100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Sahabatku Maduku: POV Laila


__ADS_3

Aku positif hamil. Anak siapa?


Anak Lesmana?


Jelas bukan!


Ya...ini bukan anak Lesmana!


Aku telah mengandung usia 6 Minggu ketika aku dinikahi Lesmana. Aku mengetahui kehamilanku saat aku merasa mual dan tak enak badan hingga berhari-hari. Saat dokter memeriksa, rupanya aku terkena gejala hamil muda!


Aku panik. Tak mungkin aku meminta Andra untuk bertanggungjawab atas kehamilanku. Ia telah mengancam menyeret ku ke dukun beranak, jika sampai aku hamil. Tapi, ia masih saja ia meminta jatah servis padaku.


Terakhir bercinta, Andra lupa mengenakan pengaman. Ia yang sudah tidak tahan melihat tubuh **** ku, entah karena rindu atau agh dia memang bernafsu padaku, akhirnya ia enggan mengenakan pengaman.


Maklum saja, sejak istri Andra mengetahui perselingkuhan kami. Andra harus mengatur waktu untuk bisa mencuri waktu agar kami bisa bersama.


Mengapa Andra tidak menceraikan istrinya untuk bisa hidup denganku?


Karena Andra adalah pria miskin, sedangkan istrinya yang berusia 12 tahun lebih tua darinya adalah pemilik saham properti di perusahaan kami. Itu sebab Andra bisa menempati posisi level manager, meskipun tak memiliki secuil pun skill dibidang properti. Kalau saja ia bukan istri Bu Yuni, tentu saja ia sudah di depak dari perusahaan. Ia memanfaatkan ketampanannya, hanya untuk mendapatkan hati Yuni. Si perawan tua!!!


Empat tahun kami menjalin hubungan terlarang, dua kali aku hamil. Kehamilan yang pertama berhasil ku gugurkan. Namun kali ini, aku tidak ingin melakukannya lagi.


Aku memanfaatkan janin ku untuk menjebak Lesmana. Suami sahabatku sendiri. Sudah lama ia menikah namun tak kunjung dikaruniai anak. Dasar pria mandul!, ereksi mu saja tidak sempurna, bagaimana mau punya keturunan?!


Tapi, kebodohanmu adalah senjata untukku mendapatkan keinginanku.


Sudah lama aku merasa iri pada Lestari. Ia perempuan sempurna yang pernah aku kenal. Anak orang kaya, cantik, pintar dan terlalu baik. Aku memendam rasa iri padanya sejak kecil. Apapun yang ia inginkan selalu tersedia. Sedangkan aku, orang tuaku hanya buruh tani. Aku harus bekerja membantu ibu menumbuk tepung agar bisa merasakan perut terasa kenyang. Terkadang, aku tak bisa merasakan lauk pauk seperti di rumah Tari. Itu sebabnya, aku berpura-pura baik padanya, agar bisa makan dan mendapatkan uang jajan..


Lestari selalu menang dalam banyak hal. Meskipun prestasi akademik ku berada diatasnya, namun apa daya, aku tak mampu melanjutkan pendidikan tinggi di luar kota. Tidak ada biaya. Beasiswa yang ku terima hanya berasal dari kampus negeri di kota tempat tinggalku, dan di jurusan yang tidak favorit.


Sedangkan Lestari, ia punya banyak uang untuk melanjutkan di kampus Negeri di Kota, meskipun tanpa beasiswa, ia bisa masuk di fakultas favorit di Indonesia.


Dalam hal pasangan hidup, selera kami sama. Sejak SMA, kami menyukai pria yang sama. Aku mengenal Lesmana lebih dulu. Ia adalah Ketua OSIS di sekolah. Lesmana mengenalku saat aku mendaftar menjadi anggota OSIS. Kami sering bekerjasama dan aku mulai menyukainya diam-diam. Namun, nyatanya, Lesmana malah menyukai Lestari. Ia jujur padaku bahwa ia mendekatiku hanya untuk bisa mengenal Lestari lebih dekat.

__ADS_1


Secarik surat yang Lesmana titipkan padaku untuk Lestari aku robek dan tak pernah kuberikan pada Lestari. Mengapa semua seolah mengakui kesalahan ku dari Lestari?!


Selama tiga tahun masa SMA, aku hanya bisa mengagumi Lesmana dalam diam. Untuk menutupi perasaanku, aku terpaksa menerima cinta dari laki-laki yang datang dan pergi dalam kehidupanku, tanpa pernah aku mencintainya.


Sampai masa kuliah pun, aku masih setia menjadi stalker Lesmana. Berharap pria itu akan putus dengan Lestari. Sayang, harapan itu mulai pupus. Nyatanya mereka tak pernah putus!


Cinta mereka begitu erat. Orang tua mereka saling setuju.


Aku, hanya gigit jari melihat kebahagiaan mereka!!!


****


Selain dengan Lesmana, aku tak mau mencintai yang lainnya. Orientasi memiliki pasangan bukan lagi untuk saling mencinta, melainkan berubah untuk kepuasan napsu dan materi saja.


