100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Ibu Masa Depan untuk Aisyah (Pahlawan Devisa) Bagian 1


__ADS_3

Namanya Sarah. Usianya menginjak 19 tahun ketika ia harus berjuang menjadi TKI ilegal di negeri Jiran Malaysia. Ia meninggalkan tanah kelahiran dan putri semata wayangnya, Syifa, yang saat itu baru berusia satu tahun.


Didalam kapal boat ikan yang mengangkutnya, ia berkali-kali harus memompa ***********, karena air susu yang terus mengalir deras. Rasa rindu anak ia terus rasakan, manakala anak itu sering sakit-sakitan.


"Kamu saja yang berangkat ke Malaysia. Perempuan itu lebih banyak dibutuhkan. Biar cepat dapat uang. Kasihan anakmu, bisa kurang gizi nanti kalau ga punya uang, biar aku yang mengurus anakmu ini!"


Masih terngiang olehnya, ucapan sang suami yang memaksanya bekerja menjadi buruh migran. Bertaruh nasib, mengejar peruntungan hanya demi kehidupan yang lebih baik. Sebenarnya Sarah enggan untuk menuruti kemauan suaminya. Menurutnya, ia ingin selalu bersama suami dan anaknya. Ia harap suaminya ikut serta, sebab semenjak lahir hingga menikah, baru kali pertama bagi Sarah menempuh jarak ribuan kilometer dari rumahnya.


"Mengapa bukan mas saja yang bekerja, biar aku yang mengurus anak kita!"


Ucap Sarah dengan nada keras, sebab ia merasa selama ini selalu dijadikan tulang punggung oleh suaminya.


Sarah dipaksa untuk bekerja sebagai buruh cuci, kemudian pembantu rumah tangga disebuah komplek perumahan.


Sarah yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama, tidak bisa mengandalkan ijasahnya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Sedangkan sang suami, hanya bekerja serabutan, yang terkadang lebih banyak diam menganggur di rumah, atau nongkrong bersama teman-temannya.


Sedangkan Sarah, semenjak menikah di usia 16 Tahun dan melahirkan seorang bayi di usia 18 tahun, terpaksa bekerja apa saja, hanya demi memenuhi kebutuhan dapur dan anaknya.


Tak ada yang bisa Sarah lakukan selain menerima nasibnya, pertengkaran yang melelahkan hanya menghasilkan sakit yang berkepanjangan. Menikah diusia muda telah menjadi pilihannya sendiri. Ia tidak ingin menjadi beban orang tua dengan biaya pendidikan. Namun, kenyataannya, ia menanggung beban baru, dari keluarga yang coba ia bina.


***


Butuh waktu tiga hari untuk sampai ke negara tujuan dari pulau Batam. Bukan tanpa alasan, mereka tidak memiliki dokumen resmi untuk masuk ke negara orng lain, sehingga mereka harus beberapa kali transit di pulau untuk menghindari polisi air yang bertugas. Mereka baru bisa jalan di malam hari. Kapal yang mereka tumpangi pun merupakan kapal ikan, sehingga para penumpang ilegal, terpaksa ditutup dengan terpal. Pengap, panas dan minim oksigen.


Sesampainya di Malaysia. Sarah dan 20 perempuan yang bernasib sama dengannya ditampung di sebuah gudang. Rasanya tidak layak disebut rumah, karena mereka tidak memiliki fasilitas layaknya rumah. Disana ada 50 perempuan yang menjadi TKI ilegal lainnya. Bertaruh hidup, menunggu dijemput oleh seorang majikan yang membutuhkannya.


Sarah tidur diatas tikar kecil dan berjejer. Sering terdengar pertengkaran dari beberapa orang hanya hal sepele, seperti rebutan kakus dan juga berebut jatah makanan. Maklum 70 orang dijadikan dalam ruangan 10 x 10 meter dengan jumlah kakus hanya 3. Mereka memiliki jadwal untuk bergantian masak dan membersihkan tempat itu. Tak jarang mereka menahan lapar, karena minimnya pasokan makanan.


