
Sari merasa telah cukup menerima jawaban dari Defi. Ia merasa cukup sesi wawancara malam ini. Rasa puas bercampur sesak memenuhi dadanya. Ia merasa letih dan segera ingin pulang kerumahnya.
Sari menuruni tangga rumah Defi dengan gemetar. Defi merasakan hal yang sama. Namun alasan yang telah menyediakan keduanya.
Sari bergetar karena antara ingin membuka aib Defi pada keluarganya atau tetap menyimpan rahasia perempuan muda itu. Sedangkan Defi merasa ketakutan rahasianya terbongkar.
Sari menguatkan diri. Ia tak boleh memperuncing permusuhan. bukankah antara dirinya dengan Arkan telah usai?
Ellen mengambil alih tugas berpamitan pada ibunda Defi. Tangis diantara Sari dan Defi dibuat alasan sedemikian rupa, karena rindu. Ada mata yang telah rabun untuk membedakan antara ekspresi tangis sedih ataupun tangis rindu. Beda, jelas beda ibu!
***
Sari tak mengucapkan banyak kata. Didalam mobil ia terdiam seribu bahasa. Kedua sahabatnya tentu memahami keadaan Sari, dan tidak berusaha mengganggu. Ia yakin bahwa Sari mampu mengatasi perasaannya sendiri.
Sari membuka laptop, kemudian mulai menulis disana.
Dua jam perjalanan dilalui dengan kebisuan. Ketika sampai di depan rumah, Sari menyerahkan sebuah flashdisk pada Ellen.
"El. Ini laporan wawancara yang absurd, namun penuh dengan kejujuran. Selanjutnya, kalian bisa mengambil data dari sumber lainnya. Ambil pertanyaan dari pernyataan yang diberikan Defi".
Ellen hanya mengangguk. Ia bingung harus berkomentar apa. Jadi sepanjang perjalanan tadi, Sari mengerjakan laporan wawancara.
Oh my God. Memang si otak encer!
Gumam Ellen dalam hati.
***
Defi merasa sangat tertekan dengan apa yang dilakukan oleh Sari. Arkan memang telah memilihnya untuk menjadi pendamping hidup. Arkan telah melepaskan Sari untuk bisa bersama Defi. Namun, bayangan hidup bahagia bersama Arkan masih jauh dari ekspektasi. Sari melepaskan Arkan, tapi tentu bayangannya tak akan pernah hilang.
***
Mencintai sugar Daddy memang bukan hal yang bisa direncanakan. Terkadang peluang datang begitu saja. Bahkan ketika Tuhan mentakdirkan sang sugar Daddy menjadi jodoh kita nantinya, siapa bisa menolaknya, sekalipun tentu ada embel-embel materialistis didalamnya.
Defi adalah satu dari perempuan pengagum sugar Daddy. Kisah cinta sebelumnya bersama teman seperjuangannya di kampus itu kandas karena long distance relationship yang tidak menghasilkan rindu yang bertahan. Nyatanya Leo, mantan kekasih Defi, memutuskan hubungan mereka secara sepihak dengan alasan bahwa Leo tak bisa kembali ke kota asal mereka tinggal. Tapi, Defi menyadari bahwa itu hanya alasan Leo saja. Nyatanya, Leo telah menduakan hatinya, ia menikah dengan teman sekantornya.
Well, teman sekantor adalah orang yang rawan menjadi pengganggu hubungan asmara ataupun pernikahan. Kalau di istilah jawakan, witing Tresno Jalaran Soko Kulino, saking seringnya interaksi dalam aspek pekerjaan, bisa berlanjut ke curhatan, kemudian kelekatan dan sampai ke ranjang bersamaan. Jangan katakan bahwa cintamu tumbuh begitu saja, jangan katakan perselingkuhan ini salah pasangan, nyatanya, kita sering membiarkan rasa itu berproses. Nyaman, sayang, rindu, and having *** berkelanjutan.
Jangan katakan para pelakor muda belia ini tak punya perasaan. Bahkan mereka sangat memiliki perasaan, sehingga menjaga perasaannya dari rasa kecewa. Ia rela mengorbankan perasaan perempuan lain untuk menyelamatkan perasaannya.
Jangan katakan bahwa Defi adalah perempuan nakal. Nyatanya, Defi adalah perempuan halus dan keibuan. Bahkan Defi berpenampilan syar'i, keibuan, bahkan tampak Sholehah. Meskipun apa yang ia perbuat bertolak belakang menjadi sholehot!, begitu orang jaman sekarang melabel seorang perempuan yang merebut suami orang namun berpenampilan syar'i. Sama-sama perempuan, dilahirkan dengan perasaan yang sama, lalu, mengapa mereka buta dalam menghargai perempuan lainnya?
