100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 12 Saksi Palsu


__ADS_3

Setelah kejadian di Pengadilan Agama Bekasi. Rania lebih banyak menyibukkan diri di Latefaa Bakery. meskipun hanya menjadi freelencer, tenaga dan ide-ide Rania lebih banyak digunakan. Energi kehidupan terasa kembali kedalam jiwa Rania. Meski tak dapat dipungkiri, setiap malam menjelang, Rania masih saja merindukan anak-anaknya.


Sore itu, ketika Rania baru saja sampai kontrakan. Ia mendapati surat panggilan yang sama dari Pengadilan Negeri Bekasi. Hari Selasa depan, agenda mediasi.


"bukankah, Rania belum menandatangani surat perceraian itu?" gumam Rania.


Akan ada banyak cara yang dilakukan orang sepicik Dani dan Bu Nani. Mereka bersusah payah membuat Rania menderita. Semata-mata hanya untuk memuaskan nafsu kedengkian mereka.


"Rania..." sebuah pesan masuk dari nomer telpon Dani.


"Ya mas..." jawab Rania.


"sebaiknya kamu jangan pernah jadi ke persidangan". Ucap Dani.


"kenapa?" Rania sangat penasaran dengan alasan Dani melarang Rania datang ke persidangan.


"percuma. mau bagaimanapun aku akan tetap menceraikan kamu!, aku janji akan memberikan hak-hak mu. yang penting kamu tidak menyulitkan aku dalam persidangan"


Nada seperti sebuah intimidasi, atau sebuah ancaman.


"Mas Dani. aku datang ke persidangan bukan hanya untuk menuntut hak-hak aku. Tapi aku juga perlu tau, se adil apa hukum negara kita, membiarkan seorang suami tega menelantarkan istri yang sudah jauh-jauh ia ambil dari keluarganya!"


Balas Rania berapi-api.


Entah kemana perasaan cinta yang dulu ia bangun bersama Dani. Mengapa saat ini, yang terasa hanya kebencian dan dendam di dalam dada. Mengapa mas Dani begitu menggebu untuk segera menceraikannya.


Tiba-tiba ia teringat dengan perempuan bernama Pina. Ia sengaja mengintip story Instragram perempuan itu.


Astaga...betapa tidak malunya. Ada beberapa postingan dimana dia berpose dengan Dani dan dibanjiri komentar pertengkaran dengan seorang perempuan lainnya.


Seharusnya, jika perempuan normal, tau bahwa ia telah ditipu oleh laki-laki, maka ia segera menghindar dan menjauh dari laki-laki Toxic. Karena, belum menikah saja sudah ditipu, apalagi kalau nanti sudah menikah, pasti akan banyak kebohongan yang terjadi dalam rumah tangga. ya...seperti yang Rania rasakan saat ini.

__ADS_1


Rania juga mencoba mengintip Instagram milik Dani, ia berharap bisa menemukan wajah anak-anak dan mengobati rindu. Nyatanya, postingannya hanya tentang jalan-jalan, keluar kota tanpa anak-anak. Menyedihkan.


Rania tidak lupa meng screenshot layar monitor yang menunjukkan adanya bukti perselingkuhan Dani dengan Pina.


Minggu Pagi, Rania bermaksud ingin mengantarkan pakaian laundry milik Bu Eko. kebetulan rumahnya berada di depan kompleks perumahan Damai Lestari. Ketika ia menyebrang sebuah sepeda motor tanpa plat nomer menabraknya hingga membuat tubuh Rania terpental dan terseret sejauh tiga meter. Ia tak mampu membuka mata, hanya sayup-sayup mendengar orang berteriak


"tabrak lari...".


Dua hari Rania tak sadarkan diri. Tangan kanannya patah. Sehingga harus di pasang Pen, implan yang dipasang untuk memperbaiki kerusakan tulang. Nafasnya dibantu sebuah ventilator.


Salah satu kerabat Rania yang tinggal di Kota Karawang datang untuk menjaga Rania. Dek Ayu. sepupu Rania. Anak Om Yulos yang tingg di Karawang. Ayu sangat terkejut melihat kondisi Rania. Terakhir ia bertemu dengan Rania saat masih di rumah lama.


Kondisi Rania yang ia lihat saat ini sangat memprihatikan. Ayu sempat datang ke rumah Rania, dan mendapati keadaan rumah dengan peralatan rumah tangga yang sangat sederhana. Hanya pemandangan cucian yang banyak disana. Ayu membantu membereskan laundry yang sudah di tunggu oleh customer, setelah itu kembali ke rumah sakit untuk menjaga Rania.


"mba Rania..." sapa Ayu saat mata Rania mulai terbuka.


"ayu...aku dimana yu...?". Tanya Rania saat kesadarannya mulai membaik.