Dua bulan semenjak berada di penampungan PJTKI ilegal, akhirnya Saran mendapatkan majikan. Ia akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga dengan rumpun India.


Hari-hari pertama bekerja, sarah banyak melakukan kesalahan. Jika sudah begitu, Sarah akan menerima caci maki dan amukan dari majikannya.


Sebulan ia jalani tanpa ada hari libur. Ia terpaksa menerima sakit yang bertubi-tubi itu. Harapannya dulu ia mendapatkan majikan rumpun Melayu, namun kenyataannya, ia mendapat majikan yang berasal dari rumpun India dan kasar.


***


Suatu hari, Sarah mendapatkan tugas untuk membersihkan halaman depan. Ia memanfaatkan itu untuk bisa mengenal lingkungan sekitar, dan mencari jalan keluar untuk kabur.


Satu jam pertama, ia masih diperhatikan oleh majikan. Sarah terus mengukir waktu agar ia berada lebih lama diluar rumah. Ia kemudian meminta majikannya untuk mencarikan alat agar ia bisa membersihkan parit yang ada di depan rumah. dan sang majikan memenuhinya.


Aroma parit yang mengeluarkan bau tak sedap, membuat sang majikan beranjak meninggalkan Sarah sendirian diluar. Sarah yang sejak tadi memperhatikan sekitar, berhasil melihat dua orang tukang yang tengah merenovasi rumah dengan menggunakan bahasa Jawa yang Sarah mengerti.


Sarah kemudian memanggil dua orang tukang itu dan memberikan kode pada mereka. Rupanya mereka masih serumpun, yaitu rumpun Jawa Timur. Dua orang pria itu adalah adik kakak yang berasal dari Madiun Jawa Timur.


Sarah meminta tolong pada keduanya untuk membantu dirinya untuk bisa keluar dari rumah majikannya itu. Sarah sudah tidak kuat dengan segala perlakukan yang diberikan kepadanya.


Pada dua orang tukang itu Sarah jujur bahwa ia tidak menggunakan paspor atau permit untuk masuk ke Malaysia dan bekerja.


Dua orang tukang itu akhirnya menyanggupi untuk membantu Sarah keluar dari rumah itu. Mereka menyuruh Sarah untuk mempersiapkan diri. Lusa petang, mereka akan menjemput Sarah dengan sepeda motor tanpa plat dan menyiapkan penyamaran. Mereka juga akan menyiapkan Sarah tempat tinggal sementara.


Serumpun akan saling membantu!


***


Tepat di hari yang telah dijanjikan, Sarah yang sengaja menumpuk sampah, meminta ijin kepada majikan untuk membuang sampah keluar rumah. Sarah juga membunuh dua ekor tikus, sehingga aroma sampah itu semakin bau. Sang majikan tanpa curiga, menyuruh Sarah membuang sampah itu agak jauh dari rumah mereka, yaitu di bak sampah di ujung kompleks perumahan. Itu adalah kesempatan emas untuk Sarah.


Sarah membalut beberapa helai pakaian dan disatukan dengan sampah, seolah pakaian itu adalah sampah!

__ADS_1


Dengan bantuan Kaka beradik itu Sarah kemudian bisa kabur tanpa bisa dikejar oleh sang majikan.


Kisah seperti Sarah, merupakan kisah yang sering terjadi pada para TKI ilegal. Mereka diambil, dipekerjakan, diperlakukan semena-mena oleh majikan yang membawa mereka. Jika kemudian mereka hilang, maka tidak akan ada orang yang akan mencari mereka. Sang majikan pun akan mencari korban baru untuk dijadikan budaknya.


