
Rencana telah ku buat. Aku akan segera mencari mama. Mencium mama, dan mengatakan "mama aku rindu, mama Azka takut, takut menghadapi kenyataan, takut mengahadapi kehidupan".
Tapi, mama pernah menasehati ku. Aku adalah jagoan bagi mama, aku adalah pelindung mama. Jadi aku tak boleh cengeng. Semakin besar aku harus semakin berani.
Sebenarnya aku tak tega membawa Zidan. Zidan masih terlalu kecil. Dia masih lebih sering minta gendong. Pasti dia belum bisa untuk diajak berjalan jauh. Tapi, meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini pun tak tega. Karena mama pernah menasehati ku, bahwa aku harus bisa menjaga adik. Aku harus bisa menggantikan mama dalam hal kasih sayang kepada Zidan.
Sebelum aksi kabur aku lancarkan. Aku menyiapkan terlebih dahulu kebutuhan untuk dijalan. Aku selalu melihat mama jika akan berpergian pasti membawa sebuah tas.
Air minum
Biskuit
dan
emmm ini dia... Celengan koin dan celengan kertas. Semua aku pecahkan, tanpa aku menghitungnya. Kemudian aku masukkan kedalam tas ransel sekolah. Tidak lupa aku mengenakan pakaian dingin, Zidan juga aku pakaikan sweater agar tubuhnya hangat.
***
Waktu yang telah ditentukan telah tiba. Aku memasukkan dua pasang pakaian Zidan dan satu botol minum.
Kami berjalan berdua. Diantara terik sinar matahari, ada harapan gelap berubah terang. Meski aku ragu untuk menyusuri jalanan dengan lalu lalang kendaraan. Aku belum pernah begini. Menghadapi hiruk pikuk dunia tanpa pendingin AC. Panas. Baru berjalan beberapa meter. Zidan sudah mengeluh lelah.
Aku berdiri dipinggir jalan. Menyetop sebuah angkot. Kami naik. Angkot kembali melaju. Aku melihat ke sekeliling ruang angkot yang kondisinya sangat jauh berbeda dengan mobil ayah. Tak ada AC disini. Bunyi mesinnya sangat mengganggu telinga. Jalannya mobil membuat tubuh kami nyaris terpental keluar. Pintu angkot tak bisa ditutup. Untung saja ada seorang bapak yang memegangi tubuh kami.
"Mau kemana dek?"
Tanya bapak-bapak disebelah kami.
"Mau ke toko roti Latifaa pak"
"Loh adek mau ke toko roti hanya berdua? itu jauh loh!"
"Kami mau ketemu mama..." jawabku mantap.
"mama nya kerja disana?"
Aku mengangguk ragu.
"Angkot ini ga menuju kesana. Harus dua kali naik angkot"
Ucap bapak itu memberi penjelasan.
"Iya. Nanti kami nyambung angkot lagi"
__ADS_1
"Ayah nya kemana dek?"
"Ayah masih kerja, gak bisa nganter"
Ucapku sambil menahan mual karena jalannya angkot.
###
"Pak supir nanti dua anak ini turunkan di Alun-alun ya"
Ucap Bapak itu. Kemudian tak lama bapak itu turun.
"Kalian hati-hati ya..." Ucap bapak itu seraya turun dari angkot. Tanpa membayar. Bapak yang turun terlebih dahulu telah membayar ongkosnya.
Tak lama kami diturunkan dari angkot. Bingung. Tempat ini terasa asing untuk kami. Banyak orang berlalu lalang, membuat aku sulit berkonsentrasi untuk melanjutkan perjalanan. Zidan muntah. Ia mengeluh kepalanya pusing. Aku memberinya minum dari bekal yang ku bawa tadi. Aku semakin bingung karena baru berjalan beberapa meter, Zidan tak mau jalan lagi. Kakinya sakit. Aku mencoba membuka sepatunya, kakinya lecet. Aku memutuskan untuk duduk beristirahat di sebuah halte bus. Zidan merebahkan diri. Sekejap kami terlelap kelelahan.
***
Aku terbangun saat mendengar Zidan menangis.
"Kakak...aku pengen makan".
Zidan lapar gumam ku.
Zidan terus menangis saat ku tinggalkan. Aku sendiri merasakan perut yang sangat lapar. Aku berjalan cukup jauh, sampai aku menemukan orang yang berjualan nasi. Aku meminta nasi dengan lauk telur dadar. Alhamdulillah uangku cukup untuk membayar. Aku bergegas kembali ke tempat tadi. Aku tidak lupa dengan jalan itu. Aku yakin bahwa aku tidak lupa untuk sampai di halte yang sama...tapi.....tapi....
