
Alam Jakarta yang terasa semakin padat dan panas, telah menyatu dalam kehidupan Rania. Hampir dua belas tahun semenjak menempuh pendidikan di sebuah kampus di Jakarta, bekerja dan menikah hingga detik ia berada saat ini.
Waktu seolah berjalan begitu cepat. Hingga tiba Rania dan anak-anak harus pindah dari paviliun Latifaa group, setelah semua saham milik Latifa dibeli oleh sepupu Jean, Bu Maranata, yang sebelumnya memiliki usaha dibidang penginapan.
Sudah tiba saatnya.
Telah sampai waktunya.
Tak ada yang perlu ditangisi.
Manusia fitrahnya untuk terus bergerak mencari nasibnya.
***
Rania sebenarnya sangat ingin berpamitan pada Dani. Bagaimanapun, anak-anak harus belajar untuk menghargai ayah kandung mereka. Namun, usaha untuk bersilaturahmi dengan Dani nyatanya tak mudah. Mungkin, ini saatnya Rania mengubur semua cerita tentang Dani, selamanya.
***
Dua koper besar telah Jean kirimkan tadi pagi telah Rania isi dengan pakaiannya dan anak-anak. Tak banyak pakaian yang mereka miliki. Hidup berpindah-pindah seakan mengajarkan Rania untuk tidak banyak memiliki barang. Cukup yang penting-penting saja. Tak lupa Rania juga mengurus berkas pindah untuk sekolah kedua anaknya, semua ia lakukan sendiri.
"Mama, kita akan pindah ya ?"
Tanya Azka yang tiba-tiba hadir di bibir pintu kamar. Memandangi Rania yang tengah mengepak beberapa dokumen agar aman dalam perjalanan nanti.
"Ya. Nak"
Jawab Rania sambil memandang lembut anak sulungnya itu.
"Jauh ya, ma?"
Tanya Azka lagi.
"Iya. Jauh sekali Azka. Kita akan melakukan perjalanan selama hampir empat belas jam".
Azka terdiam sejenak mendengar jawaban Mamanya.
"Kalau Papa datang kesini, pasti Papa bingung mencari rumah kita ya, ma"
Ucap Azka yang membuat Rania terhenyak. Ia tatap mata Azka yang mulai berkaca-kaca. Sebagai ibu, Rania tau bagaimana mata itu berbicara. Tentang rindu dan harapan seorang anak yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
Rania menghentikan aktivitasnya. Didekatinya Azka.
"Azka anak mama yang kuat. Mama sangat memahami perasaan kamu. Kita juga telah berusaha untuk menemui Papa. Tapi, yang hadir malah Tante Delita".
Rania terdiam. Tak bisa berkata-kata. Dipeluknya Azka, yang seketika tangisnya pecah.
"Biarlah nak, Papa punya punya kehidupan baru, dan Azka punya masa depan baru. Kelak jika Allah menghendaki, kita akan bertemu Papa, dan jadilah Azka anak yang berbakti. Do'akan Papa agar terbuka hatinya untuk menemui kamu".
Rania mengelus-elus punggung Azka. Mencoba menenangkan. Tak mudah bagi Azka menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan sosok ayah, lahir maupun batinnya.
***
Azka, laki-laki kecil yang dipaksa dewasa. Dipaksa mengerti keadaan orang tuanya. Bahkan untuk menangis pun ia segan. Ia takut Mama Rania sedih. Namun, kali ini sulit. Ia telah memendam tangisnya dalam kurun waktu yang lama, sejak Dani tak menemuinya.
Kadang ia merasa iri ketika melihat teman-teman di sekolah diantar oleh ayah mereka, menaiki sepeda motor, duduk di bagian depan. Bangga karena menjadi prioritas. Sedangkan ia hanya diantar jemput oleh mamanya.
Perasaan Azka disampaikan kepada Jean.
"Om, aku lihat temanku, Yugi dijemput sama ayahnya. Riki diantar Papi".
Jean tertegun mendengar keluhan Azka. Jean yang memang merindukan sosok anak dalam hidupnya, namun gagal karena kematian istri beserta anaknya, menjadi sangat peka dengan anak-anak.
"Kamu, mulai besok, Azka dan Zidan akan om yang antar jemput ya...!"
__ADS_1
" Benar, om?"
Jean mengangguk.
"Yeayyy asikkkk!"
Kehadiran Jean menjadi obat untuk menggantikan peran Dani sebagai Papa. Meski demikian, Azka masih saja merindu Dani.
***
Di Pagi buta, sebuah mobil minibus datang ke paviliun Rania. Seseorang turun dari mobil.
"Bu Rania..."
Seseorang memanggil namanya. Rupanya supir Ekspedisi suruhan Jean. Ia datang untuk mengangkut semua barang-barang Rania. Tak berselang lama, Jean datang.
"Sudah siap ?"
Rania mengangguk. Ia telah siap untuk berangkat ke Lumajang. Anak-anak juga telah berdiri rapi, siap berangkat.
Satu per satu barang masuk, kemudian anak-anak masuk mobil. Semua telah siap.
