100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
82 Sebuah Rumah Untuk Bu Samira.


__ADS_3

Awan gelap menyelimuti kota Lumajang. Tak seperti biasanya hujan bercampur kabut disertai angin kencang. Rania yang tengah menulis sebuah novel tentang kisah para pejuang Rumah Tangga, segera menghentikan laptopnya. Ia ingat Azka dan Zidan tengah bermain bola di sebuah lapangan yang tak jauh dari rumah mereka. Sedangkan Chantika tengah berbaik Barbie di rumah.


"Chantika, kamu tunggu disini ya, jangan kemana-mana, mama akan menjemput Mas Zidan dan Mas Azka di lapangan".


"Iya ma..."


Sahut anak itu lembur. Rania bergegas menuju sebuah lapangan. Hujan deras disertai angin mulai turun. Rania segera mengajak anak-anaknya untuk berteduh di sebuah teras rumah. Ia tidak lupa menghubungi Jean agar segera pulang, karena Chantika sendirian di rumah.


Rania, Azka dan Zidan berteduh di sebuah rumah yang jaraknya dengan rumah lainnya cukup terpisah jauh. Rumah itu seperti tak berpenghuni, namun ia tau bahwa ada orang yang tinggal didalamnya. Beberapa bagian rumah tampak bocor dan ubin yang hanya di plester seadanya, sudah tampak berlubang di beberapa sisi.


Hujan cukup lebat. Sayup-sayup Rania mendengar rengekan suara anak kecil menangis. Kemudian lebih dari satu orang menangis. Rania mencoba untuk mencari sumber suara. Agak sulit, karena suaran hujan. Namun, ia meyakini bahwa sumber suara itu berada dari dalam rumah yang gelap. Padahal ia tau bahwa disekitar tidak padam listrik.


Rania mencoba mengetuk pintu rumah itu. Agak lama. Namun akhirnya dibukakan oleh sang pemilik rumah. Seorang perempuan yang tak bisa ditebak usianya. Sepertinya masih berkisar 35 tahun, namun bisa lebih. Karena penampilannya tak terawat.


"Assalamualaikum Bu. Maaf saya numpang berteduh disini. Saya bersama anak-anak saya".


Wanita itu menjawab dengan lemah.


"Walaikumsalam". Disertai anggukan.


"silahkan masuk. Sambungnya".


Rania pun mengajak dua putranya untuk masuk ke rumah itu. Hanya ada alas tikar disana, dan penerangan yang sangat minim.


"Maafkan keadaan rumah kami".


Ucap perempuan itu. Rania melihat ada dua orang anak yang tengah berbaring di alas tikar, dengan bantal yang telah lusuh. Seorang anak melihat kearah sebuah bungkusan roti yang Azka beli ketika selesai bertanding sepak bola. Belum sempat ia makan, karena hujan mulai turun dan Rania menjemputnya.


"Adek mau roti?"


Azka menyadari bahwa roti yang tengah ia genggam sedang menjadi pusat perhatian seorang anak yang usianya sekitar lima tahun.


Anak itu melirik ke arah ibunya. Namun sang ibu mengabaikannya.


"Mas Azka, boleh kasih ke adik rotinya?"


Tanya Rania, dan disambut oleh anggukan Azka. Ia kemudian bangkit dan mendekati anak itu. Dengan lahap roti itu dimakan.


Hati Rania terasa sakit tak kala melihat tangan gemetar yang menggenggam roti itu. Anak yang lebih kecil kembali merengek seperti minta bagian dari roti yang diberi Azka. Kemudian sang kakak memotong bagian kecil untuk diberikan pada adiknya. Ibu dari anak-anak itu tiba-tiba menangis. Tanpa bercerita, Rania tentu bisa menebak, bahwa mereka tengah dalam kondisi lapar.


Rania nyaris tak bisa berkata apa-apa. Ternyata dilingkungan sekitar rumahnya ada kaum duafa. Mereka sedang kelaparan, bagaimana mungkin ia bisa tidak tau?


Dengan hati bergetar, Rania beranikan diri untuk menanyakan mengenai kondisi mereka.


"Bu, maaf ayah anak-anak dimana?"


Ibu anak-anak itu berhenti menangis. Lalu menatap sebuah foto yang ada di dinding rumah itu. Foto yang nampak kusam di dinding yang juga kusam.


"Anak-anak saya telah menjadi yatim sejak dua tahun yang lalu".