Sarah menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban human travicking, atau perdagangan manusia. Selama berbulan-bulan bekerja, ia tidak mendapatkan upah dari majikannya. Ia selalu mendengar majikannya mengatakan,


मैंने तुम्हें खरीदा है


mainne tumhen khareeda hai


yang artinya aku telah membeli kamu!


Artinya, Sarah telah dibeli oleh sang majikan!


***


Sarah merasa beruntung bisa keluar dari majikannya itu. Kalau tidak, mungkin ia akan mati karena kekejaman sang majikan.


Sarah kemudian ditampung di sebuah rumah kost di kawasan Johor. Semua kebutuhannya ditanggung oleh Antan dan Hamid, kakak beradik yang menolongnya. Antan dan Hamid telah tinggal dan bermukim lama di Malaysia. Sekitar 10 tahun lebih. Bahkan keduanya telah menikah dan memiliki anak di Malaysia. Sama seperti Sarah, dulu mereka juga masuk dengan cara ilegal. Keduanya menjadi buruh borongan bangunan untuk seorang bos keturunan Thionghoa.


Sepekan berada di kos, Sarah akhirnya memberanikan diri untuk keluar rumah dan mencari pekerjaan. Dengan dibantu para tetangga yang juga berstatus sama menjadi TKI, Sarah akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai tukang masak untuk sebuah rumah makan khas Melayu.


Rumah makan ini menyajikan berbagai macam sajian khas Melayu, diantaranya Alam Balik, Nasi Kerabu, Ayam Percik, Nasi Lemak, dan Roti Jhon, yaitu roti panjang isi yang dilengkapi dengan daging asap, telur, mayones, saus tomat, keju, selada, dan saus cabai.


Hanya butuh waktu satu bulan untuk Sarah belajar mengolah racikan menu khas Malaysia itu. Selebihnya, ia mampu mengolah berbagai macam menu sendirian!


Cara kerja Sarah yang bagus dan Oalahan makanan yang sesuai lidah Melayu, membuat Sarah dipercaya oleh bosnya untuk menjadi kepala bagian dapur.


Penghasilan yang didapat Sarah cukup besar bahkan ia sudah mampu mengembalikan uang bantuan yang diberikan oleh Hamid untuk membayar sewa kos dan makan sehari-hari saat Sarah baru saja kabur dari rumah majikan lamanya.


Sarah menikmati hasil kerjanya. Ia bersemangat menabung agar bisa kembali ke Indonesia secara resmi. Keadaan di kapal ikan yang mengangkutnya, menjadikannya trauma dan enggan untuk kembali dengan cara ilegal.


***


Itu sebabnya, Sarah tidak tergoda ketika teman-teman TKI mengajaknya liburan dan shoping. Baginya itu terlalu menghamburkan uang.


Hanya dalam waktu dua tahun, Sarah mampu mengurus legalitasnya dan kembali ke Indonesia.


Rindu telah memuncak. Ia sangat ingin melihat wajah anaknya yang kini pasti berusia 3 tahun. Ia membeli beberapa potong pakaian untuk diberikan pada anaknya, suaminya dan orang tua Sarah. Ia juga menyimpan beberapa dolar untuk dijadikan modal usaha. Ia akan. berjualan makanan khas Melayu di kampung nanti. Meskipun hasilnya tidak seberapa, asalkan ia bisa melihat tumbuh kembang anaknya.


Melalui tetangganya di Kampung, Sarah mengabari keluarganya bahwa ia akan segera pulang dalam waktu dekat. Sang ayah terdengar menangis haru dan bahagia. Ayahnya akan menjemputnya di Bandara, namun Sarah menolak, ia tidak ingin merepotkan ayahnya.


Sarah banyak bertanya pada TKI yang sebelumnya pernah pulang ke Indonesia dan kembali lagi ke Malaysia. Ia menanyakan bagaimana cara boarding di Bandara dan kendaraan untuk menuju ke daerah asalnya di Malang. Untunglah, para TKI disana telah menganggap Sarah layaknya saudara mereka sendiri. Sehingga ada teman yang menghubungi travel di Malang untuk menjemput Sarah di bandara, dan ada yang bahkan mengantarkan Sarah ke bandara hingga boarding.


