
Dani bergegas membawa ibu Nani ke Rumah sakit yang sama dengan Zidan. Bu Nani mengalami tekanan darah tinggi setelah perdebatannya dengan Rania.
Disebuah ruang kamar VVIP, Dani menyesali perbuatannya karena telah bertengkar dengan ibundanya. Bagaimanapun ia menyadari bahwa Dani adalah anak kesayangan Bu Nani dan tumpuan harapan keluarga Darmawan. Hanya Dani yang memiliki ekonomi yang lebih mapan dibanding adik-adiknya yang lain.
***
Malam dingin menusuk. Bu Nani beberapa kali mengalami kejang. Dani mencoba menghubungi adik-adiknya yang lain. Tak lama kemudian, Lisna, adik perempuan Dani tiba di Rumah Sakit.
"Apa yang terjadi sama ibu, mas?"
"Tekanan darah ibu naik, Lis"
Ucap Dani Lesu.
"Kamu bertengkar lagi sama ibu?"
Dani mengangguk.
"Kamu gak bakalan bahagia hidup rumah tangga tanpa restu!"
Celetuk Lisna.
"Tapi aku sangat berat dengan anak-anak, Lis"
"Kamu nikah lagi dan punya anak lagi. Beres!"
Celetuk Lisna ketus.
"Apa kamu juga membenci Rania?"
"Sejujurnya tidak. Rania tak pernah bersalah kepadaku. Hanya saja, aku tak suka padanya. Tak suka itu tidak perlu punya alasan, bukan?"
Ucap Lisna dengan sebelah mata.
Dani tertunduk lesu di sebuah sofa tamu. Matanya memandang kearah luar jendela kaca yang ditutupi tirai putih transparan. Tanpa disadari. Jendela tersebut menghadap ruang kamar Zidan. Terlihat Rania berdiri di balkon kamar Zidan. Melamun menatap langit sendirian. Dani tertegun melihat Rania. Ia keluar menuju balkon. Meyakinkan diri bahwa yang berada di balkon itu adalah Rania.
Dua pasang mata saling bertatapan tanpa kata. Bahasa mata yang berjarak hanya 10 meter, sudah cukup untuk mengungkapkan ada bahasa kerinduan untuk keduanya. Rindu yang kini terlarang, rindu yang dipisahkan sebuah kepentingan. Rindu yang dibatasi dendam yang tak berkesudahan.
Hanya beberapa saat mata itu berkencan. Dani memutuskan menghampiri Rania. Ia tak jenuh untuk menuntaskan perasaannya.
Tak butuh waktu lama, Dani telah berada di ruang kamar inap Zidan. Masih dilantai yang sama, hanya beda ruang. Sebab Zidan berada di ruang inap anak.
"Rania..."
Rania hanya menoleh sesaat, kemudian kembali memalingkan wajah.
"Rania, ibu sakit"
Rania menoleh.
"Apakah ibu mau aku menghampirinya?"
Rania menjawab dengan ragu
"Aku pikir kamu bisa mencobanya"
Wajah Dani seperti memancarkan harapan. Sebuah harapan agar Rania mau berusaha untuk mendekatkan diri pada ibunya. Berharap agar hati ibunya luluh dengan usaha Rania.
__ADS_1
***
Dua hari berlalu. Bu Nani tak bisa berbicara ataupun bergerak. Bu Nani terkena stroke. Mulutnya tak bisa bicara ataupun digerakkan. Rania dengan sabar menyuapi bubur, menyeka tubuh dan mengurusi obat-obatannya. Bergantian dengan Dani untuk menjaga Zidan yang juga masih harus dirawat.
Kerasnya hati Bu Nani mampu luluh oleh tulusnya sikap Rania dalam merawat
dirinya. Rasa cemburu pada anak laki-lakinya seakan mulai sirna, karena Rania berhasil meyakinkan Bu Nani, bahwa ia pun tulus pada Bu Nani dan merelakan dirinya dianggap babu hanya agar dirinya tetap menjadi menantu, dan hidup bersama suaminya.
***
Suatu Malam. Bu Nani meminta secarik kertas dan pena. Ia mencoba menuliskan sebuah surat. Tak diduga. Bu Nani berterimakasih pada Rania yang telah merawat dirinya. Bahkan ia telah merasakan bahwa Dani perlahan menunjukkan bahwa ia sangat mencintai Rania dan tidak bisa berpisah dari anak-anaknya. Bu Nani berjanji akan menyatukan mereka kembali saat ia telah pulih nanti.
Hati Rania dilanda dilema. Disaat ia telah berusaha untuk tegar. Ia telah mampu hidup tanpa Dani dan perlahan mengikis mimpi tentang rumah tangganya dengan Dani. Harapan tentang biduk rumah tangga dengan Dani muncul kembali. Tentu ia tak bisa melupakan, bagaimana satu per satu perempuan lain hadir, mencoba menggantikan posisinya. Namun, rasa sakit itu seperti sirna, ketika melihat Azka dan Zidan begitu membutuhkan Dani.
