100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Menanggung Dosa...


__ADS_3

Fika berjalan lunglai menyusuri jalanan kota. Hujan mulai turun mengguyur, ia tetap berjalan seperti tak tau arah. Rumah bukanlah menjadi tempat yang nyaman untuknya.


Fika sadar bahwa ia pada ruang yang salah dan menanggung dosa, meski ia tak bersalah.


Drrrttt....ponsel berdering. Sebuah pesan masuk. Kali ini dari sang ayah. Pesan yang sangat singkat, karena Dani telah lumpuh, tangannya tidak dapat digerakkan dengan sempurna.


"pulang".


isi pesan itu. Fika terperanjat. Sudah lebih dari sepuluh jam ia tertidur disebuah ranjang milik sahabatnya.


Sekejap ia teringat apa yang terjadi tadi pagi. Rasa sakit itu lebih dari saat harus menerima kenyataan bahwa ia gagal menikah dengan kekasihnya.


"Ka, apakah aku pernah melakukan kesalahan fatal, sehingga aku dipecat dengan tidak hormat?!".


Azka hanya memalingkan wajah dengan dingin.


"Jangan lari menyangkal dari kenyataan yang ada, Ka. Aku dan kamu sama-sama menjadi korban dari konflik orang tua kita. Tolong jangan hukum aku atas kesalahan yang tidak aku buat!".


Ucap Fika memelas. Ia mencoba mendekati laki-laki berperawakan 180cm itu.


"Kamu tau apa Fika. Kamu tidak tau apa-apa tentang arti dari korban. Luka seorang anak yang kehilangan sosok seorang ayah. Luka yang tak ada kesempatan lagi untuk mengobatinya, sebab luka baru muncul kembali". Ucap Azka lirih, dingin namun dalam.


"Aku minta maaf, Ka!".


"Buat apa?, kamu bilang kamu tidak bersalah bukan?!" sanggah Azka dengan nada mulai meninggi.


"lalu ...lalu aku harus apa supaya kamu puas dan bisa memaafkan aku?!"


"Pergilah. Menjauh dariku. Menjauh dari hidupku!". Ucap Azka dengan nada dingin. Kemudian berlalu dari hadapan Fika.


Sesaat Fika mematung. Tak percaya dengan perubahan drastis sikap Azka. Ia tentu tak mengerti seperti apa luka hati seorang Azka. Ia hanya mengenal Azka sebagai sosok pimpinan dan kekasih yang selalu santun pada siapapun, sekalipun itu hanya bawahannya.


"Azka....!!!".


Fika berlari mengejar Azka. Memeluk punggung laki-laki itu. Berharap hatinya akan luluh dengan pelukan. Bukankah ia selalu minta pelukan ini saat hatinya kecewa ketika tak kala menemui jalan buntu mencari keberadaan ayahnya.

__ADS_1


Fika sadar diri bahwa ia tak lagi pantas berada di tempat ini. Namun, ia masih merasa pantas berada di hati Azka.


"Azka. Aku bukan orang lain untukmu. Aku yang pernah kamu cintai. Begitu juga aku, masih sangat mencintai kamu!"


"Pergilah Fika. Kau akan menderita jika masih memaksakan diri bersamaku. Aku tak akan pernah mencintai kamu, tidak juga menganggap mu sebagai adik. Bagiku, kau dan ibumu adalah pencuri. Pencuri kebahagiaan aku dan ibuku!!".


Azka menghempaskan tangannya dengan kasar. Berjalan dengan cepat dan berlalu meninggalkan Fika yang mematung dengan segala rasa bersalah atas dosa yang tidak ia buat sama sekali.


Mengingat itu, ia hanya mampu menghela nafas berat. Menutup mata dannmwncoba menerima keadaan. Menangis sepertinya tak ada guna lagi. Ini takdir yang mau tidak mau harus ia hadapi.


"Lo dah bangun Fik. Gue kira lu ga bangun lagi!" Ucap Nadia, sahabatnya dengan nada bergurau.


Fika terhenyak dari lamunannya. Diliriknya jam dinding yang terpajang di belakang kamar kos berukuran 3x4 meter persegi itu. Pukul 20.00 WIB. Cukup lama ia tertidur.


Fika hanya mengucek mata. Sebuah mangkok dengan aroma mie instan tersaji disamping ranjang.


"punya siapa nih?" Tanya Fika basa basi menunjuk pada mangkok mie disamping ranjang.


"Lo gak mau makan?!" Gerutu Nadia.


