
Malam semakin larut. Udara dingin dari AC menyergap kulit. Fika tak juga terjaga meski Wisnu mencoba membangunkannya.
"ah...dasar muka bantal. Kalau dah ketemu bantal, gak bakalan bisa dia bangu!!" gerutu Wisnu kesal. Ia pun kembali ke kamarnya.
Mentari pagi baru saja menampakan cahayanya. Wisnu kebingungan karena Fika tak berada di ranjangnya, tidak juga di kamar mandi. Ponsel milik Fika, digeletakkan begitu saja. Wisnu takut terjadi sesuatu pada Fika. Dia tak pernah pergi meninggalkan ponselnya.
Ditengah gumaman-nya, Wisnu melihat ke arah luar kamar. pandangan kolam renang yang berada tepat dari pemandangan kamarnya. Betapa terkejutnya ia melihat Fika berada di kolam renang tersebut.
Tentu Wisnu sangat mengenali Fika, meskipun berukuran sangat kecil dari lantai 12. Struktur tubuh dan rambut Fika sangat khas!
Wisnu segera menuju lantai dasar, menuju foodcourt area. Tepat dimana kolam renang berada disamping area tersebut.
Wisnu menggandeng tangan Fika untuk segera naik ke permukaan.
"Mas...ih apa sih. Ayo renang, mumpung masih pagi. Belum banyak orang disini!"
Gerutu Fika, sebab Wisnu dengan kuat menarik lengan Fika untuk segera naik ke permukaan.
"Fik, kamu itu seksi banget!"
Ucap Wisnu sambil meneliti tiap detik lekuk tubuh Fika yang hanya dibalut pakaian renang.
"Kalau mau renang model gini, lebih baik di Pantai Kuta saja, jangan disini!!!" Gertak Wisnu.
Betapa ia tidak rela tubuh kekasihnya itu dinikmati oleh banyak mata.
Meskipun belum puas berenang, akhirnya ia mengalah menuruti Wisnu. Bagaimanapun Wisnu telah terbukti untuk selalu melindunginya.
"Tapi janji ya. Sore ini bawa aku ke Pantai Kuta!" Ucap Fika sambil mengenakan kimononya.
"Hemmm!!!" Jawab Wisnu sambil membuang nafas dengan kasar.
Wisnu berjalan cepat menuju kamar. Diikuti oleh Fika dari belakang.
Pintu hotel dibuka oleh Wisnu, begitu Fika masuk kedalam kamar, Wisnu mendekap tubuh Fika dengan erat. Membopongnya hingga ke atas ranjang. Pergulatan itu terjadi lagi. Tanpa bisa memberi kesempatan untuk Fika melepaskan diri.
"Kamu oke kan?"
Ucap Wisnu sambil menunjuk ke arah bawah.
"Aku takut mas. Tolong jangan lakukan itu!"
__ADS_1
Ucap Fika dengan tangan gemetar. Ia mulai sadar bahwa apa yang dilakukan Wisnu dan dirinya sudah terlampau jauh.
"Aku ingin kamu, Fik!"
Ucap Wisnu sambil memasang muka memelas.
"Tapi mas..."
"aku janji akan bertanggung jawab untukmu. Aku janji. Aku sangat sayang sama kamu!" Ucap Wisnu dengan segala bujuk rayu.
Fika memalingkan wajah dan menutup matanya. Wisnu tak bertanya lagi. Segera ia tancapkan busur panah tetap di area kenikmatan!
Rintihan kesakitan menyudahi permainan Wisnu. Ia mengelap bercak darah yang mengalir. Fika masih perawan saat itu.
Ada rasa sesal yang tiba-tiba menyergap dan memenuhi dada Fika. Bagaimana mungkin ia dengan mudah menyerahkan keperawanannya pada laki-laki yang baru saja menjalin hubungan beberapa hari dengannya.
Fika mencoba meyakinkan dirinya untuk mempercayai Wisnu. Bahwa ia akan bertanggung jawab padanya.
Wisnu tentu tau bahwa mereka baru pertama kali melakukan ini, dan Fika masih perawan!
Satu jam berlalu. Wisnu belum juga terjaga dari tidurnya. Terlihat lelah sekali setelah pergulatan yang sengit untuk mendapatkan keperawanan Fika.
Siang itu mereka harus menemui klien. Tapi Fika tidak sanggup untuk berjalan. Ia merasakan sakit yang amat hebat di vaginanya.
Ucap Fika sambil berjalan tertatih menuju kamar mandi.
"Tidak bisa Fik. Klien kita sudah menunggu di Cafe Osmosis. Ayolah jangan manja!" Ucap Wisnu dengan tegas.
