100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 38. Nyonya Baru Dani


__ADS_3

Pesawat landing dengan mulus. Rania dan dua putranya menapaki Jakarta. Ia melihat ke sekeliling bandara, ada sisa kenangan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Berharap nasibnya berubah setelah menikah. Berharap mampu menaklukkan ke ibu kota. Namun yang tersisa adalah puing-puing penyesalan akan gagalnya kehidupan.


Ia berjalan menuju koridor kedatangan penumpang. Berdiri ditempat pengambilan barang. Menunggu giliran kopernya muncul.


"Rania, jadi pulang hari ini...?"


sebuah pesan masuk ke ponsel Rania. 'Dani'


Ia memutuskan mengabaikan pesan tersebut. Baru pulang, baru saja semangat, ia tak ingin suasana hatinya berubah karena Dani.


Setelah berhasil mengambil koper, Rania memesan Taxi bandara dan segera meluncur menuju Paviliunnya.


Azka dan Zidan menikmati suasana Paviliun yang ramai oleh anak-anak dari pekerja lainnya, sementara Rania sibuk membereskan rumah. Ranjangnya begitu kecil, hanya berukuran 120cm. Ia menyadari bahwa ranjang itu tak muat untuk tidur bertiga. Anak-anak masih dalam proses pertumbuhan, mereka sangat aktif, meskipun saat tidur.


Rania melihat saldo tabungannya yang semakin menipis. Sebagai karyawan kontrak, ia tak dibayar jika tidak bekerja. Maka ia mengurungkan diri untuk membeli perabotan rumah tangga.


Malam menggulung dingin. Kasur tanpa ranjang sedikit menghangatkan tubuh Azka dan Zidan. Selimut tipis menutupi dingin yang menjalar ditubuh. Rania merelakan diri tidur diatas karpet tipis. Baginya, yang terpenting adalah kenyamanan anak-anaknya.


***


Rania memulai hari dengan mantap. Tak perlu terlalu memikirkan masalah ekonomi. Sebab itu berkaitan dengan rejeki. Jalani saja kehidupan ini seperti air mengalir. Dimana celah, ia akan mengalir menuju arah pintu rejeki dibuka.


Kehidupan awal menjadi singgle mom, tentu tidak mudah. Ia harus bangun lebih awal, menyiapkan Azka dan Zidan untuk dititipkan di penitipan anak sekaligus TK. Siang hari saat istirahat jam makan siang, Rania harus bergegas menuju sekolah untuk menyuapi Zidan. Meskipun di penitipan anak telah tersedia fasilitas pengasuh yang akan menyuapi setiap anak, namun, Rania memilih untuk menghabiskan jam istirahat siangnya untuk mengasuh Zidan dan Azka. Bukan tanpa alasan, ia tak ingin anaknya merasakan kurang kasih sayang darinya.


Menjelang petang, Rania akan menjemput Azka dan Zidan. Lebih bekerja tak membuatnya melepaskan diri dari pengasuhan. Rania menyempatkan diri untuk sekedar bersenda gurau dengan anak-anak.


***


Suara pintu diketuk...


Zidan menghambur menuju pintu dan membukanya.


"Papa...papa...."


"Dani datang...tidak sendiri" gumam Rania.


Anak-anak sangat antusias menyambut papanya yang membawa banyak makanan dan mainan. Rania terdiam mematung di sudut ruangan. Saling diam dan tak menyapa.


Perempuan bertubuh semampai, berkulit sawo matang dan bermata sipit duduk dilantai. Rania tak memiliki sofa tentunya. Meskipun dari jarak yang tidak dekat, namun sebagai perempuan yang telah menjadi ibu, Rania mengetahui bahwa perempuan yang ada di hadapannya tengah hamil.


Perempuan itu menunjukkan sikap dingin. Bahkan tidak mencoba memperkenalkan dirinya pada Rania. Sedangkan Dani larut dalam permainan anak-anaknya.


Rania membiarkan suasana dingin diantara keduanya berlangsung. Hingga Dani sendiri yang menyadari bahwa ada ketegangan yang tercipta dari kedua Perempuan yang mengisi hati Dani.


"hmmm Rania...perkenalkan ini Delita"


Ucap Dani terlihat gugup


Rania hanya menyunggingkan senyum tipis. Meski telah merasa mantap hidup sendiri, tenyata melepaskan itu tak mudah.


Benar apa yang ditakutkannya. Tatapan mata Rania dan Dani seolah diawasi oleh perempuan yang dikenalkan sebagi Delita.


Tidak ada perkenalan setelah basa-basi Dani mengenalkan Delita. Rania memalingkan wajah dan berusaha fokus melihat permainan anaknya.

