
***
Dani menutup pintu kamar hotel presidensuit dengan perasaan kecewa. agh...baru saja ia akan menang taruhan, malah gagal total!
Ia merebahkan diri di kamar. Ponsel berdering berkali-kali, tapi tak digubris oleh Dani.
Cahaya kamar terang redup. Aroma esensial rose menyengat dari balik pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka. Dani merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya. Mencengkeram nya dalam balutan selimut. Dani tak bisa melihat apapun, sesuatu menguasai tubuhnya. Ia tenggelam dalam permainan sosok perempuan, berambut panjang, begitu lihai dalam permainan ranjang. Dani seperti mengenali tubuh ini, namun tak bisa memastikan dengan pasti, sebab cahaya kamar begitu redup. Dani tak menolak dalam permainan itu. Sosok perempuan itu membabi-buta menguasai tubuhnya. Seperti ia telah hafal tiap lekuk tubuh Dani dan titik lemah birahinya. Hingga permainan itu berakhir, dan Dani terlelap dalam genggaman perempuan itu.
***
Ponsel berdering berkali-kali. Dani mencoba membuka matanya. Sinar matahari menyilaukan mata.
"ah... siapa yang berani membuka tirai!"
Gumamnya.
Dani membuka ponselnya. Ada dua puluh panggilan masuk, dan 120 isi chat dari teman-teman gengnya yang memperebutkan Renata. Dani terhenyak. Ia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Benar saja, ada sosok perempuan yang tidur bersamanya tadi malam. Tapi siapa? apakah Renata kembali ke kamar dan mengajaknya bercinta?, tapi bukankah dia sedang bersama kekasihnya?!
Samar-samar Dani mendengar suara gemercik dari kamar mandi. Setelah menutupi bagian tubuhnya dengan handuk, ia menuju kamar mandi.
"Delita!"
Perempuan itu tersenyum sinis.
"Kenapa mas. Apa kamu sengaja membuat suprise party untuk istrimu tapi tanpa mengundangnya?"
Delita memandang sinis Dani melalui cermin wastafel.
Dani terdiam.
Delita berjalan mendekati Dani. menyandar di dada Dani sambil berkata sinis.
"Mas Dani ku sayang... aku telah memegang kartumu. Kartu seorang player!"
"Apa maksud kamu, Delita!"
Delita menjauhkan dirinya dari Dani.
"Tuan Dani yang tampan dan kaya raya. Anda bisa membeli sejuta wanita. Tapi anda tidak akan mampu membeli cinta mereka".
Diam. Kemudian tersenyum sinis.
"Aku tau perjalananmu ke Bali bukan untuk bisnis biasa. Melainkan menemui Renata, ya kan...? sayangnya Renata datang untuk pria yang lain!"
__ADS_1
Plakk...
Satu kali tamparan berhasil mendarat di pipi Delita.
"Tak perlu sok suci Delita!, Kehadiranmu di hidupku sama seperti perempuan lainnya. Bedanya, kau adalah selingkuhan yang ku nikahi secara resmi!"
Dani berlalu meninggalkan Delita sendirian. Pikirannya sangat kacau. Terlalu banyak masalah yang ia hadapi ketika bersama Delita. Perempuan itu terlalu banyak berulah.
***
Delita tersudut di kamar mandi. Anehnya ia tidak bisa merasakan sakit lagi ketika ditampar oleh Dani. Hatinya mengeras. Ia diam mendendam. Bagaimanapun ia akan tetap bertahan sampai anak dalam kandungannya terlahir ke dunia dan menguasai Dani seutuhnya. Menguasai perhatiannya, menguasai harta tentunya.
***
Semakin hari kondisi Delita semakin memburuk. Bukan secara fisik, namun secara mental. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia kerap menyalahkan Dani atas kehamilannya dan kebohongan-kebohongan yang telah Dani buat. Ruang gerak Dani semakin sempit, karena ke kantor saja pasti diikuti oleh Delita.
Mereka jadi sering ribut untuk masalah-masalah kecil, termasuk masalah keluarga Dani yang sering ikut campur.
***
Pekan itu merupakan waktu wajib bagi Dani bersama anak-anak Rania. Dani meminta Rania menyiapkan anak-anak untuk bermalam di rumahnya. Rania menyetujui. Hubungan Dani dan Rania membaik, sehingga ia mulai memberi kepercayaan pada Dani untuk membawa anak-anak bermalam di rumahnya.
Rania datang untuk mengantar anak-anak ke rumah Dani. Pukul 16.00, ternyata Dani belum tiba di rumahnya. Hanya ada Bu Nani dan Delita disana.
"Delita, apa yang kamu lakukan pada ibu?!"
