
Dani menarik tanganku masuk kedalam mobil. Ia kesal karena aku telah membuat kegaduhan di paviliun Rania. Aku memang baru saja mengenalnya, tepatnya mengetahui perempuan yang telah menjadi jandanya calon suamiku. Maaf aku bukan pelakor. Ku kenal Dani sebagai atasanku. Dia lajang, menurut pengakuannya. Aku menerimanya sebagai peer yang spesial dan berlanjut di ranjang.
Aku memang terlanjur terpesona dengan Dani. Laki-laki muda dan tampan. Bukan cuma itu, Dani juga sangat perhatian padaku. Dengan uangnya, ia mengistimewakan ku. Bahkan Dani juga mempercayakan kantor cabang Semarang kepadaku. Itu sebab aku tak begitu mencari tau siapa Dani, asal usul ataupun status pernikahan sebenarnya. Semua tertutupi dengan kebaikan dan cinta Dani padaku.
Sebenarnya hubungan kami berjalan manis selama setahun lamanya. Meskipun tak pernah serius membicarakan soal pernikahan, tapi selama ia membuatku nyaman, aku pun nyaman.
Namun, belakangan aku mulai tau banyak hal tentang Dani. Mulai dari perempuan bernama Pina yang tiba-tiba memergoki kami di dalam kamar. Dia juga mengaku sebagai calon istri Dani. Lalu aku ini selingkuhannya?
Bingung untuk mengerti siapa aku.
Aku ini selingkuhan yang diselingkuhi. Lalu siapa yang menjadi pelakor di rumah tangga Dani-Rania, aku ataupun Pina?
Aku tak rela diriku di cap sebagai pelakor. Jika aku tau Dani telah berkeluarga, tentu aku akan berpikir seribu kali untuk menggantikan posisi Rania sebagai istri. Tapi terlanjur. Nasi telah menjadi bubur. Aku khilaf dengan silaunya harta, hingga terlalu jauh bermain dengan nafsu. Hingga aku mendapati diriku hamil.
Ya, dua pekan setelah aku memutuskan untuk berpisah dengan Dani, setelah perseteruan dengan Pina. Aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Mencoba peruntungan dengan berjualan kosmetik secara online, sambil mencari pekerjaan baru. Meski Dani tak begitu saja melepaskan aku. Dani masih saja mencoba menghubungi aku dan menjelaskan alasan dia berbohong.
Meskipun awalnya aku tetap tak memperdulikannya, namun nyatanya aku mendapati bahwa aku hamil, terpaksa aku harus menghubungi Dani kembali. Siapa yang mau bertanggung jawab jika bukan Dani?!
Berawal dari merasakan mual yang luar biasa, sering letih dan tidak mendapatkan haid di bulan itu, aku memberanikan diri untuk mendatangi dokter. Kemudian dirujuk ke seorang bidan. Hasilnya, aku positif hamil. Kenyataan yang tidak membahagiakan bagi seorang gadis. Aku bingung dan mulai murung. Sialnya perilaku ku sebagai seorang calon ibu muda dicurigai oleh keluargaku. Ibu ku yang seorang perawat di sebuah rumah sakit akhirnya mengetahui bahwa aku mengalami gejala awal kehamilan.
Aku menyadari tak mungkin untuk berpisah dengan Dani. Kami sepakat untuk melanjutkan hubungan kami, hingga sepakat untuk merencanakan sebuah pernikahan sebelum kehamilan membesar. Dani meyakinkan aku bahwa aku akan mendapatkan lingkungan eksklusif, sehingga orang tidak akan menyangka bahwa aku perempuan yang telah hamil diluar nikah.
Dani membeli sebuah rumah cluster mewah di kawasan Bogor. Dani juga telah tinggal disana. Sayangnya, Dani mulai sulit dihubungi kembali. Entah mengapa. Disisi lain, Ayah dan ibuku mulai mempertanyakan kelanjutan hubungan kami.
Status Dani yang merupakan duda dari dua orang anak membuat ayah tak tentram. Ia takut bahwa Dani telah berdusta bahwa ia telah bercerai. Sehingga ayah memutuskan untuk ke Bogor menemui Dani. Entah apa yang terjadi di Bogor, namun sekembalinya ke Semarang, ayah telah siap mendaftarkan pernikahanku dengan Dani.
Kehamilan muda membuatku sangat labil dan cemburuan. Aku merasakan tak ingin jauh dari Dani. Sehingga meminta ijin pada keluarga agar aku diijinkan untuk menemui Dani ke Bogor. Meskipun awalnya keinginanku ditentang oleh Ibu. Namun, pada akhirnya Ibu sendiri yang mengantarku ke Bogor.
***
Aku mulai merasakan suasana yang tak nyaman di Bogor. Mengapa calon ibu mertua tinggal bersama?
oke...oke...dulu ibu Nani ini menjaga anak-anak Dani. Tapi sekarang kan anak-anak Dani sudah dengan Rania. Lalu mengapa ....ah sial, ibunya sakit!
