
Hardi namanya, pria berkulit sawo matang dan bermata coklat itu datang sambil menggendong anaknya yang berusia kurang dari Lima tahun.
Hardi telah menunggu Rania sejak jam 07.00 pagi. Dengan sabar ia menunggu sambil menemani anaknya bermain. Sesekali anak itu terlihat rewel sambil mencoba melepas kerudungnya. Hardi kemudian membujuk anak perempuan itu untuk mengenakannya kembali.
Ia sengaja hadir paling pagi, supaya mendapat antrian awal. Sebab jika terlalu lama menunggu, ia tidak yakin sang anak akan bersabar menunggu ayahnya.
Hardi mendaftar untuk melakukan konsultasi perceraian. Wajah cerianya tiba-tiba berubah sendu ketika ia duduk dihadapan Rania. Hardi membiarkan anaknya bermain diatas karpet. Pria berusia tiga luluh tahun itu sengaja membawa beberapa mainan anak ya, agar sang anak mau diam ketika sesi konsultasi berlangsung.
Rania tertegun melihatnya ...
"Kedatangan saya kesini, ingin konsultasi tentang pernikahan saya yang sudah diujung tanduk".
Ucap Hardi lirih. Suaranya nyaris tak terdengar. Klien laki-laki yang datang ke LSM bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar datang jika mereka merasa LSM terlalu ikut campur masalah rumah tangga mereka, ketika sang istri memenangkan gono gini. Hardi lah yang memiliki attitude yang baik saat bicara pada Rania.
"Ceritakan semua tentang istri anda, agar saya tidak mendapat informasi yang sepenggal-sepenggal"
Ucap Rania, sambil menyalakan recorder.
"Istri saya bernama Maya. Kami bekerja pada majikan yang sama. Saya bekerja sebagai sopir pribadi, dan Maya sebagai pembantu rumah tangga. Saya bertugas untuk mengantar jemput istri bos ke kantor. Sedangkan bos memiliki usaha rumahan berupa usaha toko bangunan. Setahun bekerja, saya tidak merasakan kecurigaan apapun. Yang saya tau, majikan perempuan mengidap penyakit kanker serviks, sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai seorang istri. Sampai suatu hari..."
Hardi terdiam sejenak. Menghela nafas dan melihat kearah putrinya. Ia kemudian menyeka air yang mulai membasahi matanya. Kemudian melanjutkan lagi ceritanya.
"Kunci mobil hilang saat saya mengantarkan nyonya ke rumah sakit untuk kontrol. Saya pun memutuskan pulang menggunakan ojek online untuk mengambil kunci cadangan mobil itu. Saya masuk ke rumah tanpa suara, tanpa menekan tombol bel, karena memang saya orang dalam yang telah bekerja semenjak nyonya dan bos saya masih jadi pengantin baru. Saya amat terkejut ketika melihat pakaian berceceran diluar kamar tamu. Terdengar suara ******* khas suami istri yang tengah melakukan hubungan. Saya paham betul suara itu. Saya kemudian memberanikan diri untuk membuka paksa pintu kamar, dan mendapati istri saya sedang bersetubuh dengan majikan saya sendiri. Sedangkan anak saya dimasukkan ke dalam toilet!"
Hardi kemudian menangis dan tanpa bisa dicegah lagi.
__ADS_1
Sambil terisak, Hardi melanjutkan kisahnya.
"Saya menarik tubuh majikan saya dan menonjok pipinya. Pria itu terkapar seketika. Namun, apalah saya yang memiliki hutang untuk membiayai istri melahirkan secara sesar di Rumah Sakit. Pak Aldo, Majikan saya itu, mengancam, kalau sampai saya membuka aibnya, maka selain kami kehilangan pekerjaan, hutang saya pun akan ia tuntut lunas saat itu juga!"
Ucap Hardi dengan tangan yang bergetar. Rania memberinya segelas air putih agar Hardi tenang.
"Saya sangat mencintai istri saya. Tapi, tidak dengan dia. Istri saya mengancam akan menceraikan saya jika saya membongkar aib perselingkuhan mereka. Saya yang kasihan melihat anak saya jika terjadi perpisahan orang tua pun, akhirnya mengalah untuk mempertahankan bahtera rumah tangga. Namun, rasa untuk mencintai tak lagi ada, yang ada hanya rasa kecewa dan mulai membenci".
Hardi terdiam sejenak.
"Meskipun kami tidur di ranjang yang sama. Namun tidak ada kemesraan lagi. Lambat laun, ia mulai berani melakukan persetubuhan didepan saya!".