__ADS_1


Perempuan bernama Delita duduk gelisah sambil memegangi perutnya. Ada perasaan jijik yang mulai menjalar dipikiran Rania.


"Apa kamu lakukan, sengaja biar aku tau bahwa kamu sedang hamil?! Menjadi pelakor saja bangga?"


Gumam Rania dalam hati.


Perempuan itu mulai melirik Rania. Perempuan yang telah menjadi mantan suaminya. Namun, melihat suaminya sangat dekat dengan anak-anak, Delita seperti cemburu, ia mulai banyak mengeluh pada Dani tentang kondisinya.


"Mas, disini panas..."


"Mas, aku tidak nyaman disini..."


Rania yang mendengar keluhan perempuan bernama Delita ini mulai tak sabar.


"Apa kamu tidak lihat, anak-anakku masih bermain dengan papanya?!"


Alih-alih memperkenalkan diri. Kalimat yang pertama meluncur dari mulut Rania adalah kalimat teguran.


Delita tak menggubris teguran Rania. Ia hanya melirik Rania dengan sebelah matanya yang membuat Rania semakin geram.


"Tidak sopan!"


Desah Rania.


Dani menjadi tidak enak hati dengan perilaku Delita.


"Delita, bisakah kamu menahan diri. Bukankah kita telah sepakat untuk datang kesini bersama. Inilah aku yang perlu kamu tau".


Ucap Dani pada Delita.


Rania mulai kehilangan kontrol dirinya.


"Aku tidak menginginkan pernikahan dengan pria beristri ataupun duda!"


Jawab Delita ketus.


"huh tidak mau. Tapi bermain api!"


Ucap Rania mulai merasa geram.


"Dengar ya mba...saya tidak tau kalau mas Dani ini telah menikah dan memiliki anak!"


"Kamu tidak tau atau tak mau tau mba Delita?!".


Rania bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Delita.


"Dani mengaku bujang!"


"Dan anda mengijinkan seorang pembohong memperdaya kebodohan anda. Jika anda seorang yang cerdas, tentu akan mencari tau kebenaran sebelum memberikan tubuh anda. Ingat, PSK saja masih melakukan negosiasi harga, mengapa anda dengan mudah menawarkan cuma-cuma?!"


Delita bangkit dan menampar Rania.


Rania tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ini kandang saya. Cari mati anda disini"


Perkelahian pun tak bisa dihindari dari dua perempuan layaknya sedang berada di ring tinju gaya bebas. Dani mencoba melerai, nahas tak berdaya. Azka berinisiatif untuk keluar rumah, memanggil tetangga, dan segera paviliun yang ukurannya tak besar itu dipenuhi tetangga kompleks paviliun.


"dasar pelakor!"


Teriak Rania


Delita membalas dengan berteriak


"Aku bukan pelakor seperti yang kamu tuduhkan!"


"Jika bukan pelakor, lalu apa?, Pelacur?!"


Dan keduanya kembali mencoba berkelahi, meski dua satpam bertubuh besar mencoba melerai.


Rania mendapatkan noda merah di pipi tanda tamparan. Sedangkan Delita mengalami luka cakar dan tendangan. Dani, jangan tanya. Ia tertunduk menyesali keputusannya membawa Delita untuk bertemu dengan Rania.


Dani menyeret Delita keluar. Namun, rupanya Delita belum puas. Ia berseru pada Rania.


"Kami akan menikah Minggu depan. Pastikan kamu hadir menyaksikan kebahagiaan kami!"


Teriak Delita sebelum masuk kedalam mobil.


Ucapan terakhir Delita bak petir yang menyambar hati. Rasanya ia ingin merobek mulut Perempuan yang tak memiliki naluri. Bagaimana jika nanti ia di posisi Rania. Menjadi orang yang terbuang dan sedang berusaha untuk bangkit sendirian.


***


Terluka lagi?


Ya, Rania terluka lagi.


Namun ia belajar menjadi diri sendiri.


Jika suka ia akan lakukan


Jika tak suka ia akan melawan.


Baginya,


Kita harus memiliki ambang toleran.


Ambang diam, ambang sabar.


Karena jika hanya diam ketika di sakiti, maka akan membuat pelaku ketagihan untuk menyakiti.


Baginya,


Jika ia dalam posisi yang benar,


maka, hadapi, lawan dan perjuangkan harga diri. Agar orang tak semena-mena terhadap diri kita.


Bersambung....

__ADS_1


...Di part berikutnya akan lebih menguras emosi....


...Terimakasih untuk para readers yang setia membaca ya...jangan lupa luangkan jempolnya untuk klik like dan comment ya😍😊🙏...


__ADS_2