100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Part 58 Laki-laki Misterius


__ADS_3

Rania memeluk erat Jean setelah menerima telpon dari Dani. Mengapa juga laki-laki itu berubah pikiran setalah apa yang telah dilakukannya. Rania tak ingin menjadi orang yang lemah. Ia tak ingin kebahagiannya diganggu oleh laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya.


It's oke... aku telah mengatakan keberadaan ku. Jika kamu berani datang,m bersama perempuan itu, akan ku cabik-cabik kamu!


Gumam Rania.


"tak perlu takut akan kehadiran Dani. kini sudah ada aku yang melindungi mu, sayang. Siapa yang menyakiti hatimu, berarti dia juga tengah mencari masalah denganku!"


Ucap Jean sambil mengecup kepala Rania. Di dekatnya sang istri dengan dekapan hangat. Rania merasa tenang karenanya. Jean kemudian membopong tubuh Rania menuju kamarnya. Merebahkannya di ranjang, menyelimutinya, dan mengecup kening Rania beberapa kali. Tenanglah disini dulu. Aku akan menjemput anak-anak di mushola, nanti aku akan kembali memelukmu sayang.


Jean pun keluar dari kamar. Ia bergegas menjemput Azka dan Zidan dari mushola yang berada 500 meter dari rumahnya. Ia tak ingin Azka dan Zidan sampai menunggunya.


Hujan mulai turun membasahi bumi. Jean membuka payung yang telah ia bawa dari rumah. Membukanya lebar-lebar.


"Ayah... ayah...!"


Suara Zidan terdengar berteriak menyambutnya. Baru beberapa pekan menyandang status sebagai ayah sambung, namun ia mampu mendapatkan hati anak-anak Rania. Azka dan Zidan tak canggung memanggil Jean dengan panggilan ayah.


Jean mendekati Azka dan Zidan. Si bungsu langsung sigap naik ke punggungnya. Tempat yang paling disukainya. Azka menggandeng tangan ayahnya. Mereka pun berjalan melewati hujan yang semakin deras.


"Assalamualaikum mama....mama....!!"


Suara anak-anak bersahutan memanggil Rania yang tengah menenangkan diri di kamar. Tiba-tiba saja, sebuah kekuatan besar mendorong Rania untuk bangkit dari tempat tidur.


"Walaikumsalam anak-anak mama, masyaallah kalian basah kuyup".


Ucap Rania yang melihat pakaian anak dan suaminya itu kebasahan karena hujan. Rania dengan sigap mengambil handuk dan mengganti pakaian anak-anak nya. Seketika ia dihipnotis oleh kebahagiaan, suasana hangat dalam keluarga barunya, sehingga ia lupa dengan kekhawatirannya akan Dani.

__ADS_1


Rania membuatkan teh hangat untuk Jean dan susu untuk anak-anaknya. Ia lebih khawatir anak dan suaminya akan masuk angin daripada Dani yang akan masuk lagi dalam kehidupannya.


The power of love. Cinta telah memberinya kekuatan untuk bangkit.


***


Dani mulai mencari tau tentang kepindahannya ke Lumajang melalui tetangga Rania. Ia sangat kesal ketika mengetahui bahwa ia pindah bersama laki-laki yang pernah ia tuduh sebagai selingkuhan Rania.


"Bang*** benar saja kalau mereka selingkuh selama ini!"


Gumam Dani saat mengetahui Jean telah membawa Rania pindah dan membuka usaha di Lumajang.


...Jangan harap kamu bisa utuh mendapatkan kebahagiaan, Rania. Aku akan membuat rumah tanggamu porak poranda!, ku pastikan kau mengemis cinta padaku. Bagaimana pun caranya!...


Sebuah pikiran buruk kembali meracuni Dani. Diakui atau tidak,ia sedang dalam pengaruh rasa cemburu dan ego. Sifat egois menguasainya. Rania tak dengannya tapi seolah haram mendapatkan kebahagiaan bersama laki-laki lain.


***


Seorang rekan bisnis Jean yang tinggal di Surabaya dikerahkan untuk menuju Lumajang. Ia diminta untuk mencari tau tempat tinggal Rania dan memata-matai kesehariannya. Setelah lokasi tempat tinggal dan keseharian Rania diketahui, baru Dani akan membuat siasat lain. Inti dari project yang akan ia lakukan adalah membawa Rania kembali ke Jakarta, serta mampu menguasai Rania dan anak-anaknya.