"Zidan....Zidan kemana?????" Aku berteriak sekuat tenaga memanggil Zidan. Tapi Zidan tak ada di tempat semula. Aku bertanya pada orang-orang yang melintas. Aku sangat berharap bisa menemukan Zidan. Tapi Zidan tak juga ditemukan!
Aku terus berjalan mencari Zidan. Menangis sepanjang jalan. Meredam sejenak keinginan untuk bertemu mama. Apa jadinya kalau aku sampai ke rumah mama tanpa Zidan?!, mama pasti marah besar.
Langkahku terhenti ketika hari mulai gelap. Tubuhku sangat lemas. Hujan mulai mengguyur, aku menepi di sebuah tempat. Aku melihat ke sekeliling, ini kolong jembatan.
Aku masih berharap bisa bertemu Zidan. Mulai menyesali mengapa aku meninggalkannya sendirian, atau mengapa aku membawanya.
Hari semakin gelap. Aku ketakutan saat ada beberapa orang berjalan menuju ke tempat ku berteduh. Aku bersembunyi diantara tumpukan karung. Tempat ini sangat bau. Perutku mual. Tapi ini satu-satunya tempat yang paling aman untukku saat ini.
Orang-orang itu seperti sedang minum dari sebuah botol secara bersama-sama. Aku mulai sadar bahwa aku juga merasa haus. Ingin membuka tas ransel untuk mengambil botol minum. Tapi, aku takut ketahuan. Orang-orang itu pasti orang jahat yang mama pernah ceritakan. Mama melarang untuk mendekati orang-orang seperti yang kulihat sekarang ini. Telinganya ada anting besarnya. Rambutnya di warnai, dan tubuhnya penuh dengan tato.
Aku berdiam diri ditempat itu sampai orang-orang itu pergi. Setelah mereka pergi, barulah aku keluar. Aku kembali berjalan, hingga menemukan sebuah warung. Aku terduduk disana.
"dek...adek mau kemana malam-malam jalan sendirian?"
Ucap ibu warung, sepertinya ia penjual warung ini. Warung kelontong yang menjual aneka macam makanan, jajanan dan kopi.
__ADS_1
"mau cari rumah mama Bu..."
"memangnya rumah mamanya dimana?"
"Di toko roti Latifaa..."
Ibu itu terdiam sesaat.
"waduh dimana itu ya...?"
Sepertinya ibu itu tidak tau alamat toko Latifaa. sayangnya aku juga tidak tau alamat lengkapnya. Hanya toko roti itu patokan ku untuk mencari dimana mama.
"Kenapa kamu sendirian, ayahnya mana?"
Tanya ibu tadi.
"Tadinya saya jalan dengan adik saya Bu. Tapi adik hilang saat saya tinggal membeli nasi"
Tangis ku pecah. Aku sangat merasa bersalah telah meninggalkan adik. Kemudian ibu tadi mengajakku untuk masuk ke warungnya. Tanpa sengaja aku melihat bungkus roti Latifaa Bakery.
"Ibu.. ibu...ini roti Latifaa. Mama kerja disini!" Aku sangat bersemangat ketika melihat bungkus roti Latifaa bakeri.
Sesaat ibu itu melihat-lihat bungkus roti itu. Kemudian ia berbincang dalam logat Sunda dengan suaminya. Aku tak begitu memahami isi pembicaraan mereka.
"Nak, kamu istirahat dulu ya malam ini disini. Besok kita cari alamat mama ya".
"Adik saya gimana Bu?"
"Adiknya namanya siapa?"
"Zidan, Bu"
"Kalau begitu, ibu akan coba lapor polisi dulu ya malam ini. Supaya pak polisi membantu untuk.menemukan adikmu"
Setelah berbincang. Aku menyantap semangkuk bubur ayam dan segelas teh. Mama telah mengajarkan aku untuk mandiri, termasuk makan sendiri. Tak membutuhkan waktu lama, semangkuk bubur ayam telah habis ku santap.
Malam itu aku tidur diatas dipan beralaskan tikar. Tak ada kasur dan bantal empuk seperti di kamar. Sebuah sarung tipis menyelimuti tubuhku. Ada do'a yang selalu ku panjatkan sebelum tidur.
"semoga besok, aku bisa bertemu mama ya Allah..."
Mama Azka rindu .....
Bersambung .,..
__ADS_1