. Biasanya jika suasana sepi atau malam Jum'at ketika seluruh abdi dalem dan para santri khidmat membaca lantunan ayat suci Al-Qur'an di masjid pendopo. Kesempatan itu Melati gunakan untuk keluar kamar. Ia akan menuju taman yang berada di belakang pondok dan menikmati suasana langit malam itu. Mungkin, tujuh hari setelah malam ini, ia tak akan bisa merasakan hal serupa. Sebuah pernikahan yang tak diinginkan, harus ia jalani.
Di bawah langit, ia berusaha memendam mimpi besarnya ketika berada di pondok pesantren modern di kota Malang. Dari keempat putri Nyai, hanya Melati yang memilih bersekolah di pondok pesantren modern. Sedangkan ketiga kakaknya hanya bersekolah di pondok pesantren salaf. Tanpa ada sentuhan pendidikan formal di Madura. Melati menjadi satu-satunya anak Nyai Winah yang memiliki pemikiran berbeda. Terkadang, ia harus bertentangan dengan keluarga besar pondok pesantren karena pemikirannya yang dianggap radikal, terlalu bebas dan mengikis nilai-nilai Islam dan budaya.
Sejak awal, Melati telah menentang pernikahan dibawah umur. Baginya, pernikahan bukan hanya persoalan baligh. Bukan persoalan sudah bertemu dengan jodohnya. Pernikahan bagi Melati merupakan ibadah yang panjang, oleh sebab itu harus dilandasi oleh hati. Arti sakinah, mawadah, warahmah harus benar-benar dijunjung tinggi. Oleh sebab itu, perasaan cinta atau minimal menyukai pasangan merupakan hal yang menjadi pondasi pernikahan. Dia yang datang pertama, belum tentu menjadi cinta.
Pernikahan yang akan dijalani Melati dan Ustad Malik, tidak dilandasi cinta. Perjodohan karena kekerabatan antar pondok pesantren menjadi alasan utama perjodohan ini berlangsung. Melati hanya mengenal sosok Ustad Malik anak dari Kyai Mansur, sahabat seperjuangan ayahnya ketika sama-sama mondok di Madura dulu.
Ayah Melati, Kyai Basuki dan Kyai Mansur, sama-sama belajar dan merintis sebuah pondok pesantren di kota masing-masing. kyai Basuki di Wilayah Lumajang, Jawa Timur, sedangkan Kyai Mansur di Bangkalan, Madura. Aliran mereka sama, pemikiran mereka sama. Hubungan silaturahmi selalu mereka terjalin.
Setiap tahun, atau jika salah satu dari mereka membuat acara besar di pesantren nya. Mereka pasti akan saling mengundang. Berbeda dengan Kyai Basuki yang telah memiliki empat orang putri, Kyai Mansur baru dikaruniai satu orang putra yang usianya berjarak satu tahun lebih tua dari Melati. Itu sebabnya, untuk mempererat silaturahmi, Kyai Basuki dan Kyai Mansur sepakat menjodohkan Melati dan Malik.
Karakter Malik dan Melati sangat berbeda. Malik yang hanya menempuh pendidikan formal hingga Sekolah Madrasah Ibtidaiyah, pendidikan selanjutnya ia habiskan di pondok pesantren salaf di Madura. Malik sangat takdim dengan sang ayah. Apapun yang ayahnya katakan selalu menjadi pedoman untuk pengambilan keputusan nya. Sedangkan Melati, sedari kecil terkenal keras kepala, memiliki pemikiran sendiri. Jika ia diberi sebuah aturan, maka Melati akan berupaya bernegosiasi agar aturan tersebut tidak membuatnya terkekang.
Kyai Basuki sangat memanjakan Melati, lebih dari saudaranya yang lain. Itu karena Kyai Basuki mengerti bahwa Melati memiliki pemikiran yang berbeda, sangat cerdas dan mandiri. Melati telah menjadi Hafizah sejak berusia delapan tahun. Serta mampu membaca kitab kuning sejak berusia sembilan tahun. Dari keempat bersaudara, hanya Melati yang memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Ia ingin pesantren milik ayahnya ini juga memiliki bekal untuk hidup dunia. Bukan hanya untuk akhirat saja.
Sebenarnya, Kyai Basuki sangat mendukung Melati. Sebagai wujud dukungan, Kyai Basuki bersedia menuruti keinginan Melati untuk melanjutkan pendidikan Madrasah Tsanawiyah nya di Malang.
Tiga tahun Melati menjalani pendidikan di Ar Rasyi Modern Boarding School, melati selalu mendapatkan prestasi yang memuaskan. Selain juara kelas, Melati juga berhasil memenangkan berbagai kejuaraan menulis, mulai dari tingkat Kabupaten, Propinsi bahkan Nasional. Sayangnya, ketika Melati duduk di kelas sepuluh Madrasah Aliyah, ia harus menghentikan mimpi pendidikannya.