Delita terkejut melihat Rania yang tiba-tiba hadir di rumahnya. Tentu tak akan ada bunyi kendaraan bermotor ketika Rania datang. Sebab ia dan anak-anak harus berjalan kaki sejauh 500 meter untuk menuju rumah Dani dari halte yang berada di depan komplek perumahan.
"Rania...Rania....tolong ibu nak..."
Bu Nani merintih meminta tolong pada Rania. Ia kemudian mendekati kursi roda Bu Nani. Ya, sudah sepekan Bu Nani tak dapat lagi berjalan. Semua aktivitas dilakukan dengan menggunakan kursi rodanya. Rumah ini hanya dilengkapi oleh satu orang pembantu dan satu orang satpam. Jika pembantunya harus memasak atau merapikan rumah, maka tugas menjaga ibu dilimpahkan pada Delita. Tentu ia harus memilih antara mengurus ibu atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Delita terdiam ketika di tegur oleh Rania.
"Rania, untuk apa kamu datang ke rumah mas Dani. Dia bukan suamimu lagi!"
Bentak Delita yang tak terima Rania datang.
"Dia memang bukan suamiku lagi. Tapi, dia masih tetap menjadi ayah dari anak-anak ku!"
Ucap Rania sambil mendorong pelan kursi roda Bu Nani menuju tempat yang lebih nyaman.
"Kau masih mengharapkan mas Dani kembali padamu, bukan?!"
__ADS_1
Ucap Delita sinis.
"Kalau, ya, kenapa?!"
Jawab Rania meledek.
"Perempuan gatal, kau sudah tak laku lagi untuk laki-laki lainnya!"
Ucap Delita mencoba menjadi juara dari perdebatan itu.
Rania mendekat dan menjambak rambut Delita, ia pun meringis kesakitan.
"Dengar ya nyonya muda, Perempuan yang gatal itu anda, masih gadis malah bermain dengan suami orang, rela tidur dan dihamili suami orang. Jangan-jangan Anda memang sudah tidak laku dengan laki-laki perjaka!"
Rania melepaskan rambut Delita. Menggandeng anak-anak yang cemas melihat dua ibunya nyaris bertengkar seperti anak kecil.
Rania yang memiliki dendam di pertengkaran sebelumnya akhirnya merasa puas telah bisa membalas rasa sakit hatinya.
Delita masuk kamar dan mengurung dirinya
***
Rania mengajak anaknya menunggu papanya sambil berenang di kolam renang samping. Mereka berenang dan bermain bola air. Bola yang dibawa dari paviliun. Rania ikut serta berenang dan mendampingi anak-anaknya.
Dani pulang ke rumah.
Ketika mendengar suara anak-anak bermain di kolam renang, Dani pun menuju ke kolam renang.
Ia melihat Rania mengenakan pakaian renang yang meskipun menutupi seluruh tubuhnya, namun tetap terlihat ****. Rania menggeraikan rambut sebahunya. Tubuh Rania terlihat padat. Dani yang berlebel mata keranjang, tak bisa memalingkan matanya dari Rania. Tepatnya, mungkin dulu ia selalu biasa saja melihat Rania, karena setiap hari ia melihatnya. Sementara kini, ia hanya sesekali saja melihat Rania, sehingga desiran rindu sering bergemuruh ketika berada di dekat Rania. Tanpa berganti pakaian, Dani ikut bermain di kolam renang dan menemani anak-anak bermain bola air.
Kolam renang merupakan pemandangan yang bisa dilihat langsung dari jendela kamar Dani yang lebar. Delita menyaksikannya, merasakan sakit yang tak pernah ia duga. Sakit tepat di hatinya.
Ia mulai membenci kondisinya, membenci keadaannya yang lemah sejak kehamilannya. Ia membenci keadaannya yang sulit untuk sekedar memasukkan nasi kedalam mulut, air liurnya yang berlebih, serta kulitnya yang lebih kusam, serta bau badan yang tak sedap akibat perubahan hormonal. Ia merasa bahwa perubahan tubuh ketika hamil inilah yang membuat Dani tidak menyukainya.
Delita dalam keadaan lemah. Ia ingin turun menuju kolam, mengadukan perbuatan Rania, ingin mengusir Rania, ingin marah pada Dani yang tidak menghargainya. Namun nyatanya, ia tidak bisa. Ia lemah.
Delita tak.mampu mengendalikan emosi. Ia beberapa kali memukuli perutnya. Namun ia merasakan perut yang teramat sakit. Psikologis nya yang tertekan membuat kondisi tubuhnya ikut tertekan. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Delita. Penglihatannya mulai kabur, dan beberapa saat Delita tak sadarkan diri.
Bersambung
Dear....Para Readers setiaku. terimakasih untuk terus mengikuti cerita plus like and comment nya ya🤗🤗
see you at the next part ❤️
__ADS_1