Fika mengangguk. " Gue laper Nad...


"Lo harus pulang Fik. Lo harus siap menghadapi kenyataan. Mungkin sekarang Lo terpuruk. Tapi, gue yakin, Lo gak selemah yang gue lihat sekarang ini!"


Ucap Nadia. Sahabatnya yang selalu setia disampingnya. Sahabat yang pertama kali ditemui Fika saat baru pindah ke ibu kota.


"Gue bingung Nad. kenapa hidup gue hancur gini. Baru aja gue mimpi hidup gue kayak fairy tale, Cinderella yang berhasil menemukan pangerannya. Tapi, nyatanya gue bukan si Cinderella itu, melainkan sodara tirinya Cinderella, huftttt!". Ucap Fika sambil membuang nafas dengan kasar.


"Fik. Ga ada yang mau jadi peran antagonis. Semua juga pengen jadi orang yang baik. Dan menurut gue, itu pilihan!"


Ucap Nadia. Diam sesaat.


"Lo memang ditakdirkan jadi sodara tiri si Cinderella, Fik. Tapi, Lo kan gak harus jahat!. Justru Lo yang harus bisa menyatukan dua keluarga yang berseteru ini. Lo yang harus bisa menyadarkan ibu Lo. Dan satu lagi, lo buktikan sama Azka, bahwa Lo bisa jadi adik yang baik!"


Fika dan Nadia saling berpandangan.

__ADS_1


"Lo kadang-kadang bijak juga ya Nad. Btw Lo berperan jadi siapa sih di film Cinderella?!"


Ledek Fika dengan perasaan lega. Ia merasa berada di tempat yang tepat dan bercerita.


###


Fika pulang ke rumah. Menemui ayahnya yang duduk dengan gusar di kursi rodanya.


".....fi....a..." ucap Dani dengan sulit. Ia tak bisa berbicara dengan utuh.


Perasaan Fika campur aduk melihat ayahnya yang sangat mengkhawatirkan.


Fika datang menemui ayahnya, dan duduk didepan kursi roda.


"Ayah. Kenapa ayah duduk disini. Sudah malam yah..."


Ucap Fika terbata-bata. Ia nyaris tak bisa membendung air matanya.


Dhani tersenyum. Namun disudut matanya tak bisa berdusta. Buliran air mata mengalir. Fika baru menyadari, bahwa sang ayah sangat mengkhawatirkannya. Bahwa ia kurang mensyukuri anugerah Tuhan, berupa ayah yang selalu peduli padanya. Ayah yang diperebutkan oleh Azka dan dirinya!


Fika mendorong kursi roda sang ayah menuju ruang tengah rumahnya. Dimana Ayah Dani senang menghabiskan waktu dengan menonton televisi disana.


"Fi...ayah ma..u te...mu, ka..Ka..."


Tiba-tiba Dani berusaha berbicara pada Fika. Meski terbata-bata, Fika sangat paham dengan maksud perkataan ayahnya.


Fika terdiam sejenak. Dani menitikkan air mata lagi. Terlihat bahagia bahwa ia sangat menginginkan Fika mengabulkan permintaannya itu.


"Fi....". Panggil sang ayah yang membuyarkan lamunan Fika. Ia tak sanggup memberi alasan. Bagaimana ia menjelaskan pada ayahnya bahwa tadi siang ia telah diusir oleh anak kandung ayahnya itu.


Tapi, menolak permintaan ayahnya pun itu tak mungkin. Sejenak ia berpikir, bahwa Azka telah lama mencari keberadaan sang ayah kandung. Tentu ia tak akan menolak jika sang ayah menemui dirinya. Sebuah harapan bahwa dengan kedatangan ayahnya nanti, hati Azka akan luluh.


"Iya yah. Fika hubungi mas Azka dulu ya yah. Insyaallah kita akan ketemu mas Azka besok". Jawaban Fika membuat haru sang ayah. Binar bahagia terpancar dari bola mata Dani.


Fika dikurung kegundahan. Beberapa kali ia mengirimkan pesan pada Azka mengenai niat sang ayah yang ingin menemui dirinya. Namun nihil. WhatsApp nya tak bisa lagi dihubungi, begitu juga telpon selulernya. Bukan handphone Azka yang tidak aktif. Fika sadar bahwa nomer selulernya lah yang telah di blokir oleh Azka.

__ADS_1


Akankah Fika mampu memenuhi permintaan ayahnya untuk bertemu Azka????


Bersambung...


__ADS_2