100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 11 Perceraian #Pengacara Ajaib


__ADS_3

Hujan deras mengguyur malam itu, Rania berjalan lunglai menyusuri jalanan menuju kontrakannya. Ia benar-benar tak menyangka akan bernasib seperti ini. Pernikahan yang ia anggap akan membawa kebahagiaan dan semangat baru dalam hidup. Nyatanya malah membawa petaka. bahkan hampir saja mengakhiri hidupnya.


Rania mengumpulkan sisa tenaga. Ia baru saja sadar bahwa Dani dan keluarganya tak akan melepaskannya begitu saja. Bahkan harta satu-satunya yang ia miliki, yaitu kedua putranya telah dikuasai Dani. Betapa rakusnya keluarga itu, tak merasa puas hanya dengan mengusir Rania.


Malam itu, Rania bertekad ber do'a lebih banyak. Ia beri'tikaf diatas sajadah hingga malam menjelang pagi. Rania yakin, do'a mungkin tidak bisa merubah nasib. Namun, mampu membantunya melewati ujian hidup terberat dalam hidupnya setelah sang ibu meninggal tujuh tahun silam.


Keesokan harinya, seperti biasa Rania mengantarkan bento pesanan sekolah TK Mulia Bintang, tempat Azka bersekolah. Ia terkejut karena Azka diantar oleh satpam rumah dan seorang baby sitter dengan wajah yang tak ramah padanya. Untung saja, pihak sekolah memiliki hubungan yang baik dengan Rania. Sehingga, momentum di sekolah inilah Rania bisa sekedar melepas rindu dengan Azka.


Hari ini Rania mendapat pekerjaan pertama menjadi freelencer baker di Latifaa Bakery. Meskipun terbilang baru, Rania sangat mahir mengolah adonan kue. Ia juga langsung dipercaya untuk menghias dua puluh lima kue tart ulang tahun. Dan hasilnya sangat di sukai customer. Rania sebenarnya sangat ingin menerima tawaran kerja tetap di Latifaa Bakery, karena banyak teman dan suasana kerja yang mampu menyingkirkan beban kerinduan pada anak-anak.


"Bu Rania". Sapa seseorang ketika Rania merapikan bekas pekerjaannya. Ia telah menyelesaikan hiasan kue tart ke dua puluh, dan bersiap pulang.


"oh...ya saya pak" jawab Rania.


"ini gaji kamu untuk hari ini". Seorang laki-laki paruh baya menyodorkan amplop.


"baik. terimakasih, Pak" balas Rania.


saat ia membuka amplop,


"Alhamdulillah..." Rania mendapatkan hasil yang luar biasa besar untuk ukuran pekerjaan yang dilakukan kurang dari delapan jam


"kerja bagus Bu Rania. Anda memiliki bakat di bidang ini. maukah anda bergabung bersama kami?". Ucap pria itu dengan senyum mengembang.


"oh ya, saya Pak Jean, Jeandra. Saya putra tertua Bu Latifa. Pengelola personalia disini.


"Baik pak Jean, akan segera saya pertimbangkan penawaran dari bapak". Ucap Rania seraya berpamitan untuk pulang ke rumah.


Uang Lima Ratus Ribu Rupiah sehari, dan ia diminta menjadi freelencer selama satu minggu, karena Latifaa bakery sedang mendapatkan pesanan hajatan pejabat daerah.ia sangat bersyukur. Ia bisa membayar hutangnya bulan ini, kontrakan dan sedikit menabung.


Ia pulang dengan wajah berseri. Tak lupa ia singgah di minimarket dekat kontrakan untuk membeli beberapa cemilan yang akan ia berikan pada Azka dan Zidan. Ya, dia akan menemui anaknya, bagaimanapun sulitnya, meskipun hanya bisa bertemu dibalik pagar besi itu.


Setibanya di kontrakan ...


"Bu Rania..."

__ADS_1


"ya Bu Panji..."


Bu Panji tetangga sebelah kontrakan memanggil Rania sambil membawa secarik surat.


"Pengadilan Agama Bekasi..." deg jantung Rania seperti berhenti sesaat.


"tadi ada yang datang Bu, dua orang. Katanya dari pengadilan agama, terus nitipin surat ini". ucap Bu Panji.


"baik. terimakasih Bu".


Entah mengapa Rania merasa Dani tak mau membiarkan hati Rania bahagia sehari saja. Selalu saja mengusik pikirannya. Rania pernah memprediksi ini. Bahwa dia akan merasakan pahitnya sebuah perceraian. Ia menerima surat panggilan dari pengadilan agama Bekasi. Senin depan adalah jadwal sidang pertama perceraian.


