100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 9 Terusir Kedua Kalinya


__ADS_3

Rania beranjak dari rumah Bimo. Ia pulang dengan membawa kekecewaan yang begitu dalam. Ia tak diizinkan masuk kedalam rumah Bimo. Padahal ia hanya ingin bertemu anak-anak nya. Namun nyatanya, Rania hanya berhasil bertemu Azka, sedangkan Zidan terkurung. 


Ia turun dari sebuah ojek online. Betapa terkejutnya ketika ia mendapati pagar rumah dalam keadaan digembok. Ia juga mendapati barang-barangnya berada di luar pagar.


"Astaghfirullah...apa lagi ini?" Gumamnya. 


"Bu...Bu….Bu Rania …" seseorang memanggil Rania. Rupaya Pak Darsono, tetangga sebelah rumah. 


"Maaf Bu, tadi ada beberapa orang mengeluarkan barang-barang ibu. Tadinya saya pikir pencuri, ternyata suruhan Pak Dani Bu". Ucap Pak Darsono terbata-bata. Sepertinya ia juga tidak enak hati menyampaikan berita ini kepada ku. 


Aku tercengang tak percaya. Tak percaya bahwa Dani ternyata sekejam itu. Rania terduduk di tanah sambil berurai air mata. Ia tak tahu lagi harus tinggal dimana. Ingin pergi pun bagaimana, bagaimana jika anak-anaknya mencarinya. 


"Bu Rania, ayo ikut saya, kebetulan di belakang perumahan ini, ada sebuah kontrakan. Saya memikirkan ini sedari tadi, Bu". Ucap pak Darsono. Sepertinya pak Darsono sangat mengkhawatirkan kondisi Rania. Pak Darsono adalah seorang pensiunan TNI. Uang hasil pensiunannya ia investasi kan untuk membangun sebuah rumah kontrakan petak di belakang komplek perumahan. 


Rania mengangguk menuruti pak Darsono. Ia tak punya pilihan lain selain mengontrak di sebuah rumah diluar kompleks perumahan ini. Bagaimanapun dananya tidak cukup untuk menyewa rumah di dalam area kompleks. 


Rumah kontrakan ini tak begitu besar. Tapi cukup lumayan bila dihuni hanya Rania dan anak-anaknya. Uang sewanya dibayar bulan. Lima ratus ribu rupiah perbulan. Uang yang cukup besar bagi Rania saat ini. Tapi, kehidupan harus terus berlanjut. Ia tak mungkin mencari kontrakan yang jauh dari kompleks perumahan. Ia ingin Azka bisa mengakses rumah lama yang dihuni papa nya, dan sekolah TK. 


Sudah lebih dari tujuh hari Rania tak mendapat kabar apapun dari Dani. Rumahnya pun kosong. Salah seorang satpam di rumah Dani mengatakan bahwa majikannya akan kembali dalam beberapa hari lagi. Rania melihat bahwa di rumah itu telah ada pembantu. Selama Rania tinggal disana, tak pernah sekalipun ibu mertuanya mengijinkan ada pembantu di rumah itu. Ya… Rania lah sang pembantu tanpa bayaran, yang harus membersihkan rumah 2 lantai itu sendirian. 


"Mas, kapan anak-anak bisa kembali ke rumahku" . Rania mencoba menghubungi Dani melalui pesan singkat.


"Memang kamu sekarang punya rumah?!" Rania terkejut dengan pertanyaan Dani. Rupanya Dani merasa puas sejak berhasil menyingkirkan Rania dari rumah gudangnya itu. 


Ketika pengusiran pertama. Dani mengijinkan Rania untuk tinggal di gudang elektronik miliknya hanya karena kasihan dengan anak-anak. Tapi setiap hari ibu Nani selalu melayangkan protes pada Dani. Bu Nani tidak terima jika Rania masih enak-enakan tinggal dan di biayai oleh Dani. Bu Nani sadar, jika anak-anak masih dalam asuhan Rania, Dani akan selalu memberikan uangnya pada Rania dan akan selalu mengkhawatirkan anak-anak. Maka, Ia akhirnya menghasut Dani untuk memisahkan Rania dengan anak-anaknya dan mengusirnya dari rumah gudang. Bu Nani sangat berharap, Rania bisa jauh dari anak-anaknya dan Rania, tak bisa lagi mengambil nafkah dari Dani. 

__ADS_1


"Mas, aku tau maksud pengusiran kedua ini. Kamu ingin menjauhkan aku dari anak-anak, iya kan mas?!" Balas Rania berapi-api melalui pesan singkat. 


"Rania, aku gak rela anak-anak kamu bawa hidup susah!, Lebih baik mereka dalam pengasuhan keluargaku, kamu urus saja hidupmu sendiri, supaya gak susah!"