Ada sakit di hati Fika. Kalau memang pekerjaan mereka tidak bisa ditawar, mengapa Wisnu melakukannya di pagi hari!
Fika terpaksa menemui klien dengan kondisi jalan tertatih.
"Mba Fika baik-baik saja?" Tanya Widya, seorang klien perusahaan.
"Iya mba gak apa-apa. Saya hanya jatuh tadi". Ucap Fika terpaksa berbohong. Tak mungkin juga ia menceritakan kejadian sebenarnya.
Senja menutup hari. Fika memutuskan beristirahat di kamar saja. Namun, lagi. Wisnu masuk ke dalam kamar, dan memaksa Fika melakukannya lagi dan lagi. Hingga senja berganti malam. Fika tak bisa menolak permintaan Wisnu. Ia dibutakan cinta. Rayuan Wisnu selalu berhasil membuat Fika menyerahkan segala yang dia punya.
Malam itu mereka tidur seranjang. Layaknya pengantin baru. Mereka telah melakukanya berulang kali. Hingga Wisnu kembali terlelap dalam kelelahan. Sedangkan Fika sibuk dengan perasaannya. Antara menikmati cumbuannya atau Heboh dengan perasaan bersalah dan kekhawatiran akan kehamilan yang tidak diinginkan!
Tiba-tiba handphone Wisnu berdering. Namun, Wisnu tak terjaga. Handphone itu berdering hingga berkali-kali, namun Wisnu tak juga terjaga. Fika memberanikan diri melihat dilayar ponsel, siapa yang menghubungi Wisnu berkali-kali pada malam hari.
__ADS_1
"Mama Aira ...".
Dalam benak Fika bertanya. Siapakah mama Aira ini? . Apakah mama dari anak bernama Aira. Lalu Aira ini siapa?
Sejenak Fika mencoba untuk berpikir. Namun, tiba-tiba handphone kembali berdering.
Fika memberanikan diri untuk lancang. Ia mengangkat telpon itu. Tanpa suara darinya. Namun alangkah terkejutnya ia, ketika Sura dari seberang memanggil.
"Papa...!!!" Hingga berkali-kali.
Fika spontan menutup telpon. Kemudian, menangis sejadi-jadinya. Ia baru saja tersadar, bahwa ia belum begitu mengenal, siapa Wisnu sebenarnya.
Tiba-tiba ia teringat ibunya, Pina. Bagaimana jika kisah lama terulang kembali?!.
Fika menangis sejadi-jadinya. Hingga membuat Wisnu terbangun karena suara sesenggukan dari Fika.
"Kamu kenapa Fik. Kenapa menangis malam-malam?!" Ucap Wisnu sambil membelai rambut Fika yang panjang.
Fika masih belum sanggup berkata-kata. Dadanya terlalu sesak dengan berjuta pertanyaan yang menyerang tiba-tiba.
"Kamu jangan takut, sayang. Aku akan bertanggungjawab padamu!".
Wisnu kembali menyerang Fika dengan rayuan mautnya.
Fika diam. Tubuhnya terasa kaku. Lidahnya kelu untuk berbicara.
"Mas, seorang telah menelpon mu tadi!" Ucap Fika memberanikan diri.
Wisnu tiba-tiba salah tingkah. Dicarinya Handphone miliknya dan melihat pesan dan panggilan yang masuk.
"Kenapa kamu kamu lancang mengangkat telepon dari handphone ku, Fika?!" Ucap Wisnu sambil beranjak pergi menuju kamarnya. Seperti orang yang sedang menahan marah, Wisnu pergi tanpa pamit. Meninggalkan Fika yang terlena dengan tangisannya. Tangisan penyesalan yang tak mungkin bisa ditarik kembali.
Wisnu tak ada di kamarnya lagi itu. Ia seperti menghindari pertemuan dengan Fika. Conecting room terkunci!
Fika berusaha untuk bersikap profesional. Ini hari terakhir ia berada di Bali. Esok pagi ia akan kembali ke Jakarta. Secara kebetulan, Wisnu dan Fika kembali memiliki agenda yang berbeda, sehingga mereka tidak bertemu. Wisnu meninggalkan hotel sejak pagi, tanpa acara sarapan bersama, seperti yang mereka lakukan bersama sebelumnya.
Wisnu mengirimkan sebuah pesan lewat aplikasi biru.
"Jangan tunggu aku. Aku sudah sampai di lokasi proyek saat kamu membaca pesan ini. Sarapan dan pergilah ke lobi. Sudah ada taxi yang akan mengantarmu!" Isi pesan yang tak ingi. dibalas oleh Fika.
Sarapan pagi ini tak mengunggah selera makan Fika. "Aku harus mengungkap siapa Wisnu sebenarnya!" Gumam Fika.
__ADS_1
Bersambung ...