Azka dan Zidan mungkin bisa bahagia hidup bersama Rania. Namun, tentu Rania menyadari, bahwa anak-anak juga membutuhkan sosok ayah dalam pengasuhan.
***
Hari ke 60 Menjadi janda.
Rania dan Dani menyepakati sebuah perjanjian. Harapan rujuk telah didepan mata. Meskipun belum seatap. Namun, intensitas pertemuan dengan Dani amat rutin. Kini, anak-anak telah berada di asuhan Rania. Dani sering singgah dan menjemput Rania dan anak-anak ke rumah mereka. Merawat Uti bersama-sama. Memulai segala sesuatunya dari awal.
***
Hari ini, bertepatan dengan ulang tahun Zidan yang keempat. Sebuah kue ulang tahun berbentuk animasi Gayo telah dipesan Dani. Beberapa keluarga diundang untuk menghadiri. Rania mengijinkan anak-anak untuk bermalam di rumah Dani. Sementara Rania tak bisa meninggalkan tugasnya sebagai Kepala Baker.
Suasana senja cukup cerah. Langit jingga menyambut sang rembulan. Rania menatap langit dengan senyuman. Ia bersiap berjalan menuju Paviliunnya, ia akan bergegas menuju rumah Dani untuk mengikuti acara ulang tahun Zidan.
Sebuah mobil terparkir didepan Paviliun nya. Ia hafal betul pemiliknya.
gumam Rania.
"Aku sengaja jemput kamu, ma..."
"ma..."
Rania tertegun. Apakah ini pertanda baik untuk hubungan mereka. Pipi Rania merona.
"sebentar ya mas..."
"kok mas...?"
Gerutu Dani.
"Iya...pa"
Ralat Rania tersipu malu.
Tak disangka Dani mengikuti Rania menuju Paviliunnya.
Pintu dibuka...
"Papa mau ikut masuk?"
Rania bertanya ragu.
Dani membalas dengan anggukan.
__ADS_1
Rania tak bisa menolak.
Pintu ditutup...
Sebuah kecupan menjadi kejutan. Ciuman yang kini seperti asing ia rasakan. Ciuman dengan gairah ini hanya beberapa kali ia rasakan ketika awal pernikahan mereka. Jauh sebelum ibu mertua masuk dalam rumah tangga mereka. Jauh sebelum akhirnya perang dingin memisahkan dua insan yang baru belajar mengarungi bahtera rumah tangga.
***
Ciuman dilepaskan. Tapi tubuh mereka tak berjarak lagi.
"Pa, jangan berikan aku harapan palsu..."
"tidak, ma. Aku akan memberikanmu kenyataan. Kita mulai lagi dari awal. Kamu mau?"
Rania belum menjawab, namun Dani telah lebih dulu mendaratkan bibirnya. Keduanya larut dalam cumbu. Hingga suara handphone mengagetkan keduanya.
#mas Dani dimana acara sudah mau dimulai#
Sebuah pesan singkat dari Bimo.
"Ma, ayo kita berangkat, mereka sudah menunggu kita!"
Rania pun bergegas mengganti bajunya. Tanpa ia sadari, ia membuka pakaiannya dihadapan Dani yang bukan lagi suaminya. Dani menghambur memeluk Rania.
"Ma...berikan aku tubuhmu ini besok!"
Rania terkejut dengan ucapan Dani.
"Ya...besok setelah AKAD!"
Ledek Rania, Dani mengerutkan dahinya...
"hemmm oke...besok kita akad!"
Mereka berdua tertawa bahagia.
Rania dan Dani menuju acara ulang tahun Zidan yang digelar sederhana di rumah Dani.
Beberapa keluarga yang turut hadir, sangat mendukung niatan mereka untuk rujuk kembali. Bu Nani yang masih duduk di kursi roda juga memberikan restu untuk keduanya rujuk.
Malam itu, semua larut dalam bahagia.
***
Pintu diketuk berkali-kali. Seperti ada orang yang terburu-buru untuk bertamu di pagi buta. Dani membuka matanya, mendapati Rania yang tidur di sofa. Rania sangat menjaga, meskipun nantinya Rania dan Dani kan rujuk, namun saat ini, mereka belumlah suami istri.
Dani kembali terhenyak dengan suara ketukan pintu dan bel yang berbunyi berulang kali. Segera Dani menuruni tangga rumah, menuju pintu dan membukanya.
"Pak Hasan..."
Gumam Rania.
Pak Hasan adalah ayah Delita. Dada Dani bergemuruh. Apakah ia lupa akan janji akan menikahi Delita?
Bersambung.....
Dear Pembaca setia...trimakasih untuk terus mendukung tulisan saya ya...ikuti terus perjuangan Rania di episode berikutnya. Jangan lupa like, comment ya🤗❤️😍😘
__ADS_1