100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 73 Menjadi Berarti


__ADS_3

POV Dani


Sebuah tulisan


Ku tulis dimana waras ku masih di jiwa


Aku masih bisa mengingatmu seperti dulu saat pertama


Menjadi cinta dan bertahan lamanya


Tak mudah untukku berjuang


Demi rasa yang disebut cinta


Namun akhirnya mampu terpatahkan


Oleh takdir yang tak menyatukan kita


Apakah kamu bisa merasa


Saat apa yang kau mau dimiliki orang?


Sakit hingga ke tulang


Hingga ku rasa sepah empedu


Rania, aku ingin bersikeras untuk mu


Namun rupanya lebih menyakitkan bertahan


Daripada melepaskan


Melepaskan mu


Merelakan semua


Perjuangan menjadi sia-sia


Aku menuliskan sebuah puisi untuk Rania. Puisi yang ku tulis pada sebuah buku agenda. Aku dan Rania memang sama-sama menyukai sastra, sejak duduk di bangku kuliah dulu.


Mengenal Rania sebagai sosok penulis, dibeberapa surat kabar, dan menjadi penyiar radio disebuah stasiun radio lokal. Aku mengaguminya. Namun perlahan jiwa mudaku memacu adrenalin, untuk bisa melihat perempuan lebih banyak lagi, lebih luas tanpa batas. Hingga ada banyak Rania-Rania lainnya di kepalaku.

__ADS_1


Sepekan ini, aku baru menyadari. Kamu mampu membalas sakit hatimu. Kamu berani menghadirkan dia yang menjadi lawan ku, dihadapan ku. Kau bahkan menang telak, menghadirkan keharmonisan rumah tangga di hadapanku. Seperti kau tengah menyindirku, bahwa aku tak pernah mampu memberikan itu padamu, saat aku masih dipanggil sebagai suami.


Sepekan yang mengharukan buatku tapi sekaligus menyakitkan. Anak-anak yang seharusnya lebih dekat padaku, rupanya mereka dekat, hanya ingin menuruti perintah laki-laki yang baru saja dikenalnya. Aku cemburu!


Tapi, aku membiarkannya. Mengalir, seperti air. Daripada aku kehilangan anak-anak. Daripada aku tak mendapatkan diriku dalam memori Azka dan Zidan. Daripada aku menorehkan luka, sehingga melihat aku saja mereka enggan. Aku mengalah Rania. Aku mulai dititik pasrah.


Pelajaran hidup yang berharga, akan mengantarku berbalik arah. Memulai sesuatu yang baru, menjadi pribadi yang baru.


Saatnya merubah takdir, menjadi yang ku ingin dan yang kau ingin. Sepertinya Tuhan menuntut kita begitu.


Ini yang disebut Jodoh Ditangan Tuhan, sekalipun kau cinta, kau tak bisa menentukan, tak bisa memilih, apalagi bertahan. Aku belajar menerima itu. Seperti mu yang belajar menjauh dariku, kemudian berjalan untuk sesuatu yang baru.


Ku salut dengan kemenangan mu, ketegaran mu, keyakinan mu, berjuang saat ku buang, bertahan saat ku lepaskan, bangkit saat kau tak ku apit, melangkah sendiri dan belajar mengerti yang Tuhan ingin.


***


Berada di lapas membuat Dani belajar mensyukuri kehidupan. Egonya tak bisa dipertahankan. Ia harus berbagi ruang dan berbagi semua fasilitas yang ada di lapas.


Dani yang biasanya selalu dilayani oleh asistennya, kini harus terbiasa melayani dirinya sendiri. Bahkan untuk keperluan mencuci pakaian yang tak pernah ia jamah seumur hidupnya.


Di Lapas. Ia bisa merasakan betapa sakitnya menahan rindu terhadap keluarga, yang tak bisa setiap hari menjenguknya. Sekalipun menjenguk, selalu terbatas waktu.


Bu Nani sampai merelakan untuk pindah ke Surabaya demi bisa bertemu dengan Dani setiap saat, dan mengirimkan makanan bergizi setiap hari. Bu Nani akan datang pukul 07.30 dengan membawa rantangan masakan rumahan, dengan kursi roda ia dipapah oleh seorang perawat yang dibayar oleh keluarga. Tepat pukul 08.00. Ibu Nani baru diijinkan untuk menjenguk anaknya, sekedar untuk memberinya sarapan. Tak bisa berlama-lama, karena Dani harus bekerja sebagai pekerja sosial di lapas.


***


"Dani, mengapa Rania tak datang menemui ku lagi?"


Ucap ibu saat berkunjung menemui ku di lapas.


"Mungkin dia sibuk, Bu..."


Jawabku menghibur hati ibuku.


"Ta... pi..."


Gumam ibu. Terlihat raut wajah kecewa di wajahnya.


"Sudah jangan diharapkan lagi, Bu. Rania sudah memiliki keluarga baru. Bahkan Dani lihat perutnya sedang membesar. Dia lagi hamil!"


