100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Episode 13. Banding


__ADS_3

Rania tak begitu saja menerima hasil keputusan hakim. Meskipun akta perceraian telah keluar, dan pahit getir perceraian tanpa membahas pembagian harta gono-gini. Rania sungguh tak memperdulikan harta. Bagi dia, harta satu-satunya yang harus ia kejar adalah hak pengasuhan terhadap Azka dan Zidan.


Rania berjalan seperti orang terburu-buru. menuju bagian administrasi sebuah kantor pengadilan agama. Ia sendiri. Tanpa ditemani seorang kuasa hukum. Uangnya tak cukup untuk membayar jasa kuasa hukum.


"Bu, saya ingin mendaftarkan sidang banding untuk pengadilan agama atas hak asuh anak" Rania mengutarakan maksud dan tujuannya pada petugas administrasi pengadilan.


"silahkan isi formulir ini dulu bu" Rania mengisi formulir pendaftaran Peninjauan Kembali.


ia mengisi formulir dengan tangan yang gemetar. Di sisi sebelah formulir itu ada sebuah akta cerai yang telah terbit kurang dari empat belas hari.


Banding atau Peninjauan Kembali dapat diajukan seseorang atas keberatannya terhadap keputusan pengadilan. Banding dapat diajukan oleh tergugat sebelum empat belas hari dikeluarkannya surat putusan Pengadilan. Rania lega karena masih memiliki kesempatan banding. Harapannya tetap membara untuk bisa membawa anak-anak kembali kedalam pelukannya.


"seratus sepuluh ribu rupiah, Bu Rania" seorang petugas kasir Pengadilan menyebutkan nominal biaya banding.


Uang seratus sepuluh ribu mungkin terdengar tak seberapa. Namun bagi Rania, nominal itu cukup menguras kantongnya. Mengingat ia belum memiliki pekerjaan.


"Bu Rania, ini nanti dilampirkan dengan surat pernyataan keberatan yang ditulis dengan tulisan tangan dan dibubuhi materai ya Bu". Petugas kasir kembali menjelaskan aturan Banding Pengadilan Agama (PA).


Baik proses perceraian maupun pengajuan banding sangat menguras energi, waktu dan biaya. Ia sangat berhemat untuk pengeluaran. diluar itu, seperti untuk makan dan transportasi. Rania memilih menggunakan transportasi umum seperti bus dan berjalan kaki untuk mencapai rumah atau PA.


Malam hari yang panas di udara Jakarta. Rania membuka salah satu jendela kamar kontrakannya. Waktu berjalan begitu cepat. Hingga ia menyadari bahwa statusnya kini dari pisah ranjang menjadi janda.


Ini pekan pertama Rania menjadi janda. Surat keputusan pengadilan itu terbit tiga hari yang lalu. Putusan pengadilan yang dirasa tak adil.


Malam ini, sesuai ajuan bandingnya. Rania akan menulis surat keberatan atas putusan pengadilan. secarik kertas folio ia hamparkan diatas meja lipat. Meja ini biasa Azka gunakan untuk belajar. Dengan hati sedih, Rania mulai menulis satu per huruf yang terangkai menjadi kalimat.


Surat Banding


^^^Jakarta, 27 Agustus 2017^^^


Kepada : Yth. Pengadilan Agama Bekasi


Hal : Surat Keberatan Atas Putusan Perceraian.


Nomor : 0770/AC/2017


Saya yang bertandatangan di bawah ini:


Nama : Rania Salsabila


Usia. : 30 Tahun


Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga


Alamat. : Jl. RE Martadinata. Jakarta.


Bermaksud untuk mengajukan banding atas putusan Pengadilan Agama Bekasi. Adapun point keberatan saya adalah :




Saya tidak pernah merasa menandatangani surat perceraian yang diajukan sdr. Dani Hermawan.




Terdapat unsur kesengajaan yang menyebabkan saya selaku pihak tergugat, tidak bisa menghadiri rangkaian sidang perceraian saya dengan tergugat.


__ADS_1



Hak atas pengasuhan anak dibawah umur yang seharusnya jatuh ke tangan ibu kandung.




Adanya bukti perselingkuhan pihak penggugat dengan orang ketiga.




Bahwa pihak penggugat telah lalai dalam memberikan nafkah sebelum sidang ini diputuskan.




Demikian surat permohonan banding ini saya ajukan. Atas perhatiannya saya sampaikan terimakasih.


^^^Hormat saya^^^


Rania


Selesai menulis surat. Rania melipatnya dan memasukkannya kedalam amplop. Besok ia akan bertekad untuk kembali ke Pengadilan Agama dan menyerahkan surat tersebut.


Mata tertutup kantuk yang merenggut


Jiwa lelah menguasai raga


Rania terlihat bak putri yang dibuang.


Ia tak banyak bergaul,


circle pertemanan nya semakin mengecil


Ia baru sadar bahwa ia sudah sepekan ini tidak bicara dengan orang lain, kecuali petugas pengadilan agama.


Separah inikah perubahan itu.


Dalam mata yang terpejam


Rania mulai mengkhawatirkan dirinya.


