
Setiap manusia diuji dengan ujiannya masing-masing. Setelah melewati ujian ekonomi dalam hidupnya. Dinda kemudian diuji dengan peliknya kehidupan rumah tangga.
100 hari setelah perceraiannya. Dinda semakin mengerti bahwa semakin diuji maka dirinya akan semakin kuat dan tegar. Ia yang semenjak gadis tidak kenal dengan banyak pria, sebab ia hidup dilingkungan pesantren, dimana laki-laki dan perempuan dipisah tembok menjulang tinggi. Kini, ia bisa memberi penilaian dari para pria yang hanya datang dan pergi dalam hidupnya. Pria yang hanya melihat sisi birahinya saja. Memusatkan perhatian mereka pada kulit cantik dan glowing yang di jaga setelah bergelimang harta.
Pasca kejadian di hotel. Dinda tak lagi mau menghubungi Haris. Begitu juga Haris, seperti menjauh begitu saja. Menghilang tak ada kabar. Yang lebih menyakitkan, ketika sekelompok orang datang pada Dinda untuk mengambil mobil pemberian Haris ketika ulang tahun Dinda. Mobil itu ternyata belum lunas bayar. Pembayaran menunggak selama dua bulan lamanya. Hingga dibulan ketiga, mobil itu ditarik leasing.
Dinda merasa beruntung. Semua tentang Haris terbuka saat janur kuning belum dibentangkan. Haris yang dengan mudah menghalalkan perzinahan, tak pantas menjadi sosok seorang imam. Lebih baik gagal sekarang, meskipun gagal lagi untuk kesekian kalinya.
Dinda memutuskan untuk menyendiri. Ia mengambil cuti dari pekerjaan dan kuliahnya sementara waktu. Ia ingin menenangkan diri, melihat dirinya dan tujuan hidupnya. Menata hati agar tak salah lagi.
"Rania. Aku sengaja datang ke sini"
Ucap Dinda yang tiba-tiba hadir di kantor Rania.
"Aku melihatmu tak baik-baik saja, ceritakan lah apa yang sudah terjadi padamu".
Tanya Rania yang sedikit terkejut dengan kehadiran Dinda. Kini ia terlihat lesu dan tanpa makeup. Padahal sejak menjadi MUA, Dinda nyaris tak pernah hadir tanpa makeup diruang publik.
"Aku telah melewati 100 hari pertama ku menjadi janda. Aku telah bangkit dan bermetamorfosis seperti yang telah kamu lakukan, Rania. Tapi, mengapa aku gagal untuk mencapai titik bahagiaku, mengapa aku selalu saja terpuruk dalam hidup?!"
Dinda tertunduk lesu. Matanya tampak kosong. Jiwanya terlihat rapuh.
Rania menghela nafas sebentar. Kemudian mengambilkan Dinda tisu yang terletak diatas meja kerjanya.
"Sebenarnya kamu sudah berhasil melewati semua dengan mudah. Namun,perjalanan hidup setiap orang tentu berbeda. Kamu yang dengan mudah bangkit secara ekonomi, namun mungkin tak mudah bangkit secara psikis".
Ucap Rania, sambil menatap lembut wajah Dinda yang sayu.
"Jadilah diri sendiri, agar yang mencari kamu benar-benar mencintaimu. Bukan fisikmu. Kejarlah cinta dengan menjadi dirimu sendiri. Sebab dengan menjadi orang lain, kamu akan terlihat sempurna dipermukaan, namun rapuh didalam. Sekarang coba kamu balik. Hidupmu, pengalaman mu, masa depanmu, adalah hak mu untuk menentukan. Kamu cantik saat menjadi dirimu sendiri. Kamu kuat dengan kakimu sendiri. Carilah cinta dengan hati".
Ucapan Rania membutuhkan waktu untuk dicerna dan dipahami. Dinda yang telah sepekan berada di Lumajang, lebih banyak menyendiri. Melihat pada cermin yang berada di kamarnya, kemudian membandingkannya dengan foto 4 tahun lalu. Sangat berbeda, jauh berbeda.
"Siapa aku?"
Tanya Dinda pada diri sendiri. Wajahnya berubah, sikapnya berubah. Ia selama bermetamorfosa telah menjadi sosok Dinda yang baru. Dinda yang superstar, Dinda yang berselera tinggi. Wajar yang mendekatinya adalah mereka yang mapan secara finansial, tampan sempurna di depan cermin.
"Mengapa aku baru menyadarinya?"
Gumam Dinda.
***
Masa cuti telah usai. Saatnya Dinda kembali bekerja dan ke kampusnya.