***


Panji, nama orang suruhan Dani yang ditugaskan memata-matai Rania. Panji bergerak menuju Lumajang. Ia hanya mengantongi. informasi bahwa Jean membuka usaha dibidang resto di wilayah Ranupani. Ia segera menuju Ranupani. Mencari tau mengenai restoran baru yang berada di kawasan itu.


***


Jean dan Rania sangatlah harmonis. Mereka menjalankan roda ekonomi dan rumah tangga bersama-sama. Mereka telah terbiasa berbagi tugas. Saat pagi, Rania akan sibuk di ladang sayur, menyiram, memupuk dan membersihkan dari rumput liar. Sedangkan Jean akan memberi makan kambing dan membersihkan kandang. Menjelang siang, barulah mereka membuka resto.

__ADS_1


Siang itu, Rania tengah menyiapkan menu untuk beberapa pesanan pelanggan. Ia kini tak sendiri. Jean telah memberinya dua orang asisten untuk membantunya di dapur, dan dua orang di bagian pelayanan. Sesekali, Rania bertukar posisi di bagian kasir apabila Jean tengah merawat kambing-kambing nya.


Seseorang berkaos hitam, menggunakan topi, dan kacamata duduk disebuah meja yang menghadap ke kasir. Siang itu, Rania tengah menggantikan Jean di bagian kasir. Ia tak sadar bahwa ada pria yang tengah memperhatikannya. Pria bertopi dan berpakaian serba hitam itu hanya memesan secangkir kopi tanpa menu cemilan apapun. Ia tetap menghadap ke meja kasir sambil asik dengan ponselnya. Tak ada kecurigaan sedikitpun dibenak Rania. Karena ia sibuk mengkalkulasikan cash flow yang tertera di komputer kasir.


Tak berselang lama Jean datang bersama anak-anak. Pria itu mulai gusar. Jean tanpa sengaja memperhatikan gelagat pria itu. Resto ini di khususkan untuk pelanggan yang makan. Kebanyakan pengunjung di resto ini datang untuk makan, bahkan jarang sekali pengunjung yang datang hanya sekedar untuk memesan kopi dan cemilan. Namun, tamunya kali ini hanya memesan secangkir kopi. Ia pun duduk menghadap ke arah kasir. Sedangkan biasanya, jika tamu datanga sendiri, normalnya akan mencari tempat duduk yang privat, sehingga nyaman untuk duduk sendiri. Penampilannya sangat aneh, berpakaian serba hitam dengan topi dan kacamata yang menyamarkan wajah seutuhnya.


Jean kemudian mengecek CCTV, tanpa sepengetahuan Rania. Benar saja, laki-laki ini kepergok beberapa kali sedang memperhatikan Rania. Ada perasaan tak nyaman dengan situasi itu. Jean pun menyuruh Rania untuk bergegas pulang. Jean sendiri yang mengantarnya. Setelah sampai dirumah, Jean meminta Rania tetap berada di dalam rumah dan mengunci semua pintu rumah. Tak boleh ada seorang tamu pun diijinkan masuk sebelum Jean pulang.


Jean pun kembali ke resto. Ia terkejut bahwa pria tadi telah beranjak pergi dari restonya. Perasaannya tak tenang. Ia kemudian menyuruh asisten kepercayaannya untuk menjaga restonya dan menutup jika semua pelanggan telah pulang.


Jean bergegas pulang menuju rumahnya. Ia terkejut melihat anak-anak tak berada di rumah. Rania telah mengantar mereka ke mushola!


"Rania, sudah aku katakan sebelumnya. Kamu dan anak-anak jangan kemana-mana sebelum aku pulang!"


Ucap Jean setengah panik.


" Tapi kan anak-anak sudah biasa mengaji, Jean".


Ucap Rania bingung.


"Rania. Ini bukan saatnya aku menjelaskan padamu. Sekarang kamu tetap dirumah dan kunci pintu. Aku akan memastikan anak-anak aman disana!"


Jean belum sempat menjelaskan kekhawatirannya tentang pria bertopi itu. Tapi, tak ada waktu lagi. Ia harus segera menuju musholla.


Setengah berlari Jean ke Mushola yang jaraknya 600 meter dari rumah. Berlari seakan tak ada waktu lagi...


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa klik like dan comment untuk mensupport author supaya semangat up ya๐Ÿค— see you at the next part๐Ÿ˜๐Ÿ™


__ADS_2