100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 62 Keluarga Kecilku


__ADS_3

POV Jean


Rania ku


Rania, istriku


Wanita yang ku kenal layu


Saat pertama kali aku melihatmu


Wajahmu yang polos tanpa polesan itu


Ternyata bukan karena kau tak suka dandan.


Nyatanya, untuk hidup saja kau mesti bertahan,


Bagaimana untuk dandan?


Rania ku


Rania, Istriku


Kau yang ku cintai dengan perlahan


Pelan-pelan masuk mencuri perhatian


Pelan-pelan masuk mengambil bagian


Pelan-pelan masuk menjadi bagian


Pelan dan pasti menjadi pikiran


Bagaimana caraku mencintaimu,


sama dengan bagaimana kau datang padaku


Hanya Tuhan yang tau


Aku hanya berdo'a mendapatkan istri sekuat dirimu


Tapi, Tuhan memberikan kamu untukku


Bagaimana lagi,


Sedang terlanjur


Terlanjur cinta


Terlanjur sayang


Kini kau ada dihadap ku


Sepaket dengan anakmu


Sepaket dengan masa lalu mu

__ADS_1


Aku, terima saja


Toh aku suka...


Ya, tak berat mencintaimu


Tak mengapa menerima masa lalu mu


Karena kamu, jodoh yang Tuhan berikan dari do'a malamku.


***


Jean menuliskan sebuah surat disela-sela malam. Ia akan begadang semalam suntuk untuk menjaga Azka. Jean akan tidur pukul dua dini hari, dan Rania akan bangun dari tidurnya, kemudian mereka akan sholat tahajud bersama. Setelah tahajud, barulah Jean akan tidur dan Rania yang bertugas menjaga Azka hingga pagi menjelang.


Jean tak pernah merasa keberatan menjadi seorang ayah untuk anak-anak Rania. Buah hati adalah sesuatu yang sangat ia harapkan dari sebuah pernikahannya terdahulu. Namun sayang, Tuhan mengambil istri dan anaknya. Ketika mendapatkan Rania, Jean merasa bahwa Rania, Azka dan Zidan adalah reinkarnasi dari sosok istri dan anaknya.


***


"mama...kapan mama dan ayah akan pulang. Zidan kangen huhuhu"


Zidan melakukan Vidio Call Rania melalui ponsel pak Darmo. Hampir sepekan berlalu Rania dan Jean berpisah dengan Zidan.


"Sabar sayang, ini kakak masih lemah, jadi belum bisa dibawa pulang"..


Jawab Rania sambil menunjukkan kondisi Azka yang masih terbaring lemah.


Zidan akan rajin menelpon Rania hingga dua sampi tiga kali sehari. Rania tak menyangka akan tega meninggalkan Zidan sendirian di Lumajang. Namun, Jean meyakinkan bahwa Pak Darmo dan Mbok Siti bisa merawat Zidan dengan baik. Terbukti sepekan ditinggalkan, Zidan tetap terlihat ceria dan melakukan aktivitas nya seperti biasa.


Rania merasa bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Termasuk suaminya. Ketika Rania tengah melipat mukena setelah sholat duha. Jean muncul dari balik pintu.


"Barakallah fi umrik, istriku...."


Azka yang tadinya terbaring lemah tiba-tiba kegirangan melihat ada satu kotak tart didepannya.


"Ayah aku mau...aku mau..."


Rania kemudian memotong kue tersebut dan menyuapi Jean dan Azka secara bergantian.


Tak lupa, Jean juga memberikan puisi yang ia buat malam sebelumnya untuk Rania. Puisi yang tidak romantis, namun mampu membuat hati Rania meringis dan ingin pipis, karena gelak tawa saat membaca bait "satu paket" dari puisi tersebut.


"Kenapa sih sampai tertawa terbahak-bahak?!"


Tanya Jean penasaran melihat Rania tertawa lepas. Telah lama Jean tak melihat istrinya itu tersenyum tulus, apalagi tertawa lepas. Mungkin ini adalah kali pertama ia melihatnya tertawa lepas.


"ini loh sayang puisimu itu kayak pantun jenaka hahaha.."


Rania kembali tertawa lepas.


Jean kemudian membaca sekali lagi puisi yang ia buat sendiri. Melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan pada akhirnya mereka berdua sama-sama tertawa lepas.


