
...Maaf readers malam ini tidak banyak, karena perjalanan dr lumajang ke malang dan melelahkan🙏 insyaallah bsk up banyak 🤗...
Berbagai prosesi menjelang acara pernikahan pun digelar. Mulai dari siraman, pengajian, dan pingitan.
Melati yang akrab disapa Neng ketika di dalam pondok, lebih banyak mengurung diri didalam bilik kamarnya. Menikmati masa pingitan dengan menulis beberapa artikel inspiratif.
Novel yang sangat ia sukai adalah tentang tulisan Ra Kartini yang memperjuangkan hak kaum wanita Indonesia melalui buku "Habis gelap terbitlah terang". Novel itu menginspirasi Melati untuk menuliskan puisi dan juga artikel, yang kemudian ia kirim pada buletin Sehati, milik LSM Sehati.
Puisi pertama yang ia kirim berjudul
Perempuan Di Ujung Menara. Ia menuliskan gambaran dirinya, yang selalu bisa mengeluarkan aspirasinya diluar sana, namun, tak mampu mengeluarkan aspirasinya didalam rumahnya sendiri.
Perempuan di ujung menara, menatap tinggi pada langit,
Menatap jauh pada bumi yang tak ia injak
Terbang tak mampu
Turun ia takut
Tak punya pilihan
Perempuan diujung menara,
Merasa dikurung di penjara,
Bisa bicara, tak mampu berkata.
sebuah puisi yang mewakili dirinya sendiri
Akulah si bunga yang kering sebelum berkembang. Menancapkan duri yang belum juga tajam...
Menikah bukan atas nama cinta,
hanya untuk sebuah kehormatan semata.
Duhai masa muda,
Begitu cepat kau ku lewati.
Tanpa sempat ku rasakan indahnya.
Egoku kalau pada takdir.
***
Karya milik Melati ini menarik perhatian LSM Sehati karena melihat Melati mengalami pernikahan secara paksa di usia yang masih sangat dini.
__ADS_1
Rania segera menghubungi Melati. Mencoba mengajaknya berdiskusi. Namun sayang, melati masih menutup diri dan menggunakan akun tanpa namanya sendiri.
Rania masih terus menunggu. Barangkali gadis ini membutuhkan bantuannya untuk eluar dari jerat pernikahan dini.
***
Segala kebutuhan telah di atur oleh sang ayah. Sesuai dengan kesepakatan pihak mempelai laki-laki. Kyai Mansyur telah meminta agar perayaan digelar besar-besaran karena menyangkut nama besar pondok pesantren, sekaligus perayaan persahabatan dua pondok pesantren. Bahkan beliau telah menyumbang 10 ekor sapi untuk jamuan pesta para tamu undangan.
"Melati, kamu dipanggil Abi...!"
Ucap Anisah, kakak Melati.
Melati hanya menoleh. Kemudian kembali melanjutkan tulisannya.
"Melati ....!!!"
Panggil Anisah.
Melati pun bangkit dari tempat duduknya. Ia tak mungkin membuat keributan dan kemarahan kakaknya.
Melati berjalan lunglai. Tak ada satupun warga pesantren yang ia balas sapa. Ia begitu datar dan cuek.
Di sebuah kursi rotan, Abi Basuki telah duduk menanti Melati. Semua wajah terlihat tersenyum, kecuali Abi Basuki yang seolah mampu membaca hati dan pikiran Melati.
"Anak ku, sepekan lagi kau akan menghadapi sebuah fase kehidupan baru. Kau akan menjadi seorang istri dari seorang imam yang telah meminang mu".
"Abi memahami bahwa dari sekian saudaramu, hanya kamu yang memiliki cita-cita tertinggi, masa depan yang tertata, serta wawasan yang luas. Akan tetapi, apakah daya ayahmu ini, jika masih berani untuk menolak sebuah syariat!".
Melati menundukkan kepalanya, air mata telah menetes di pipi. Sebenarnya, ia pun telah mengetahui apa yang akan Abi mansyur sampaikan padanya.
" Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mewasiatkan tiga perkara yang harus disegerakan, tidak boleh ditunda-tunda.
Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda, yakni salat jika telah tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir, dan wanita apabila telah ada calon suami yang sekufu Hadist Riwayat Tirmidzi dan Ahmad; hasan".
Ini adalah ujian untuk kita di dunia nak. Apakah kita akan memilih pernikahan atau pendidikan?
Setiap orang tua menginginkan anaknya untuk bahagia di genggaman seorang imam yang beriman. Imam yang sepadan dengan ilmu agama yang kau miliki. Sebab bagi Abi, harya bisa dicari, namun agama harus dimiliki sejak dini"
Melati menghampiri ayahnya, kemudian.memeluk dan menangis sejadi-jadinya.
"Aku hanya ingin mengejar cita-cita ku, bi...hanya itu. dan tidak muluk-muluk!"
Abi Basuki membiarkan anaknya menumpahkan tangisannya, mengusap punggung anaknya dan mendekap erat tangannya.