Takut jika ia tak waras karena ini.


Tekanan mental membuatnya tidak bisa memikirkan hal lainnya.


Tapi, Rania tak kuasa. Tubuhnya dikuasai masalah...


Berkas banding telah masuk. Sejak pukul tujuh pagi tadi Rania berangkat menuju pengadilan Agama. Ia sangat menunggu peninjauan kembali. Tak mengapa sidang lagi.


Pulangnya, Rania menyempatkan diri ke Latifaa Bakery. Ia akan menerima tawaran Pak Jean untuk bekerja full time baker dan menerima fasilitas mes. Setidaknya itu akan menghemat pengeluaran Rania.


Latifaa Bakery merupakan perusahaan kue yabg cukup ternama. Mereka menyediakan aneka kue kering, kue basah, puding dan tart untuk acara-acara ulang tahun dan pernikahan. Cabangnya ada empat. Tempat yang ia datangi kali ini adalah pusat dari Latifaa Bakery. Kantor pusat Latifaa bakery adalah sebuah ruko gandeng dengan masing-masing memiliki 3 lantai. Lantai pertama digunakan untuk toko kue, lantai 2 untuk produksi, dan lantai 3 untuk office. Mereka juga memiliki tempat khusus pabrik yang terletak di daerah Depok.


Suasana disana sangat sibuk. Masing-masing karyawan memiliki tugas masing-masing. Ada yang melayani pembeli, ada di bagian stok barang, ada kasir dan dua orang satpam.


Saat Rania masuk, seorang satpam langsung menyapanya.

__ADS_1


"Ada yang bisa kami bantu Bu?"


"Saya ingin bertemu dengan pak Jean, Pak"


"Apa sudah janjian terlebih dahulu?"


"Maaf Pak, saya tidak membuat janji"


"Kalau begitu, tunggu sebentar".


Satpam itu kemudian seperti menghubungi seseorang.


"Atas nama siapa?" satpam itu kembali bertanya pada Rania.


"Atas nama Rania, Pak"


Satpam itu kembali berbicara dengan telponnya.


"Bu Rania silahkan saya antar ke lantai tiga"


Pelayanan yang sangat ramah. Tak berselang lama, Rania menaiki tangga menuju lantai tiga. Sebuah ruangan yang di desain minimalis, bersih dan artistik. Ada sebuah meja kayu dan kursi putar ala direktur. Sebuah sofa berwana nude dan gas bunga di beberapa bagian ruangan, manambah indah ruangan itu.


"Rania, silahkan duduk"


Sapa Pak Jean ramah.


"Terimakasih Pak"


Balas Rania.


"kamu dari rumah?"


Tanya Pak Jean basa basi


Rania hanya mengangguk. Ia sadar tak mungkin berkata kalau ia baru saja dari Pengadilan Agama.


Tak berselang lama seorang pelayan membawakan segelas jus dan beberapa roti yang masih fresh from the open, membuat perut Rania yang belum diisi nasi sejak pagi keroncong.


Sebenarnya Pak Jean telah mendengar permasalahan yang dialami Rania dari karyawan lainnya. Beberapa waktu lalu bahkan Pak Jean mencoba menghubungi Rania untuk menawarkan bantuan. Namun, sayang nomer handphone Rania tidak aktif. Hari ini Rania duduk didepan Pak Jean dengan wajah pucat dan lusuh. Namun tetap memancarkan aura cantik yang sederhana. Jean yang tau kondisi ekonomi Rania, menyangka bahwa perempuan didepannya ini dalam kondisi lelah.


"Rania. aku ada meeting dengan bagian produksi sebentar. Kamu disini tunggu dulu ya. Kamu makan dulu roti ini".


" Baik pak".


sejujurnya, hari itu tak ada jadwal meeting. Jean membiarkan Rania beristirahat terlebih dahulu. Wajah Rania tak mampu menyembunyikan kelelahannya. Itu sebab, Jean membiarkan Rania beristirahat di ruangannya.


Beberapa waktu kemudian, seorang pelayan kembali masuk ke ruangan Jean. Membawa sepiring nasi Padang full dengan potongan rendang.


"Bu Rania. Makan dulu ya. Pak Jean masih lama. Pesan Pak Jean, Bu Rania makan dulu" ucap pelayan tersebut.


Rania terharu. Tak terasa air matanya mengalir. Ternyata masih ada orang yang baik padanya.


Setelah mencuci tangan yang di wastafel yang tersedia di ruangan Jean. Rania melahap habis nasi Padang itu. Rasa laparnya terobati. Ia sangat bersyukur hari itu. Setelah makan, Rania pamit untuk sholat dhuhur. Letak mushola ada di sebelah ruang Jean. Selepas sholat, Rania kembali ke ruangan Jean. Lelah yang cukup membebani membuat Rania tertidur di sofa Jean. Tidur dengan lelapnya.


...Dear pembaca yang Budiman...


...Alhamdulillah sampai di episode 13...


...perjalanan menjadi janda😍...


...semakin dramatis dan seru...

__ADS_1


...beri like dan comment ya agar author makin semangat nulisnya...


...terimakasih...


__ADS_2