Deg...jantung Rania terasa berhenti. Seandainya bisa, ingin ia tarik kembali pertanyaan yang ia ucapkan tadi.


"la... lalu siapa yang menafkahi ibu saat ini?"


Rania seperti tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Saya sendiri. Bekerja serabutan sebagai tukang cuci di kampung. Dibayar harian. Upah saya hanya 15 ribu sekali mencuci".


Ibu itu terdiam sejenak. Menitikkan air mata.


"Namun belakangan, banyak tidak menggunakan jasa saya semenjak saya mengidap Tuberkulosis. Saya harus berjalanan kaki sejauh lima kilometer setiap Minggu, untuk memeriksakan diri. Lama-lama tabungan saya habis. Sedangkan pemasukan berkurang drastis. Bahkan sepekan ini tak ada lagi yang mau menggunakan jasa saya. Tidak ada cadangan makanan apapun di rumah ini. Berhutang pun orang tak peduli. Sebab tak ada jaminan untuk membayar. Saya dan anak-anak juga terpaksa hidup dengan kondisi rumah yang lembab dan pengap ini. Dua anak saya pun di diagnosa sama dengan saya, tuberkulosis".

__ADS_1


Air mata tak bisa lagi di bendung. Rania pun sama, banyak kasus ia tangani diluar sana. Namun kasus seperti ini yang tak pernah bisa di deteksi. Bukan perceraian, bukan perselingkuhan, atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga, melainkan kasus kemiskinan, kesenjangan sosial. Fakta bahwa kita kurang peka terhadap sesama. Hujan mulai reda. Rania dan anak-anaknya berpamitan untuk pulang.


Langkah Rania percepat, bukan untuk menghindari hujan susulan. Melainkan, ada perut yang tengah menanti untuk diisi. Rania segera menuju dapur. Tak disangka Zidan mengikuti.


"Mama, Zidan lapar..."


Rania menghela nafas. Ia melihat hanya ada sisa dua piring nasi di rice cooker. Ia berniat memberikannya pada keluarga tadi.


"Zidan tunggu mama masak lagi saja ya. Nasi ini akan mama antarkan pada adik yang tadi merengek lapar".


Bujuk Rania. Memasak nasi tentu membutuhkan waktu lebih dari tiga puluh menit. Tak mungkin ia membiarkan anak itu menunggu 30 menit lagi, sedangkan perut mereka sudah tidak terisi sejak dua hari yang lalu. Sedangkan Zidan, tadi siang ia sudah makan, hanya saja sedikit, karena ia tergesa-gesa untuk bermain bola dengan teman-temannya.


Namun rupanya Zidan terus merengek. Menghambat waktu untuk pergi kembali ke rumah itu.


"Zidan... Zidan lihat kan adik tadi, Zidan gak kasihan?!"


Rania sedikit emosi karena Zidan terus merajuk.


"Zidan belajar puasa dua jam saja!!"


Suara Rania makin meninggi.


Jean yang baru pulang dari pabrik, sampai mendengar suara Rania. Ia segera menuju dapur.


"Mengapa kamu tidak memberikan nasi itu pada Zidan, ma. Memberi pada orang lain kan bisa nanti!"


Ucap Jean tak mengerti. Rania kemudian menceritakan sekilas kondisi keluarga yatim yang ia temui tadi. Jean kemudian menelpon bagian resto, mungkin mereka punya stok makanan. Meski ia tau, resto hampir tutup pukul 5 sore.


"Iya pak. Masih ada sisa tiga porsi nasi dan dua potong steak ayam".


Ucap Seseorang dari balik telpon. Rania bisa mengenali bahwa itu suara Retno, karyawan bagian resto.


"Kalau begitu, bawakan sisa makanan itu ke rumah, segera"


"Baiklah, pak".


Setelah menutup telpon, Jean berbicara pada Zidan.


"Zidan mau masakan mama atau mau nunggu steak ayam?"


Anak itu terdiam sejenak. Ia tau bahwa hari ini mama tak memasak menu spesial. Mama hanya memasak telur dadar, naget ayam, serta sup jamur yang sudah sangat biasa ia makan.


"Aku pilih steak ayam, yah!!!"


Seru Zidan.


"Kalau begitu. Tunggulah, mba Retno akan segera mengantar steak ayam untukmu. Biarkan mama memberikan nasi itu pada orang yang ada di rumah tadi. Oke?!"