Andra adalah pelampiasan segalanya. Saat ia menghadapi konflik dalam rumah tangganya dan aku sedang kecewa karena Lestari dan Lesmana akan segera menikah, maka Andra adalah pelarian cintaku.


Seperti aku, Andra pun tak pernah benar-benar mencintaiku. Ia hanya datang untuk bersenang-senang dan tak ingin komitmen rumah tangga lebih dari sekedar itu.


Ketika mengetahui aku hamil, Andra menyarankan agar aku menggoda Lesmana, goda sampai bisa seolah menyetubuhinya. Dan, Andra memiliki peran penting itu!


Andra memberiku obat perangsang yang akan di campurkan kedalam minuman kopi milik Lesmana. Satu-satunya tempat yang tepat untuk melakukannya adalah kantor. Saat pagi, seperti biasa, aku membuatkan Lesmana secangkir kopi. Kali ini, tambahan ya bukan hanya gula, melainkan sejumput obat perangsang.


Aku yang duduk serangan dengan Lesmana, tentu menjadi sasaran utama Lesmana. Saat suasana sepi, disitulah ia melancarkan aksinya.


Sesaat setelah meminum kopinya. Lesmana terlihat sangat gelisah. Ia berkali-kali mengusap wajahnya dan merasa kegerahan. Pria itu seperti kesetanan melihat kemolekan tubuhku saat aku sengaja memberikan dokumen kepadanya.


Aku memberanikan diri mendekatinya, dan ia pun menarik tubuhku untuk duduk di pangkuannya.


"Sudah lama aku menantikan ini, Lesmana..."


Bisik ku di telinganya, yang membuat ia mengerang. Aku pun melancarkan aksiku untuk merasakan tiap sentuhannya, permainan yang kami mainkan disebuah kursi. Suara erangan Lesmana tak tertahankan. Aku sadar bahwa staf yang berada di ruang sebelah tentu mampu mendengar suara permainan kami. Ruangan ini meski disekat tembok permanen, tapi tidak dilengkapi dengan ruangan kedap suara.


Setelah kejadian itu, ku lihat wajah penyesalan yang meliputi dirinya. Ia tampak merasa bersalah dan berkali-kali menyebut nama Lestari. Lagi, aku dibuat jengkel saat menyebut nama Lestari.

__ADS_1


Mengapa ia begitu istimewa untukmu?!


Ku buat Lesmana membenci Lestari, saat mengetahui aku hamil. Aku buktikan bahwa Lestari lah yang mandul!


Lesmana pun diam-diam mengajakku untuk menikah secara siri. Aku terima saat itu. Kami menikah di depan paman ku sebagai pengganti almarhum ayah, dan orang tua Lesmana. Tadinya paman tidak setuju dengan pernikahan ini. Bagaimana tidak, mereka juga tau kalau Lesmana adalah suami sahabatku sendiri. Tapi, aku mengatakan bahwa aku hamil anak Lesmana, dan orang tua Lesmana yang telah lama merindukan sosok cucu pun akhirnya mendesak kami untuk menikah,


Dan....aku menang!!!


Kali ini aku berhasil menang dari Lestari. Akhirnya aku bisa mendapatkan cinta dari Lesmana dan keluarganya. Anakku akan mendapatkan ayah yang kaya raya dan keturunan orang terpandang di kampung ini.


Setelah mendapatkan hati orang tua Lesmana, aku pun mulai mendesak mereka untuk menyingkirkan Lestari. Aku menuntut sebuah pernikahan resmi dengan alasan bahwa anak kami butuh legalitas!


Sebuah alasan yang sempurna. Tari disingkirkan begitu saja. Bahkan rumah yang dulu mereka tempati, akan segera berganti tuan. Dari penumpang menjadi tuan.


Akhirnya, aku berhasil menghasut Lesmana untuk mendapatkan hak 100 persen atas rumah yang pernah Lesmana dan Lestari tempati. Tempat yang pernah menampungku beberapa bulan dan membuatku tau setiap sudut di rumah ini.


Hari pertama aku memasuki rumah ini. Ku singkirkan semua figura foto milik Lestari dan Lesmana. Berganti foto ku dan Lesmana terpajang disana.


Puas!!!!


Butuh 12 Tahun lamanya untuk bersabar mendapatkan apa yang aku inginkan. Setelah pernikahanku dengan Lesmana, Lestari menghilang begitu saja. Aku merasa aman, tak perlu mengotori tanganku lagi untuk menyingkirkan Lestari.


Meskipun aku merasa bahwa Lesmana masih mencintai Lestari. Namun harus ku buat ia belajar mencintai aku dan janinku.


Kini kamu bisa merasakan apa yang kurasakan dulu, Tari. Kecewa dan sakit yang bertubi-tubi. Merasakan kekalahan tanpa punya daya untuk melawan takdir yang tak berpihak.


Sakit?


Sakit bukan?!


Rasakan!!!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2