***


Sarah terbang untuk pertama kalinya untuk pulang ke Indonesia.


Hatinya berdegup kencang, ia sangat merindukan sosok suaminya. Seorang yang mendekatinya sejak Sarah masih duduk dibangku kelas 8 SMP. Laki-laki bernama Anjar sangat romantis. Ia selalu mengantar jemput Sarah dan memberikan Sarah hadiah. Anjar hanya lulusan Sekolah Dasar. Saat itu, Anjar telah bekerja sebagai buruh angkut pasir. Anjar memberanikan diri untuk melamar Sarah ketika Sarah kelas 9. Dan melangsungkan pernikahan setahun setelah Sarah lulus SMP.


Meskipun manisnya pernikahan hanya bisa ia rasakan setahun saja, karena setelah itu, Anjar berubah menjadi sosok laki-laki pemalas, hobi nongkrong dan banyak gaya. Entahlah, justru Anjar menuntut Sarah membantunya bekerja, menjadikannya TKI ilegal. Sarah sangat berharap Anjar bisa berubah, demi kelangsungan rumah tangga mereka.


Mobil travel yang ditumpangi Sarah telah sampai disebuah rumah reot berdindingkan semi permanen. Rumah ini adalah rumah mertua Sarah. Rumah yang menaungi dirinya dan menjadikannya seorang ibu dari anak bernama Aisyah.


Sarah keluar dari mobil. Ayah Sarah ternyata telah menunggunya disana. Kemudian menghampiri Sarah dan memeluknya untuk waktu yang cukup lama. Tangis kerinduan seorang ayah pada anaknya tak mampu dibendung lagi.


Dibelakang sang ayah, ada Anjar yang tengah menggendong seorang anak berusia 3 tahun. Anjar memeluk erat Sarah. Namun anak kecil itu menangis dan menarik diri dari Sarah. Anak kecil itu tidak sadar bahwa yang tengah dirindukan oleh Sarah adalah dirinya.

__ADS_1


Sarah menangis ingin memeluk anak itu. Namun, sang anak justru bersembunyi di balik pelukan sang mertua. Sarah yang belum melepas penatnya, memilih menangis dan menumpahkan perasaannya di sebuah kursi tua yang menjadi satu-satunya harta yang paling berharga di rumah itu.


"Istirahatlah dulu. Anakmu cuma butuh waktu. Nanti juga dia dekat denganmu!"


Ucap Anjar pada Sarah. Kemudian Sarah pun menuruti kemauan suaminya. Ia masuk kedalam bilik kamar dan meletakkan pakaiannya diatas ranjang. Anjar mengikutinya dari belakang. Menutup dan kemudian mengunci pintu kamar.


"Aisyah kenapa tak ikut masuk?!"


Tanya Sarah yang berharap bisa segera dekat dengan anaknya. Berharap malam ini adalah malam untuk pertama kalinya sejak dua tahun tidak tidur bersama anaknya. Namun, sang suami rupanya ingin menguasainya lebih dulu. Anjar mengatakan lama tak melakukan hubungan badan dengan istrinya itu.


Sarah menurutinya. Anjar melucuti pakaian Sarah dengan kasar. Dari balik cahaya remang-remang ia mempertanyakan tentang suaminya yang tak pernah bersetubuh selama berpisah dengannya. Sedangkan apa yang Anjar lakukan tak lagi sama!


Menjelang subuh, Sarah telah terbiasa bangun dan menyiapkan menu masakan. Sungguh ia melihat dari yang serba tidak ada bahan makanan untuk dimasak.


"Sarah, aku minta uang untuk membeli sepeda motor. Sepertinya kita butuh sepeda motor agar mudah mengantarmu ke pasar dan mengajak anak kita jalan-jalan!"