Aku mencoba memberikan penjelasan kepada ibuku. Memang bahagia rasanya dikunjungi ibu hampir setiap hari, kecuali jadwal chek up nya ke Rumah Sakit, tapi lama kelamaan, ada beban yang aku rasakan. Bagaimana tidak, setiap datang, mama selalu membahas Rania , kemudian Delita yang tak bertanggungjawab terhadap rumah tangga dan pergi begitu saja ketika aku terpuruk.

__ADS_1


Sebenarnya aku sudah berusaha untuk tidak memikirkan Delita. Dia akan aku urus ketika aku telah keluar dari lapas ini. Namun, ibu selalu saja mengulang kata-kata yang sama. Menyesali kepergian Rania, merindu Azka dan Zidan, dan mencaci maki Delita.


Lama-lama aku merasa tertekan dengan sikap ibu. Makanan yang ibu bawa sering tak ku habiskan. Saat makanan belum selesai ku telan, cerita ibu telah diulang sebanyak enam kali.


Aku sering membuat alasan untuk tidak dikunjungi dihari berikutnya. Membatasi intensitas ibu untuk mengunjungi ku. Bukan tanpa sebab, aku harus menjaga telingaku dari cerita ibu yang terkadang menghasut. Membuatku emosi dan kesehatan jiwaku terganggu.


Aku menghabiskan waktu dengan mempelajari agama. Mendekatkan diriku pada masjid dan Al Qur'an. Aku juga menyumbangkan dana tabungan dan tenagaku untuk membangun toilet sehat di lapas. Karena toilet yang ada sangat tidak layak. Toh nantinya, aku juga akan menggunakan fasilitas tersebut.


Aku juga mengajarkan keterampilan dibidang kelistrikan pada penghuni lapas lain. Bekal hidup jika nanti mereka keluar dari penjara. Kepala lapas sangat mengapresiasi langkah yang ku buat. Bahkan bantuan berupa peralatan pun mulai dipenuhi. Aku mengembangkan pelatihan kelistrikan ini menjadi pelatihan perakitan komputer, servis elektronik dan komputer, pelatihan pemeliharaan jaringan kelistrikan, jaringan komputer dan perangkat lunak. Tidak hanya itu, aku juga menyumbangkan sepuluh unit komputer yang berasal dari salah satu kantor cabang yang telah tutup. Daripada dilelang dengan harga terlalu rendah, lebih baik aku fungsikan saja di lapas ini.


Dari apa yang telah kulakukan selama di lapas. Lama kelamaan, aku menjadi penghuni lapas yang diistimewakan oleh penghuni lainnya. Dari banyak penghuni lapas, hanya aku yang tidur beralaskan kasur, memiliki kipas angin hasil rakitan penghuni lapas lain yang telah aku berikan pelatihan, bahkan ada satu kamar mandi khusus yang diperuntukkan untukku. Benar-benar istimewa.


Hingga tanpa terasa, tiga tahun terlewati begitu saja. Bahkan aku tak menyangka bila harus keluar dari lapas secepat ini. Menghirup udara bebas dan melanjutkan hidup sebagai Dani dengan kepribadian yang baru.


"Bapak Dani, keluarga anda telah menjemput"


Ucap salah seorang sipir ketika aku tengah mengemasi pakaianku.


"Baiklah sebentar lagi aku akan menyusul" jawabku.


Aku pun berpamitan kepada para penghuni lapas lainnya. Terlihat raut wajah antara bahagia dengan sedih. Aku tau bagaimana rasanya melihat teman se sel keluar, sedangkan kita masih berada di sana untuk waktu yang lama.


"Pak Dani, jika ada waktu, antarkan makanan yang enak-enak lagi ya ..."


Ucap salah seorang napi yang usianya masih sangat muda. Ia mencuri karena ibunya sakit dan adiknya butuh biaya sekolah, sedangkan ayahnya menikah lagi. Dia adalah nara pidana yang paling dekat denganku selama dua tahun terakhir. Ia sangat ahli dalam merakit komputer, bahkan seperti orang yang kuliah di jurusan teknik. Abay namanya. Ia sangat menantikan saat ibu ku mengirimkan makanan, dan yang menghabiskan selalu Abay.


"Bay, aku akan mengirimkan makanan enak untukmu, dan menantimu ketika masa pidana mu selesai. Bekerjalah denganku".


Janjiku kepadanya membuat ia menjadi bersemangat kembali, ia berjanji akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


***


Aku menghirup udara bebas...


Udara dari luar lapas...


...Bersambung.......


...Dear para readers mohon tidak boomlike dengan jarak waktu per detik ya karna mempengaruhi performance Author karena dianggap kecurangan🙏mohon pengertiannya ya di like pelan-pelan...


...Hello readers...yuks follow Ig @bungakering1986 dan sharing pengalaman rumah tangga atau yg mau sekedar curhat dan berbagi cerita disana. Bisa di DM atau kolom cerita ya ..author akan balas langsung atau saat live nanti dibahas...yuk...yuk merapat!...

__ADS_1


...See you at the next part 😍🙏...


__ADS_2