Sari, Ellen dan Lastri begitu keras melakukan penelitian untuk mengupas pertanyaan ini. Mereka kemudian melanjutkan penelitian pada subjek-subjek berikutnya.
Subjek mereka berikutnya bernama Sinta. Gadis berusia 28 Tahun dan belum menikah sebelumnya. Sinta adalah teman se-kosan Ellen. Hampir sering Ellen melihat gadis berambut lurus sepinggang itu membawa sugar Daddy ke kamar kos nya. Kosan Ellen memang lumayan bebas, bebas keluar masuk laki-laki dan Perempuan. Kos-kosan yang paling diminati oleh para kaum urban, dan menjadi celah perselingkuhan.
Ellen mendapat banyak informasi dari Santi. Berbeda dengan Defi yang berpenampilan syar'i dan nampak lugu, Santi berpenampilan lebih apa adanya. Ia memang menunjukkan khas pelakor sebenarnya, dan ia tak merasa malu ataupun canggung jika harus berduaan di ruang publik bersama sugar Daddy.
Santi berkata apa adanya, siap jujur, karena ia merasa tak ada yang perlu ia tutup-tutupi. Ia tidak mencintai sugar Daddy, begitu juga sugar Daddy-nya, yang ia yakini hanya ingin memenuhi hasrat *** dan jiwa petualangan lelaki yang muncul lagi di masa puber kedua.
Butuh. Satu kata untuk menjawab semua pertanyaan. Butuh materi, butuh kasih sayang, butuh pengakuan cantik, butuh fasilitas, dan butuh untuk merasa dibutuhkan. Karena jika bersama dengan lelaki seusia Santi, sudah dapat dipastikan bahwa lelaki itu sedang sibuk meniti karir, sedang berkutat dengan kebutuhan ekonomi, masih haus godaan dari wanita lainnya, masih pelit terhadap pasangannya, menuntut perempuan untuk tampil sempurna menjadi istri Sholehah dan menerima si lelaki apa adanya.
"Mba Ellen, aku berusaha untuk jujur pada diriku sendiri. Aku butuh semua yang diberikan Daddy. Aku tak mau menampik hasrat duniaku. Aku juga tak akan menahan Daddy jika ia ingin kembali pada istri sahnya. Dan saya, bisa jadi mencari sugar Daddy lainnya, mungkin sampai aku benar-benar mendapatkan sugar Daddy yang free!"
Ucap Santi sambil menyalakan sebatang rokok.
Ellen begidik takut mendengar penjelasan Santi, yang tidak pernah takut untuk mengambil langkah ekstrem menjadi seorang perebut suami, atau peminjam suami orang, karena ia rela untuk hidup bersama sugar Daddy tanpa status yang mengikat.
__ADS_1
Ellen menelisik pada dirinya sendiri. Sepertinya ia cocok untuk menjadi koresponden penelitiannya sendiri. Ia yang trauma dengan sebuah asmara dan masih menetapkan hati untuk sendiri di usia yang sudah menginjak 36 tahun, sebenarnya pernah di posisi yang sama. Nyaris menjadi perebut suami orang. Saat itu usianya masih 27 Tahun, ketika orang tua dan keluarga besarnya menuntut Ellen untuk segera menikah. Ellen yang terlalu sibuk meniti karir sebagai HRD di sebuah perusahaan manufaktur, akhirnya mudah dirayu oleh rekan kerjanya. Percikan api cinta membuat Ellen tak pernah menanyakan status dan keluarga Pria itu. Sampai pada akhirnya, seorang perempuan datang untuk melabraknya dan mengakui dirinya sebagai istri sah kekasih Ellen. Terlanjur cinta, akhirnya Ellen menjadi buta, ia tetap melanjutkan asmara dengan sang kekasih, diatas penderitaan istrinya. Harapannya sudah terlanjur membuncah. Bahkan Ellen telah diberi sebuah kunci rumah, tempat mereka akan tinggal nanti.
Namun, petuah sang bunda membuat Ellen sadar. Sang bunda adalah korban dari kejamnya dunia perselingkuhan. Ibunda Ellen membesarkan Ellen tanpa kehadiran seorang ayah disampingnya.