Ucap Anjar tanpa basa-basi. Niat hati Sarah pun sama membeli sebuah sepeda motor agar mobilitasnya semakin mudah. Maklum l, mereka tinggal di desa yang sangat jauh dari jalan raya. Fasilitas angkutan kota sangat jarang ditempat itu.


Hari itu juga, Sarah membeli sebuah sepeda motor dengan uang cash. Anjar terlihat girang dan mencoba keliling kampung dengan sepeda motornya.


Sarah tak ingin berdiam diri terlalu lama. Ia merenovasi sedikit rumahnya dengan membuat teras dan beberapa kursi kayu.


Ia pun mulai membuka usahanya dibidang kuliner masakan Melayu. Setiap pagi, Anjar akan mengantar Sarah berbelanja. Kemudian, Anjar meminta ijin untuk bekerja sebagai tukang ojek antar jemput ibu-ibu ke pasar atau anak-anak yang berangkat ke sekolah. Beberapa ada yang minta diantar jemput ke pabrik. Lumayan, penghasilannya bisa untuk memenuhi jajan dan rokok untuk dirinya sendiri.


Sedangkan uang Sarah, digunakan untuk kebutuhan makan dan usaha warungnya.


***


Sepekan pertama berjualan, warungnya terasa sepi pembeli. Hanya beberapa orang yang memesan kopi dan duduk berlama-lama menggunakan fasilitas WiFi yang sengaja disediakan Sarah.


Sebulan berjalan. Keuangan semakin tipis. Anjar lebih banyak menggunakan sepeda motor hanya untuk nongkrong bersama teman-temannya. Ia mulai memodifikasi sepeda motor menjadi tidak karuan.


Pertengkaran-pertengkaran mulai terjadi lagi. Tak kala Anjar menyuruh Sarah kembali ke perantauan untuk mengumpulkan lebih banyak uang.


"Kamu itu sudah enak di Malaysia. Tinggal kirim uang aja biar anak kita itu bisa hidup senang seperti anak-anak lainnya. Gak usah mikir pulang sebelum tabungan kamu banyak!"


Ucap Anjar saat bertengkar.


"Kamu menuntut ku untuk mencari nafkah untuk anak dan keluarga. Lantas apa guna kamu sebagai kepala rumah tangga, jika aku yang harus banting tulang jauh dari keluarga?. Hasilnya kamu yang gunakan, bahkan sepeda motor yang aku beli, malah kamu gunakan untuk dirimu sendiri. Aku mengantar Aisyah ke sekolah saja harus jalan kaki!!!"


Ucap Sarah yang sudah tidak mampu membendung emosinya.


"Jadi kamu gak rela aku pakai sepeda motor itu!!!!"


Anjar kemudian mengambil sepeda motor yang dibeli kemudian membantingnya dihadapan Sarah. Kaca spion motor itu sampai rusak!!


***


Keadaan serasa tak bisa ditawar. Modal Sarah habis. Tabungan menipis. Padahal ia baru saja menikmati waktu bersama buah hatinya. Mengantarkan Aisyah sekolah di PAUD dan menjadi ibu yang utuh bersamanya.


Tak bisa dipertahankan lagi. Ekonomi Morat Marit dan suami yang tidak pernah bisa berubah, membuat Sarah mau tak mau harus mengambil sebuah keputusan berat. Demi kelangsungan sebuah keluarga, ia terpaksa kembali ke Malaysia untuk kedua kalinya.


Aisyah melepas Sarah dengan tangisan pilu. Bocah itu enggan melepaskan tangan Sarah. Ia mencoba mempertahankan ibunya. Namun, beban hidup yang dijalani di kampung halaman membuat Sarah mengesampingkan perasaannya.


Sarah melangkah, menjauh dan meninggalkan kehidupan sebagai seorang istri dan ibu. Kembali mempertaruhkan hidup, demi secercah harapan....


***

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2