
Langit sudah tertutup kabut pekat malam. Cahaya matahari sempurna tertutup oleh Kilauan sinar lampu yang memenuhi tiap jengkal kota Jakarta. Kehidupan 24 Jam tak pernah mati disini. Ramai dengan hiruk pikuk keramaian kota.
Pikiran Rania melayang. Membayangkan sebuah nama kabupaten yang tak pernah ia dengan sebelumnya. Ia mencoba mengetik di mesin pencarian google mengenai Kabupaten Lumajang. Kehidupan disana memang masih sangat asri. Potensi alam masih menjadi sumber mata pencaharian warga disana. Jean bukan tanpa alasan memilih Kabupaten Lumajang sebagai awal kehidupan baru dan bisnis barunya disana. Dia memiliki teman yang telah menempuh pendidikan perternakan. Setelah menyelesaikan studinya, dia membuka usaha dibidang peternakan kambing etawa dan sebuah pabrik pengolahan susu kambing. Usahanya cukup maju dan lahannya sangat luas. Karena ingin mengembangkan usahanya, Rekan Jean ini menawarkan lahannya untuk dikelola menjadi tempat wisata dengan konsep yang unik, tentunya terintegrasi dengan peternakan kambing dan pabrik susu kambing miliknya. Jean melihat peluang bisnis ini, kemudian setuju dan membeli sebagian lahan sebagai tempat tinggal dan tempat usaha.
***
Malam itu, Rania habiskan waktu dengan banyak berpikir tentang ini. Jika ia memilih ikut bersama Jean, berarti anak-anaknya juga akan ikut bersamanya, sehingga akan lebih jauh dari ayah mereka.
Hati Rania tiba-tiba terasa sakit, mengingat beberapa pekan ini Jean tak lagi mengunjungi anak-anak. Hanya menitipkan sejumlah uang dan makanan melalui supir pribadinya. Bukankah anak-anak juga sangat membutuhkan kasih sayang darinya? anak-anak butuh perhatiannya?
Si kecil Zidan mulai sering bertanya, kapan ia akan berenang dengan ayahnya, seperti. yang dilakukan saat pertemuan terakhir itu. Tapi, Rania hanya bisa memberi pengertian, bahwa ayahnya sedang sibuk bekerja.
***
"Assalamualaikum mas Dani, aku mau ketemu kamu. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan kamu".
Rania mengirimkan sebuah pesan untuk Dani. Ia harus membicarakan terkait rencana pindahnya ke Lumajang dan akan membawa anak-anak ikut serta.
Lama Rania menunggu balasan.
"Besok datang ke Cafe Bukit jam 14.00"
Sebuah balasan singkat ia terima dari Dani. Bahkan tanpa basa basi. Tak mengapa, toh memang kepentingan ku hanya pamit! gumam Rania seraya kesal pada laki-laki yang tak bertanggungjawab itu.
***
Keesokan hari tepat pukul 14.00 di tempat yang telah dijanjikan Dani, Rania datang bersama Azka dan Zidan.
Dari arah pintu masuk cafe, terlihat sosok Delita yang duduk sendiri di bangku nomer 18. Perut buncitnya mulai sangat terlihat jelas. Rania terhenyak. Pantas saja Dani mulai melupakan Azka dan Zidan, ia akan segera mendapatkan anak dari Delita. Hati Rania berdegup sakit. Ia seperti menyesali keputusan untuk menghubungi Dani dan bertemu hari ini. Ia pikir Dani sendiri, nyatanya bersama mantan selingkuhan yang telah resmi menjadi istri.
Rania menghampiri Delita.
"Delita, Mas Dani mana?"
Sapa Rania yang dibalas dengan ekspresi dingin dari Delita.
"Beraninya kamu masih menghubungi suami saya!"
Jawab Delita dengan dingin.
Rania terkejut dengan jawaban Delita.
"Aku berhak mengubungi Dani. Ada anak-anak yang masih membutuhkan ayahnya!"
Ucapan Rania dibalas dengan tatapan kebencian dari Delita.
__ADS_1
"Itu hanya alibi kamu saja Rania, kamu masih berharap Dani akan mengajakmu rujuk bukan?!, seperti yang telah kalian rencanakan sebelumnya?"
Rania tak terima dengan pernyataan Delita. Ia sangat ingin mengatakan bahwa dirinya telah menerima pinangan Jeandra. Tapi, urung mengingat percuma berdebat dengan perempuan yang tak punya hati seperti Delita.