Senin yang panas. Rania menyusuri lorong pengadilan agama. ia melihat sebuah papan nama, ada namanya dan Dani terpampang disana. Jadwal hari adalah kelengkapan berkas.


Seorang wanita paruh baya menghampirinya. kacamata cukup tebal menghalangi pandanganku. Kngin sekali aku menatap mata wanita itu.


"Selamat siang Bu Rania. Saya Erwi, kuasa hukum Pak Dani " sapa pengacara itu sambil mengambil sikap duduk di sebuah kursi panjang didepan taman sebuah pengadilan.


"ya..." jawab Rania singkat.


"ini berkas persetujuan perceraian yang harus ibu tanda tangani, saya harap ibu kooperatif agar proses perceraian menjadi lebih mudah" ucap Erwi dingin.


pengacara itu seperti terhenyak dan diam sesaat. menatap Rania dengan mata bulat tajam.


Saya sudah berkarir selama lebih dari lima belas tahun Bu Rania" jawabnya dingin.


"kalau begitu, mungkin saya menjadi klien Anada yang paling sulit untuk diajak kompromi, Bu!" Rania menyingkirkan surat itu dari mejanya.


"Bu Rania, dalam sebuah pernikahan yang tidak bisa dipertahankan akan mengakibatkan salah satu pihak merasa menderita dan teraniaya!"


"kalau begitu. siapa yang menurut anda menjadi korban, Bu pengacara yang terhormat?"


"ya bisa jadi suami atau si istri..." jawab Bu Erwin menyipitkan mata.


"salah!"

__ADS_1


"korbannya adalah anak-anak!" ucap Rania mempertegas.


"maka dari itu Bu Rania, mari kita selesaikan. Masih ada mediasi untuk mencari jalan terbaik masalah kalian"


"lalu, mengapa bukan mas Dani sendiri yang langsung bermediasi dengan saya. mengapa harus lewat pengadilan agama?, lewat pengacara?!" Rania mulai tak mampu membendung emosinya.


"ia sangat sibuk, Bu Rania. Harap memaklumi" pengacara itu berusaha membuat Rania mau ikut alur pemikirannya.


"kalau begitu, saya tidak mau menandatangani surat ini. saya akan menandatangani, jika mas Dani yang menyerahkannya langsung pada saya.


Rania beranjak dari tempat duduk, melempar surat yang isinya ia sudah ketahui tanpa harus membaca.


Kehadirannya hanya ingin berbicara secara langsung dengan Dani. andai perceraian menjadi solusi, ia ingin perceraian itu merupakan kesepakatannya dengan Dani, bukan dengan pengacara.


"Bu Rania, anda harus ingat, bahwa sekuat apapun anda bertahan, jika pihak penggugat telah final, perceraian akan tetap terjadi!", Rania merasa pengacara ini mulai mengintimidasi.


"oh...rupanya Dani hanya akan membayar jasa anda jika berhasil mengeluarkan akta cerai?!. Pengacara yang tidak kredibel!!" seru Rania sambil berlalu pergi meninggalkan pengadilan itu.


Pengacara itu terus mengumpat. Sepertinya Dani telah memberi penekanan agar proses perceraian berjalan cepat, dan tanpa perlawanan dari pihak Rania. Dani tau kelemahan Rania yang hidup jauh dari keluarga. Ia tak memiliki saksi dari pihak perempuan. Rania sendiri. mengadukan nasibnya sendiri. Membela dirinya sendiri.


"mas Dani, kita harus bicara!" sebuah pesan singkat Rania kirimkan pada Dani.


"aku sudah menyerahkan semua urusan pada pengacaraku".


balas Dani


"ini rumah tangga kita. kita yang harus selesaikan mas, bukan pengacara!"


"itu fungsinya pengacara, Rania, untuk menengahi masalah kita!"


"masalah?"


"sebenarnya masalahnya ada pada dirimu mas!, mengapa kamu dulu memaksakan pernikahan kita, jika akhirnya kamu sendiri yang mundur!"


"sudahlah Rania. ini sudah takdir!, terima saja nasib mu!"

__ADS_1


Hati Rania sakit. Begitu mudahnya kata-kata itu Dani lontarkan. Seperti pernikahan ini tak ada kesakralannya dimata Dani.


next gak nih....yuks dukung aku dengan cara vote dan like nya ya🤗❤️


__ADS_2