
Disebuah ruang kantor polisi. Seorang polwan menginterogasi Rania. Rania menunjukkan sikap yang kooperatif pada pihak kepolisian. Malam itu, ia menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan serupa.
Rania pulang menuju Paviliunnya. Malam telah larut. Ia bahkan nyaris tak ingat jalan pulang. Rania tak dibesarkan di Jakarta, ia tak begitu hafal jalanan kota ini.
Sebuah ojek online yang ia pesan telah mengantarnya sampai pertokoan Latifaa group, ia berjalan menuju paviliun, membuka pintu kamarnya dan menjatuhkan diri di ranjang. begitu penat terasa. Ada saat dimana keberuntungan tak berpihak kepadanya. Ia perlahan menyadari, bahwa hidup tak dapat sepenuhnya ia miliki. Boleh jadi ada yang sukses dalam rumah tangga, namun gagal atau biasa saja karirnya, dan ada juga yang sebaliknya, karir luar biasa, namun rumah tangga gagal. Rania berada di kondisi yang kedua saat ini.
Matahari masuk melalui jendela yang tak ditutupi tirai. Silau cahayanya membuat Rania terjaga. Lewat jam enam pagi, subuh terlewati. Namun untuk bangkit dari ranjang rasanya ia tak mampu. Dehidrasi, itu yang ia rasakan. Saat kejadian di rumah Dani hingga pulang, tak seteguk air ia minum. Tubuhnya melemah.
Pintu diketuk dengan kuat. Tapi Rania tak juga beranjak untuk membuka. Ia tau pintu tak terkunci sejak semalam.
"Rania...bagaimana kondisi mu?"
Seseorang masuk saat mengetahui pintu tak terkunci.
"Dina ..." Tak ada satupun kata yang sanggup keluar dari mulut Rania.
Dina adalah staf baker yang sangat dekat dengan Rania. Dina memiliki semangat kerja yang sama dan selalu menemani Rania ketika lembur.
"Rania, bibirmu kering, minumlah semoga keadaanmu membaik"
Ucap Dina sambil menyodorkan air mineral botolan. Setelah meneguk air, Rania baru benar-benar bisa membuka mata. Ia mencoba bangkit dan duduk bersandar, Dina membantunya.
"Rania, mengapa kamu begini...?"
Dina kehilangan kata-kata untuk sekedar bertanya tentang apa yang telah terjadi pada Rania.
"Rania, vidio mu viral sejak kemarin"
"Vidio...?, maksud kamu, Din?
"Seseorang merekam aksimu didepan rumah mantan suamimu, kemudian mengunggahnya"
Rania terdiam sejenak.
"Lalu...?"
__ADS_1
Rania seakan tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi ketika vidio aksinya viral di media sosial.
"Kenapa kamu tidak melepas seragam dan menumpang di truk ekspedisi, Rania?, itu hal yang bodoh. karena dengan mudah orang membuka identitas mu!"
Rania terhenyak, ia baru sadar bahwa ia masih menggunakan seragam ketika ia menumpang truk ekspedisi Latifaa Bakery. Ia yang masih gaptek mengenai sangarnya dunia sosial media, tak menyadari efek dari perbuatannya itu.
Rania menangis sejadi-jadinya...
"Dina, tolong katakan, bagaimana aku harus bersikap...tolong aku Din"
tiba-tiba ketakutan yang luar biasa muncul dalam diri Rania. Tak menyangka, hanya itu yang ia sadari. Ingin rasanya ia kembali pada waktu yang lalu dan bersikap lebih hati-hati.
"Rania, nasibmu akan dibahas hari ini oleh perusahaan. Pagi ini mereka melakukan meeting. Beberapa klien komplain karena Latifaa management dianggap lalai pada kinerja karyawannya, sehingga tidak profesional saat bekerja. Namun, sebagian besar memberi dukungan terhadapmu, karena ini menyangkut ibu dan anak".
Mereka terdiam beberapa saat. Dina yang merasa iba melihat kondisi Rania, mengeluarkan roti jatah sarapan paginya untuk Rania.
"Makanlah, Rania. Ini hari yang berat untukmu. Kamu harus kuat menghadapi hari ini. Emosimu harus stabil".