Pagi itu, selepas sholat Dhuha berjamaah, Melati yang telah siap berangkat untuk pendidikan formal dengan seragam dan tas, dipanggil oleh pihak pengurus pesantren. Ustadzah Sofi, kakak Melati datang menjemputnya pulang. Awal bahagia karena Melati mengira ia dijemput karena umi rindu padanya. Berubah menjadi tangis histeris, karena sang anak meminta Melati mengemasi semua barang-barang nya karena tidak akan kembali lagi ke pesantren tersebut.
"Dek, ayolah menurut pulang. Nanti biar umi yang memberi penjelasan untukmu".
__ADS_1
Ucap Ustadzah Sofi berusaha membujuk adik bungsunya.
"Ndak kak!. Aku ndak mau!. Bilang Abi mengapa Abi ingkar janji?!" .
Jawab Melati sambil berurai air mata. Ia seperti memahami untuk apa ia pulang dan tak kembali. Sebab ketiga kakaknya mengalami hal serupa. Ketika makanya pulang dari pesantren, maka seorang Ustad siap meminang.
"Melati. Kakak memahami perasaanmu dek. Tapi...cobalah mengerti Abi dan umi, mereka tak enak hati karena lamaran dari Kyai Mansur".
Derai air mata menjadi satu-satunya pelampiasan Melati. Bahkan ia tak ingin meninggalkan telapak kakinya dari pondok pesantren yang telah mengubah pemikirannya.
Ia memiliki pemikiran yang moderat. Ia sangat toleran dengan orang-orang yang berbeda dengannya. Meski sedari kecil ia hidup di pesantren, namun lewat internet yang dapat ia akses di laboratorium komputer sekolah, Melati mampu berinteraksi dengan dunia.
Waktu seakan-akan berhenti sesaat, manakala waktu beranjak dari pesantren telah ditentukan. Melati harus belajar menerima takdirnya. Kehilangan mimpi dan cita-citanya?!
***
Sebagai seorang anak yang ta'dzim kepada kedua orang tuanya, ia mencoba untuk menuruti perjodohan ini. Sebelum acara pernikahan digelar, Melati dan Ustad Malik diberikan kesempatan untuk melaksanakan ta'aruf selama satu bulan. Masa ta'aruf dimaksudkan agar keduanya tidak merasa canggung ketika telah menjadi suami istri nantinya.
Ta'aruf yang dilaksanakan tidak serta Merta membuat Ustadz Malik dan Melati bebas berbincang berduaan. Hanya sekedar melihat dari dekat satu sama lain.
Acara ta'arufan sekaligus pertunangan pun digelar dengan sangat mewah. Semua santri dan abdi dalem ikut serta
saat acara ta'aruf dilaksanakan.
Melati melihat sebuah kesempatan untuk berkomunikasi dengan Ustad Malik. Lewat surat, ya satu-satunya seperti itu. Karena tak ada yang boleh mengoperasikan handphone di pondok pesantrennya.
Melati pun pergi ke sebuah ruangan untuk ia menulis sebuah surat untuk Ustad Malik. Setelah melihat keadaan yang kondusif, Melati menitipkan sebuah surat untuk ustadz Malik, yang ia titipkan pada abdi dalem.
***
__ADS_1
Assalamualaikum Ustad Malik
Semoga Rahmat dari Allah sang pemilik raga maupun nyawa…
Surat ini sebagai perkenalan diri saya terhadap calon suami. Ustadz, saya ingin ustadz mau mengenal saya terlebih dahulu. Mengenal secara khusus ciri khas saya yang tidak bisa disamakan dengan ketiga kakak saya.
Saya Melati Aisyahrani, adalah seorang pemuja duniawi. Seorang penikmat seni, dan pencari ilmu sejati. Saya tak berbicara ana atau antum. Sebab terbiasa berbahasa Indonesia sejati. Maukah anda mengerti…?
Saya ditakdirkan berbeda dari ras Abi dan umi. Tak seperti kakak saya lainnya. Mungkin saya tak akan menjadi istri idaman Ustadz Malik. Mimpi saya sebagai seorang pencari ilmu amatlah tinggi, hingga saya tak tau cara menurunkannya. Maukah anda memahami?
Menurut anda,
Apakah pernikahan kita didasarkan pada cinta?, dan bagaimanakah cara anda menumbuhkan cinta, sedangkan rasa itu tak ada sejak pertama?
Demikianlah surat dari ku, panggil saja Melati, sebab belum patut rasa hati dipanggil ustadzah. Semoga Ustadz mau memahami.
Melati Aisyahrani
Setelah menuliskan surat itu, Melati seperti menggebu-gebu. Ingin rasanya ia mengecap bangku pendidikan kembali, dan ia selalu berjuang untuk itu!!!
***
Surat berbalas oleh Ustad Malik. Sebuah persetujuan bahwa ustad Malik menyetujui jika setelah menikah, Melati tetap akan melanjutkan pendidikan nya, melalui pendidikan non formal. Mereka pun sepakat bahwa Melati diperbolehkan untuk mengejar cita-cita nya untuk meneruskan pendidikan tinggi untuk mengejar cita-cita nya.
Surat kesepakatan ini tidak diketahui oleh orang tua maupun besan. Hanya ustad Malik dan Melati saja.
Perjanjian pra nikah?
Mungkin, bisa jadi!!!!
__ADS_1