Rania berjalan perlahan. Kemudian berbalik arah. Menatap keadaan paviliun yang selama beberapa bulan telah ia tempati. Ada banyak perjuangan yang ia ukir disana. Perjuangan menjadi singgle mom, perjuangan dari segi finansial, cemoohan orang, bahkan perjuangan untuk menjadi pribadi yang utuh. Kini, semua tinggal kenangan. Bagaimanapun, hidup harus terus berjalan. Tak ada guna mengenang sesuatu yang menyakitkan.
"Rania...Kamu siap?"
Suara Jean mengagetkan lamunan Rania.
"oh...ya...tentu!"
Ucap Rania seraya menaiki mobil.
Jean duduk di jok depan bersama supir. Sedangkan Rania dan anak-anaknya duduk di jok tengah. Perjalanan mereka sangat menyenangkan. Anak-anak menikmati pemandangan dan sesekali menonton film yang terdapat pada monitor di jok mereka.
Bangkit... bangkitlah jiwa yang baru. Tuhan telah memisahkan mu dari masa lalu yang menyakitkan. Sambutlah hari baru ditempat yang baru.
***
Tiga belas jam perjalanan. Mereka akhirnya sampai di sebuah desa yang masih sangat asri. Desa yang konon terkenal akan sumber daya alam berupa pisang dan kambing.
Mobil yang mereka tumpangi terparkir didepan sebuah rumah adat Jawa yang sangat besar. Rumah itu dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Ada pohon cengkeh, pohon akasia, dan beberapa pohon buah-buahan. Meski mereka tiba di malam hari, namun Rania masih bisa melihat jelas keadaan sekitar tempat tinggalnya.
Sepasang laki-laki dan perempuan menyambut kedatangan ketika mobil baru saja berhenti dan pintu mobil dibuka.
"Assalamualaikum.... masyaallah sudah tiba...ayok...ayok....kita masuk ke dalam. Saya bantu..."
Ucap perempuan paruh baya itu.
"Iya. Terimakasih Bu"
Ucap Jean.
"Rania, kamu gendong Zidan, aku gendong Azka ya"
Meraka tiba tengah malam sehingga Azka dan Zidan sudah dalam keadaan terlelap tidur.
"Nah...ini kamarnya".
Ucap perempuan yang mengenalkan diri sebagai mbok Siti.
"Mbok, kamar satu lagi?"
Tanya Jean.
__ADS_1
"Loh...kamar nya misah to...?"
Tanya mbok Siti kaget.
"Kami belum suami istri mbok..."
Ucap Jean.
"Oalah...maaf pak Jean, saya kira ini istrinya....maaf ya maaf".
Ucap mbok Siti disambut gelak tawa seisi rumah, gelak tawa yang memecahkan kekakuan dan keheningan di malam hari.
Malam itu, Rania dan anak-anaknya tidur dengan lelapnya. Kelelahan selama perjalanan membuat mereka tidur nyenyak meski ditempat yang baru.
***
Rania bangun pukul empat pagi, di Jawa Timur, adzan subuh telah berkumandang sejak pukul empat pagi. Rania, bergegas menuju kamar mandi. Ketika mukena baru dikenakan tiba-tiba pintu kamar diketuk.
"Bu, ayok kita sholat berjamaah di mushola?"
Ternyata yang mengetuk pintu adalah mbok Siti.
"Oh baik mbok..."
"Mama, Azka ikut"
"Zidan juga, ma"
Akhirnya Rania dan anak-anaknya menuju mushola yang ternyata letaknya di depan rumah yang ditinggalinya. Pantas saja adzan subuh terdengar dengan jelas.
"Disini kalau sholat subuh dan magrib berjamaah, nduk".
Ucap mbok Siti menjelaskan
"Oh iya mbok..."
Jawab Rania sekenanya.
"Musholanya dekat dengan rumah ya mbok"
Tanya Rania mencoba lebih akrab dengan mbok Siti.
"Oh iya nduk, hampir semua rumah disini punya musholla. Kalau yang tidak punya, bisa berjamaah dengan tetangga yang punya. Jadi bisa silaturahmi setiap waktu sholat".
"Wah... masyaallah".
Rania mulai merasakan perasaan nyaman dan damai. Hal yang tidak pernah ia rasakan di Jakarta. Rania hanya merasakan suasana ini di kampung halamannya di Aceh. Mushola yang dalam bahasa Aceh berarti Meunasah, menjadi tempat ibada sekaligus silaturahmi orang-orang di kampungnya.
"Ade Azka, ayok bisa iqomah?"
Azka menggeleng malu. Disambut gelak tawa jamaah.
"Nah, mulai nanti sore, Azka dan Zidan belajar mengaji ya disini, nanti sama teman-teman lainnya. Biar nanti bisa adzan ya..."
Ucap Pak Muslim, laki-laki yang menjadi suami Mbok Siti.
Azka mengangguk. Menyatakan siap.
Sholat subuh berjamaah pun dilaksanakan...
Bersambung
Bahasa : Nduk \= Genduk \= Sebutan untuk Anak perempuan.
__ADS_1
Dear Readers terimakasih untuk yang sudah setia membaca ya...gak terasa sudah di pertengahan bagian cerita. Makin seru, makin banyak intisari yang bisa menginspirasi...