
Bu Nani belum sepekan berada di rumah Rania. baru dua malam saja. Tapi rasanya Rania sudah tidak merasa nyaman dengan keberadaannya. Jean yang terbiasa mesra layaknya suami idaman, tiba-tiba terbatasi ketika hendak mencumbu istrinya di dapur atau ketika di meja makan. Bahkan panggilan 'sayang' saja, canggung.
"Yah, kenapa Bu Nani tidak kita tempatkan di resto saja sih. kan disana sudah kita siapkan kamar khusus untuk tamu!"
Gerutu Rania saat baru saja selesai makan malam. Lagi dan lagi, Bu Nani berkomentar tentang dapur Pawon Rania yang banyak asap. Namanya juga Pawon ya pastinya ada asap dari bakaran kayu. Kalau tidak ada Pawon, maka rumah menjadi dingin dan lembab.
"Ma, jika mereka tamu biasa, pasti akan aku tempatkan di kamar tamu resto. Tapi mereka adalah neneknya anak-anak kita. Ingat Ma, meskipun berat untukmu melihat Bu Nani yang pernah menyakitimu, dia tetap mertuamu. Sekalipun kamu telah bercerai dengan Dani, tidak ada mantan mertua, sayang".
Ucap Jean dengan lembut. Bukan ia tak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Rania. Karena sejujurnya Jean merasakan hal yang sama. Akan tetapi, Jean harus mendidik istrinya tentang sebuah penghormatan pada orang yang menjadi kerabat dekat, dan terutama, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa mantan mertua itu tidak ada. Mertua akan tetap menjadi orang tua kita, meskipun kita telah berpisah dari anaknya.
Rania terdiam mendengar nasehat suaminya itu. Rania menyadari bahwa suaminya adalah 1 dari 1000 laki-laki tersambar di dunia ini. Ia mampu menjadi imam yang baik, sekaligus sahabat yang baik untuk Rania. Selama menjalani pernikahan, Rania, tak sekalipun Jean melontarkan kata-kata kasar, apalagi melukai Rania.
...Jean memang tidak sesukses Dani, namun ia sukses mencintai Rania. Hingga membuatnya bahagia...
***
"Rania, enak juga ya kamu tinggal di desa. Bisa berkebun begini".
Ucap Bu Nani di suatu pagi ketika Rania tengah sibuk membersihkan ilalang yang mengganggu tanaman sawi nya.
Rania hanya membalas dengan senyuman.
"Sayuran sebanyak ini, dihargai berapa, Ran?"
Bu Nani kembali menunjuk sebuah keranjang yang berisi sawi.
"oh itu...ada empat puluh ikat, berarti empat puluh ribu rupiah. Di pasar biasa dijual 2000/ikat"
Jawab Rania.
"wah...cuma dapat 40 ribu saja donk?"
Rania mulai tak enak hati. Seperti Bu Nani memprotes harga yang terlampau murah baginya.
"Terus, tiap hari memangnya cukup uang segitu?"
Bu Nani mulai mencecar dengan banyak pertanyaan.
"Alhamdulillah Bu. Selama ini kami selalu cukup. Tidak ada kekurangan. Toh masih ada hasil dari susu kambing perah, dari pabrik dan dari restoran. Apalagi restoran kami berkembang dengan homestay berkonsep kebun sayur Bu".
Rania mencoba bercerita panjang lebar.
"Empat puluh ribu per hari itu hanya dari sumber kebun sawi saja. Belum wortel, kentang dan seledri".
__ADS_1
Rania mencoba menjelaskan.
"Oh...ternyata banyak toh sumber penghasilannya"
Gumam bu Nani. Kemudian melanjutkan pembicaraannya.
"Rania, kalau kamu butuh uang, bilang saja sama Dani, atau kalau kamu malu, bilang saja sama ibu. hemmm gak usah malu lah, Dani kan Papanya anak-anak juga!".
Entah mengapa Rania tetap bisa mendengarnya dan merasa sakit karenanya. Sepertinya ia menyangsikan kemampuannya untuk menghasilkan uang.
"Bu, Rania telah bertahan hidup dengan anak-anak selama empat tahun tanpa nafkah dari Dani, Alhamdulillah kami sekeluarga tetap bisa makan, sekolah, dan bahagia. Tanpa kekurangan suatu apapun!"
Ucap Rania ketus. Baginya, Bu Nani sudah keterlaluan menyinggung masalah kemampuan.
