100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
47 Rania itu Update dan Gak Kudet!, Dani , Kamu kalah!!!!


__ADS_3

Kota Jakarta memberi warna bagi hidup Rania. Ia melewati banyak pelajaran hidup di kota ini. Perjalanan memperoleh gelar sarjana, menapaki berbagai macam pekerjaan sebelum akhirnya ia bertemu dengan Dani yang merubah segala sisi hidupnya.


Tempaan ujian hidup membuat Rania berubah, dari sosok yang ceria, mudah percaya dan berteman dengan siapa saja, menjadi sosok yang banyak menyimpan rahasia, sangat hati-hati pada orang lain, dan tak mudah percaya begitu saja pada kebaikan yang orang lain berikan.


Kini, Rania telah berubah. Ia menjadi orang yang tak mudah jatuh cinta, sangat memikirkan masa depannya, dan pekerja keras. Maka dari itu, Rania sangat peduli dengan Latifaa Group, masa depan perusahaan ini adalah masa depan dia dan anak-anaknya. Tapi, Rania sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Jean adalah benar. Bahwa perusahaan ini bukanlah miliknya, sekeras apapun ia bekerja, jika sistem yang mengendalikan itu buruk, maka ia tetap akan runtuh bersama dengan perusahaan dimana tempat ia berpijak.


Sore tadi, Jean telah merenovasi sedikit dapur di paviliun Rania, memberi sentuhan artistik dan minimalis. Jean juga mengajarkan seni fotografi dan editing, ia mengatakan bahwa Rania harus mulai update dengan perkembangan teknologi digital dan bisnis di era digitalisasi ini.


"Rania,,,"


Sapa Jean setelah mengajarkan beberapa teknik fotografi dan cara pengambilan angle fotografi.


"Ya, Jean..."


"Kamu tau tidak, bahwa ketika Allah memberikan kita ujian hidup, sungguh Allah sedang ingin kita mencari hikmah dari ujian itu..."


Rania diam tak mengerti.


"Aku gak paham, Jean"


Jawabnya sesaat sambil melihat hasil jepretan dari camera Canon pemberian Jean.


"Hemmm Rania, saya sedang mengajari kami, jadi kamu harus fokus pada pembicaraan kita...!"


Ucap Jean yang kesal karena Rania hanya fokus pada monitor kamera.


"eh..eh...iya maaf"


"Kamu tau mengapa saya ke Singapura?"


Rania menggeleng.


"Selain untuk healing dari masalah Latifaa Group, aku juga sedang mengambil hikmah dari masalah yang tengah saya hadapi"


Jean menatap Rania dengan amat dalam, seolah ia sedang mencurahkan isi hatinya, mengapa dulu ia pergi begitu saja ke Singapura.


"hikmah...?, maksud kamu?"


Rania belum juga mengerti dengan arah pembicaraan Jean.


"Dengan adanya perebutan kuasa atas Latifaa Group, aku jadi sadar bahwa Latifaa Group bukan milikku seorang, meskipun saya yang merintis dan bekerja keras. Tapi saya bersyukur, hal itu terjadi disaat usia ku masih muda dan otakku masih bisa ku pacu untuk belajar".

__ADS_1


Jean diam sesaat. Ia menikmati tatapan mata Rania yang mulai dalam padanya, seolah Rania hanyut dalam pikiran Jean.


"Saya pergi ke Singapura untuk menjadi babu, menjadi bawahan, marketing dengan bayaran 4,950 SGD, hanya setara dengan sales representatif!"


Jean di sesaat, seperti mengatur emosi dari ceritanya, tapi Rania kembali bingung. Karena dia tidak tau tentang konversi mata uang asing dolar Singapura ke Indonesia.


"Tapi, saya hanya ingin mengambil sebuah ilmu. Ilmu penjualan kamar resort, pelayanan, menjaga data base agar nantinya diolah lagi menjadi repeat order dan banyak ilmu marketing lainnya. Jadi intinya sambil menyelam minum air, saya ambil ilmu sebanyak-banyaknya dan saya pulang dengan perasaan siap untuk memulai hidup baru"


Jean menarik nafasnya...diam sejenak, dan...


"saya melakukannya untukmu, Rania"


"uhuuukkk"


Rania merasa tersedak air liur sendiri. Tak percaya atas apa yang ia dengar baru saja. Tapi tetap diam. Salah tingkah.


"pertama kali saya melihatmu sebagai ibu rumah tangga yang magang sebagai baker di Latifaa group, saya merasa takjub melihat caramu belajar, oke saat itu tak ada perasaan apapun di hati. Kemudian kamu datang kedua kalinya ke kantor saya, mengatakan bahwa kamu dari rumah, namun dengan wajah lusuh, keringat bercucuran dan wajah pucat. Di tas mu yang transparan ada tulisan yang tak sengaja saya baca, Pengadilan Agama Bekasi. Hemmm... saya iba padamu saat itu. Kemudian membiarkan kamu makan, minum dan tidur di ruangan saya".