Akhirnya, Ellen memutuskan menjauh meski sang kekasih memilih dirinya. Perceraian antara sang kekasih dengan istrinya tak membuat Ellen ingin merajuk rumah tangga bersama mantan kekasihnya itu. Baginya, sekali ia berselingkuh, maka akan diulangi terus menerus, karena selingkuh adalah candu bagi jiwa-jiwa pria petualang cinta.
Ellen menemukan satu alasan lagi untuk ia jadikan penelitian, dan itu alasan dari dirinya sendiri.
***
Berbeda dengan Ellen. Lastri melakukan penelitiannya pada mahasiswa-nya. Lastri yang berprofesi sebagai seorang dosen dan telah bergelar doktor, sangat mengenal kehidupan para mahasiswanya, terutama mahasiswa di fakultas psikologi.
Tak semua yang berkuliah di fakultas ini memiliki jiwa calon psikolog tentunya. Karena sebagian dari mereka masuk fakultas ini dikarenakan ikut teman, dipaksa orang tua, atau ingin keren, karena profesi Psikolog dianggap keren.
Sejak sebelum penelitian, Lastri memang sangat dekat dengan mahasiswanya. Sepulang mengajar, ia selalu menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan dengan para mahasiswanya. Ia bahkan sering melakukan sosial eksperimen dalam banyak tema.
Kali ini ia sengaja nongkrong di sebuah cafe yang berada tak jauh dari kampus. Ia duduk menghadap kejalan dan sesekali matanya melirik ke penjuru ruang dan jalan yang nampak dari jendela kaca tempat dimana ia duduk.
Ia melihat beberapa mahasiswa hilir mudik di jemput kekasih. Duduk tak jauh dari meja tempat ia duduk bersama kekasihnya, memadu kasih, bahkan tak segan bercumbu.
Lastri yang selalu mengenakan kacamata hitam dengan syal di kepalanya, membuat banyak mahasiswa nyaris tak mengenalinya.
Lastri juga memperhatikan beberapa mahasiswa wanita yang diantar jemput oleh pria berusia matang. Mungkin suaminya, kakaknya, atau ayahnya. Tepatnya mungkin sugar Daddy-nya?!
Untuk membuktikan hal itu. Ia masuk ke kelompok mahasiswa yang terkenal kece. Ia menempatkan diri sebagai bagian dari mereka. Lastri ingin penelitiannya terlihat natural dan tidak ada kesan acting dari para korespondennya.
Hasilnya menakjubkan. Beberapa sugar Daddy membiayai kuliah dan gaya hidup beberapa mahasiswa cantolannya. Alasan para mahasiswa ini ringan, "daripada menjadi ayam kampus yang sering Gonta ganti pasangan, tentu lebih baik menjadi 'peliharaan' om yang hanya nempel pada dirinya dan istrinya saja".
Namun, menurut Lastri, itu hanya pemikiran sempit para mahasiswa 'peliharaan' ini. Kenyataannya, bisa jadi para sugar Daddy memiliki 'peliharaan' di lain kandang?!
Ada hal yang paling menggelitik bagi Lastri. Ia terkejut dengan salah seorang asistennya di laboratorium kampus. Namanya Lena. Ia adalah mahasiswa alumnus dari kampus dan telah bekerja sebagai Guru di sebuah sekolah swasta. Lena sangat lembut, banyak mahasiswa yang merasa dibantu oleh Lena. Ia juga terkenal disiplin dan menjadi mahasiswa prestasi pada masanya. Maka dari itu, kampus mengapresiasi keteladanannya. Ia di dapuk menjadi asisten dosen dan bekerja di laboratorium psikologi. Ketika pulang mengajar, ia akan mengabdikan dirinya di laboratorium psikologi milik kampus.
Orang yang pernah ia lihat sebagai Fahri di perumahan tempat tinggalnya, nyatanya benar. Fahri tinggal di blok D, sedangkan Lastri di blok A. Perumahan yang mereka tempati tak begitu besar, sehingga ia bisa dengan mudah menemukan keberadaan Fahri.
Setelah memastikan bahwa orang yang ia lihat adalah Fahri, kekasih Lena. Maka, Lastri pun mencari tau tentang keluarga Fahri. Mengapa bu Lastri sangat penasaran dengan Fahri?
Jawabannya karena usia Fahri terlihat jauh lebih dewasa dari usia Lena. Fahri memiliki umur sekitar 32 tahun dan gaya berpacaran mereka sudah seperti seorang keluarga kecil bahagia.
Lastri terkejut ketika mendapati yang tinggal di rumah Fahri hanya ada seorang perempuan dengan tiga anak yang masih berusia balita. Bahkan salah seorang anak setiap pagi akan diantar sekolah oleh Fahri sendiri. Nyatanya Fahri telah berumah tangga!