"Delita, sekarang kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu. Rasanya suami akan direbut oleh pelakor? Takut kan?, cemas kan?, aku yakin Tuhan akan membalas. Apa yang kamu tanam tak akan sia-sia. Dani akan terus berkelana dengan hati yang lain, sedang kamu akan menggantikan posisiku, sebagai pesakitan dan dicampakkan!"
Ucap Rania sambil menggandeng kedua putranya meninggalkan Delita yang mulai berteriak-teriak tak terkendali.
"Aku menguasai Dani sekarang!, aku tak akan membiarkanmu menghubungi Dani, Rania!, Dani milikku!, milikmu!"
Delita berteriak tak terkendali hingga security menariknya paksa menuju ruang keamanan.
***
Rania memesan taksi online, rasanya ia benar-benar menyesali hari ini. Sudahlah sepertinya berhubungan dengan Dani selalu membawa masalah besar dalam hidupnya.
Ia sudah merasa nyaman dengan kehidupannya yang sederhana, perjuangannya yang selalu mendapat apresiasi dari Jean dan anak-anaknya. Sepertinya ia memang harus mantap meninggalkan kota Jakarta. Meninggalkan luka batinnya. Meninggalkan apapun yang terhubung dengan masa lalunya m, dan tak ingin ia kembali.
Rania menatap wajah anak-anaknya yang terlihat murung dan takut. Wajah yang sudah terbiasa ceria itu harus kembali terlihat murung, sebab ketakutannya pada Delita, ibu sambung yang tak punya hati.
"Azka, Zidan anak mama..."
Ucap Rania lirih menatap anak-anak yang murung. Baginya, luka hati melihat anak bersedih lebih sakit daripada luka karena perkataan Delita tadi.
"Azka benci Tante Delita, Zidan juga, ma!"
Rania mengurai air matanya Yangs edari tadi ia tahan.
"Jangan melukai hati kalian dengan kebencian, nak. Hiduplah dengan damai. Sebentar lagi kita akan melupakan segalanya, segala yang menyakitkan untuk kita"
"Kita mau kemana, ma...?"
Tanya Zidan dengan ucapan khas anak usia balita.
"Kita akan ikut om Jean, nak. kita akan beternak kambing!"
Anak-anak terlihat antusias. Wajah mereka berubah, seperti ada binar bahagia ketika mendengar nama Jean disebut.
Yeayyyy kita ikut om Jean! asikkkkk
Seru anak-anak yang merupakan surprise bagi Rania. Bagaimana tidak, suasa sedih dan kecewa berubah menjadi gelak semangat bahagia ketika mendengar nam Jean disebut.
"Mama, kita ganti aja Papa Dani sama Om Jean!"
Seru Zidan. Membuat hati Rania tertegun. Jean adalah sosok favorit anak-anak. Setiap hari, Jean selalu meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak Rania, menjemput dari sekolah, bahkan bermain futsal bersama. Sosok Dani terdahulu, jarang melakukan hal ini. Tentu, Jean lebih mudah berada di posisi sosok ayah di hati anak-anak, dibandingkan Dani, orang tua kandungnya sendiri.
__ADS_1
Rania hanya tersenyum mendengar Zidan. Kemudian ia menciumi anak-anaknya satu persatu.
***
Dear Diary...
Malam kembali datang...
Pertanda menutup hari yang penuh kepenatan.
Sudah tutup saja lembaran masa lalu mulai malam ini.
biarkan esok, mentari datang memberikan cahaya baru
Pertanda hidup yang lebih baik dimasa depan.
Tuhan telah menunjukkan
Bahwa kau tak pantas melihat kebelakang
Yang hanya menorehkan luka tanpa jeda
Memberi racun tanpa penawarnya
Lihat, lihatlah dia
Ada yang datang menyinari malam mu
Dan menjadi mentari pada siang mu
Sambut, sambutlah ia
Jangan kecewakan dengan cerita masa lalu mu yang tak selesai jua.
Sebuah puisi menutup malam ini. Setelah melihat anak-anak tertidur pulas dalam buaian mimpi dan semangat menyambut hari esok. Sebab sebelum tidur, Jean melakukan Vidio Call dengan mereka dan mengajak Azka dan Zidan memancing besok pagi.
Jean bagiku kamu sempurna...
***
Bersambung...
Dear readers terimakasih untuk yang telah mendukung sejauh ini. Trimakasih untuk like, comment and Fav nya ya...salam sukses selalu...
and see you at the next part ❤️
__ADS_1