__ADS_1
Semua mata memandang berbeda pada Dinda. Perubahan penampilan Dinda yang tak seperti biasanya. Pakaiannya masih sama, riasannya berbeda. Sederhana, jauh dari kesan superstar Dinda sebelumnya.
Ya. Dinda berubah. Lagi. Menjadi diri sendiri. Menemukan siapa dirinya sebenarnya. Bukan yang seperti kemarin. Bersolek ria hingga membuat semua mata tertuju padanya. Karir sukses, namun jiwa kosong. it's me, Dinda. Sosok yang sederhana sejak dulu. Karena tanpa riasan pun Dinda cantik natural.
Dinda telah kembali. Dia sadar bahwa jiwanya kemarin telah sakit. Sakit karena dendam yang ia pupuk selama bertahun lamanya. Kemarin ia terlihat sehat. Namun sebenarnya jiwanya sakit. Dendam, ingin terlihat sempurna Dimata manusia. Dendam ingin memperlihatkan kesuksesan didepan mantan suami. Didepan orang-orang yang telah menyia-nyiakannya. Ia lupa bahwa dengan hidup bahagia, ia telah membuat rugi orang-orang yang menyakitinya.
"Din, kamu gak salah kostum?!"
Tanya Rita,sahabatnya di kampus.
"Enggak. Memangnya kenapa?"
Jawab Dinda..
"Aku kira kamu mau ke pengajian. Syar'i banget!"
Celetuk Rita .
"Pengen menjadi diri sendiri. Seperti dulu. Anak lulusan pondok pesantren. Boleh kan?"
Ucap Dinda seraya berjalan menuju perpustakaan.
"Serius mau hijrah?"
Tanya Rita yang setengah tak percaya. Karena Dinda yang selama ini ia kenal adalah sosok yang sangat ambisius dalam banyak aspek, termasuk karir dan penampilan.
Ledek Dinda. Rita tersenyum kecut.
"Kamu ih... ditanya malah balik nanya...teu sopan!"
Jawab Rita dengan logat sundanya. Kemudian disambut gelak tawa Dinda.
***
Sebuah Aib
Siang itu, suasana kampus terasa berbeda. Banyak orang memandang aneh pada Dinda. Seorang superstar tajir melintir, tiba-tiba tidak disapa oleh sebagian teman yang biasa minta traktir padanya.
Dinda menghela nafas sejenak. Ia kemudian memutuskan untuk menuju ruang perpustakaan sambil menunggu Rita yang sedang membeli minuman dingin di kantin.
"Eh...bengong wae...!"
Sapa Rita ya g telah kembali dari kantin.
__ADS_1
Dinda terkejut. Ia masih memikirkan apa yang terjadi saat dia pekan ia memutuskan ijin tidak masuk kuliah.
"Kamu tau sesuatu gak?"
Tanya Dinda pada Rita yang tengah asik menyeruput minuman dinginnya.
"Rita...aku tanya, dijawab donk!"
Ucap Dinda sedikit kesal karena dicueki oleh Rita.
"Lagian kamu, orang lagi minum diajak ngobrol. Ya kalau aku tersedak gimana?!"
Jawab Rita merasa kesal.
"Iya maaf. Dah sekarang jawab. Ada yang aneh gak dari sikap teman-teman di kampus?"
Tanya Dinda mengulangi.
"Heehhh kamu gak tau ya, kalau nama kamu lagi masuk tranding topik?"
Dinda menggeleng tak mengerti.
"Aku juga mau tanya ini dari tadi. Tapi melihat penampilanmu, aku jadi salah fokus!"
Ucap Rita yang kemudian menyingkirkan minuman ya.
"Din. Seseorang telah menyebarkan gosip kalau kamu sudah pernah menikah. Alias janda. Benar gak?"
Tanya Rita. Matanya menelisik ke bola mata Dinda. Dinda merasa kaget dan salah tingkah. Bagaimana bisa teman-temannya tau tentang status Dinda.
Dinda terdiam...
"Aku pernah lihat KTP mu pas antar kamu daftar kartu baru. Kan kamu masih status gadis ya?!"
Tanya Rita kembali. Sepertinya Rita sangat ingin keyakinannya di pertegas oleh Dinda.
Dinda masih terdiam seribu bahasa. Bibirnya kelu untuk menjelaskan semua.
Harus memulai dari mana?
Pentingkah jujur pada orang yang tidak berkepentingan?
Jika harus jujur, apakah mereka benar-benar peduli atau sekedar ingin mencari gosip baru yang seru untuk diperbincangkan?
__ADS_1
Dinda tertunduk, ia merasa bingung, tertekan, semakin tertekan dengan ujian yang tengah dihadapinya saat ini.
Bersambung....