
Surat itu sampai ke tangan Ustadz Malik melalui jasa pengiriman. Melati menyamarkan namanya. Ia tentu tak ingin surat ini menjadi buah bibir dikalangan para santri.
Surat itu tak berbalas apapun. Hingga hari H tiba.
Melati termenung di sudut masjid. Sholat ashar telah dilaksanakan, namun, ia tak menyaksikan ustad Malik hadir disana. Melati masih menunggu, hingga ia tak sadar bahwa ia tengah melamun, dan menarik perhatian seseorang.
"Assalamualaikum ukhti, sepertinya anda tengah menanti seseorang?"
Melati terhenyak. Ia setengah putus asa untuk bisa bertemu dan menjelaskan semua pada ustadz Malik. Ini bukan masalah jadi menikah atau tidak dengannya, namun, sungguh nama baik adalah bagian terpenting dalam kehidupan Melati.
"Ehmmm...iya...maaf saya..."
Belum selesai Melati mengucapkan sebuah kalimat, ia kemudian tersadar bahwa dari seberang tempat ia duduk, ada seseorang yang tengah duduk disana, membaca sebuah kitab dan sesekali melirik ke arahnya.
Ingin rasanya Melati berlari ke arahnya, entah mengapa, ia baru merasakan bahwa Malik adalah orang yang tepat untuk ia curhat saat itu. Namun, lengannya ditahan oleh seorang ukhti yang baru saja menyapanya.
"Neng Melati, Ustadz Malik telah menyampaikan pesannya pada saya!"
Ucap ukhti tersebut dengan lirih berbisik.
Melati menghentikan langkahnya. Ia kemudian mencoba mendengarkan Ukhti ini berbicara.
"Insyaallah pernikahan akan tetap dilanjutkan. Mintalah pertolongan pada Allah, agar Allah memudahkan jalan neng dalam meyakinkan orang-orang disekitar!"
Melati diam membeku. Ia seperti tak mampu berkata apapun. Ia teramat sangat bahagia mendengarkan kabar itu. Hingga ia tak sadar bahwa ukhti tersebut telah berlalu, seiring ia tak lagi melihat sang ustadz yang ada diseberang tadi.
Melati kemudian menuju pulang. Langkahnya sangat bersemangat. Ia mengucap takbir hingga berkali-kali.
"Alhamdulillah ia masih mempercayaiku!"
Gumam Melati.
***
Benar saja, dua pekan sejak pertemuan itu, Ustadz Malik datang menemui Kyai Basuki, meski tidak bersama dengan orang tuanya. Lekat-lekat Melati mendekatkan telinganya, begitu ia sangat membutuhkan kepastian akan kelanjutan sebuah pernikahan. Ia kini tau, bagaimana sang ustadz bersikap, begitu berwibawa.
***
Waktu yang ditunggu-tunggu telah sampai. Akad nikah pun digelar. Melati menikmati status barunya di atas pelaminan. Ia telah memiliki sebuah perjanjian, sehingga ia tak perlu lagi merasa khawatir akan sebuah tali pernikahan. Ia juga tak perlu takut dengan para penentangnya, sebab ia tau, Ustadz Malik memiliki jiwa kepemimpinan yang mampu melindunginya.
***
Setelah upacara walimah selesai. Ustadz Malik memboyong melati untuk menemui kedua orang tuanya. Mertua bagi Melati.
Sebelum berangkat, Kyai Basuki memberikan nasehatnya kepada sepasang suami istri yang baru saja resmi.
"Anakku, Melati. Engkau saat ini telah resmi menyandang sebagai istri. Engkau bukan lagi menjadi hak kami. Maka, patuhilah suami yang telah memberimu ruang di kehidupannya, patuhilah ia dan orang tuanya.
Anakku, lepaslah bebanku sebagai seorang ayah. Ayah harap, kamu bisa menerapkan prinsip-prinsip agama yang telah ayah tanamkan sejak kamu kecil, hingga saat ini.
__ADS_1
Jangan kecewakan suamimu, jangan sampai melawannya, karena akan sama hal nya kami melawanku.
Dengan segenap jiwa dan cinta, aku melepasmu untuk imam mu, Ustadz Malik!"
Ucap Kyai Basuki sambil berlinang air mata. Ia memeluk erat tubuh putrinya itu dan menyatukan tangan Melati dengan ustadz Malik.
Sang ustadz menggandeng melati menuju sebuah kendaraan yang telah terparkir di depan gerbang. Melati menyeret kopernya dengan Isak tangis yang mendalam. Beberapa diantara para abdi ikut melepas Melati dengan sangat sedih. Namun, diantara mereka ada yang cukup puas, sebab menganggap bahwa melati adalah masalah.
***
Mobil melaju dengan pelan. Melati masih tak sanggup mengatakan apapun. Begitu cepat sebuah takdir melewatinya. Bahkan tak mampu diundur barang sedetik pun.
Melati telah sampai di rumah Ustadz Malik. Halaman pesantren itu cukup luas, dengan deretan pohon pinang menghiasi koridor masuk menuju pendopo, tempat Kyai Mansyur dan Nyai tinggal.
Melati tak memperhatikan Kyai Mansyur saat prosesi pernikahan, sebab begitu banyak tamu yang hadir disana. Saat ini, mereka hanya disambut oleh para abdi dalem yang bertugas.
Ustadz Malik masuk ke pendopo dengan menggandeng tangan Melati. Mereka kemudian duduk di sebuah kursi jati.