***
Rania menangis sesenggukan di kandang kambing. Ia meninggalkan Bu Nani sendirian di halaman depan. Sedangkan Rania menyusul suaminya yang sedang membantu Pak Cipto memerah susu. Tak ayal, tangisan Rania membuat Jean bingung.
"Jangan dimasukkan ke hati. Mungkin maksud ibu baik. Dia tidak ingin kamu dan anak-anak merasa kekurangan hidupnya".
Ucap Jean mencoba menasehati.
"Terlambat, yah. Kenapa tidak dari dulu, saat aku tidak bekerja, atau bingung karena uang belanja sangat minim. Sedangkan anak ya foya-foya bersama perempuan lain?!"
Ucap Jean sambil melanjutkan aktivitasnya. Ia sadar bahwa perempuan itu seperti itu, butuh menangis untuk menghabiskan keluh kesah yang ada di hatinya. Setelah itu, ia hanya butuh bahu untuk bersandar dan tegar kembali.
***
"Rania..."
Bu Nani memanggil Rania yang tengah menata piring makan, untuk persiapan makan malam. Sedangkan Jean tengah memberi pakan ikan bersama Dani dan anak-anak. Hampir tak bisa dipercaya, Jean dan Dani bisa se-akrab itu, bagai seorang sahabat lama.
"Ya Bu..."
Rania menghampiri Bu Nani dengan perasaan tidak menentu. Ia takut kejadian pagi terulang lagi. Butuh waktu hampir dua jam untuk Rania menata hati, dan berhadapan lagi dengan Bu Nani.
Bu Nani terlihat memegang sebuah amplop cokelat.
"Rania. Lusa ibu dan Dani akan kembali ke Bogor. Kami telah memutuskan untuk tinggal di rumah lama kami".
Rania terhenyak. Antara bahagia, atau malah merasa kehilangan.
"Loh, Bu. Kenapa cepat-cepat pulang?"
__ADS_1
Tanya Rania. Namun ini bukan basa basi. Rania merasa antara kehilangan.
"Kami sudah sepekan disini, Ran. Dani juga sudah janjian dengan Bowo akan membuka usahanya lagi yang sempat jalan ditempat selama Dani di tahanan".
Rania terdiam.
"Ini ada sedikit tabungan ibu"
Rania terhenyak. Ia tidak menyangka bahwa yang didalam amplop itu adalah sejumlah uang.
"Bu...."
Rania belum selesai bicara namun telah dipotong oleh Bu Nani.
"Ambillah Rania. Bisa untuk tambahan modal usaha kebun atau ditabung untuk jaga-jaga kebutuhan anak-anak, dan ini kenang-kenangan dari ibu".
Bu Nani kembali menyodorkan kotak emas. Kamu juga boleh menjualnya ketika butuh.
Rania benar-benar tidak menyangka. Persepsi bahwa Bu Nani sangat membencinya dan mencari-cari kesalahannya adalah tidak benar adanya.
Rania memeluk erat Bu Nani .
"Maafkan Rania yang bersikap kurang menyenangkan Bu..."
Rania menangis tersedu-sedu diperlukan Bu Nani.
"Kamu tidak salah nak. Kesalahan ibu dimasa lalu membuatmu trauma dengan sikap ibu. Ibu belajar untuk menjadi lebih baik. Ibu ingin, di sisa waktu, bisa membahagiakan anak dan menantu. Kamu adalah anak ibu. Orang tua dari cucu-cucu ku. Aku tidak rela cucuku hidup susah. Maka aku tega berkata, mintalah, karena aku tau kamu tidak akan pernah mengatakan itu. Kamu begitu mandiri dan tidak pantang menyerah".
Kali ini Bu Nani pun menangis.
"Maafkan ibu dimasa lalu, Rania".
"Jangan berkata seperti itu, Bu"
Mereka berdua menangis dalam pelukan.
"Rania juga menyadari, belum bisa menjadi menantu yang ibu idam-idamkan. Dari ibu Rania belajar mandiri dan tidak mengusili pekerjaan suami. Insyaallah Rania bisa bu".
"Kamu begitu sempurna untukku, nak. Hidupmu yang sederhana ini. Tapi tidak membuat kamu membandingkan dan mengeluh tentang keadaan. Aku bangga Rania..."
Ucap Bu Nani dengan bahagia.
Bersambung ...
__ADS_1