Azka yang menyaksikan kedua orang tuanya bahagia, turut mendapat suntikan imun. Sehingga ia menjadi lebih bugar dan bahagia.


"mama sama ayah ini kayak nonton UPI Ipin di tipi!"


Ucap Azka sambil mencoba duduk di ranjang. Rania dan Jean segera membantu Azka untuk duduk.

__ADS_1


"Mama, Azka mau pulang. Kangen Zidan, kangen kambing"


Ucap Azka yang mulai bernafas tanpa selang. Beberapa kabel yang menghubungkan ke jantungnya juga telah dilepas. Azka hanya sedang menjalani observasi dan pemulihan.


"Baiklah sayang. Nanti ayah akan bilang sama dokternya bahwa Azka mau pulang"


Ucap Jean. Rania tersenyum pada Jean. Ia merasa beruntung memiliki suami yang sangat perhatian.


***


Tak berselang lama, Jean ijin keluar ruangan untuk menuju ruang dokter. Setelah berkonsultasi dengan dokter Heru, Jean akhirnya mendapatkan ijin untuk membawa pulang Azka.


Jean mengurus segala administrasi kepulangan Azka. Rania sebagai istri hanya fokus untuk merawat anaknya saja. Begitu besar kasih sayang Jean pada Rania. Hingga segala waktu, tenaga dan biaya tercurah padanya.


***


Sebuah mobil minibus dan seorang supir Jean sewa untuk membawa keluarga kecilnya kembali ke Lumajang. Jean dan Rania duduk dalam satu deret bangku yang sama dengan Azka. Jean dan Rania saling bergantian untuk menjadi sandaran Azka.


Perjalanan yan ditempuh hampir empat belas jam, karena kondisi jalan beberapa kali macet.


Setelah bersabar, akhirnya mereka sampai di Lumajang dengan selamat. Rania menghirup nafas dalam-dalam ketika kakinya menginjak kembali di bumi Lumajang. Jean dengan sigap menggendong Azka kedalam rumah mereka. Rumah yang tetap terawat meskipun penghuninya tidak ada di tempat. Mbok Siti dan Pak Darmo adalah sosok yang membantu untuk merawat Zidan, rumah, kambing serta resto. Mereka telah Jean anggap sebagai keluarga sendiri.


"Ayah....mama...!!"


teriak Zidan sambil berlari menghampiri Jean dan Rania. Anak kecil itu baru saja selesai mengaji. Jean merespon dengan menggendong Zidan dan mendekapnya dalam pelukan. Diciuminya pipi tembem Zidan yang memerah.


"Ayah setiap hari Zidan ikut pak Cipto nyari rumput, ngasih makan kambing dan bersihkan kandang loh yah...!"


Ucap Zidan yang bercerita dengan rasa bangganya.


"Oh ya .. terimakasih jagoan Zidan..."


Ucap Jean sambil menciumi pipi Zidan.


" Azka juga nanti mau ikut ya yah!"


Seru Azka tak mau kalah.


" Boleh, tapi kamu harus menunggu benar-benar pulih ya...!"


Jawab Jean sambil mengelus kepala Azka.


Rania menuju dapur. Ia sebenarnya tak benar-benar berniat menuju dapur. Namun ia terlalu gengsi untuk menunjukkan bahwa dirinya sangat terharu melihat kedekatan Jean dengan kedua anaknya.


Bagi seorang janda dengan dua orang anak seperti dirinya. Memutuskan untuk menikah lagi bukanlah pilihan yang mudah. Sangat sulit tentunya mendapatkan pasangan yang mau menerimanya "satu paket" dengan anak-anak dan masa lalu.


Maka, ia sadar bahwa kekuatan do'a dia dan terutama do'a orang tuanya adalah ajimat sakti yang mampu menembus langit. Tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Semua harus di do'a kan, kemudian diusahakan, maka takdir akan berubah, itu yang selalu dinasehatkan orang tua Rania.


Rania mengusap air yang mulai menetes di sudut matanya. Air mata syukur, air mata kebahagiaan.


Bersambung ...


Dear readers, ikuti terus ya perkembangan karma bagi Delita dan Zidan.


Sebuah pelajaran yang bisa diambil sebagai hikmah dari kehidupan😍

__ADS_1


Jangan lupa like and comment ya...


See you next part 😍🙏


__ADS_2