Lastri segera memberi tahu Lena. Berharap Lena belum mengetahui kenyataan ini, berharap bahwa Lena adlah perempuan baik yang ditipu oleh lelaki hidung belang bernama Fahri. Rupanya benar, Fahri menipu Lena. Ia mengaku sebagai bujangan tua yang belum menikah. Lena diiming-imingi pernikahan dan kehidupan mapan, mungkin karena penghasilan Lena yang amat sedikit sebagai guru kontrak?!
Ah...seharusnya tidak begitu!!!
Akan tetapi kekecewaan merasuki hati Lastri. Dengan jujur Lena siap menerima jika ia hanya menjadi madu.
Alasan?
Ia telah menyerahkan segalanya untuk Fahri. Mahkota kesuciannya yang direnggut dengan rayuan.
Semudah itu?!
Ya...semudah itu. Bahkan jangan lagi heran jika hijab tak menjamin kesucian. Karena syetan mampu meringsek masuk hingga menemui Hawa di syurga. Membuatnya terkenal dengan nafsu dan dihempaskan di bumi yang fana.
Salah?
Iya. Salah.
__ADS_1
Seharusnya hijab mampu melindungi!
Itu seharusnya!
Bukan salah hijab mu.
Tapi salah pergaulan mu!
Mengapa kamu tak menjaga dengan siapa kamu dekat.
Dengan siapa kamu akan bergaul
dan sejauh mana kamu berinteraksi dengan yang bukan mahram?!
Lastri seperti menelan batu besar di kerongkongannya ketika mendengar jawaban Lena. Usahanya sia-sia. Nyatanya orang tua Lena pun merestui hubungannya dengan Fahri. Alasannya?
Tidak ingin memaksakan kehendak anak!
Dunia mau kiamat sepertinya. Dimana orang tua tak mampu memberikan petuah untuk melindungi anaknya.
Anak masuk jurang dibiarkan saja. Kehormatan keluarga tak lagi jadi pertimbangan nyata.
Rumah tangga Fahri, jangan ditanya.
Sang istri sah berusaha bersabar menghadapi Fahri. Menggugat cerai ia tak mampu, ada tiga anak yang membutuhkan sosok ayah untuk tumbuh kembang, dan nafkah untuk kelangsungan hidup.
Ingin rasanya Lastri memberi motivasi. Bahwa perempuan bercadar dan sangat lusuh penampilannya itu bisa hidup mandiri tanpa suami pengkhianat seperti Fahri. Namun, pedoman Islam yang menjadi tumpuan iman tak mampu Lastri halau. Ia hanya memberi motivasi, bahwa suaminya akan kembali.
Pada akhirnya, Lena tetap memutuskan untuk melanjutkan hidupnya bersama Fahri. Atas nama cinta, ekonomi, dan tahta, poligami seperti menjadi hal lumrah bagi mereka yang memperjual belikan agamanya, atas nama Sunnah!!!
Lastri tak menyangka, bahwa penelitiannya kali ini membuahkan banyak experience bagi dirinya. Membuka mata dan naluri untuk melihat dunia sekitarnya.
"Sari, aku nyaris tak sanggup melakukan penelitian ini!"
Sebuah pesan dari Lastri dikirimkan pada Sari.
Sari yang tengah mencoba bersahabat dengan perasaannya, membaca pesan itu dengan setengah tertawa kecut.
"Kenapa?"
Balas Sari.
"Gila. Dunia makin gila, perempuan makin hilang urat malunya!"
Jawab Lastri.
"Sudah dekat kiamat, non!"
Ucap Sari
"Kamu bukan satu-satunya Korba, Sar!"
Ucap Lastri.
Sari tertawa kecut. Disampingnya ada laptop yang tengah membuka akun Instagram, disana ada postingan Arkan tengah melamar Defi bersama keluarga besarnya. Ia kembali pada layar handphonenya. Membalas pesan dari Lastri.
"Dunia terlalu kejam Las. Jaga kewarasan kita, agar tak gila menghadapi situasi emosional. Aku sedang berusaha untuk tidak gila, karena apa yang tengah ku lihat saat ini..."
__ADS_1
Sari mengakhiri chatting bersama Lastri dan menutup laptop berisikan gambar Arkan dan Defi..Pikirannya kacau. Ia hanya menatap kosong pada kamar yang berantakan, dan anak-anak Sari yang tak terurus seharian ini.
Bersambung ...