100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Dinda bagian 3 : Kejujuran


__ADS_3

Hanya sepekan Dinda berada di Lumajang. Ia memutuskan untuk kembali ke Bandung. Menjalani kehidupannya. Dinda tumbuh menjadi seorang wanita wirausaha yang maju. Style nya telah berubah layaknya mojang Bandung. Ia bahkan sangat lihai menggunakan bahasa Inggris.


Sebelum kembali ke Bandung. Dinda berkonsultasi pada Rania mengenai keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya. Ia ingin mengambil kejar paket B dan Kejar paket C, kemudian kuliah di bidang yang ia minati. Ia ingin menjadi seorang pengacara. Ia terinspirasi dengan Bu Martha.


Rania menyambut baik cita-citanya itu. Usianya masih sangat muda. Kesempatan untuk meraih gelar sarjana masih sangat terbuka didepan mata. Dinda adalah siswi teladan di sekolahnya dulu. Tentu bakat kecerdasan telah ia miliki sebelumnya.


***


Dinda mendaftar kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bandung, setelah sebelumnya ia mengikuti kejar paket C yang setara dengan SMA. Ia mengambil jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dinda sangat tertarik dengan bisnis dan relasi. Ia ingin memupuk kemampuannya di bidang bisnis lewat pendidikan.


Selain melanjutkan pendidikan, Dinda juga tetap bekerja untuk sepupunya, Niken. Sebagai wedding organizer yang cukup terkenal, Niken memiliki kerjasama dengan banyak vendor. Dinda ditugaskan oleh Niken untuk mengatur proses kerjasama dengan vendor-vendor tersebut. Disinilah awal pertemuannya dengan Prasetya, atau akrab dipanggil Pras. Ia adalah seorang fotografer yang menjadi rekanan Niken. Pras membantu proses dokumentasi semenjak prewedding hingga acara pernikahan. Karena Dinda juga bertugas sebagai MUA saat proses prewedding, secara otomatis selalu bertemu dengan Pras. Apalagi Pras juga tengah menempuh kuliah di kampus yang sama dengan Dinda. Pras adalah mahasiswa jurusan ekonomi dan bisnis semester akhir.


Intensitas yang sering terjadi membuat keduanya semakin akrab. Bahkan, Pras sering menawarkan dirinya untuk mengantar jemput Dinda dari kampus. Meskipun jadwal kuliah mereka jelas berbeda. Bahkan, Pras sering membantu Dinda dalam mengerjakan tugas-tugas kampusnya.


Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, begitulah pepatah Jawa menyebutkan bahwa cinta hadir karena terbiasa. Terbiasa kerja bersama, terbiasa selalu bersama-sama. Nyaman dan kemudian muncul perasaan cinta satu sama lain.


Sore itu, Dinda dan Pras terlibat dalam salah satu pemotretan acara prewedding. Seperti biasa Dinda hadir sebagai perias. Beberapa take foto diambil dengan pakaian yang berbeda. Dinda dan Pras sama-sama sibuk menata jalannya pemotretan.


Usai pemotretan, Dinda yang kelelahan tertidur di sebuah dipan yang tersedia di vila yang tak jauh dari lokasi pemotretan. Ia sangat kelelahan karena proses pemotretan dilakukan sore hingga menjalang magrib. Dinda baru saja pulang dari kampus ketika harus segera menyiapkan agenda prewedding.


"Din...Dinda...bangun yuk!"


Ucap Pras mencoba membangunkan Dinda. Hari sudah menjelang magrib. Dinda mencoba membuka matanya.


"Pras...maaf aku kelelahan".


Ucap Dinda sambil bangkit dari tidurnya.


"Ayo kita sholat di masjid depan".


Ajak Pras. Meskipun mereka diliputi kesibukan antara kuliah dan bekerja. Namun, ibadah tak pernah sekalipun ditinggalkan. Begitulah yang membuat Dinda diam-diam memiliki perasaan kagum pada Pras. Namun, perasaan itu selalu coba ia tepis jauh-jauh. Dinda cukup tau diri, Pras adalah bujangan, usianya lebih muda dua tahun darinya. Sedangkan status Dinda adalah janda tanpa surat cerai. Dimata hukum dia adalah perawan, namun kenyataannya keperawanannya telah direnggut oleh status pernikahan bawah tangan. Meskipun Dinda tau bahwa Pras juga memiliki perasaan yang sama padanya.


Ya, Pras sangat mengagumi kemandirian Dinda, sikap tenang dan tak pernah sekalipun mengeluh, meski pemotretan berlangsung hingga malam hari. Namun, ada hal yang mengganjal, Pras tidak tau masa lalu Dinda. Yang ia ketahui, bahwa Dinda adalah seorang gadis, masih gadis!


Setelah melakukan ibadah sholat magrib. Pras mengajak Dinda untuk makan malam di sebuah warung pecel lele lesehan. Sudah biasa seperti ini. Selesai bekerja, mereka akan menyempatkan makan bersama. Namun, ada yang berbeda, kali ini Pras memilih tempat yang lebih sepi. Duduk berdua di pojokan.