Zidan pun mengangguk tanda setuju. Rania bergegas membungkus nasi dan lauk, tak lupa ia menuju kulkas, mengambil 1 liter susu kambing yang telah di pasteurisasi dan siap minum. Ia juga mengambil sejumlah uang dari dompetnya.


Setelah mencium punggung tangan suaminya, Rania bergegas mengendarai sepeda motornya menuju rumah tadi.


Pintu di ketuk. Ibu tadi membukakan pintu rumahnya.


"Bu, ini ada sedikit makanan. Segeralah makan. Saya akan membantu untuk menyuapi anak-anak ibu".


Ibu tadi menangis sesaat. Namun mungkin karena lapar, ia pun larut dalam santapan. Sedangkan Rania sibuk menyuapi kedua anak itu secara bergantian. Dalam sekejap, nasi dan lauk yang ia bawa habis tanpa sisa.


"Ibu. Ini ada uang, jumlahnya tak banyak. Namun cukup untuk berbelanja lauk pauk esok pagi".


Rania mengeluarkan dua lembar yang berwarna merah. Uang itu tentu cukup unik membeli beras beberapa liter beserta lauk pauknya.

__ADS_1


"Bu. Sepertinya anak-anak ibu harus segera mendapatkan perawatan medis. Mereka sangat lemah dan terlihat sakit".


Ya. Tubuh kedua anak itu lemah. Mungkin karena tidak makan selama beberapa hari, atau juga karena sakit medis yang tengah dideritanya.


Tak berselang lama, pak Darmo datang dengan mengendarai mobil. Ibu dan kedua anak ini segera dilarikan ke rumah sakit.


Kondisi yang amat memilukan. Bagaimana bisa ia tinggal di lingkungan yang cukup berada, namun ternyata ada yang masih kurang mampu, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia?


Malam itu juga, Rania segera melaporkan keberadaan ibu yang bernama Samira itu pada ketua RT setempat. Kemudian, keesokan harinya, Rania juga melapor pada petugas medis desa yang bertugas di puskesmas. Rania yang telah lama menjabat sebagai salah satu anggota Pokja PKK, segera berkoordinasi dengan timnya baik melalui WhatsApp group, maupun secara langsung.


Ayo, jangan sampai ada Bu Samira lainnya di desa kita. Mari kita pasang mata dan telinga agar lebih peka. Barangkali ada yang tengah membutuhkan uluran tangan kita namun tak berusaha mengemis. Barangkali ada yang memilih diam dalam lapar, daripada menjerit kelaparan. Satu genggam beras milik kita, adalah penawar lapar bagi saudara kita.


***


Bu Samira dan anak-anaknya dirujuk ke rumah sakit. Mereka mendapatkan perawatan gratis melalui pelayanan BPJS. Pihak Kepala Desa juga memberikan bantuan berupa jaminan biaya lain-lain, terutama biaya makan selain yang di cover oleh rumah sakit.


Rania memposting uluran dana bagi Bu Samira, alhasil banyak donatur berdatangan ke rumah sakit, memberikan bantuan mulai dari makanan, mainan anak, pakaian, dan juga sejumlah uang. Meskipun mereka tak bisa menemui langsung pasien, karena mereka dalam perawatan isolasi. Bantuan dari donatur ditampung oleh salah satu tim dari kesehatan desa. Kemudian disalurkan langsung pada Bu Samira.


Saat Bu Samira dan anak-anaknya masih dalam proses perawatan medis. Tim desa melakukan bedah rumah melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Bahkan Bu Samirah juga mendapatkan bantuan berupa perabotan rumah yang baru. Sebab hampir semua perabotan lama Bu Samirah sudah tidak layak pakai.


Melihat lokasi rumah Bu Samira yang berdekatan dengan lapangan bola dan sekolah SD, maka program PKH tersebut juga membuatkan kios mini agar Bu Samira bisa berjualan di sana. Tentu kios dan isinya. Namun, syarat pembukaan kios harus menunggu Bu Samira sembuh total 100%.


Sepekan berlalu. Kondisi kesehatan Bu Samira dan anak-anaknya mulai membaik. Intensitas batuk berkurang seiring dengan terapi medis yang dilakukan. Disisi lain, rumah Bu Samira pun telah selesai dibangun, siap huni dan terlihat sangat nyaman.