__ADS_1
Tinggal di rumah mewah membuat aku merasa nyaman. Meskipun serumah, namun Bu Nani memiliki area yang terpisah dengan tempat yang aku tinggali. Rumah ini baru, sehingga tak ada jejak-jejak masa lalu Dani dan Rania disini. Sempurna....
Akan tetapi, Dani masih sering membicarakan tentang anak-anaknya. Kewajibannya untuk membagi waktu dengan anaknya. Ah sial...lihat saja kalau anakku sudah lahir, pasti perhatian Dani akan ku alihkan pada anakku, seutuhnya!
***
Malam ini aku tak berhasil menaklukkan emosiku pada Rania. Ternyata Rania sangat cantik meskipun ia sedang mengenakan daster rumahan yang lusuh, tanpa riasan make up . Tapi perangai Rania sangat ketus, ia masih saja menganggap aku lah si pelakor itu. Sehingga terjadi perkelahian bak ring tinju antara aku dan Rania.
****
Mobil terparkir di halaman rumah. Dani keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras. Aku tidak mengerti mengapa Dani menyalahkan ku atas pertengkaran aku dan Rania. Seharusnya Dani membelaku karena ia tau bahwa aku bukanlah pelakor seperti yang dituduhkan Rania.
"Mas Dani...mas...mas...."
Aku coba memanggil mas Dani yang berjalan cepat menuju kamar tidurnya.
"Aku lelah Del...kamu istirahat saja di kamar tamu bersama ibumu!"
Jean mas Dani sambil berlalu.
"Delita jaga sikap, ini rumah, bukan kantor Semarang!"
"Oh...jaga sikap seperti anak baik-baik ya mas?".
Ucapku dengan nada sinis yang membuat Dani meradang.
"Delita ingat, aku tidak mungkin melakukan apa-apa tanpa ada persetujuanmu!"
Kemudian Dani berlalu secepat kilat. Membanting pintu dan menguncinya. Aku masih berdiri di anak tangga. Mendapati kekecewaan dari lelaki yang biasanya tak ingin mengecewakan ku. Tapi malam ini sangat ketus.
***
Sepekan lagi aku dan Mas Dani akan melangsungkan pernikahan. Sejujurnya, jika tak dalam kondisi hamil, tentu aku tak ingin lagi berhubungan dengan Dani. Tapi ah...terlanjur!
__ADS_1
***
"Dani marah lagi, Del?"
Ibu mengagetkan lamunanku.
"hemmm" Aku hanya mengisyaratkan saja. Aku malu membuat ibuku kecewa.
Kulihat guratan di sudut mata ibu. Ekspresi wajahnya berubah. Terlihat sekali ia menahan tangis. Aku pilu, aku malu. Ku peluk ibu dan kami menangis bersama. Entah apa yang sedang kami sesali.
Sejujurnya ibu mulai merasakan banyak hal yang tidak beres pada Dani dan Ibunya. Dulu, Ibu Nani pernah bercerita dan menyudutkan Rania, tapi belakangan cerita itu diolah sedemikian rupa, menjadi Rania yang baik dan mereka hanya salah faham saja. Sikap Dani dan Bu Nani seolah memojokkan kehadiran Delita. Apakah ia masih pantas menjadi calon istri Dani. Sedangkan Dani mulai menyadari kesalahannya pada Rania?
"Delita. Sungguh ibu menghawatirkan keadaanmu nak. Dani bukan laki-laki yang baik untukmu".
Ibu mulai mengutarakan pemikiran yang selama ini membebaninya.
Aku mencoba mendengarkannya. Meski aku tau kemana arah pembicaraan ibu.
"Andai kamu merasa ragu dan takut menjalani rumah tangga dengan Dani nantinya, ibu rela mengasuh dan membiayai anakmu, meski tanpa seorang ayah!"
Aku tertegun mendengar ucapan ibu, dan mulai hilang arah. Antara menuruti nasehat ibu atau menuruti ego yang ada.
Terdiam sesaat...
"Tidak Bu!...Dani tetap harus menjadi suamiku. Ayah dari anakku. Dia harus bertanggung jawab pada keluarga kita!"
Aku menjawab dengan ketegasan. Kulihat wajah kecewa yang tersirat dari matanya.
Aku memilih mempertahankan egoku. Enak saja jika aku membiarkan Dani bahagia, sedangkan aku dan keluargaku menanggung malu mengasuh anak tanpa kehadiran seorang ayah.
Hatiku sangat sakit melihat tangis pilu ibuku. Akan ku bayar tangisan ibuku ini. Kamu lihat nanti Dani!!!!
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih untuk readers setia ku😍
Maaf update nya telat terus nih...tapi masih ttp bisa one day one part Alhamdulillah 🤗 see you on the next part ya😘