
Di suatu pagi yang mendung, setelah Rania mengantarkan anak anaknya ke sekolah dan menyiapkan diri untuk bekerja. Iya mendapatkan kabar dari karyawannya, jika telah terjadi mogok massal di Latifaa Group.
Gaji karyawan yang tidak terbayarkan beberapa bulan menjadi alasan mereka mogok kerja. Rania mencoba menenangkan diri. Serikat buruh tengah melakukan perundingan dengan management. Mendiskusikan nasib para karyawan.
Rania menatap kosong gedung Latifaa yang baru kali ini tak ada aktivitas. Ia juga mendengar kabar bahwa Bu Latifaa kembali sakit, sedangkan dua anak lainnya memutuskan untuk meninggalkan Latifaa group.
***
"Bu Rania ...."
Seseorang memanggil namanya. Rania yang tengah melamun di meja kerjanya terperanjat.
"Ya. Saya..."
Ternyata sekretaris Bu Latifaa.
"Ibu memanggil anda. Temui Bu Latifaa di Klinik Kesehatan miliknya"
Rania mengangguk. Ia bergegas untuk mengambil tas untuk pergi ke klinik tempat Bu Latifaa dirawat.
***
Rania melewati anak tangga klinik, ia melihat banyak karangan bunga disana. Ada apa?
Suasana kalut duka menyelimuti sebuah ruang VVIP. Bu Latifaa telah berpulang. Baru saja ia akan menemuinya, berharap menemukan pesan terakhir yang ingin di ucapkan Bu Latifaa. Namun yang ia dapat adalah sebuah salam dari syurga.
***
Di pemakaman suasana tangis duka menyelimuti dari para rekan dan saudara Bu Rania. Anehnya ia tak melihat satupun anak Bu Latifaa hadir di pemakaman. Tapi Rania tak ingin terlalu ikut campur dengan hal itu.
Rania memutuskan tidak pulang bersama rombongan pengantar jenazah. Ia ingin menata karangan bunga yang berserakan di pemakaman itu. Ia sangat fokus untuk menata bunga dan setelah itu membaca surat Yasin untuk orang yang telah dianggapnya sebagai ibu itu.
Setelah menutup buku Yasin miliknya. Ia terperanjat ketika ada seseorang yang juga tengah sibuk menata bunga.
"Jean..."
Mata Rania seketika berbinar.
Jean memalingkan wajahnya.
"Kau masih mengenaliku...?"
Ledeknya
Rania tersenyum haru. Ada tangis bahagia yang menutupi perasaan yang berkecamuk saat itu.
"Aku datang Rania..."
"Kau bohong, katanya akan di Singapura selama seratus hari!"
Ucap Rania meledek.
"Lalu, aku mengabaikan peranku sebagai seorang anak?"
Rania terdiam dan menepuk bahu Jean.
"Maafkan aku Jean, aku tak bermaksud..."
"Ayok kita pulang. Banyak hal yang harus kita bicarakan"
Ucap Jean memotong pembicaraan, kemudian menarik lembut lengan Rania.
"Tentang kita?"
Ucap Rania dengan nada meledek.
"Ya. Tentang masa Iddah mu!"
Sahut Jean yang disambut gelak tawa mereka berdua.
"hussttt kita sedang berduka Jean!"
Jean terdiam. Mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Bu Latifaa dengan mobil Jean.
Sepanjang perjalanan mereka seperti sepasang kekasih yang tengah melepaskan rindu. ah....ralat bukan kekasih, karena ini mesra tapi tidak dalam konteks seksualitas. Mereka hanya memandang, saling tersenyum dan ya...saling menguatkan karena Bu Latifaa baru saja tiada.
__ADS_1
***
Acara tahlilan akan digelar selama empat puluh hari kedepan, ditengah gejolak yang terjadi di perusahaan Latifaa group.
Rania lebih sering bertandang ke rumah Bu Latifaa untuk membantu aktivitas tahlilan. Masih ada Meta disana yang selalu mencibir dan mengomentari apa yang Rania lakukan. Membuat omongan pepesan kosong tentang kelihaian Rania dalam menguasai Latifaa group. Sebuah gosip murahan bagi perempuan berpendidikan seperti Meta.
Kekuatan Rania sudah full charge . Hingga hatinya tak mempan untuk di kobarkan dengan gosip murahan ala anak-anak alay. Baginya, keberadaannya disini hanya untuk membalas Budi Bu Latifaa. Jika ia kemarin memiliki kesempatan untuk bertemu Bu Latifaa, tentu ia yakin Bu Latifaa mau Rania tetap berada di Latifaa group.
Meta sangat cemburu melihat kembalinya Jean dan tetap masih dekat dengan sosok janda muda beranak dua.
"Apa istimewanya?!" Pikirnya.
Ia tak habis pikir mengapa Jean sangat terlihat nyaman berada di dekat Rania. Mereka sangat akrab. Padahal Jean terkenal dengan sikapnya yang dingin.