__ADS_1


Perasaan Dinda tidak enak. Ada hal yang sangat ia takutkan terjadi. Ia takut Pras benar-benar mencintainya, seperti yang ia duga selama ini. Yang ia takutkan bukanlah cinta Pras. Melainkan kenyataan yang harus ia ungkapkan pada Pras. Ia sangat ragu bahwa Pras akan menerima masa lalunya. Ia tak ingin kehilangan Pras. Baginya, bersahabat seperti saat ini sudah cukup baginya, sama-sama nyaman. Tak apalah tak bisa memiliki, asalkan bisa selalu bersama-sama.


"Din ..."


Pras memulai sebuah percakapan. Matanya tajam menatap Dinda. Namun Dinda justru semakin salah tingkah. Ia pura-pura sibuk dengan gadgetnya. Mengalihkan perhatian, dan pura-pura tidak mendengar panggilan Pras.


"Dinda..."


"emm...eh...iya Pras...?"


Jawab Dinda gugup.


"Kamu lagi sibuk apa ?"


Tanya Pras yang juga aneh melihat kelakuan Dinda yang tak seperti biasanya.


"Eh...enggak. Ini lagi bales chat Hana. Dia mau pinjem buku sama aku".


Jawab Dinda.


Tubuh Dinda makin tak enak. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Ia seperti menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan yang sangat ingin ia lewati, namun tak mudah. Ya, kenyataan bahwa ia ingin move on pada seorang laki-laki yang bisa menerima dirinya dan masa lalunya. Namun, untuk mendapatkan laki-laki seperti yang ia mau, tentu tak akan mudah.


"Din. Kita sudah dekat sejak lama. Sudah lama juga aku memendam perasaanku padamu. To the poin, Din. Aku selama ini menyukaimu. Sebentar lagi, aku akan menyelesaikan studi ku, aku berencana menikah muda. Sama kamu. Kamu mau kan jadi istri aku?!"


Deg ... jantung Dinda serasa berhenti sejenak. Nafasnya sangat berat saat ini. Ia tak menyiapkan jawaban untuk menjawab pertanyaan Pras yang sangat to the point.


Dinda terdiam kaku. Matanya membulat, perlahan ada butiran yang semakin lama semakin memenuhi matanya.


"Seberapa jauh kamu telah mengenalku, Pras?".


Tanya Dinda dengan suara gemetar. Ia tak tau apakah ia harus jujur atau tetap menyembunyikan masa lalu yang suram itu.


"Maksudmu, Din?"


Pras diam sejenak, mencoba mencerna pertanyaan yang dilontarkan oleh Dinda.

__ADS_1


"Aku sangat mengenalmu tentu. Setahun kita menjalin kerjasama, dan saat ini kita kuliah di tempat yang sama. Kita sering bersama. Tentu aku merasa sangat mengenalmu, Dinda".


Ucap Pras mencoba meyakinkan.


Dinda membisu. Bibirnya amat kelu untuk menjelaskan tentang apa yang tersembunyi dalam hatinya yang terdalam.


Pras makin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Dinda. Sebelumnya, ia sudah sangat optimis bahwa cintanya tak akan bertepuk sebelah tangan.


Dinda yang ia kenal sangat akrab dengannya. Tak pernah sekalipun Dinda menolak ajakan dari Pras. Namun, mengapa kenyataannya saat ini berbeda. Dinda justru seperti orang yang berbeda dari yang ia kenal. Apakah Dinda telah memiliki laki-laki idaman lain yang selama ini tidak diketahuinya?


"Belum Pras. Kamu belum mengenalku seutuhnya!".


Ucap Dinda yang tiba-tiba.mengambil tas nya dan mengajak Pras untuk pulang.


"Kita pulang sekarang, Pras. Aku sangat lelah!".


Pras sangat terkejut. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang. Pras mengikuti kemauan Dinda. Mereka pulang dengan berboncengan sepeda motor. Sesekali Pras melihat kearah spion motornya. Ia melihat Dinda yang berlinang air mata. Pras bertambah bingung, apakah ia salah waktu?, entahlah, banyak perasaan berkecamuk di hati Pras.


Sepeda motor berhenti. Tanda Dinda telah sampai ke rumah Niken. Dinda menuruni sepeda motor dan menyerahkan helm yang dikenakannya pada Pras. Wajahnya tertunduk, air mata masih saja menggenangi wajahnya.


"Din, ap aku salah tadi?, tolong jelaskan Din?!"


Ucap Pras berusaha mendapatkan penjelasan dari Dinda. Tapi, Dinda masih belum mampu untuk memberi penjelasan itu. Hatinya berkecamuk. Perasaannya terbawa pada kenangan masa lalu yang telah lama ia kubur. Trauma itu menimbulkan rasa takut yang berkepanjangan.


"Jangan malam ini, Pras. Suatu saat akan aku perkenalkan siapa diriku sebenarnya. Apa yang kamu lihat dipermukaan, tidak menggambarkan kondisi aslinya. Maafkan aku jika membuatmu bingung Pras. Karena aku pun butuh waktu untuk bisa menjelaskan padamu, maafkan aku Pras. Beri aku waktu".


Ucap Dinda dengan suara lemah.


"Baiklah, Din. Aku akan menunggu penjelasan mu. Aku mohon jangan terlalu lama. Aku butuh kepastian".


Ucap Pras.


Motor dinyalakan kembali. Perlahan bayangan Pras meninggalkan tubuh Dinda yang terpaku di depan pintu pagar. Hujan mulai turun, dan Dinda masih mematung disana. Melihat bayangan Pras yang menjauh, sejauh harapannya untuk benar-benar hidup bersama.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2