"Abi mengerti perasaan mu, nak!"
Suara Abi Basuki semakin terdengar berat.
__ADS_1
"Mintalah pada suamimu ijin, agar kamu bisa meneruskan kembali sekolahmu". Ucap Abi Basuki dengan suara lemah.
Melati kemudian mengingat isi perjanjian pernikahan antara dirinya dengan ustad Malik.
Melati mundur, meminta pamit, dan segera kembali ke bilik kamarnya. Ia ingat bahwa ia bisa mencari nomer handphone sang ustad dan membicarakan hasil kesepakatan mereka.
Secara diam-diam, Melati meminta Ustadzah Yana untuk membelikannya sebuah ponsel dan menyimpannya di koperasi sekolah siswa. Melati akan mengunjunginya pagi saat jam olah raga.
***
Sebuah merk handphone telah ditangan Melati. Bagi santri baik laki-laki maupun perempuan dilarang keras menggunakan handphone. Melati menyimpannya diam-diam. Meskipun tidak ada larangan menyimpan bagi pengurus dan abdi dalem, namun, ia tentu tidak ingin orang tuanya tau jika ia menggunakan sosial media untuk menulis, berinteraksi dengan dunia luar, mencari keilmuan, hiburan dan mencari tau soal calon suaminya, ustad Malik.
Namun, sepertinya ia salah kaprah. Sebab ustad Malik tidak memiliki sosial media. Namanya pun tidak terkenal. Ada rasa kecewa di dalam hari Melati. Betapa ia mengidam-idamkan bersuamikan seorang ustad yang terkenal, gaul dan mampu membawa Melati pada kebahagiaan dunia.
Melati tak patah semangat. Ia mencari situs website badan promosi milik pondok pesantren Kyai Mansyur, calon mertuanya. Melati bahkan menyimpan satu nomor milik Ustadzah Tia, salah seorang pengabdi di pondok pesantren tersebut. Melati menyamar menjadi sepupunya yang ingin mencari informasi mengenai Ustad Malik.
Namun, Melati mendapatkan informasi yang kurang menyenangkan dari ustadzah Tia. Ia mengatakan bahwa sang ustad Malik adalah sosok dingin, tidak humoris dan sangat penurut pada keputusan orang tuanya. Sedangkan Melati menginginkan sosok laki-laki yang memiliki karakter pemimpin, sehingga ia bisa mengarahkan, mendukung Melati. Sebab, ia berpikir, jika ia bersuamikan lelaki yang tidak memiliki kepribadian, tentu semua akan percuma!
Melati merasa bahwa Ustad Malik bukan suami idaman!
Ia kemudian melihat sebuah salinan surat yang ia buat untuk ustad Malik, sebagai surat perjanjian sebelum pernikahan. Melati kemudian menuliskan tiap poin perjanjian yang harus disetujui oleh ustad Malik. Point perjanjian itu akan ia berikan pada sang ustadz, nanti ketika mereka tengah menikmati malam pertama mereka.
Menikah, sepertinya tidak hadir karena cinta, namun juga karena takdir. Sehingga ia merasa bahwa mencintai adalah sia-sia.
Melati kemudian curiga, bahwa Ustad Malik pun sama, ia mengamini petuah ayahnya, apapun, terutama tentang pernikahan.
Melati sedih, kecewa, dan ragu, apakah ia akan mampu menerima dan belajar mencintai suaminya? ataukah ia batalkan saja, selagi belum terlalu jauh!
***
Dalam kegalauan hatinya, syetan melihat sebuah peluang untuk menggodanya.
Melati menjadi jauh lebih sibuk untuk melayani fans onlinenya. Curhat tentang perasaannya, menarik simpati, dan menjadi sosok yang ingin selalu dikasihani!!!
Dengan handphone yang terlanjur ia genggam, ia membuat akun sosial media, curhat disana dan... Ia bahkan memiliki banyak fans di akun FB dan Youtube-nya.
Di sosial media, Melati menjadi sangat populer, memiliki banyak fans dari tulisan-tulisan yang telah ia buat. Namun, dalam kehidupan nyata, Melati hanyalah gadis pendiam, dan pemurung yang lebih suka mengurung diri di kamarnya.
Di kamarnya, Melati adalah super star yang siap menyapa fans dari kanal YouTube dan Instagram. Wajahnya tak tampak karena niqob yang telah ia kenakan.
Sejenak, ia mampu melupakan ustad Malik, dan segala kekurangannya.
***
Suatu hari terjadi penggeledahan rumah dan handphone. Namun ternyata Melati lupa bahwa handphone ia letakkan di depan koperasi siswa yang dtunggu.oleh petugas.
Melati berlari ke area eksekusi handphone oleh para pengurus pondok pesantren. Sebuah api unggun telah dinyalakan untuk membakar habis semua handphone yang disita, termasuk milik. Ustadzah Aisyah.
__ADS_1