***
Jean memegang alih kemudi perusahaan. Meskipun ia tau, bahwa setelah ini, kedua saudaranya akan kembali ke Latifaa group untuk memperebutkan perusahaan.
Jean menjual beberapa aset yang mudah diuangkan. Mencicil hutang jatuh tempo dan gaji karyawan.
Perusahaan ini ia yang bangun bersama ibunya. Merelakan masa mudanya tergantikan dengan letih bekerja. Tanpa memikirkan usia yang terus beranjak tua. Setelah istrinya meninggal dunia, Jean memutuskan untuk fokus membantu ibunya menjalankan bisnis.
Kini perusahaan yang ia rintis nyaris gulung tikar. Sedangkan dua saudaranya pergi entah kemana.
***
"Rania...kita meeting sebentar"
Ucap Jean pada Rania yang sedang mengecek stok bahan baku di ruang gudang.
Rania mengangguk tanda setuju, kemudian mengikuti Jean.
Menaiki anak tangga diruang kosong. Hanya suara sepatu Jean dan Rania yang beradu. Rania merasakan dingin pada sikap Jean. Sikap Jean memang dingin, namun kali ini sangatlah berbeda.
Jean duduk di sofa . Ia membuka kacamatanya dan menyapu wajahnya. Guest lelah sangat terlihat disana. Rania berinisiatif untuk membuatkan secangkir kopi manis. Sejujurnya ia takut dengan arah pembicaraan kali ini. Tak biasanya Jean mengajak meeting hanya berdua.
Secangkir kopi diseruput Jean.
"Rania..."
"Ya Jean?"
Jawab Rania.
"Aku ingin menjual seluruh saham Latifaa group tanpa tersisa"
Rania terhenyak dengan apa yang Jean katakan.
Diam sejenak.
" Kamu sudah memikirkan matang-matang, Jean?"
Jean mengangguk.
"Sebelum ibu meninggal, sebenarnya beliau telah memintaku untuk pulang. Beliau minta agar aku membenahi perusahaan atau gulingkan perusahaan ini"
"Mengapa?"
"Perusahaan ini sudah tidak berjalan sesuai dengan koridor dan prinsip management awal. Kedua saudaraku telah membuat semua menjadi rumit. Jika perusahaan ini tidak segera di jual atau di pailit kan, maka akan kembali di kuasa saudaraku, dan yang ku takutkan, justru perusahan ini akan memiliki kasus dengan hutang dan hak karyawan!"
Rania terdiam...
Berpikir, dan...
"Aku tidak setuju jika di pailit kan, karena jika pailit, perusahaan harus tutup total. Bagaimana dengan nasib ratusan karyawan yang menggantungkan hidup pada Latifaa Group".
Ucap Rania. Mulai tertunduk. Sedikit memikirkan nasibnya. Sebab nasibnya, adalah nasib ratusan karyawan Latifaa Group.
"Rania, itu sebabnya aku mengajakmu untuk meeting. Aku butuh pendapatmu"
Rania tersenyum kecut
"Mengapa hanya aku Jean. Karyawan lainnya?"
"Aku tak tau mana yang benar-benar bisa aku percaya saat ini".
__ADS_1
Rania tersenyum
"Terimakasih telah mempercayaiku Jean".
"Rania, maukah kamu memulai sesuatu yang baru denganku?"
Rania terdiam.
Berpikir
" Aku belum siap Jean"
Gumam nya
"Mengapa, Rania?"
"Masa Iddah ku belum selesai"
Jean terdiam
Kebingungan
""Maksud kamu?"
Rania terhenyak dan gelagapan.
"emmm...e...maksudnya"
Terdiam bingung.
"Kamu mengajakku berumah tangga kan?"
Tanya Rani malu-malu.
Jean yang sedari tadi memasang wajah dingin, tak kuasa menahan gelak tawanya.
"Astaga...." Gumam Jean sambil menyapu wajahnya.
Rania semakin keki
"Emmm...maksud kamu hidup baru...hidup baru itu?!"
Ucap Rania sambil terlihat gugup.
Jean kembali dengan gelak tawanya.
"Rania....maksud aku memulai sesuatu yang baru. Bisnis baru, ditempat yang baru..."
Ucap Jean sambil melirik nakal pada Rania, dan berhasil membuat Rania salah tingkah.
Rania kembali menemuka. sahabatnya, yang selalu mampu menghapus guratan takdir yang kadang menyeretnya agar tak bisa lepas dari tangis bagi orang bernama Dani.
***
Dear Diary
Jean ku datang
Jean ku kembali
Hadir lagi dengan jiwa yang masih sama
Sedangkan aku yang berbeda
Dia dekat tapi aku rindu
Dia jauh, aku tetap rindu
Perasaan apa ini?
***
Bersambung....
Dear readers setiaku. terimakasih yang sudah like and Fav. Maaf belum bisa masuk ke bagian yang kemarin di janjikan, author sedang kurang fokus. Insyaallah next part y🤗 ikuti terus❤️❤️❤️❤️
__ADS_1