Rania mulai berkaca-kaca. Seperti flasback pada keadaannya dimasa lalu.


"Semua mata menuju padamu, Rania. Membicarakan mu, yang kontra dan juga pro. Aku lebih memilih pada yang pro Rania. Berjuang untuk bertahan di Ibukota demi anak-anaknya. Bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang. Tidak serta Merta mengemis pada orang tua. Saya melihatmu dari sisi yang berbeda".


"Sejak di Singapura, saya terus memikirkan kamu. Memikirkan bahwa saya tidak bisa membangun bisnis sendiri. Dulu, Ibuku yang membuat kue, dan aku yang memasarkannya. Maka, aku juga butuh seseorang untuk membuat kue itu lagi, sebagai pengganti mama"


Diam sejenak...


"Itulah kamu Rania. Calon CEO. Cari sebuah brand untuk usaha kita nanti, pikirkan siapa yang akan menjadi karyawan kita nanti. Dan yang terpenting, pikirkan bagaimana caranya kita bisa bermanfaat untuk masyarakat yang lebih banyak".


Rania bingung menanggapi kata-kata Jean. Disisi lain, Rania sangat tersanjung dengan ap yang Jean ucapkan. Jean memang terkenal sangat menghargai tiap karyawannya, berdasar potensi dan semangat kerja. Tak heran ia amat dicintai oleh karyawannya. Sisi lainnya, Rania mulai menyadari, bahwa kehidupannya akan dimulai saat ini. Meski ia belum tau bagaimana Jean akan mengarahkan karir Rania nantinya.


"Aku harus apa, Jean?"


Ucap Rania lirih. Berharap Jean akan banyak memberi arahan untuknya.


"Kita tak bisa banyak merekrut karyawan, jadi banyaklah belajar. Saya akan mengajarimu beberapa hal, terutama ini, fotografi dan copy writing. Kamu harus mandiri. Nanti, saya juga akan mengajari mu tentang penjualan di sosial media. Bersiaplah Rania".


Ucap Jean dengan mantap.


***


Sejak hari itu, Rania terus mengasah kemampuan fotografinya. Ia terkadang membuat konsep memasak ala garden. Kemudian di foto. Membuat resep baru, diuji, di foto, begitu seterusnya.

__ADS_1


Kemampuan dalam bidang fotografi semakin terasah. Jean juga mendaftarkan Rania pada kelas copy writing online. Belajar membuat teks iklan adalah tujuan utamanya.


Rania melakukannya di sela liburnya, dengan catatan, Jean membantu Rania untuk mengasuh kedua putranya, dan Jean dengan senang hati melakukannya. Permainan futsal menjadi andalan Jean ketika diminta mengasuh anak-anak Rania.


Selain itu, Jean juga mulai mengenalkan Rania pada sistem bisnis melalui social media. Rania selama ini telah memiliki akun sosial media, hanya saja penggunaannya masih pasif. Hanya untum sekedar media silaturahmi dengan keluarganya saja.


Namun, ditangan Jean, sosial media milik Rania diubah. Selain menjadi media komunikasi Rania dengan keluarganya, juga sebagai media untuk promosi.


Jean sangat telaten dalam mengajari Rania. Meskipun ia sendiri tengah berupaya untuk menyelamatkan aset-aset dari Latifaa Group yang mulai banyak disita oleh Bank.


Ia berusaha untuk mempertahankan beberapa aset yang menjadi kenang-kenangan perjuangan usaha Bu Latifaa. Sedangkan aset lainnya yang didapat ketika masa jaya Bu Latifaa, ia biarkan disita dan dilelang oleh Bank, atau ia limpahkan semua pada adik-adik Jean lainnya.


***


"Rania, Minggu depan kita akan pindah ke kota Kabupaten....".


Ucap Jean yang muncul dari balik pintu ruang produksi.


Rania terkejut mendengar hal itu


"Secepat itu?"


Jean mengangguk tanda mengiyakan.


"Kita akan kemana?"


"Lumajang"


Rania terdiam. Ia tak pernah tau nama daerah itu.


"saya akan menjelaskan padamu nanti sore. Bersiaplah untuk meeting".


***


Bersambung...


Hai readers...kalian ada yang seperti Rania, gak tau wilayah Lumajang?


Next part kita kupas tentang Lumajang ya...


Trimakasih untuk readers setia ku 😍🤗 like dan comment dari jempol yang manis ya...see you at the next part ❤️

__ADS_1


__ADS_2