Ucap Dani. 


Meskipun hanya melalui pesan singkat, namun kata-kata dari terasa sangat menusuk hati Rania. Ia baru sadar bahwa selama ini ia tidak sedang menikah dengan manusia. Melainkan dengan iblis!


Rania meratapi kehidupannya saat ini. Ia masih memiliki suami, namun tak dinafkahi baik secara lahir maupun batin. Kini, ia juga harus menanggung beban rindu karena ia mulai dijauhkan dari anak-anaknya. 


Hari-hari Rania jalani dengan berat. Kini ia harus menyisihkan uang untuk dua hal besar, yaitu membayar kontrakan dan juga cicilan hutang DP Rumah Sakit. Berat, pertarungan antara ekonomi dan kewarasan psikologis Rania. 


"Assalamualaikum, Bu Rania. Maaf kapan ya mau bayar cicilan bulan April. Ini sudah lewat lima hari loh!". Sebuah pesan dari Bu Sari mengejutkan lamunan Rania. 


"Maaf Bu, saya baru punya uang dua ratus ribu. Ada laundry yang belum diambil, Bu. Saya mohon menunggu dua hari lagi". Jawab Rania juga melalui pesan singkat.


Deg….


Jantung Rania hampir saja berhenti. Enam ratus ribu rupiah cicilan setiap bulan selama delapan bulan. Hutang Rania tiga juta dengan cicilan enam ratus tiap bulannya, maka total Rania harus membayar empat juta delapan ratus ribu rupiah. Jumlah tersebut Bu Sari bilang harga tetangga. Karena pada orang lain, lebih dari itu. 


Rania berusaha mencari uang lebih giat lagi. Tak peduli siang ataupun malam, ia terus bekerja. Namun sayang, jumlahnya tak juga memenuhi cicilan bulan ini.


Dua hari kemudian …


Pintu rumah diketuk dengan keras.

__ADS_1


"Bu Rania ….Bu Rania…. Bu…."


Seseorang berteriak-teriak dari balik pintu.


"Astaghfirullah Bu Sari...ada apa?" Jawab Rania. Ia sangat terkejut bahwa yang mengetuk pintu tadi adalah Bu Sari. 


"Mana Bu, saya datang kesini untuk menagih cicilan bulan April!"


Ucap Bu Sari ketus.


"Maaf Bu, saya baru ada empat ratus ribu saja, bagaimana Bu?" Jawab Rania mengiba.


"Loh...loh...loh...gak bisa donk Bu!. Kita kan sudah sepakat bahwa cicilannya enam ratus ribu!" Bu Sari mencecar Rania. 


"Tapi, saya sudah berusaha Bu. Dan hanya ada empat ratus ribu". Rania terus mengiba.


"Bu Rania ...saya sudah sangat membantu Bu Rania. Minjem uang nya aja ngemis. Bayarnya susah!, Sini uang nya. Ingat ya bulan depan bayarnya delapan ratus ribu rupiah. Jangan kurang!". Bu Sari menarik uang yang dipegang Rania dengan kasar. Hatinya teramat sakit mendengar hinaan Bu Sari. Bukannya ia enggan membayar pas. Hanya saja, bulan ini Rania mendapat musibah pengusiran. Sehingga uang yang telah terkumpul untuk membayar cicilan, terpaksa ia bayarkan kontrakan. 


Hati Rania bertambah sakit. Manakala ia sadar bahwa sedari tadi, ada beribu mata ibu-ibu memandang sinis kejadian penagihan hutang. Rania menutup pintu dengan kasar dan menangis sejadi-jadinya.


Malam itu


Rania hampir tak mampu mengendalikan pikirannya. Ia seperti dipaksa mundur dari kehidupan yang nyatanya tak berpihak padanya. Ia bahkan Tuhan pun tak menginginkannya. Ia kehilangan tenaga. Sore tadi, sejak kejadian penagihan hutang, Rania menghabiskan tangisan pilu dibalik pintu. Ia tidak makan dan minum sejak tadi pagi. Lampu ruangan ia biarkan gelap. Rania terkurung di ruang gelap itu. Hanya cahaya remang dari sinar lampu milik tetangga.


Rania kehabisan energi, dehidrasi. Ia mulai berhalusinasi. Memikirkan hal-hal yang diluar nalar orang sehat. Mata Rania tertuju pada seutas tali tambang yang ia gunakan untuk menjemur pakaian laundry. Berkali-kali ia memikirkan, dan sepertinya ia siap dengan sebuah keputusan hidupnya,

__ADS_1


"Tuhan, aku sudah tak sanggup lagi…" gumam Rania.


__ADS_2