Ruangan bersekat triplek usang dibongkar sehingga ruangan menjadi tanpa sekat kecuali kamar, kamar mandi dan dapur. Ada banyak jendela di rumah itu. Pencahayaan dan sirkulasi udara cukup baik. Rumah itu layak dikatakan sebagai rumah sehat.


***


Di minggu setelah perawatan medis, Bu Samira dan anak-anaknya diijinkan untuk pulang ke rumah, dengan syarat berobat jalan selama enam bulan kedepan dengan biaya BPJS .


Setelah tiba di rumahnya dan turun dari ambulance yang mengantarnya, Bu Samira sangat terharu dengan kondisi rumahnya yang telah berubah total. Ia tak menyangka hanya dengan mengijinkan seseorang untuk menumpang berteduh di rumahnya, hidupnya bisa berubah.


Sebutir benih padi bisa menghasilkan puluhan butir padi. Sedikit kebaikan yang kita lakukan, bisa menumbuhkan kebaikan-kebaikan lainnya.


Saudaraku, jangan menutup mata. Jangan menyempitkan hati. Cobalah tengok sebentar di kanan kiri mu, di belakangmu, rumah yang kami lewati. Tempat yang sering kamu singgahi. Siapa tau ada yang membutuhkan uluran tangan kita. Bukan kita yang punya kewajiban untuk membantu mereka, namun hal bagi mereka untuk mendapatkan sebagian dari rejeki yang kita miliki.


Sedikit sedekah yang kita beri. Hanya akan mengurangi nominal uang yang berkurang di dompetmu. Namun tidak akan pernah mengurangi kadar rejeki mu, tak akan pernah mengganggu kebahagiaanmu. Bahkan berbagi pada sesama akan meluaskan hati kita.


Kisah Bu Samira, hanya 1 dari ratusan bahkan ribuan keluarga Yatim yang ada di muka bumi ini. Sebenarnya, Bu Samira bukan orang yang benar-benar sangat miskin. Bu Samira adalah orang asli Madiun. Ia tinggal di sini semenjak menikah dengan suaminya yang memang asli orang setempat. Dulu suaminya adalah peternak bebek. Usahanya cukup sukses. Meskipun sederhana, namun Pak Lukman, suami Bu Samira, bisaa membangunkan sebuah rumah untuk keluarga kecilnya. Keluarga besar pak Lukman juga tinggal masih di kota yang sama.


Namun, semenjak Pak Lukman meninggal dunia, keluarga besarnya lepas tangan dan seakan memutuskan silaturahmi dengan Bu Samira. Padahal semasa hidup, mendiang suaminya menjadi tulang punggung keluarga besarnya. Membiayai adik-adiknya, bahkan menaikkan haji kedua orang tuanya. Namun setelah meninggal dunia suaminya, saudara-saudara mendiang suami malah berebutan untuk mengambil harta yang seharusnya menjadi hak utama anak-anak Pak Lukman. Alhasil, Bu Samira yang tadinya bermatapencaharian sama dengan pak Lukman, banting stir bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bahkan hampir saja rumah yang mereka tempati saat ini, diambil paksa oleh salah seorang saudara Pak Lukman, padahal secara ekonomi, semua adik pak Lukman tergolong mampu. Namun sayangnya minim kesadaran agamanya.


Rania terus menulis. Menulis kisah tentang klien yang ia tangani, dan kini menulis tentang kisah hidup, penggalangan bantuan dan motivasi bagi sesama korban perceraian.


...Lewat tulisan ini, ingin ku ketuk pintu hatimu, pintu hati kita. Mari ber empaty pada sesama, mari berbagi untuk mencapai bahagia bersama....


...dear, Rania. ...


Bersambung....


Dear readers


Bunga Kering ingin mengucapkan terimakasih untuk para pembaca yang telah setia mengikuti perjalanan kisah Rania di 100 Hari Pertama Menjadi Janda.


Kisahnya berlanjut ke kisah-kisah para pejuang rumah tangga lainnya ya, agar readers bisa lebih banyak mengetahui problematika dalam setiap kasus perceraian lewat kisah klien-klien Rania.


Kisahnya diambil dari kehidupan nyata, sehingga bisa lebih natural ya...


Oh ya...Bunga Kering ingin mengucapkan,


Minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir batin ya untuk semua😊❤️

__ADS_1


See you at the next part 😍


__ADS_2