Hardi mengatur nafasnya. Ia terlihat semakin emosi. Rania mencoba menenangkan Hardi.
"Aldo sering masuk ke kamar kami dan melakukan hubungan suami istri didepan saya. Tanpa ada rasa risih ataupun bersalah. Puncaknya adalah ketika istri saya hamil, sedangkan saya telah enam bulan lamanya tidak menyentuhnya. Istri saya menuntut tanggung jawab terhadap Aldo, dan Aldo menyanggupinya. Pernikahan majikan yang tidak kunjung dikaruniai anak, membuat Aldo mudah memberi alasan, bahwa ia akan mengadopsi seorang anak dari kami. Dengan lugunya, Bu Nadin, istri Aldo menerima begitu saja, dan lagi saya hanya bisa diam!"
"Seluruh biaya kehamilan dan persalinan ditanggung Bu Nadin. Bahkan Bu Nadin bersikap sangat baik pada bayi itu. Setahun berlalu, Bu Nadin menunjukkan kesehatan yang semakin membaik. Ia juga sangat menyayangi anak Maya dan Aldo. Sayangnya, Maya istri saya, justru mulai menuntut lebih. Ia menuntut agar Aldo cepat-cepat menceraikan Bu Nadin dan menikahinya. Sungguh diluar batas, Aldo pun menuntut hal yang sama dari Maya. Dan kemarin, sebuah surat panggilan pengadilan sampai ke tangan saya. Maya mengajukan gugatan perceraian, padahal saya telah sabar menunggunya berubah, demi anak kami!"
Hardi kembali terisak dan kali ini Rania mengambil alih pembicaraan.
"Saya sangat terkejut mendengar kisah anda Pak Hardi. Saya turut prihatin. Namun, sepertinya istri anda sudah tidak memiliki ikatan batin lagi dengan anda. Setelah hal keji dia lakukan, tanpa ada rasa bersalah terhadap anda. Bisakah anda bertahan dengan seorang ibu seperti Maya?!"
Hardi tertunduk. Tangis ya terhenti. Ia seakan telah memiliki jawaban, namun ia ragu mengungkapkannya.
"Katakanlah Pak Hardi. Supaya kami tau apa yang harus kami lakukan".
__ADS_1
Ucap Rania membujuk.
"Saya sudah tidak sanggup lagi dengannya. Namun, dia adalah amanah dari kedua orang tuanya. Saya adalah anak angkat orang tua Maya. Maya dan saya dibesarkan di keluarga yang sama. Orang tua Maya sangat sabar dan naik terhadap saya. Bahkan, orang tua Maya telah mempersiapkan saya untuk menjadi suami Maya dimasa depan. Itu sebab saya tidak mampu menyakiti Maya, seperti saya tidak mampu menyakiti orang tua angkat saya.
Namun, Maya seperti menjadi ujian dalam hidup saya. Dia selalu mengatakan bahwa dia tidak cinta pada saya, dan mencintai Aldo, suami majikan sendiri!"
Rania kebingungan. Bagaimana ini, lanjut berubah tangga, tentu seperti menggali lubang kuburannya sendiri, bercerai, berarti Hardi juga sedang mempersiapkan lubang kematian untuk kedua orang tua angkatnya.
Rania bingung. Semua seperti buah simalakama.
"Apa yang harus saya lakukan untuk anda pak Hardi?"
Tanya Rania. Sepertinya Pak Hardi telah memiliki tujuan selain untuk curhat pada Rania.
"Tolong bantu saya sadarkan istri saya!"
Ucap Hardi dengan mantap.
"Kamu bukan ibu peri yang mampu mengubah perasaan orang lain, jika anda ingin istri anda sadar, maka satu-satunya cara yaitu membongkar ini semua. Anda harus punya kekuatan finansial agar anda independen dan tidak berhutang lagi pada Aldo, atau pisahkan saja antara hutang dengan masalah pribadi. Toh yang melahirkan itu istri anda yang sudah ditiduri Aldo. Singkatnya, istri anda, istri Aldo, jadi ya gugurlah hutang anda, dan alihkan pada Maya!!!"
Ucap Rania mencoba menasehati. Sejujurnya ia sendiri pun bingung.
Hardi terdiam, kemudian seperti berpikir keras. Apakah ia bisa melakukannya. Jujur dan mendapatkan istrinya kembali. Apakah Maya mau kembali menjadi istri Hardi yang selalu dihujatnya sebagai pria miskin!
Bersambung...tulis pendapat di kolom komentar ya😘
__ADS_1
see you at the next part ❤️😘
Namun, belakangan, justru ia menggugat cerai saya ke pengadilan.