Rania menyadari bahwa apa yang dikatakan Dina adalah benar. Ia telah melakukan kesalahan dan orang yang bijak adalah orang yang siap menerima konsekuensi dari apa yang telah ia perbuat.
***
Rania belum tau harus bersikap apa. Ia hanya membaca satu persatu pesan yang masuk tanpa pernah membacanya. Takut, bagaimanapun ini perasaan natural seorang perempuan saat dihadapkan pada masalah besar. Tiba-tiba ia teringat pesan ayahnya. Bahwa apa yang telah diputuskan, maka harus diterima menjadi sebuah konsekuensi.
***
Rania berjalan melewati koridor ruang Direktur Utama. Bu Latifaa telah menunggunya disana. Hari ini Rania telah siap mendengarkan putusan perusahaan tentang konsekuensi apa yang akan ia peroleh. Sekalipun itu sebuah pemecatan.
"Assalamualaikum...saya Rania ijin masuk Bu"
"Walaikumsalam, masuklah Rania"
Rania duduk disebuah kursi menghadap meja Bu Latifaa. Sikap dingin menyelimuti seisi ruangan.
"Bagaimana keadaanmu hari ini Rania?"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik bu"
"Rania, kamu sudah tau betapa vitalnya bertamu?"
Rania menjawab dengan anggukan. meskipun telah siap secara mental. Tetap saja ia merasakan ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Rania, bisnis bukan hanya persoalan jual beli barang dan jasa. Lebih dari itu. Ada tingkat kepuasan konsumen, pelanggan lama dan new customer, dan yang paling tersulit adalah menjaga citra kita agar baik di masyarakat".
Bu Latifaa berbicara dengan begitu tenangnya. Namun tak meredakan perasaan takut dan cemas Rania.
"saya melihat pencapaian kinerja kamu dari waktu ke waktu sangatlah baik. Amatlah disayangkan kemarin kamu tak mampu mengontrol emosimu".
Bu Latifaa mulai mendalami ekspresi Rania. Sesaat ia terdiam.
"Menurut kamu, konsekuensi apa yang harus saya berikan untuk kamu?"
Keduanya terdiam. Rania seperti ragu untuk menjawab pertanyaan Bu Latifaa kali ini. Seakan lebih sulit dari menjawab pertanyaan hakim saat sidang perceraian.
"Sa...saya siap menerima segala konsekuensi yang diberikan perusahaan atas kesalahan saya kali ini Bu"
"Rania, berat bagi saya untuk memilih. Sebenarnya HRD telah mengeluarkan Surat Peringatan 3 untukmu, yang berarti kami harus dipecat!. Akan tetapi, aku melihatmu seperti hal Jean melihatmu. Sehingga, aku memberi kami kesempatan satu kali lagi untuk tetap berada di Latifaa group!"
Rania menangis dan memeluk Bu Latifaa. Keduanya berpelukan. Bu Latifa membiarkan seorang Rania terbebas dari rasa takutnya dan merasakan cinta kasih seorang ibu dari Bu Latifaa.
Begitulah Bu Latifaa. Tak hanya pada Rania, tapi juga pada karyawan lainnya. Asalkan tak termakan hasutan dari orang kepercayaan, maka Bu Latifaa adalah ibu yang baik untuk seluruh karyawan.
Semenjak hari itu, Rania mencoba untuk bekerja lebih baik lagi. Lebih fokus pada misinya untuk menjadi manusia yang berbeda di 100 hari pertamanya menjadi janda.
***
Rania mencoba stalking Instagram milik Dani. Meskipun keduanya sama-sama memiliki akun Instagram, namun keduanya tidak saling follow. Terutama Dani yang mengeluarkan Rania dari daftar followers nya. Rupanya hari itu, ada tamu di rumah Dani. Tamu dari Madiun. Pina. Sosok yang menghilang sejak hari dijanjikan sebuah pernikahan untuknya.
Rania merasa perlu untuk mempertanyakan kewarasan wanita itu. Ia mengambil handphone dan mencoba menghubungi Pina.
Bersambung....tunggu updatenya terus ya❤️
__ADS_1