Tak berselang lama, Nyai Mansyur keluar dari pembaringan, berjalan dan duduk di bangku yang berseberangan. Wajahnya dingin, lebih dingin dari yang ia bayangkan, ia berpikir bahwa ia akan mendapat sambutan yang hangat dari Nyai Mansyur, namun salah. Ia tak mendapatkan mata Nyai Mansyur menatap matanya. Justru sebaliknya, seolah ia tengah mencuri permata berharga miliknya.
Setelah beberapa menit. Ia hanya mendengar Nyai berbicara pada ustadz Malik,
"Beristirahatlah, tentu kamu letih, akan ku mintakan seseorang membawakan padamu nanti".
Ucap Nyai Mansyur, ya...tanpa menatap ke arah Melati.
Rupanya, mereka masih sama. Menyimpan rasa tak suka pada Melati. Sikap Melati masih dianggap aneh dan beraliran liberal.
Sore menjelang....
"Ikut mas ngisi kajian ya setelah ashar. Kita akan ke pondok santriwati"
Melati hanya mengangguk. Ia masih adaptasi dengan dalam pondok milik ustad Masyur ini.
Melati dan Ustadz Malik berjalan berdampingan menuju musholla. Ustadz Malik memimpin sholat. Ia memang telah mendapatkan tugas mengimami sholat ashar semenjak masih remaja.
Namun, lagi...Melati merasa tidak nyaman berada diantara banyak orang, namun tak satupun mau berdiri di samping shof nya, beberapa orang santriwati gaduh hingga membuat Ustadz Malik berjalan mendekati.
"Apa yang sedang kalian ributkan?"
Tanya sang ustadz.
"Kami tak ingin satu shof dengan orang yang tidak sepemahaman dengan kami!!!"
"Betullll!!!!!!"
"Betul...setujuuu!!!!"
"Maksud kalian apa?. Yang disembah oleh melati sama dengan Tuhan yang kalian sembah!!!"
__ADS_1
Ucap Ustadz Malik dengan penuh emosi. Sepertinya, gosip bahwa Melati liberal telah sampai di banyak telinga.
Melati berlari menuju kamarnya. Ia menumpahkan segala sakit hati yang ia rasakan. Sungguh jauh pemikiran mereka.
Ustadz Malik tetap menuntaskan sholat asharnya, namun kali ini ia tidak meneruskan kajian. Ia melihat melati meratapi kepiluannya.
"Tidak usah bersedih. Engkau masih punya aku yang masih mampu mempercayaimu!"
Ustadz Malik kemudian memeluk Melati dengan lembut. Ini malam pertama bagi mereka, namun, malam yang pertama juga bagi Melati untuk merasakan kejamnya sebuah fitnah!
"Kamu tak perlu menghawatirkan gunjingan ini. Sekelas Rasulullah saja masih mendapatkan gunjingan, namun ia sangat bersabar!"
Ucap Ustadz Malik menasehati.
Melati kemudian turun dari ranjang dan menarik kopernya. Ia mengeluarkan secarik kertas.
"Aku membawa ini untukmu ustad..."
Ucap Melati lirih..
Ustadz Malik tentu telah menebak bahwa akan ada sebuah perjanjian di dalam pernikahannya.
"Sebelum Ustadz membukanya, ijinkan aku bertanya, mengapa engkau masih mau melanjutkan hubungan kita, padahal aku sedang dalam kurungan fitnah?!"
"Aku bertahan karena karaktermu. Semenjak pertemuan kita yang pertama, dan begitu berani dan sombongnya kamu yang menantangku membuat surat perjanjian pra nikah, tentu aku menjadi seorang yang penasaran dengan karaktermu. Bukankah pernikahan adalah jalan ibadah, mengapa kamu masih mengajukan syarat. Namun, aku mengerti jawabannya, saat engkau terkena fitnah. Aku tau, bahwa kau sangat memprioritaskan masa depan dari pada apa yang engkau jalani saat ini"
Ucap ustadz Malik sambil mengecup kening istrinya itu.
Sang ustadz kemudian membaca isi surat perjanjian itu point per point.
pertama, Melati ingin melanjutkan studinya, mengejar cita-cita nya.
***
Waktu terus berlalu. Melati masih mendapatkan diskriminasi. Ia tak diijinkan mengajar atau pun mengikuti kajian. Tak hanya itu, ia juga dijauhi oleh keluarga besar ustadz Malik.
Ustadz Malik memutuskan untuk membantu melanjutkan pendidikan bagi Melati, menuntaskan jenjang SMP, SMA, melalui sistem kejar paket. kemudian, Melati melanjutkan studinya di sebuah universitas swasta.
Melati menerjang badai rumah tangga. Ia mengabdi di sebuah sekolah menengah pertama di distrik tempat ia tinggal. Ia mendapatkan kecaman. Seolah apapun yang dilakukan oleh Melati, salah dimata orang lain.
Beberapa tahun berjalan,
Kehidupan masih tak berpihak pada Melati dan Malik . Dua tahun usia pernikahan, Melati tak kunjung mendapatkan kehamilan.
Hal tersebut membuatnya semakin dijauhi dan dimusuhi oleh keluarga abdi dalem dan juga sang mertua.
Melati melakukan kesalahan fatal. Pada poin kedua perjanjian, ia mengatakan bahwa belum siap mendapatkan momongan, usianya belum cukup umur, ia tidak ingin memiliki buah hati terlalu dini, pil KB ditemukan seorang abdi dalem yang tengah membersihkan kamarnya dan menyerahkannya kepada nyai!!
Bersambung...
__ADS_1