Pelan-pelan Rania mulai menceritakan apa yang saat ini dia hadapi. Seharusnya hari ini ia menghadiri sebuah persidangan perceraian. Namun, kondisinya sangat tidak memungkinkan. Rania pun tak memiliki kuasa hukum yang mampu melaporkan pada hakim untuk.emnunda persidangan ini.


"mba Rania...aku ingin sekali membantumu. tapi aku juga gak tau apa yang harus aku lakukan. Ada baiknya mba fokus pada kesehatan mba saat ini.


Rania tertegun. Ia merasa sangat lemah saat ini. Mengapa takdir tak berpihak padanya.


*** Dipersidangan


Hakim dan Kuasa hukum Dani menunggu kehadiran Rania. Namun, hingga jadwal yang telah ditentukan Rania tak kunjung hadir. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Erwin, Kuasa Hukum Dani. Ia bahkan berani menghadirkan saksi palsu. Seorang pembantu rumah tangga yang disuap untuk bersaksi palsu. Muna, namanya. Pembantu yang masuk ke rumah Dani, setelah terjadi pengusiran.


"Saudari Mina. Bisa anda ceritakan bagaimana kronologis konflik rumah tangga Bapak Dani Hermawan dengan Bu Rania ...?"


Tanya Hakim penasehat.

__ADS_1


"Bu Rania itu terlalu banyak menuntut Pak. Bu Nani mertuanya selalu berkeluh kesah jika Rania terlalu banyak menuntut. Bu Rania keluar dari rumah atas kemauannya sendiri. Bukan diusir". Ucap Muna, wanita yang dibayar sebagai saksi.


Tiga kali persidangan, Rania tak juga mampu untuk bangkit dari tempat tidur. Ia terpaksa diungsikan ke Karawang, karena di Jakarta tidak ada yang menjaganya. Hal itu membuat Rania tak menerima lagi surat-surat panggilan dari pengadilan.


*** Tiga bulan kemudian.


Rania telah sanggup berjalan. Tangannya perlahan pulih. Namun ia masih belum sanggup bekerja keras. Ia meminta ijin pada Om Yulos untuk kembali ke Jakarta untuk mengurus perceraiannya. Ia berencana untuk datang ke pengadilan, memohon kepada hakim agar mempertimbangkan mengenai perceraian mereka. Rania juga berencana untuk bekerja kembali di Latifaa Bakery. kali ini ia akan melamar sebagai full time baker.


Rania menyusuri koridor pengadilan Agama Bekasi dengan lunglai. Hampir saja ia jatuh pingsan. Ia terlambat. Persidangan telah diputuskan. Rania kalah. Bahkan hak asuh anak yang seharusnya ada pada Rania, justru jatuh ke tangan Dani. Alasan pengadilan bahwa, Rania tak memiliki tempat tinggal tetap, tidak memiliki pekerjaan dan kondisi kejiwaan nya tidak stabil.


Hari ini dia memaksakan diri untuk menemui Dani dan keluarga. Begitu sadisnya mereka, disaat Rania dalam kondisi sakit. Mereka malah mengambil kesempatan itu untuk memutuskan persidangan secara sepihak.


Rania mengendarai ojek pangkalan untuk menuju rumah Dani. Sejak kecelakaan itu, Rania tak memiliki handphone lagi. Handphone nya terpental dan pecah. Saat ini Rania menjadi seorang janda pengangguran, yang bahkan hidupnya mengiba dari belas kasih sanak saudaranya.


Sebenarnya om Yulos melarangnya untuk ke Pengadilan Bekasi. Om Yulos cukup tau apa yang akan terjadi. Karena Om Yulos adalah seorang Notaris, yang juga mengerti soal hukum perceraian. Om Yulos juga sudah melarang Rania tinggal di Jakarta, bahkan Om Yulos akan memberikan Rania sebuah lapak kecil di samping kantornya untuk dibuat kantin. Tapi, Rania bersikeras untuk ke Jakarta. Ia akan memperjuangkan anak-anak nya.


Rumah Dani tampak sepi. hanya seorang satpam yang sedang asik menikmati sebatang rokok.


"Pak Basuki, anak-anak ada di rumah? Rania bertanya pada satpam rumah itu.


"maaf mba Rania. Sudah dua hari ini mereka ke Semarang. Katanya ada acara mba".


"Acara apa ya pak...?"


selidik Rania.


"kurang tau ya mba... tapi mereka rame-rame bawa hantaran gitu...seperti mau lamaran"


hati Rania berdesir. Secepat itu Dani bertindak. Tak adakah sedikitpun rasa manusiawi. Jika Rania tak dianggap sebagai istrinya lagi, setidaknya anggaplah ia sebagai ibu dari anak-anaknya yang butuh dihargai, bukan di campakkan!


......Hai...pembaca yang budiman... terimakasih untuk yang selalu mengikuti.......

__ADS_1


...100 hari pertama menjadi janda. jangan lupa like dan comment untuk menjaga kestabilan semangat authorπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜˜πŸ˜˜πŸŒΌ...


__ADS_2